
Malam pun tiba, keluarga Bu Ratih sudah pulang sejak sore tadi. Kini tunggal keluarga besar Indra Wijaya saja. Kini waktunya makan malam bersama.
Kasih seperti biasa membantu Bibi didapur menyiapkan makan malam. Meskipun sudah dilarang Bibi tapi, tetap aja dia membantunya.
Kali ini diperbolehkan sama Gavin karena memang Kasih selalu seperti itu kalau dirumah. Anaknya nggak berubah tetap aja rajin. Kini semua makanan sudah siap semuaya diata meja.
Pak Indra dan yang lainnya sudah kumpul. Raka sama Tifany lagi diajak main sama babysitter nya Raka. Khusus hari ultahnya ini dia disuruh pulang malam sama Bu Ratih, karena banyak kerjaan.
Kasih masih dibelakang sama Bibi. Dia nggak berani gabung karena sudah lama nggak makan bareng mereka jadi canggung. Dia ngikutin ke kamar Bibi saat Bibi masuk kamarnya.
"Lho, Mbak Kasih kenapa nggak gabung makan sekalian. Ntar dicariin Den Gavin, lho?"seru Bibi.
"Kasih canggung, Bi. Udah lama nggak makan bareng mereka." jawab Kasih yang kini malah tiduran dikasurnya Bibi.
"Mbak, ngapain canggung. Mbak Kasih juga bagian dari keluarga mereka." ucap Bibi.
Tak lama kemudian Bu Ratih memanggil Kasih, dan mencarinya sampai dapur. Berhubung kamar Bibi dekat dapur jadi suara Bu Ratih jelas terdengar dari kamar. Seketika Kasih bangun dan melangkah keluar.
"Kasih,! kamu kemana aja. Dicariin Papa lho. Ayo makan sekalian?" ajak Bu Ratih.
"Iya, Mbak." jawab Kasih sambil melangkah mengikuti Bu Ratih.
Akhirnya mereka sampai dimeja makan. Kasih duduk disebelah Bu Ratih, sedangkan Gavin ada disebelah Bu Ratih. Mahen dan Kinan duduk diseberang meja bersama Bu Hesty. Sedangkan Pak Indra sendiri sebagai kepala keluarga.
Mereka semua menikmati makan malam. Gavin dan Bu Ratih kadang saling perhatian untuk mengambilkan sesuatu. Mereka lupa kalau Kasih sekarang ada disebelahnya. Pak Indra yang melihat pemandangan itu langsung mencoba angkat bicara untuk mengalihkan perhatian.
"Kasih, gimana kuliah kamu. Lalu Kakek kamu keadaannya sekarang bagaimana?" tanya Pak Indra.
"Alhamdulilah, kuliah Kasih lancar, Pa. Kalau Kakek sekarang kena stroke dan harus duduk dikursi roda. Tapi, masih terus berobat." jawab Kasih.
"Usaha batiknya gimana?" tanya Pak Indra lagi.
"Usahanya lumayan berkembang, Pa. Kasih sering bantuin untuk ikut event atau bazar. Kemarin sempat jadi perwakilan UKM untuk ikut lomba di pemerintah kota." jawab Kasih.
"Bagus itu, Sih. Lanjutkan, Nak. Papa yakin kamu bisa." ucap Pak Indra.
"Oh iya, Sih. Bisa tuh usaha Kakek kamu join sama punyanya Sasha. Dia kan bergerak dibidang fashion." sahut Gavin.
"Oh iya bener, Sih. Sasha koneksinya sudah banyak. Secara dia dulu kan model." kini Bu Ratih ikut bersuara.
"Iya, Mas, Mbak. Nanti kalau sudah sampai dirumah, Kasih akan bilang Ibu sama Pak Manto." ucap Kasih.
"Siapa Pak Manto? Waktu aku disana kok nggak ada yang namanya Pak Manto.!" tanya Gavin curiga.
"Iya, Mas. Waktu kamu kesana kan Kakek belum kena stroke. Berhubung Kakek kena stroke, Ibu ambil asisten buat urusin batik. Dia dulu juga pernah kerja ikut Kakek. Jadi kayak keluarga sendiri." jelas Kasih.
