BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON TIGA Part : 143 (Hampir saja)


__ADS_3

Kasih kaget setelah mengetahui siapa pengendara mobil itu. Ternyata orang itu Gavin. Dia panik karena takut akan ketahuan Gavin kalau dirinya yang ada dimobil ini. Kasih bingung apa yang harus dia lakukan.


"Mending, aku telpon saja biar nggak sampai terjadi sesuatu" ucap Kasih dalam hati.


["Halo, Pak Isman. Mending kita langsung pulang saja, Pak."]


["Tapi, Bu. Apa nanti kita nggak tambah kena masalah.?"]


["Sudah, bilang saja Bapak ada perlu. Soalnya saya nggak jadi beli buah."]


["Ya sudah. Saya coba bicara sama orangnya."]


["Oke,!"]


Setelah Pak Isman bicara sama Gavin, akhirnya mereka menyudahi pembicaraan dan tidak terjadi apa-apa. Kemudian kedua laki-laki itu saling jabat tangan. Kasih bernafas lega, karena dia nggak akan bertemu dengan Ayah dari anaknya.


Sepeninggal mobilnya Kasih pergi, kini Gavin masih berdiri dan Bu Ratih masih duduk didalam mobil sambil menunggu suaminya kembali. Saat Gavin masuk kedalam mobil, dia menggerutu sendiri.


"Kenapa, Pa. Kok kamu ngedumel sendiri?" tanya Bu Ratih.


"Masak dia yang hendak menabrak mobil kita, tiba-tiba dia pergi." jawab Gavin.


"Sudahlah, sayang. Yang penting kita selamat. Sabar, ya?" ucap Bu Ratih.


"Iya, sayang. Kita pulang, yuk. Kasihan Raka pasti sudah menunggu kita." jawab Gavin.


Bu Ratih mengangguk dan kini Gavin kembali melajukan mobilnya menyusuri jalan raya menuju rumahnya.


Gavin memarkirkn mobilnya setibanya mereka dirumahnya. Bu Ratih melihat Raka sudah duduk didepan bersama Pak Indra menyambut kedatangan Mama dan Papanya. Raka seketika berlari mendekati Bu Ratih.


"Hmm., anak Mama sudah wangi." ucap Bu Ratih sambil mencium pipi anaknya.


"Mama jadi belikan Raka buah?" tanya Raka.


"Iya, sayang. Itu masih dibawah Papamu." jawab Bu Ratih seraya menoleh kebelakang.


Mereka semua masuk kedalam. Pak Indra hanya bisa tersenyum melihat kebahagiaan anak dan menantunya itu. Dia jadi teringat bagaimana proses untuk mendapatkan seorang cucu. Banyak konflik dan perbedaan pendapat. Tapi, akhirnya bisa mendapatkan solusi yang baik. Meskipun ada yang rela berkorban.


.


.


.


Ketika malam harinya, semua pada masuk kamarnya masing-masing. Bu Ratih dan Gavin ngobrol-ngobrol dikamar. Gavin masih melototi laptopnya sedangkan Bu Ratih menyandarkan tubuhnya dikepala tempat tidurnya.


"Pa,"


"Hmm.,"

__ADS_1


"Aku mau bicara sesuatu." ucap Bu Ratih


"Bicara apa, Ma?" jawab Gavin tanpa menoleh ke arah istrinya


"Pa, Mama dapat beasiswa S3 ke Jogja." ucap Bu Ratih pelan.


"Apa,!" sahut Gavin seketika menoleh kearah Bu Ratih.


"Kenapa, Pa?" ucap Bu Ratih sambil menatap kearah suaminya.


"Nggak apa-apa, tapi itu wajib apa masih sekedar penawaran?" tanya Gavin.


"Tugas, Pa." jawab Bu Ratih pelan.


"Kalau kamu sendiri gimana?" tanya Gavin balik.


"Aku kan rundingan dulu, makanya ini aku bilang sama kamu." jawab Bu Ratih.


Gavin berdiri dari kursinya menuju ke tempat tidur mendekati istrinya. Kemudian dia memegang kedua bahu Bu Ratih sambil menatap dalam-dalam wajah istrinya.


"Ma, sebagai suami, aku hanya bisa memberi ijin dan mensupport saja. Selama itu untuk kebaikan Mama sendiri, aku setuju." jawab Gavin.


"Beneran, Pa!" seru Bu Ratih.


"Iya, Ma. Tapi, bagaimana dengan, Raka?" tanya Gavin.


"Sebenarnya Raka itu anaknya mandiri, Ma. Lagian juga, bukan anak kecil lagi. Terus jarak Jogja Jakarta nggak terlalu jauh. Ditempuh dengan naik pesawat juga bisa, kan?" sahut Gavin.


"Iya, juga Pa. Besok Mama biar ngomong sama Raka." jawab Bu Ratih.


(***)


Hari minggu adalah hari yang selalu Bu Ratih habiskan dengan keluarganya. Seperti hari ini mereka goes keliling komplek bertiga. Gavin dan Bu Ratih selalu memberikan yang terbaik untuk anak semata wayangnya.


Ketika melewati orang jual bubur ayam, Gavin mengajak anak istrinya mampir untuk membelinya. Mereka memarkirkan sepedanya dipinggir warung tersebut. Pengunjungnya lumayan, meskipun sedikit antri tapi tidak menghilangkan rasa penasarannya Gavin untuk mencicipi bubur ayam itu.


