BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
Part : 20 (Trauma Bu Ratih)


__ADS_3

.................................


Melihat Adiknya nggak sadarkan diri, Bagas yang tadinya memeluk Bu Ratih, kini tubuh Adiknya itu dipindahkan ke pangkuan Gavin. Dia berdiri melangkah mendekati Seno yang masih dipegang sama orang suruhan Pak Indra.


"SENO....!! kamu apakan Adikku..!?" teriak Bagas sembari menonjokan kepalan tangannya ke muka Seno.


Bug..!! bug..!!. beberapa pukulan telah dilayangkan ke muka Seno. Laki-laki itu sudah tak berdaya. Wajahnya dipenuhi darah. Kemudian Pak Indra menghampiri Bagas.


"Bagas, sudah. biar pihak berwajib yang menyelesaikannya. Sebentar lagi Polisi datang. Saya sudah menghubunginya." ucap Pak Indra.


Akhirnya Bagas menurunkan kepalan tangannya. Lalu dia bersimpuh di lantai sambil memukul-mukul badannya.


Terlihat kalau Bagas sangat menyesal telah membuat kesepakatan dengan Seno.


"Aku memang Kakak nggak becus! aku bodoh! aku nggak berguna.! Aaarrrrrgh..!"


Bagas teriak sambil menyakiti dirinya.


Langsung Pak Indra menghentikannya.


"Bagas.! Bagas.! ingatlah, tugasmu masih panjang. Jangan kau siksa dirimu seperti ini. Ayo bangun, kita bawa Ratih ke rumah sakit segera." ucap Pak Indra sambil menepuk pundak Bagas.


Gavin yang membopong tubuh Ratih keluar menuju mobil.


"Itu Polisi datang, kamu antar saya dan Bagas ke kantor Polisi guna memberi keterangan" ucap Pak Indra pada salah satu orang suruhannya tadi.


"Baik, Bos.!"


"Gavin, biar bawa Ratih ke rumah Sakit." ucap Pak Indra lagi.


Akhirnya semuanya meninggalkan Vila itu. Mobil yang membawa Ratih ke rumah sakit berangkat duluan. Kini tinggal mobil Seno sama mobil orang suruhannya Pak Indra. Pak Indra ikut mobil anak buahnya. Sedangkan Bagas membawa mobil Seno. Polisi langsung memborgol Seno dan membawanya ke mobil Polisi.


.


.


.


Mobil yang membawa Bu Ratih tiba di rumah sakit di Jakarta. Gavin berteriak minta tolong setelah turun dari mobil. beberapa perawat langsung membantunya.


"Tolong, Sus. Selamatkan pacar saya." ucap Gavin.


"Baik, Mas. Kami akan menolongnya. Tolong, Mas tunggu diluar saja. Biar kami yang menanganinya." jawab Suster itu setibanya di UGD.


Gavin nampak gelisah. Dibuka ponselnya lalu dia menghubungi Mamanya.

__ADS_1


'Ma, Gavin sekarang ada di rumah sakit Citra medika. Ratih terluka.!'


'Apa.! Ratih kenapa, Nak?'


'Sekarang dia masih di UGD. tolong bantu Doa, ya Ma?'


'Iya, Nak. Pasti itu.!'


tut..tut.. Gavin mengakhiri pembicaraan di telfon. Kembali Gavin mondar-mandir depan UGD. Mukanya ditutup pake telapak tangannya. Dia masih nggak percaya, kalau kekasih pujaannya kini terbaring lemah di UGD. Tuhan..tolong selamatkan Ratih. Gumamnya.


Kemudian keluarlah Dokter beserta Suster.


"Maaf, Anda keluarga pasien.?" tanya Dokter itu.


"Iya, Dok. Saya tunangannya." jawab Gavin.


"Maaf, sebenarnya apa yang barusan pasien alami.?"


"Dia, Baru saja mengalami penculikan, Dok. tapi pelakunya sudah ditangkap." jawab Gavin.


"Begini, Mas. Saat ini kondisi pasien masih lemah. Tapi keadaannya nggak begitu mengawatirkan kok. Kita tunggu Pasien sadar dulu." ucap Dokter.


"Tapi, dia nggak kenapa-kenapa kan, Dok?" tanya Gavin.


Gavin masih nggak habis fikir. Seno begitu tega terhadap Bu Ratih. Gavin masih teringat jelas di kepalanya ketika Seno memperlakukan kekasihnya tadi malam. Hati Gavin sangat sakit sekali kalau mengingat kejadian itu.


"Tidaaaaakkk..!!!" teriak Gavin.


Tiba-tiba seseorang menghampiri Gavin yang duduk bersimpuh di lantai sambil meratapi apa yang dialami kekasihnya itu.


Bagas ternyata yang datang, kemudian dia ikut duduk disamping Gavin.


"Vin, gimana keadaan Ratih.?"


"Mas Bagas, dia masih belum sadar. Kata Dokter kondisinya masih lemah."


"Vin, Seandainya___" Bagas, belum sampai menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Suster keluar dari ruangan.


"Maaf, Mas. pasien sudah siuman." kata Suster itu.