"Oh, baguslah itu. Muda-mudahan usahanya sukses." jawab Gavin singkat.
__ADS_1
"Amin. Makasih Mas..," ucap Kasih.
Tak lama kemudian, Raka datang diantar babysitternya. Dia menangis manggil-manggil Mamanya. Spontan Bu Ratih langsung berdiri. Kasih tadi juga mau ikut berdiri, tapi dia lupa kalau dia nggak berhak atas Raka.
"Kenapa anak Mama kok nangis. Raka ngantuk, ya?" ucap Bu Ratih sambil mengambil Raka dari gendongan Babysitter.
"Mungkin aja, Bu. Tadi sudah saya kasih susu tapi nggak mau. Dia panggil Mama Mama terus." jawab Babysitter.
"Ya sudah, Mbak. Kamu sudah boleh pulang. Nanti Raka biar sama saya." jawab Bu Ratih.
"Baiklah, Bu. Saya permisi." ucap Babysitter itu.
Kemudian Bu Rtaih membawa Raka ke meja makan. Dia memangkunya kemudian ditenggelamkan ke dadanya dan mulai ditenangkan. Kasih hanya melihat anaknya yang kini sudah besar dan lengket sama Bu Ratih.
Tak lama kemudian Raka tertidur dipangkuan Bu Ratih. Gavin mencium kening anaknya yang kini tertidur dipangkuan istrinya. Bu Ratih mengelus wajah anaknya yang mulai berkeringat.
Akhirnya Bu Ratih pamit untuk menidurkan Raka dikamarnya.
Kemudian mereka menyudahi makan malamnya. Mahen dan Kinan menuju kamar Gavin diatas untuk menidurkan anaknya. Pak Indra dan Bu Hesty pun masuk kekamarnya. Kini Kasih membantu Bibi untuk membereskan meja makan seperti biasa.
Dikamar Raka, Bu Ratih masih menemani Raka yang tidur. Bu Ratih selalu ngeloni Raka saat malam hari. Tak lama kemudian Gavin masuk ikut menemani Raka dan istrinya. Bu Ratih mengerutkan keningnya sambil telunjuknya ditaruh dimulutnya pertanda nggak mau diganggu biar Raka nggak bangun.
"Kamu ngapain disini, sayang. Sudah temani Kasih sana. Kasihan kan, jauh-jauh pulang kesini malah kamu cuekin" ucap Bu Ratih pelan.
"Kamu kok gitu, sayang. Aku kan mau temani Raka bobo." jawabnya asal.
Akhirnya Gavin keluar juga, dia menuju depan. Dia nggak mendapati siapa-siapa. Semuanya sudah masuk kamarnya masing-masing. Kemudian dia masuk lagi menuju ruang tengah mau nyalain TV. Tapi, kemudian dia melihat Kasih keluar dari kamar Bibi mau menuju keatas.
Kasih terkejut ketika melihat suaminya duduk sendiri sambil nonton TV. Kemudian dia berhenti dan menyapa Gavin.
"Kok belum tidur, Mas?" tanyanya.
"Aku belum ngantuk. Semuanya sudah pada tidur. Ratih ngeloni Raka dikamarnya." jawab Gavin sambil matanya tertuju pada layar monitor TV.
"Mau aku bikinin kopi, Mas?" tawar Kasih.
"Boleh, ide bagus itu. Tapi, temeni aku disini." ucapnya sambil menatap Kasih dengan pandangan yang penuh harap.
Kasih pun mengangguk. "Baiklah, Mas. Tunggu sebentar, ya?" jawabnya sambil berlalu.
Tak lama kemudian Kasih datang dengam membawa secangkir kopi lalu dia duduk dikursi disebelah suaminya. Gavin mengambil minuman itu lalu meminumnya.
"Sih, besok kamu balik jam berapa?" tanya Gavin sambil meletakan gelasnya ke meja.
"Aku naik kereta, berangkat jam dua siang. Nanti langsung stasiun Kediri kota. Kalau naik pesawat ribet, soalnya harus ke Surabaya dulu." jawab Kasih.
"Sampai nya pasti pagi hari." ucap Gavin lagi.
