
Sekitar jam lima sore semua bersiap, Bu Ratih dan Gavin serta Raka kini sudah sibuk dengan dirinya masing-masing. Sedangkan Cantika masih belum keluar kamar, mungkin masih berdandan karena dia tadi pulangnya agak sore.
Gazi sendiri sudah berada di lokasi bersama Heru. Semua perlengkapan sudah siap serta para pekerjanya. Gazi memutuskan untuk mengambil karyawan dua orang dulu, nanti ditambah satu bagian dapur yaitu sepupunya Heru.
Cafe itu rencananya buka dari jam delapan pagi sampai jam sepuluh malam. Kerjanya dibagi dua shift. Kalau pagi dari jam delapan sampai jam empat sore. Sedangkan kalau siang dari jam dua siang sampai jam sepuluh malam.
Konsepnya nanti memang menyediakan beberapa jenis kopi hitam original dan kopi susu. Ditambah dengan snack dan makanan pendamping lainnya.
"Zi, semuanya sidah siap. Untuk perlatannya juga sudah ditata. Brosur dan selebaran juga sudah disebar. Band yang akan menjadi pengisi live music juga sudah siap." jelas Heru.
"Bagus, nanti kamu siapkan juga untuk promo sepuluh pembeli pertama. Gantungan kunci dan tumbler sebagai free nya." ucap Gazi.
"Siap, Zi."
"Bagus, ayi kita duduk dulu sambil menunggu tamu undangan." jawab Gazi.
Sekitar jam tujuh malam semua tamu undangan sudah datang. Raka datang sama Dara, sedangkan Bu Ratih sudah kelihatan berdiri disamping Gavin. Mereka langsung menuju tempat yang sudah disediakan.
Zie's Cafe tempatnya lumayan luas, ada tempat parkirnya yang cukup buat sekitar sepuluh mobil. Konsepnya tak lepas dari trend masa kini yang ada spot fotonya. Semua furniture berasal dari besi dan kayu.
Ada semacam stage untuk live music yang rencananya tiap sabtu malam akan dihadirkan. Tempat untuk beribadah juga disediakan. Semua memang sudah disetting secara matang untuk konsep dan modelnya. Gazi mendekati Mama dan Papanya, serta Kakaknya yang sudah duduk ditempat yang khusus keluarganya.
Tak lama kemudian datanglah Bara bersama Cantika. Couple yang satu ini selalu bikin greget yang melihat, bahkan pembaca mungkin juga penasaran sebenarnya mereka pacaran apa nggak sih.
Akhirnya acarapun dimulai, mereka semua memperhatikan pembawa acaranya membacakan satu persatu susunan acaranya. Semua acara berjalan lancar tanpa halangan satu pun.
Kini tinggal acara santai dengan menikmati live music yang dibawakan oleh band lokal setempat. Bu Ratih dan Gavin duduk sambil ikut menikmati lagu yang dibawakan oleh band tersebut.
Raka terlihat ngobrol sama Dara di meja pojok sendiri. Mereka terlihat begitu akrab dan sesekali kadang menunjukan kemesraan dengan saling suap satu sama lain.
Gavin dan Bu Ratih sesekali melihat anaknya yang sudah besar dan sebentar lagi menikah.
"Ma, kamu lihatin siapa sih.?"
__ADS_1
"Itu loh Pa, anakmu sudah besar. Sebentar lagi kita punya menantu." jawab Bu Ratih.
"Iya Ma, aku juga kadang berfikir waktu itu berjalan kok cepat sekali, Raka sekarang sudah jadi orang dewasa dan sebentar lagi menikah." ucap Gavin sambil terus menatap Raka dan Dara.
"Oh iya, Pa. Gazi kok nggak kelihatan. Mana ya.?" ucap Bu Ratih.
"Sibuk mungkin Ma, dia kan sekarang lagi punya hajat." jawab Gavin.
"Mama kok juga nggak lihat Zahra, apa dia nggak diajak kesini.?" tanya Bu Ratih sembari matanya mencari-cari seseorang.
"Iya, Papa juga nggak lihat dia." jawab Gavin.
"Ya mungkin dia lagi ada kerjaan." ucap Bu Ratih.
Tak lama kemudian yang lagi dibicarakan datang menghampiri bersama Gazi. Bu Ratih dan Gavin langsung menyambutnya.
"Kok kamu terlambat?" tanya Bu Ratih.
"Iya Tante, tadi disuruh Ibu panti mengantarkan pesanan kue dulu." jawab Zahra sambil mencium punggung tangan Bu Ratih dan Gavin.
"Iya Tante, anak-anak perempuan sudah diajari membuat kue sama Ibu panti." jawab Zahra.
"Iya Ma, Gazi sudah bilang sama dia untuk menaruh kuenya di Cafe. Sekalian ditulisi menerima pesanan." sahut Gazi.
"Bagus loh itu, supaya usaha kamu bisa berkembang." kini Gavin ikut menjawab.
"Iya, pokoknya Mama selalu support untuk semua usaha kalian. Mama doakan supaya usaha kalian bisa berkembang dengan baik." ucap Bu Ratih.
Disaat mereka lagi ngobrol-ngobol, tiba-tiba terdengar rame-rame dihalaman. Buru-buru Gazi dan Zahra berdiri mendekati tempat itu.
Bu Ratih dan Gavin nggak mau kalah, mereka juga langsung menyusul Gazi dan Zahra. Disana sudah ada Raka dan Bara membantu menenangkan rame-rame tersebut.
"Ada apa ini, Kak!" seru Gazi sambil berlari.
__ADS_1
"Gadis ini memaksa masuk padahal dia lagi mabuk.!" jawab Raka.
Gazi kaget setelah melihat siapa yang dimaksud Kakaknya itu. Dia nggak habis pikir dengan gadis itu, dari dulu tetap aja mendekatinya.
"Cindy.,!" seru Gazi.
"Kamu kenal dia Zi.?" tanya Raka.
"Dia teman kampus, tapi dia juga selalu mengejar-ngejar Gazi. Padahal Gazi sudah bilang kalau Gazi sudah punya tunangan." jawab Gazi.
"Oalah, jadi ini teman kamu.?" sahut Gavin sambil melihat gadis yang kini dipegang tangannya sama security.
"Iya Pa, nggak tahu kok dia tiba-tiba ada disini. Padahal Gazi nggak undang dia.!"
"Zi..kamu kok tega nggak undang aku ke acara pembukan cafe kamu.?" ucap gadis itu dengan suara yang berat khas orang mabuk.
"Kamu ngapain kesini? Sudah kamu sekarang pergi, kalau tidak aku akan laporkan kamu ke Polisi karena telah membuat onar di tempat ini!" jawab Gazi.
Tak lama kemudian datanglah seorang pemuda memghampiri kerumunan tersebut. Dia langsung mnyeret Cindy dengan kasar.
"Ayo pulang! Kamu ini bikin malu saja. Dasar gadis nggak tahu diri!" seru pemuda itu.
"Tunggu sebentar, Mas. Anda siapa?" tanya Gazi.
"Saya pacarnya.!" jawabnya.
Gazi langsung kaget, kenapa pemuda itu bilang pacarnya. Apa memang mereka pacaran. Kok dia kasar gitu sama perempuan, apa karena Cindy lagi mabuk. Batin Gazi.
"Ya sudah bawa pulang pacar Anda, tolong diurus biar nhgak bikin keributan ditempat saya!" jawab Gazi.
"Maaf, saya akan bawa dia pergi.!"
-------------------------------
__ADS_1
Bersambug....