BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 116 (Pulang_Jakarta)


__ADS_3

Semua yang ada diruangan itu langsung terdiam setelah mendengarkan kalimat Farrel. Terlebih-lebih si Vanya, dia langsung salah tingkah dan wajahnya bwrubah menjadi merona nhan malu. Dia masih terdiam karena bingung harus jawab apa. Dari lubuk hatinya yang paling dalam dia mengakui kalau Farrel adalah laki-laki baik dan Vanya pun kagum. Tapi, dia malu masak ditembak didepan Papanya.


"Hayoo...terima saja, Van.!" seru Bu Ratih sambil memberi semangat.


"Iya, sayang. Papa setuju, kok. Terima Nak Farrel." sahut Pak Keanu.


Vanya masih malu-malu dengan ungkapan Farrel. Dalam hatinya memang dia mengakui kalau Farrel adalah laki-laki baik dan bertanggung jawab. Tapi, dia malu karena ada Papanya dan Bu Ratih.


"Kenapa, Van. Apakah kamu tidak mau menerima cintaku?" tanya Farrel.


Vanya tersenyum sambil menatap Farrel, kemudian dia meraih tangan Farrel, "Baiklah, aku akan terima kamu sebagai pacarku."


"Beneran, Van. Makasi, ya?" ucap Farrel sembari memegang kedua tangan Vanya.


Pak Keanu dan Bu Ratih saling pandang kemudian kembali menatap kedua muda-mudi itu sambil tersenyum. Vanya kini sudah resmi jadi pacar Farrel. Keduanya tersenyum penuh kegembiraan. Meskipun tempat dan situasinya nggak seperti pada umumnya remaja mengungkapkan cinta. Tapi, Farrel dan Vanya tidak pernah memikirkan hal itu. Lebih-lebih Farrel, karena dia malah lebih senang karena niat baiknya ini justru diketahui oleh orang tua Vanya.


(*****)


★JEPANG★


Beberapa hari kemudian, hari ini Gavin terakhir di Jepang. Semalam dia mengabari Bu Ratih bahwa hari ini dia terakhir di Jepang, karena urusan pekerjaan sudah selesai dari kemarin. Hari ini tinggal belanja buat oleh-oleh.


Pagi ini Gavin memang berencana seharian penuh buat jalan-jalan dan belanja. Dia sama Pak Galih mau ke Harajuku untuk membeli oleh dipusat perbelanjaan OMETOSANDO. Mereka melewati jalan yang menghungkan Shibuya dan Harajuku.



Banyak pengunjung yang melewati jalan tersebut. Gavin dan Pak Galih masuk ke salah satu toko pernak-pernik buat oleh-oleh. Banyak sekali cendera mata yang dijual disana.


Tak terasa setelah lama bergerilya dengan barang belanjaannya, mereka pun menuju restoran untuk makan. Kini yang mereka pilih adalah restoran halal SUMIYAKI NISHIAZABU. Mereka memesan makanan sesuai yang tertera di menu.


Tak lama kemudian mereka sudah selesai makan. Kini tinggal ngobrol-ngobrolnya saja.


"Pak Gavin, ternyata Mr. Ko orangnya asyik, ya." ucap Pak Galih disela-sela obrolannya dengan Gavin.


"Iya, Pak. Anak buahnya juga ramah-ramah. Pantesan Pak Frengky betah ikut dia." jawab Gavin.


"Perusahaan kita nantinya bakal bisa go internasional, Pak. Kita harus benar-benar menyiapkan konsep dan strategi buat proyek yang akan dijalani dengan perusahaan Mr. Ko." terang Pak Galih.


"Benar, Pak. Ini kesempatan buat kita semua." jawab Gavin.


Tak terasa, hari semakin beranjak sore. Jam menunjukan pukul dua siang, sedangkan pesawat yang mereka pesan berangkatnya pukul enam sore dan diperkirakan sampai Jakarta pukul dua belas malam.


Mereka pun kembali ke Hotel untuk bersiap-siap balik ke Jakarta. Gavin menata semua barang-barangnya dan oleh-oleh buat keluarganya. Nanti yang mengantar ke Bandara tetap Pak Frengky karena sudah menjadi tugasnya.


.


.

__ADS_1


.


Sekitar jam lima sore, Gavin dan Pak Galih sudah dijemput untuk menuju Bandara. Dalam perjalanan ke Bandara Pak Frengky tak henti-hentinya berterima kasih karena sudah berkenan berkunjung ke Jepang. Dia pun senang karena bisa bekerja dengan Wijaya's Group.


Akhirnya Gavin dan Pak Galih balik ke Indonesia.


.


.


.


Sekitar jam dua belas malam mereka sampai Jakarta. Gavin dan Pak Galih memutuskan untuk naik taksi ke rumah masing-masing.


Saat tiba rumah, Bibi yang membukakan pintu. Bu Ratih sudah tertidur pulas, karena dia tadi baru nyampe rumah setelah isya. Dia kecapekan karena habis ada kegiatan dikampus.


Gavin nggak berani membangunkan istrinya. Dia dibantu Bibi untuk mengangkat barang-barangnya. Gavin meletakan semua barang-barang diruang tengah.


