BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON EMPAT Part : 215 (Bu Ratih,?)


__ADS_3

Pemilik suara itu ternyata perempuan. Sontak Anton dan yang lainnya langsung menundukan wajahnya. Terlebih-lebih Anton yang tadi habis ngatain Gazi.


Gazi langsung berdiri dan mencium tangan perempuan itu. "Mama,! silakan duduk," ucapnya datar.


"Makasih sayang, Mama kesini memang sengaja mencari kamu. Nanti pulang kuliah tungguin Mama sebentar, ya. Karena Mama ada rapat Dekan sebentar saja." ucapnya.


"Iya, Ma. Nanti Gazi tungguin ditempat biasa." jawab Gazi.


"Oh iya, kamu anak apa?" kini Bu Ratih bertanya pada Anton.


"Sa..ya, anak Ekonomi, Bu." jawabnya terbata.


"Lain kali, kalau bicara hati-hati. Anda kuliah disini itu nggak diajari untuk berperilaku nggak sopan terhadap sesama. Sikap dan perilaku Anda barusan mencerminkan bagaimana Anda yang sebenarnya." ucap Bu Ratih dengan tegas.


Anton hanya menundukan kepalanya dan nggak berani menjawab. Sedangkan temannya yang lain perlahan satu persatu meninggalkan tempat itu.


"Maaf, Bu. Saya mengaku bersalah. Sekali lagi saya minta maaf, Bu.!" jawabnya tanpa berani menatap wajah Bu Ratih.


"Baiklah, untuk kali ini saya masih sabar dan nggak akan mempermasalahkan sikap Anda. Tapi, lain kali kalau Anda masih saja tetap seperti ini. Saya nggak segan-segan menskors Anda." jawab Bu Ratih.


"Iya, Bu. Sekali lagi saya minta maaf dan terima kasih atas kemurahan hati Bu Ratih." jawabnya lagi.


"Iya, sudah. Sekarang boleh bubar. Dan kamu Gazi, lain kali kalau kamu diperlakukan seperti ini lagi, kamu nggak boleh diam saja. Lawan asalkan kamu diposisi yang benar." ucap Bu Ratih.


"Iya, Ma."


"Oh iya, satu lagi. Saya melakukan ini bukan lantarnan Gazi adalah anak saya, saya melakukan ini karena Gazi juga mahasiswa saya. Jadi saya berhak untuk meluruskan masalah yang menimpa mahasiswa saya." jelas Bu Ratih.


Anton menganggukan kepala, lalu dia meninggalkan kantin. Suasana kantin sedikit menegang lantaran seorang Dekan mendatangi kantin. Setelah itu yang lainnya kembali melanjutkan aktivitasnya makan di kantin.


"Gazi, itu tadi satu kelas sama kamu,?" tanya Bu Ratih.


"Bukan, Ma. Dia jurusan akuntansi." jawab Gazi.


"Oh, ya sudah kalau gitu. Mama balik dulu, ya?" ucap Bu Ratih.


"Mama nggak makan dulu?" tanya Gazi.


"Nanti saja, Mama masih ada kerjaan."


"Ya sudah kalau gitu." ucap Gazi sambil mencium tangan Bu Ratih.


Kini Gazi kembali melanjutkan makannya yang sempat terhenti. Yang ada di kantin pada melihati Gazi. Mungkin mereka sebagian nggak tahu kalau Gazi adalah anak dari Dekan kampus ini.


.

__ADS_1


.


.


Saat pulang kuliah, Gazi dengan setia menunggu Bu Ratih di depan. Dia duduk dimobilnya sambil memainkan ponselnya. Ketika dia lagi sendirian, tiba-tiba dia didatangi seorang cewek.


"Hai Gazi,!" sapa cewek itu.


"Hai juga, ada perlu apa, ya?" tanya Gazi balik.


"Kamu Gazi kan, anak menejemen.?" tanya cewek itu.


"Iya, kamu siapa?" kini Gazi memberanikan diri untuk menanyakan namanya.


"Kenalkan, aku Cindy. Anak akuntansi. Cuma mau bilang, mobil kamu keren lho" ucapnya sambil memegangi mobil sport milik Gazi.


"Ah biasa saja."


"Beneran lho, aku boleh nggak numpang mobil kamu?" Cindy kini lebih agresif untuk minta nebeng.


"Maaf, ya. Aku lagi nunggu Mamaku." jawabnya.


"Oh gitu. Memangnya Mama kamu kerja dimana, kok ditungguin disini. Tapi, ngomong-ngomong berarti kamu anak Mama dong." ucapnya sinis.