Seketika Gavin dan Bagas berdiri. Kemudian mengikuti Suster itu masuk.


Bu Ratih sudah siuman. Ditatapnya kedua laki-laki di depannya itu. Matanya menatap bergantian kearah Gavin lalu Bagas. Kekasih dan Kakak yang selalu disayanginya kini menjadi akrab dan di hadapannya. Dulu waktu belum ada kejadian ini hubungan kedua laki-laki itu tidak harmonis. Tapi setelah kejadian yang menyakitkan semalam itu justru mereka akrab. Bulir bening mengalir dari mata Bu Ratih.


"Sayang., kamu sudah siuman. Aku kawatir banget.!" seru Gavin sambil menggenggam tangan kekasihnya itu.

__ADS_1


"Vin, Maafin aku." ucap Bu Ratih sambil menatap Gavin. Bulir bening tak henti-hentinya mengalir di pipinya yang halus. Gavin mengusapnya penuh kelembutan.


"Ssttt.. tenang Sayang. Jangan bicara macem-macem dulu. Istirahat aja dulu." jawab Gavin.


"Iya, Tih. Gavin bener, mendingan kamu istirahat aja." sahut Bagas.


"Aku mau bicara sesuatu sama kalian berdua." ucap Bu Ratih lirih.


"Kamu, mau bicara apa, sayang?" tanya Gavin.


"Vin, aku.. huk..huk!" tangis Bu Ratih pecah sebelum menyelesaikan kalimatnya. Dia pukul-pukul sendiri tubuhnya. sambil teriak-teriak.


"Sayang., tenangkan dirimu. Aku tetap disini. Tolong, kamu yang tenang, ya?" ucap Gavin.


"Vin, maafin aku, ya? aku sekarang bukan seperti Ratihmu yang dulu. Aku sekarang kotor.!" ucap Bu Ratih dengan suara gemetar.


"Apa, maksud kamu, sayang?" tanya Gavin.


Bu Ratih semakin menjadi nangisnya. Dia tidak berani menatap Gavin. Tangan Gavin tak sedikitpun terlepas dari tangannya. Kemudian Bagas mendekati mereka.


"Vin, maaf. Aku aja yang mewakili Ratih untuk mengatakannya. Tadi di kantor Polisi, Seno sudah mengakui perbuatannya terhadap Ratih. Dia sudah menodai Ratih dengan paksa. Dia mengaku salah dan menyesal. Tadinya aku juga geram dan memukulnya, tapi Papamu melarangku. Katanya biar jeruji penjara aja yang menyadarkannya." jelas Bagas.


Dada Gavin serasa penuh. Kepalanya tiba-tiba berdenyut. Mukanya jadi merah menahan amarah. Seketika Gavin berdiri tegak yang tadinya dia menunduk di dekat Bu Ratih.


"SENO..!! kamu biadap.! aarrrgghh!!! Teriak Gavin sambil memukul-mukul dinding ruangan itu. Kamu apakan wanitaku.? Dia yang kupuja-puja dan selalu kujaga, tapi dengan entengnya kamu merusaknya. Aku bunuh kamu.!" teriakan Gavin hampir terdengar keluar ruangan.


Tangis Bu Ratih semakin menjadi, teriakan Gavin membuatnya tambah sedih.


"Vin, tenanglah. Kamu yang sabar, lihatlah Ratih masih membutuhkan kamu. Jaga emosi kamu. Biarkan dia menerima hukuman atas perbuatannya." suara Bagas sedikit menenangkan Gavin.


Kemudian dia menoleh ke arah Bu Ratih yang masih menangis diatas tempat tidur. Lalu didekatinya perempuan itu. Dengan sepenuh hati dipeluknya tubuh Bu Ratih yang masih terbaring. Tadinya Bu Ratih menolak, tapi dekapan Gavin begitu kuat sehingga Bu Ratih tak kuasa menolaknya. Pecahlah tangisan kedua insan yang lagi dimabuk asmara itu. Bu Ratih. sekencangnya dipelukan Gavin. Begitupun sebaliknya Gavin menangis sejadi-jadinya.


Bagas tak bisa membendung air matanya tatkala melihat pemandangan dihadapannya itu. Peristiwa ini juga menjadi sebuah pembelajaran untuknya. Karena kecerobohannya, kini Adiknya menjadi korban pelecehan seksual oleh sahabatnya sendiri.


Gavin dan Bu Ratih masih tenggelam dengan kesedihan yang barusan dialami.


"Aku nggak bakal ninggalin kamu, sayang." ucap Gavin."


"Tapi, aku sudah tidak seperti dulu, Vin.!" seru Bu Ratih.


"Aku tidak peduli dengan semuanya. Bagiku kamu tetap Bu Dosen cantik ku." jawab Gavin.


Bagas yang menyaksikan ketulusan Gavin terhadap Adiknya, dia merasa bersalah karena dulu dia menganggap Gavin sebagai anak ingusan. Bagas semakin yakin kalau Bu Ratih akan baik-baik saja bersama Gavin.


Next..........(21).

__ADS_1


__ADS_2