"Pak, bubur ayamnya tiga dimakan sini, ya!" seru Gavin.


"Baik, Mas." jawabnya.


"Raka, kalau Mama dapat beasiswa lagi untuk kuliah di Jogja, Raka keberatan, nggak?" tanya Bu Ratih.


"Mama mau kuliah, lagi?" tanya Raka polos.


"Iya, Nak. Mama ada tugas dari kampus Mama, untuk melanjutkan kuliah S3 di Jogja." jawab Bu Ratih pelan.


"Berarti, Mama harus ke Jogja, dong?" ucap Raka.


"Iya, Nak. Kuliahnya cuma lima hari, sabtu minggu libur. Jadi, tiap jumat sore Mama pulang ke Jakarta. Senin pagi-pagi sekali balik lagi ke Jogja, sayang." jelas Bu Ratih.

__ADS_1


"Emm gimana, Pa?" kini Raka malah bertanya sama Gavin.


"Papa sih setuju-setuju, saja. Tapi, kalau Raka keberatan, biar nanti Mama pertimbangkan lagi." jawab Gavin.


"Raka nggak apa-apa, kok." jawab Raka polos.


"Iya, nanti dirundingkan lagi sama Opa dan Oma juga" jawab Bu Ratih.


"Iya, Ma." jawab Raka.


"Kamu memang anak pintar. Sudah besar harus bisa bantu Mama dan Papanya nanti." ucap Bu Ratih sambil mengacak rambut Raka.


Setelah mereka selesai makan, akhirnya memutuskan langsung pulang. Gavin membayar bubur dulu lalu kembali melanjutkan perjalanan pulang.


Setibanya dirumah, mereka langsung membersihkan dirinya masing-masing. Pak Indra dan Bu Hesty lagi duduk-duduk ditaman. Tak lama kemudian setelah selesai mandi, mereka ikut gabung sama Pak Indra dan Bu Hesty.


"Pa, Gavin mau minta saran. Ratih kan dapat bea siswa melanjutkan kuliah S3 di Jogja. Kalau menurut Papa diambil apa nggak, secara dia kan punya keluarga. Gimana, Pa?" tanya Gavin.


"Bagus itu, nggak semua orang lho mendapatkan kesempatan seperti ini. Sekarang tinggal ke Ratih nya. Dia sudah siap apa belum. Siap dengan segala konsekuensinya. Secara dia akan meninggalkan keluarganya. Tapi, semua itu juga kan ada jalan keluarnya gimana supaya dia bisa tetap melanjutkan kuliah dan tetap bisa berkumpul sama keluarga." jelas Pak Indra.


"Iya, Tih. Kalau menurut Mama sih diambil saja. Buat jenjang karirmu kedepan. Kalau Mama setuju saja. Raka disini kan sama Oma dan Opa juga, ya sayang." sahut Bu Hesty sambil mencubit pipi Raka.


"Iya, Oma. Raka kan sudah besar dan sudah disunat. Kata Pak Guru disekolah, kalau anak yang sudah disunat itu tandanya anak itu sudah besar dan harus bisa mandiri." jawab Raka.


"Tuh, anak kamu saja mengerti. Sekarang tunggu apa lagi. Ambil saja, Tih. Papa juga setuju" jawab Pak Indra.


"Kalau Gavin kemarin juga sudah setuju, Pa. Cuma Ratih harus bilang juga ke Raka. Ternyata dia juga setuju. Katanya, kan jarak Jakarta-Jogja nggak jauh." ucap Gavin.


"Iya, kan tiap minggunya bisa pulang ke Jakarta. Atau Gavin dan Raka yang bisa ke Jogja." ucap Pak Indra.


"Baiklah, Pa. Ratih akan mengambilnya. Ratih janji akan tekun belajar biar kuliahnya nggak lama-lama. Mudah-mudahan bisa seperti saat Ratih ambil S2 di Jepang, cepat selesai." jawab Bu Ratih.


"Oh iya, sayang. Keluarga kamu kan ada yang di Jogja. Nanti kan bisa tinggal disana?" ucap Gavin.


"Ada, sayang. Di Jogja masih ada Budhe Ratmi dan anaknya yang punya usaha kost-kostan." jawab Bu Ratih.


"Syukurlah, jadi aku nggak kawatir kalau kamu disana." ucap Gavin.


"Iya, sayang. Tenang saja kalau di Jogja. Disana kan tempat lahirku, dari aku kecil sampai aku duduk dibangku kuliah aku di Jogja. Dan sekarang aku akan kuliah lagi di kampus yang sama dengan waktu itu." jawab Bu Ratih.


"Oke, Ratih. Papa sama Mama bangga sama kamu, Nak. Meskipun usia tidak muda lagi, masih diberi kesempatan menuntut ilmu yang lebih tinggi lagi. Selamat ya, Ratih.!" ucap Pak Indra sambil menepuk-nepuk pundak Bu Ratih.


"Terima kasih, Pa, Ma. Ratih juga bangga punya Mertua seperti Papa dan Mama. Selalu mensupport Ratih seperti ini." jawab Bu Ratih.


Pak Indra dan Bu Hesty tersenyum sambil memandangi menantunya ini. Mereka sangat sayang sekali sama Bu Ratih. Mereka juga nggak pernah menganggap Bu Ratih sebagai menantu, melainkan seperti anak kandungnya sendiri.


----------------------------------


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2