BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON TIGA Part : 152 (Sekolah Raka)


__ADS_3

Pak Renhard jadi bingung karena melihat Bu Ratih yang tiba-tiba sedih.


"Bu Ratih, apa pertanyaan saya ada yang salah?" tanya Pak Renhard.


Bu Ratih kemudian tersenyum dan audah sedikit tenang. "Maaf, Pak. Keanu sudah meninggal sebelum kami menikah." jawab Bu Ratih.


"Ya Tuhan, maaf Bu. Saya nggak tahu kalau Keanu sudah meninggal." ucap Pak Renhard.


"Nggak apa-apa, Pak." jawab Bu Ratih.


"Ya sudah kalau gitu. Kita lupakan saja soal masa lalu. Kita kembali bahas sekolah." tukas Pak Renhard.


"Iya, Pak. Santai saja." jawab Bu Ratih.


"Baiklah, sekarang Bu Ratih dan Raka ikut saya ke kelasnya Raka." ucap Pak Renhard.


Kemudian mereka mengikuti Pak Renhard menuju ke sebuah kelas. Ketika tiba dikelas, Pak Renhard langsung mengajak Raka dan Bu Ratih masuk.


"Selamat pagi anak-anak.!" ucap Pak Renhard.


"Pagi juga, Pak,!" sahutnya serempak.


Akhirnya Raka diperkenalkan kepada teman-temannya. Wali kelas dan Bapak kepala sekolah bicara panjang lebar didepan teman-teman Raka. Dan kini dia sudah mulai bisa mengikuti kegiatan belajar.


Setelah itu Pak Renhard dan Bu Ratih keluar. Kini mereka melanjutkan pembicaraan diluar kelas.


"Maaf, Tih. Sekarang kita bicaranya seperti dulu saja, ya. Biar nggak kaku. Kan sekarang sudah bukan urusan sekolahnya Raka?" ucapnya.


"Okey,!" sahut Bu Ratih.


"Sekarang anak kamu berapa?" Pak Renhard mulai pembicaraan biasa.


"Anakku cuma satu."


"Kenapa kamu pindah lagi kesini, kan dulu keluarga kamu tinggalnya di Jakarta.?"


"Iya, aku mendapat beasiswa dari kampus tempat aku mengajar untuk melanjutkan kuliah S3 disini, dan kebetulan suamiku juga memegang perusahaan keluarga yang ada di Semarang dan Jogja, jadi kuboyong saja semuanya kesini." jelasnya.

__ADS_1


"Oh gitu. Hebat kamu, Tih. Memang dari dulu kamu selalu berprestasi dalam hal akademik. Aku salut sama kamu." puji Pak Renhard.


"Kamu bisa aja. Mungkin ini semua sudah rejekiku." jawabnya merendah.


"Kalau aku sekarang tinggal sama istri dan kedua anaku masing-masing laki dan perempuan. Yang laki Kakaknya sekarang sudah duduk dikelas enam. Dan yang perempuan baru kelas dua." jelas Pak Renhard.


"Lalu istri kamu kerja apa dirumah.?"


"Istri aku bekerja di salah satu perusahaan swasta, dan sekarang lagi mengerjakan proyek dengan perusahaan ternama dari Jakarta." jawab Pak Renhard.


"Hebat itu, dua-duanya produktif dibidangnya masing-masing." jawab Bu Ratih.


"Ayo kita lanjutkan obrolan kita di ruanganku." tawarnya.


"Maaf, aku kayaknya nggak bisa berlama-lama. Soalnya aku mau ke kampus untuk melihat-lihat sebentar." jawab Bu Ratih asal.


"Oh gitu, ya sudah kalau gitu. Makasih karena sudah mempercayakan sekolah kami untuk menaruh anak kamu sekolah disini." ucap Pak Renhard.


"Sama-sama. Oh iya, nanti pulang aekolah jam berapa, ya?" tanya Bu Ratih.


"Kelas lima biasanya jam setengah dua kalau ada tambahan mata pelajaran. Tapi, kalau enggak, jam setengah satu sudah keluar." jawab Pak Renhard.


"Oke, Tih. Sama-sama."


Bu Ratih akhirnya meninggalkan sekolah Raka. Dia kemudian minta Santo untuk kekampus untuk sekedar melihat-lihat. Kemudian Santo mengemudikan mobil menuju kampus yang nantinya dia akan menempuh kuliah.


