
Mahen mengijinkan siapa yang mau bertemu Gavin. Kemudian masuklah seorang perempuan dewasa sekitar umur tiga puluh lima menghampiri Gavin.
"Sebelumnya perkenalkan, saya Susi istri Pak Rahmad pengawas proyek. Saya, kesini mau mengucapkan beribu-ribu maaf terhadap Pak Gavin atas terjadi insiden ini. Sebenarnya ini ada kesalahfahaman. Seharusnya yang jadi sasaran pengeroyokan itu suami saya, Pak. Karena suami saya terlibat hutang sama rentenir dan orang-orang yang mengeroyok Pak Gavin itu adalah orang suruhan rentenir tersebut. Makanya Beberapa hari terakhir ini suami saya nggak berani menampakan diri ditempat kerja. Jadi, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya sama Bapak dan keluarga atas insiden ini." ucap perempuan itu sambil manangis dan bersimpuh dilantai.
Mahen, Bu Ratih serta Gavin sendiri jadi nggak tega dengan perempuan ini. Bu Ratih menghampiri perempuan itu dan membantu supaya berdiri.
Sekarang perempuan itu berdiri diantara mereka. Mahen dan Gavin saling pandang dan kemudian Gavin mengangguk kearah Kakaknya itu.
"Maaf, Bu Susi. Saya sebagai keluarga korban dengan ikhlas akan menerima permintaan maaf Ibu. Tapi, untuk urusan pekerjaan saya harap Suami Ibu mau mempertanggung jawabkannya. Karena perusahaan saya sudah mengalami kerugian besar atas ulah Suami Ibu. Soal Pak Rahmad terlibat hutang sama rentenir saya nggak mau tahu karena itu urusan pribadi Pak Rahmad sendiri dan bukan urusan perusahaan. Adik saya kesini itu tujuannya memang untuk mengurus proyek yang macet karena ulah Suami Ibu, tapi, malah menjadi korban pengeroyokan." jelas Mahen.
"Iya, Pak. Saya mengerti, Suami saya juga menyerahkan diri ke pihak yang berwajib atas kejadian membawa lari uang perusahaan. Makanya saya kesini mewakili Suami saya memgucapkan beribu-ribu maaf kepada Bapak dan keluarga." ucap perempuan itu sambil terisak.
"Ya sudah, sekarang Ibu pulang saja karena hari sudah malam. Untuk urusan pekerjaan biar orang Papa saya yang mengurusi." tukas Mahen.
"Iya, Pak. Makasih Pak.., semoga lekas sembuh." jawab Bu Susi.
Kemudian perempuan itu keluar kamar. Mahen dan Gavin serta Bu Ratih merasa sedikit lega karena ada titik terang dari insiden ini.
"Vin, gimana keadaanmu sekarang, sudah mendingan. Kira-kira besok kita balik Jakarta gitu kamu siap?" tanya Mahen.
"Iya, Kak. Gavin sudah nggak apa-apa, kok." jawab Gavin.
"Oh iya, masalah ini kamu serahkan sama orang Papa untuk mengurusnya. Yang penting sekarang kamu sembuh dulu. Soal proyek, nanti setelah kita sampai dirumah kita rundingkan lagi dengan Papa." ucap Mahen.
"Iya, Kak. Gavin ngikut saja." jawab Gavin
Akhirnya mereka melanjutkan aktivitas masing-masing dikamar, Pak Narto tiduran dilantai yang beralaskan karpet. Kini Bu Ratih menyuapi suaminya makan buah. Mahen sibuk dengan makan nasi gorengnya.
Keesokan harinya sekitaran pukul delapan pagi, Mahen mengurus kepulangan Gavin karena sudah mendapatkan ijin dari Dokter. Bu Ratih membantu suaminya untuk siap-siap. Setelah selasai mereka menunggu Mahen mengurus administrasinya.
Pak Bayu pagi itu juga datang untuk membantu mereka berkemas. Setelah itu Mahen menghampiri Pak Bayu dan menyerahan beberapa lembar uang warna merah.
"Pak Bayu, ini ada titipan dari Mama saya, anggap saja buat beli rokoknya Pak Bayu. Dan saya mengucapkan terima kasih banyak telah dibantu." ucap Mahen.
"Oh iya, itu sudah menjadi tugas saya. Terima kasih banyak, ya Pak.!" jawabnya.
Setelah selesai, akhirnya mereka meninggakan kamar itu. Gavin didorong Mahen pakai kursi roda menuju parkiran. Kini yang bawa mobil Gavin si Mahen, sedangkan Gavin dan Bu Ratih ikut dengan Pak Narto.
Sebelum ke Jakarta, mereka mampir hotel dimana Gavin menginap untuk mengambil barang-barang Gavin yang masih ada di hotel.
Akhirnya mereka meninggalkan kota Bandung. Perjalanan Bandung Jakarta membuat capek serta bosan.
