
"Ma, Aku hari ini ke Semarang. Mungkin langsung pulang, kok. Jadi nggak usah bawa baju ganti." ucap Gavin saat sarapan.
"Lho, kok mendadak, Pa. Sama siapa ke Semarang?" tanya Bu Ratih.
"Sama Pak Fajar. Mau lihat pembangunan Hotel yang disana." jawab Gavin.
"Oke, Pa. Hati-hati."
"Mama hari ini ke kampus?" tanya Gavin.
"Iya, Pa. Pak Dekan panggil Mama disuruh ke kampus." jawab Bu Ratih.
"Ada apa, Ma."
"Mama juga belum tahu, Pa."
"Ya sudah, sekarang Papa berangkat dulu, kamu hati-hati, ya?" ucap Gavin sambil tangannya diulurkan ke istrinya.
Bu Ratih mencium punggung tangan suaminya lalu mengantarkan ke depan. Setelah itu dia kembali masuk ke rumah.
"Susi, nanti saya jam sepuluh mau ke kampus, pulangnya belum tahu jam berapa." ucap Bu Ratih.
"Iya, Bu."
.
.
.
Jam sepuluh Bu Ratih berangkat ke kampus diantar Santo. Setelah sampai kampus dia langsung ke ruangan Dekan.
"Silahkan masuk, Bu Ratih." ucap Pak Dekan saat Bu Ratih didepan pintu.
"Iya, Pak."
"Silahkan duduk."
"Makasih, Pak." jawab Bu Ratih sambil menarik kursi yang didepan mejanya Pak Dekan.
"Begini, Bu. Saat ini Bu Ratih, kan tinggal semester akhir dan menunggu sidang. Kami dari pihak kampus mau menawarkan kepada Ibu untuk mengajar dikampus ini." ucap Pak Dekan.
Bu Ratih kaget bercampur senang, tapi dia belum bisa memberi keputusan. Karena dia harus konfirmasi dulu sama kampusnya lama.
"Maaf sebelumnya, Pak. Saya sangat terhormat sekali karena dipercaya untuk mengajar dikampus ini. Tapi, saya belum bisa memberi jawaban sekarang, karena saya juga harus membicarakan dengan pihak kampus yang lama. Bagaimanapun juga saya melanjutkan S3 ini, karena bea siswa dari kampus yang lama, Pak." jelas Bu Ratih.
"Baiklah, Bu. Kami juga nggak memaksa. Mumpung ada kesempatan, kami memilih Bu Ratih sebagai kandidatnya karena kami rasa Bu Ratih sangat berkompeten dalam hal ini." jawab Pak Dekan.
"Iya, Pak. Saya akan pertimbangkan masalah ini." jawab Bu Ratih.
"Baiklah, Bu. Kami tunggu kabar dari Bu Ratih." ucap Pak Dekan.
__ADS_1
"Saya permisi dulu, Pak." ucap Bu Ratih sambil mengulurkan tangannya.
Akhirnya Bu Ratih meninggalkan ruangan Dekan. Sambil berjalam menuju parkiran dia masih memikirkan tawaran Dekan tadi. Dia bingung dan harus benar-benar memikirkan untuk masalah satu ini.
Kalau kampusnya yang dulu jelas masih membutuhkannya karena itu dia disekolahkan lagi S3 untuk meningkatan kualitas mengajarnya di kampus tersebut.
.
.
.
Malam harinya saat ditempat tidur, Bu Ratih ngobrol-ngobrol sama suaminya.
"Ma, tadi Dekan panggil kamu ada apa?" tanya Gavin.
"Oh iya, Pa. Kampus menawari aku untuk mengajar di kampus itu." jawab Bu Ratih.
"Terus apa jawaban, Mama.?"
"Aku belum bisa jawab, Pa. Malah Mama mau tanya sama Papa."
"Papa juga bingung, Ma. Kalau dari sudut pandang Papa, ya terima saja. Secara Mama sudah punya kegiatan disini. Selain itu Papa kan sekarang juga pegang perusahaan di sini." jawab Gavin.
"Nah, Mama awalnya mikir gitu. Tapi, Mama nggak enak kan belum konfirmasi juga sama pihak kampus yang di Jakarta." jawab Bu Ratih.
"Ya kalau gitu kamu ke Jakarta aja, coba bicara sama pihak kampus sana." jawab Gavin.
"Baiklah, Ma. Kalau Papa mendukung saja apa yang menjadi keputusanmu." ucap Gavin.
Mereka ngobrol sampai malam, dan tak terasa sudah larut kemudian mereka tertidur juga.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keesokan harinya, Gavin dan Bu Ratih kedatangan tamu special. Kenapa dibilang special, karena yang datang adalah keluarga dari Jakarta. Papa dan Mama Gavin.