"Sementara ditaruh sini aja, Bi. Besok saja dibongkar. Saya masih capek." ucap Gavin.


"Baik, Den." jawabnya.


"Oh iya, Bibi lanjut tidur saja, nanti saya kalau mau apa-apa biar ambil sendiri." titah Gavin.


"Baik, Den Gavin. Bibi istirahat dulu." jawab Bibi.


Gavin duduk diruang tengah untuk melepas lelah. Sepatu serta sweaternya masih melekat dikaki dan tubuhnya. Diliriknya jam dinding, ternyata sudah hampir pukul satu dini hari. Kenapa mata ini justru nggak bisa terpejam, padahal dia merasa bahwa tubuhnya capek.


Tak lama kemudian, terdengar suara orang berjalan. Ternyata Kasih bangun lalu menuju ke belakang. Dia kaget karena mendapati majikannya itu lagi sibuk didapur sendiri malam-malam.


"Pak Gavin mau ngapain?" tanya Kasih.


"Eh ini, saya mau bikin teh hangat. Tapi, nggak tahu dimana letak gula dan tehnya." jawab Gavin sambil garuk-garuk kepalanya yang nggak gatal.


"Biar saya buatin, Pak.!" seru Kasih.


"Baiklah, saya tunggu disini." jawab Gavin sambil dia duduk di minibar dekat dapur.


Gavin memperhatikan Kasih yang lagi membuatkan teh untuknya. Kasih dengan telatennya membuatkan minum buat majikannya ini. Dia sempat grogi karena Gavin selalu memperhatikannya. Gavin masih melihati Kasih yang sibuk dapur.


Tak lama kemudian, tehnya pun selesai dan dibawakan ke meja dimana Gavin duduk. "Ini, Pak. Silahkan diminum." ucap Kasih seraya meletakan secangkir teh hangat.


"Makasih Sih..," jawab Gavin.


Seketika Kasih langsung berbalik kearah dapur lagi. Tapi, Gavin langsung mencegahnya.


"Tunggu,! kamu kok malam-malam gini terbangun?" tanya Gavin.

__ADS_1


"Iya, Pak. Ini tadi saya haus dan mau bikin wedang jahe, karena pas sama udaranya dingin." jawab Kasih.


"Oh, tahu gitu saya juga minta dibuatin wedang jahe. Enak kali ya?" ucap Gavin.


"Kalau Pak Gavin mau, saya buatin sekalian.?" tanya Kasih.


"Oke, saya mau." jawab Gavin.


Setelah selesai, akhirnya mereka berdu ngobrol-ngobrol dimeja bar dekat dapur. Kelihatannya Gavin sudah nggak canggung lagi soal perjodohannya dengan Kasih. Dia kini bisa ngobrol santai tanpa benan.


"Kamu sering kebangum gini kalau malam-malam?" tanya Gavin.


"Enggak juga, Pak. Itu kalau memang pas kebangun saja." jawab kasih.


"Oh iya, besok tolong bantuin saya membongkar semua tas dan barang-barang saya, ya. Besok saya libur nggak ngantor dulu soalnya ini tadi baru nyampe" ucap Gavin.


"Pak Gavin, ini tadi sampai rumah jam berapa?" tanya Kasih.


"Saya sampai sini tadi sekitaran jam setengah satu lebih, kalau nggak salah." jawab Gavin.


"Bu Ratih sudah tidur dari sekitar jam sembilanan. Pulangnya agak malam ini tadi, Pak." ucap Kasih.


"Iya, Sih. Tadi dia juga sudah bilang sama saya ditelpon. Kasihan dia mungkin kecapek'an." jawab Gavin.


"Iya, Pak. Tadi juga sudah saya pijitin, kok Pak." ucap Kasih.


"Makasih ya, Sih?" ucap Gavin.


"Iya, Pak. Memang sudah menjadi tugas saya." jawab Kasih sambil menikmati wedang jahe.


"Enak wedang jahenya, Sih. Kamu pintar banget bikin ginian.!" seru Gavin.


"Iya Pak. Ibu saya yang ajarin bikin ginian. Minuman ini sangat cocok dinikmati diudara dingin." jawab Kasih.


"Sih, maaf kalau saya tiba-tiba bertanya secara pribadi sama kamu. Ini soal keinginan istri saya menyuruh kita menikah." ucap Gavin.


"Iya, Pak. Ada apa?" jawab Kasih.


"Jawab dengan jujur sama saya. Apa kamu benar-benar siap jika menikah dengan saya?" tanya Gavin.


"Iya, Pak. Sesuai janji saya sama Bu Ratih dan Pak Gavin. Saya bersedia, Pak!" jawab Kasih.


Dikamar Bu Ratih, dia kebangun. Setelah dilihat kok suaminya belum ada juga. Dia mengira Gavin belum sampai Jakarta. Dia beranjak bersiri lalu membuka pintu kamarnya. Lampu sebagian sudah mati semua. Tapi, kenapa didapur malah lampunya masih menyalah. Apa Bibi jam segini sudah bangun, batinnya.


Dia melangkah menuju dapur, dan samar-samar dia melihat ada orang lagi duduk di mini bar dekat dapur.


"Kasih, kamu kok disini.!"

__ADS_1


-----------------------------------


Bersambung....


__ADS_2