****
Sesampainya di rumah, Pak Indra dan Bu Hesty menyambut kedatangan mereka diteras rumah. Gavin turun dibantu istrinya, sedangkan Pak Narto membawa semua barang-barang Gavin.
Bu Ratih dan Gavin duduk diruang tengah lalu diikuti Mama Papanya. Tak lama kemudian Mahen menghampiri mereka.
"Gimana keadaan kamu, sayang. Sudah nggak apa-apa.?" tanya Bu Hesty.
"Sudah Ma. Gavin sudah nggak apa-apa. Tinggal nyerinya aja." jawab Gavin.
"Syukurlah Nak. Mama kawatir sekali. Tapi, saat satpam proyek itu bilang kalau luka kamu nggak parah, Mama sedikit lega." ucap Bu Hesty.
"Gimana ceritanya sampai kamu dikeroyok gini, Vin?" tanya Pak Indra.
__ADS_1
"Saat itu Gavin seperti biasa, Pa. Mengecek lokasi dan melihat semua pekerja agar tetap melaksankan pekerjaannya, dan Gavin juga bicara sama mandornya agar pembangunan ini tetap lanjut. Untuk material yang sempat macet belum dikirim itu nanti Gavin yang urus, yang penting pembangunan ini nggak berhenti. Lalu Gavin sejenak duduk-duduk santai di pos satpam yang letaknya jauh dari lokasi. Saat Gavin ngobrol sama Pak Bayu satpam proyek itu, tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti pas didepan kami. Kemudian tanpa ada tanda mereka langsung menyerang Gavin. Pak Bayu sudah membantu tapi yang mereka incar justru Gavin. Akhirnya Pak Bayu lari minta bantuan orang proyek. Setelah mereka terdesak karena orang-orang proyek datang, mereka bubar dan meninggalkan kami semua. Saat itu Gavin sudah lemas karena kena keroyok mereka. Makanya Gavin suruh Pak Bayu buat telpon Papa karena Gavin sudah nggak kuat." jelas Gavin.
Pak Indra manggut-manggut mendengar cerita Gavin.
"Apa ini ada hubungannya dengan masalah perusahaan?" tanya Pak Indra.
"Nggak ada, Pa. Ternyata Gavin hanya salah sasaran aja." timpal Mahen.
"Maksudnya.!" seru Pak Indra.
"Iya, Pa. Ternyata orang yang menyerang Gavin itu mengincar Pak Rahmad. Pengawas proyek yang bermasalah itu. Istrinya kemarin datang menemui kita dirumah sakit dan menjelaskan bahwa sebenarnya sasarannya adalah Pak Rahmad. Karena Pak Rahmad punya sangkutan hutang dengan rentenir. Mungkin Gavin dikiranya Pak Rahmad. Tapi, Pak Rahmad sendiri sudah menyerahkan diri ke pihak berwajib. Sekarang orang Papa yang di Bandung yang mengurusi semua." jelas Mahen.
"Oalah gitu ceritanya. Tapi, semuanya baik-baik saja, kan? maksud Papa kira-kira nggak ada buntut permasalahan dari kasus ini.?" tanya Pak Indra.
"Mahen rasa tidak ada lagi, Pa. Karena sekarang itu sudah menjadi urusan Pak Rahmad dengan pihak rentenir. Karena dari kita kan belum sempat melakukan laporan, jadi kita ngalah nggak usah nuntut lagi, Pa." ucap Mahen.
"Ya sudah, kalau gitu. Papa juga nggak mau urusan jadi melebar, yang penting Adik kamu selamat, dan untuk urusan tuntut menuntut Papa rasa nggak perlu. Kasihan, Pak Rahmad pasti sudah puyeng soal ini." jawab Pak Indra.
"Iya, Pa." jawab Mahen.
Akhirnya Gavin istirahat dikamar dibantu Bu Ratih untuk naik keatas. Setibanya dikamar Gavin dibaringkan di tempat tidur. Hari ini Bu Ratih sudah ijin tidak masuk ngajar karena harus jemput suaminya.
"Sayang, berarti hari ini kamu ijin nggak masuk?" tanya Gavin.
"Iya, sayang. aku sudah ijin kok." jawab Bu Ratih sembari dia menata baju-baju yang dari Bandung itu.
"Kamu memamg istri idaman, sayang. Makin lope aja aku sama kamu.!" seru Gavin.
"Hemm.., mulai deh gombalnya, suamiku ini." ujar Bu Ratih.
Tak lama kemudian Bibi mengetuk pintu membawakan minuman buat Gavin. Ada susu hangat, teh manis hangat sama roti isi.
"Makasih ya Bi, taruh disitu aja, Bi." ucap Bu Ratih seraya menunjuk nakas.
Kemudian Bibi menaruh makanan dan minuman itu diatas nakas. Lalu dia pamit kembali ke dapur. Kini tinggal berdua Bu Ratih dan suaminya.