"Kenapa Papa nggak telpon Gavin dulu kalau mau kesini,?" ucap Gavin sesampainya Pak Indra dan Bu Hesty dirumahnya.
"Papa sengaja nggak bilang. Makanya pas sudah dekat baru Papa telpon kamu, Karena biar surpprise." jawabnya siangkat.
"Mama nggak capek di mobil terus, istirahat aja dulu, Ma." sahut Bu Ratih.
"Nggak usah, Mama kesini mau ketemu cucu-cucu Mama." jawab Bu Hesty.
"Mereka masih sekolah, Ma. Raka pulangnya nanti sore karena ada latihan basket. Kalau Cantik sebentar lagi pulang dari sekolah Paud." jawab Bu Ratih.
"Tadi, pas Papa bilang sudah dekat. Gavin langsung telpon hotel kalau hari ini nggak masuk." ucap Gavin.
"Papa kesini selain memang pingin ketemu cucu-cucu Papa, juga mau lihat perkembangan hotel serta sekolahannya istrimu." ucap Pak Indra.
"Oh iya, Pa."
__ADS_1
"Sekarang Mama sama Papa makan dulu atau istirahat?" tanya Bu Ratih.
"Kalau Papa mau ikut Gavin ke hotel saja. Biar Mamamu yang istirahat." tukas Pak Indra.
"Lho, Papa apa nggak capek. Kan, baru datang?" tanya Gavin.
"Papa dari tadi tidur terus di mobil, sekarang pingin jalan-jalan aja." jawab Pak Indra.
"Tahu gitu tadi bilang nggak masuk, Pa. Kalau pada akhirnya kalau ke hotel juga." ucap Gavin.
"Nggak apa-apa. Kamu kan pimpinannya. Mau datang apa nggak kan hak kamu. Yang penting kan sudah ijin sebelumnya" jawab Pak Indra.
"Iya juga sih, Pa. Kalau gitu Gavin ganti baju dulu." jawab Gavin.
Tak selang lama Gavin selesai ganti baju. Dan akhirnya mereka berangkat ke hotel. Pak Narto sopirnya Pak Indra disuruh istirahat di kamar belakang oleh Bu Ratih.
Sejak Fatma dipecat dan Susi tinggal dirumahnya, kamar yang dulu ditempati Fatma kini ditempati Santo, dan kamar Santo sebelumnya kini ditempati Susi. Sedangkan kamar dibelakang kosong tapi tetap saja bersih karena tiap jari dibersihkan Santo.
"Ma, istirahat dikamar, yuk. Sambil cerita-cerita." ucap Bu Ratih.
"Baiklah, lagian ada yang mau Mama bilang sama kamu." ucap Bu Hesty.
Kemudian mereka masuk kamar dan kini ngobrolnya dilanjut dikamar.
"Tih, kapan hari Kasih datang ke rumah Mama?" ucap Bu Hesty.
"Oh iya, apa kabarnya sekarang?" tanya Bu Ratih penasaran.
"Dia menceritakan kalau suaminya kena stroke. Sekarang dia harus merawat suaminya." ucap Bu Hesty.
"Ya ampun, kasihan dia, Ma. Lalu kok tiba-tiba dia bisa ke rumah Mama itu ceritanya gimana?" tanya Bu Rayih penasaran.
"Dia kebetulan dari rumahnya Pak Darman, tetangga kita yang kerja di Depnaker, dia pesan seragam buat staf dikantornya. Lalu lihat Mama ada dihalaman sama Bibi, akhirnya mampir. Saat itu Papamu kebetulan lagi keluar. Lalu dia cerita begitu." jelas Bu Hesty.
"Ratih dan Gavin juga sempat mengetahui soal suaminya, Ma." ucap Bu Ratih.
"Soal suaminya yang selingkuh, ya?" ucapan Bu Hesty membuat kaget Bu Ratih.
"Kasih sudah tahu, Ma."
"Iya, Tih. Kasih sudah tahu, lalu pas bertengkar tiba-tiba suaminya jatuh dan akhirnya kena stroke itu." jawab Bu Hesty.
"Ya ampun, Sih. Kamu kasihan banget. Mudah-mudahan kamu bisa menghadapi semua ini." ucap Bu Ratih lirih.
"Iya, Tih. Mama jug kasihan sama dia. Memang secara materi dia tidak kekuranagan. Tapi, soal kasih sayang seorang suami, dia belum beruntung." jawab Bu Hesty.
Bu Ratih terdiam karena omongan mertuanya barusan. Dia merasa nggak enak, secara tidak langsung mertuanya bilang kalau dirinya masih beruntung karena masih punya suami yang normal.
"Apa maksud perkataan Mama barusan." ucap Bu Ratih dalam hati.
--------------------------------
__ADS_1
Bersambung.....