"Terserah kamu mau ngomong apa. Yang jelas aku nggak bisa kasih tumpangan. Karena aku nungguin Mama pulang." jawab Gazi.


"Kamu ini gimana sih. Sudah aku kasih tahu kalau aku lagi nungguin Mamaku. Tapi kamu masih saja ngomel." jawab Gazi dengan ketus.


"Hai, anak Mama. Nyesel aku ngobrol sama kamu disini, buang-buang waktu saja. Aku kira kamu anaknya asyik, tak tahunya Anak Mama.!" umpatnya.


Tiba-tiba Bu Ratih datang dan menghampiri Gazi yang kini tengah ngobrol sama Cindy. Bu Ratih tersenyum lalu bergantian memandangi mereka berdua.


"Maaf, apa saya ganggu,?" tanya Bu Ratih.


"Enggak, Ma. Kami sudah selesai ngobrolnya, kok." jawab Gazi.


"Oh iya, kalau nggak salah kamu adalah anak akuntansi, ya. Soalnya saya pernah ngisi materi di kelas kamu." ucap Bu Ratih.


Cindy jadi malu karena Mamanya Gazi ternyata Dosen kampus ini. Dia dibuat mati gaya oleh kedatangan Bu Ratih. Gazi yang melihat wajah Cindy yang mirip kepiting rebus, dia ketawa tapi ditahan.


Cindy yang melihat Gazi tengah ngetawain dirinya, dia semakin geram karena Gazi sudah menngejeknya.


"Ayo Ma. Kita pulang." ajak Gazi.


"Terus, temanmu ini gimana?" kini Bu Ratih ganti bertanya.

__ADS_1


"Nggak usah, Bu. Saya pulang sendiri aja." jawabnya sambil senyum kepaksa.


"Oh ya sudah kalau gitu. Kita duluan, ya." ucap Bu Ratih sambil masuk mobil.


"Iya, Bu. Hati-hati." sahut Cindy.


Gazi ganti membuka pintu mobilnya, tak lupa dia menoleh kearah Cindy lalu mengedipkan matanya. Cindy semakin geram lalu mengerucutkan bibirnya.


Gazi masuk mobil lalu meninggalkan halaman kampus itu. Kini dia sudah lega karena telah lepas dari cengkraman Cindy. Anaknya agak bar-bar.


"Zi, kalian tadi bertengkar, ya?" tanya Bu Ratih tiba-tiba saat ditengah perjalanan pulang.


"Enggak kok, Ma. Tadi hanya selisih paham aja." jawab Gazi dengan matanya masih fokus kedepan.


"Oh kirain Mama kalian bertengkar.?"


"Enggak kok, Ma."


Bu Ratih tersenyum melihat sikap Gazi yang sedikit tertutup. Beda dengan Raka, dia selalu cerita dan nyerocos saja kalau sama Mamanya. Mungkin Gazi belum terbiasa karena dia ikut Bu Ratih saat dia sudah dewasa.


"Ma,"


"Hmm.,"


"Mama nggak diantar kemana lagi gitu, kali aja beli sesuatu mumpung kita diluar." tanya Gazi.


"Emm, apa ya." jawab Bu Ratih sambil memikirkan sesuatu.


Gazi melirik kearah Bu Ratih yang kini tengah berfikir. Dia tersenyum sendiri melihat tingkah Mamanya kali ini.


"Ma, mikirin apa sih sebenarnya. Kok lama banget?" ucapnya sambil terkekeh.


"Hehe, iya Zi. Sebenarnya Mama tadinya ada yang mau dibeli. Tapi, lupa." jawabnya.


"Ya sudah kalau memang nggak ada perlu kemana lagi. Gazi langsung pulang saja." ucap Gazi.


"Eits,! tunggu dulu, sayang. Mama ingat. Kita ke ayam bakar Pak kumis aja. Mau beli ayam bakarnya. Biar nanti dirumah nggak repot-repot masak." ucap Bu Ratih.


"Siap, Ma,!"


Bu Ratih memperhatikan Gazi. Dirinya jadi keingat Raka. Dia kini sedang menuntut ilmu di Jepang. Nggak terasa kini anak-anaknya sudah tumbuh menjadi dewasa.


"Tuhan, aku sangat bahagia sekali, karena telah dianugerahi ketiga anak yang baik-baik. Aku janji akan mengantarkannya menjadi manusia yang berguna dan sukses selalu.


-------------------------------

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2