Gavin memandangi istrinya yang dengan telaten merawatnya. Bu Ratih mengganti perban dan memberi obat ke suaminya. Mungkin inilah yang dirasakan Bu Ratih menjadi istri yang sesungguhnya. Melayani dan merawat suami dikala seperti ini.
Sampai akhirnya tak terasa Gavin tertidur pulas. Demikian juga dengan Bu Ratih, dia tertidur disamping suaminya.
(***)
Keesokan harinya, Bu Ratih berangkat ke kampus diantar Pak Narto. Gavin masih belum ngantor nunggu pulih benar. Bu Ratih berpamitan sama suaminya.
Setibanya di kampus Bu Ratih turun didepan kampus karena mobil nggak masuk. Saat berjalan menuju halaman kampus tiba-tiba seseorang memanggilnya.
"Bu Ratih..!" teriak seseorang.
Ketika Bu Ratih menoleh, ternyata Vanya yang memanggilnya. Seketika Bu Ratih berhenti menunggu si empunya suara itu.
Bu Ratih tersenyum ketika melihat Vanya dengan nafas terengah-engah karena berlari.
"Kamu kenapa lari-lari, itu jadi berkeringat deh!" ucap Bu Ratih.
Vanya masih mengatur nafasnya guna bisa bicara dengan baik. Kini mereka berjalan beriringan menuju kampus.
__ADS_1
"Bu Ratih kemarin kemana kok nggak masuk.?" tanya Vanya tiba-tiba.
"Iya, Bu Ratih ada urusan sedikit di Bandung, jadi harus ijin." jawab Bu Ratih.
"Oh.., kirain Bu Ratih sakit. Vanya sempat kawatir." ucapnya lirih.
"Hemm.., makasih sudah kawatir sama Ibu. Kamu baik banget." jawab Bu Ratih.
Ketika sampai dalam kampus, mereka berpisah karena ruangannya berbeda. Bu Ratih menuju ruang Dosen yang berada diujung barat, sedangkan ruangan kelas berada disisi timur.
Hari ini Bu Ratih nggak ada jadwal ngajar di kelas Vanya. Dia hanya mendapat jadwal ngajar satu kelas saja.
"Bu Ratih," sapa seseorang saat dia mau masuk kelas.
Bu Ratih berhenti dan menoleh kebelakang. Pak Anwar bagian tata usaha yang memanggilnya.
"Ada apa, Pak?" tanya Bu Ratih.
"Ini ada undangan Seminar buat Bu Ratih. Kampus memutuskan bahwa Bu Ratih lah yang mewakilinya. Tadi, saya lupa mau memberikan ini di ruangan Dosen." ucap Pak Anwar.
"Makasih Pak..," jawab Bu Ratih.
Bu Ratih kembali berjalan menuju kelas. Setibanya dikelas, semua Mahasiswa dan Mahasiswi sudah duduk didalam kelas.
Dia mengambil tempat duduk seperti biasa, kemudian mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Lalu dia memulai memberikan materi dihadapan semua Mahasiswa dan Mahasiswinya.
"Bu, maaf saya mau tanya.?" ucap salah satu Mahasiswa yang duduk di belakang.
"Iya, silahkan.!" jawab Bu Ratih.
"Tugas yang Bu Ratih tempo hari, apa harus dikumpul besok, Bu?" tanyanya.
"Emang kamu belum selesai,?" tanya Bu Ratih.
"Tinggal sedikit lagi, Tapi, kalau besok kayaknya belum selesai." jawabnya dengan mimik melas.
Bu Ratih hanya tersenyum melihat sikap Mahasiswa nya yang satu ini. Polos tapi nggak malu buat bertanya sekiranya memang dia masih belum faham.
"Ya sudah, kamu selsesaikan secepatnya. Meskipun tidak harus besok." jawab Bu Ratih dengan tersenyum.
"Makasih, Bu." jawabnya kegirangan.
"Tapi, buat yang lain. Kalau memamg besok sudah selesai, bisa langsung dikumpulkan.!" seru Bu Ratih.
"Baik, Bu." jawabnya serempak.
"Waktu saya kurang lima belas menit lagi, saya rasa sampai disini dulu materi hari ini. Sampai jumpa besok. Dan Selamat siang!" seru Bu Ratih.
"Siang Bu.,!!" jawabnya lagi.
Kemudian dia membereskan buku yang ada dimejanya, lalu memasukan ke dalam tasnya. Kemudian dia melangkah keluar meninggalkan ruang kelas itu.
Bu Ratih berjalan sambil menyusuri lorong kelas menuju ruangan Dosen. Tapi, baru saja dia mau menuju ruangan Dosen, tiba-tiba seseorang menabraknya.
"Bruuuk..!!"
__ADS_1
-----------------------------------
Bersambung....