Ketika dia sampai dikampus, Bu Ratih turun mencoba untuk masuk kedalam. Sudah lama sejak dia lulus S1 dulu dia sudah nggak pernah masuk pelataran kampus ini. Seperti dejavu dia melangkahkan kakinya kepelataran kampus.


Nggak banyak berubah dengan kampus ini, hanya beberapa bangunan yang direnovasi serta tanaman yang sudah berbeda. Ketika dia melihat-lihat, tiba-tiba ada yang menyapanya.


"Maaf, Bu. Saya mau tanya. Untuk Mahasiswa yang mengambil kuliah program Doktor S3 Manajemen apa benar besok mulai masuk?" tanya laki-laki yang usianya nggak jauh beda dengannya.


Bu Ratih nggak langsung menjawab dia hanya tersenyum kemudian memandang ke laki-laki tersebut.


"Oh iya, Pak. Kebetulan saya juga ambil itu. Jadwalnya hari senin sampai jumat, dimulai jam 07.30 sampai 14.20" jawab Bu Ratih.


"Oh terima kasih banyak atas infonya. Kenalkan saya Didit." ucap laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Bu Ratih membalas uluran tangan Pak Didit. "Saya Ratih, Pak." ucapnya.


"Saya baru saja sampai dari luar negeri urusan kerjaan. Jadi belum sempat buka ponsel buat cari info soal ini." jawab Pak Didit.


"Oh gitu, saya juga lihat pengumuman lewat internet, tapi sebelumnya saya sudah dikasih info dari kampus saya." jawab Bu Ratih.


"Bu Ratih seorang Dosen.?" tanya Pak Didit.


"Iya, Pak. Saya mendapat beasiswa dari kampus tempat saya mengajar. Dulu saya S1 kuliah disini, lalu S2 nya saya ambil di Jepang dan kemudian ngajar disebuah kampus di Jakarta. Lalu akhirnya sampai sekarang saya mendapat beasiswa S3 dikampus ini lagi." jelas Bu Ratih.


"Wuaah, hebat Bu Ratih. Saya juga Dosen di Surabaya. Tapi, saya asli Jogja. Seminggu yang lalu saya habis dari Jepang untuk urusan kerjaan. Saya memang ingin kuliah S3 untuk menyempurnakan kualitas mengajar saya." ucap Pak Didit.


"Kebetulan kalau gitu, Pak. Disini kita sama-sama juga ingin menyempurnakan kualitas mengajar dikampus. Saya ingin nantinya anak didik saya juga merasakan ilmu yang saya peroleh." ucap Bu Ratih.


"Bu Ratih disini tinggal sama keluarga atau gimana?" tanya Pak Didit.


"Saya pindah kesini bersama keluarga saya. Kebetulan suami saya ada kerjaan disini. Saya juga asli sini, Pak. Cuma sekarang Ibu dan Kakak saya di Jakarta." jawab Bu Ratih.


"Saya nanti disini akan cari kontrakan, karena keluarga saya semua ada di Surabaya." ucap Pak Didit.


"Oh gitu, berarti nanti tiap minggu pas libur Pak Didit baru pulang untuk ketemu anak istrinya?" kini pertanyaan Bu Ratih membuat Pak Didit tersenyum yang sedikit dipaksa.


"Maaf, Bu. Saya belum punya istri. Dan yang di Surabaya itu ada kedua orang tua dan satu adik saya yang masih kuliah semester akhir." jawab Pak Didit.


"Oh maaf, ya Pak. Saya tidak tahu. Sekali lagi saya minta maaf." ucap Bu Ratih ketakutan.


"Nggak apa-apa, Bu. Saya maklum kok." jawabnya.


"Habis ini Pak Didit rencananya mau kemana?" tanya Bu Ratih.


"Saya rencana nginep sementara di Hotel. Habis itu saya akan cari kost atau kontrakan saja." jawabnya.


"Oh iya, kebetulan sepupu saya ada usaha kost-kostan dan kontrakan di sekitar kampus ini. Nanti saya coba bantu cari infonya." tawar Bu Ratih dengan senang hati.


"Oh iya, Bu. Saya senang sekali. Kalau gitu saya boleh minta nomor telponnya untuk nanti menghubungi soal kontrakan." ucap Pak Didit.


"Baiklah, Pak. Ini nomornya." jawab Bu Ratih sambil menunjukan nomor telponnya.

__ADS_1


---------------------------------


Bersambung...


__ADS_2