__ADS_1
"Iya, Mas." jawab Kasih.
Gavin melirik Kasih yang dari tadi duduk agak jauh dari dirinya. Kasih yang merasa dilihatin terus jadi kikuk. Kemudian mencoba untuk melihat kearah TV. Gavin masih terdiam dan kini dia malah mendekati Kasih.
Kasih semakin kikuk dan gugup ketika Gavin mendekatinya. Lalu dia memegang tangan Kasih, sedangkan Kasih diam saja karena kalau menolak dia takut menyinggung suaminya. Secara Gavin adalah suaminya yang sah.
"Kamu jangan balik ke Jawa lagi, dong. Kamu disini aja." ucap Gavin dengan tangan yang masih memegang tangan istrinya.
"Kenapa Mas Gavin bicara seperti itu. Kita kan sudah janji untuk menjalani pernikahan seperti ini." tanya Kasih.
"Jujur saja, aku sudah mulai nyaman sama kamu. Dan aku ingin kedua istriku tetap akur dan hidup seperti apa adanya." jawab Gavin.
"Mas, aku mengerti perasaan kamu dan aku hargai semua itu. Tapi, aku nggak pantas berada diantara kamu dan Mbak Ratih. Cinta kalian terlalu kuat untuk hadirnya diriku diantara kalian." ucap Kasih.
"Apa kamu tidak ada perasaan apa-apa sama aku?" pertanyaan Gavin kali ini bagai petir yang menyambar.
"Andai saja kamu tahu kalau aku sudah mencintai kamu sebelum kamu menikah dengan Mbak Ratih. Saat kamu kecelakaan itu aku sudah jatuh cinta sama kamu" ucap Kasih dalam hati.
Kasih masih diam dan menatap Gavin tanpa kedip. Gavin yang dipandangi istrinya seperti itu menjadi terhanyut dalam suasana malam ini. Dia mendekatkan wajahnya kearah wajah Kasih dan ingin mencium bibirnya. Tapi, Kasih langsung mengalihkan wajahnya kearah lain.
Gavin yang menyadari hal itu jadi mengurungkan niatnya dan wajahnya memerah nahan malu. Kasih masih diam dan nggak berani menatap wajah Gavin. Sedangkan Gavin kemudian membuka suara.
"Maafkan aku, Sih. Aku terbawa suasana karena sudah lama tidak seperti ini. Waktu aku terakhir ke Kediri pun itu kamu lagi kedatangan tamu. Jadi aku disana dianggurin, hehehe.." ucap Gavin sambil memasang muka jenaka.
Kasih spontan tertawa ketika mendengar omongan suaminya barusan. Dia jadi teringat saat itu Gavin hanya tidur dengan memeluknya saja dan tidak terjadi apa-apa.
"Tapi sekarang kamu lagi tidak kedatangan tamu, kan Sih?" tanya Gavin sambil melirik Kasih.
Kasih menggeleng sambil menundukan kepalanya. "Enggak, Mas" jawabnya.
"Bolehkan aku meminta hak aku sebagai suami kamu?" tanya Gavin.
Kasih menoleh kearah Gavin lalu menunduk. Dia bingung dengan keadaan ini. Padahal dia ingin menjauh dari Gavin. Tapi, malah suaminya yang mulai menunjukan sikap nggak mau lepas. Kenapa jadi seperti ini, aku bingung. Gumamnya.
"Gimana, Sih. Boleh, ya?" ucap Gavin memelas.
"Baiklah, sebagai istri yang baik tidak boleh menolak suaminya, karena itu suatu dosa besar nantinya." jawab Kasih.
Akhirnya keduanya berdiri dan Gavin mematikan TV. Mereka melangkah keatas menuju kamar Kasih. Ketika sudah masuk ke kamarnya. Kasih langsung menuju tempat tidur dan Gavin mengunci kamarnya.
-----------------------------------
Maaf kalau yang itu tidak bisa diekspos, karena kebanyakan nggak setuju kalau Gavin sama Kasih lagi berduaan. Readers pasti tahu lah apa yang mereka lakukan.
hehehe...
Bersambung.....
__ADS_1