
Malam harinya mereka tiba di Bali. Gavin langsung check in hotel. Kali ini yang mereka tuju adalah kota Denpasar. Sengaja memilih tengah kota biar kemana-mana nya dekat.
Gavin dan Bu Ratih masuk ke kamar. Kini mereka berdua melepas lelah setelah perjalanan dari Jakarta. Meskipun naik pesawat, tapi, mereka lelah juga.
Gavin membaringkan badannya di kasur, sedangkan Bu Ratih sibuk menata barang-barangnya.
"Sayang," seru Gavin sembari mengerlingkan matanya.
"Kamu mulai deh, genitnya." jawab Bu Ratih dengan senyuman.
Bu Ratih mendekati suaminya yang lagi rebahan diatas kasur. Kini dia duduk ditepi ranjang. Tangannya membelai rambut suaminya dengan penuh kasih sayang. "Kamu, mandi lalu kita makan malam."
Gavin mengecup pipi istrinya lalu melangkah menuju kamar mandi. Bu Ratih hanya tersenyum manis melihat suaminya yang begitu ia cintai.
Setelah keduanya selesai, kemudian mereka keluar hotel untuk jalan-jalan di malam hari. Karena jadwalnya belum ke tempat wisata, akhirnya keduanya memutuskan untuk melihat air mamcur warna warni di Puputan.
Tempat itu semacam sebuah taman kota, atau lebih familiarnya disebut alun-alun kota. Banyak pengunjung yang berdatangan untuk melihat keindahan tempat tersebut. Gavin dan Bu Ratih memilih tempat untuk makam malam di sebuah kedai sederhana yang menjual berbagai jenis makanan khas Bali.
Keduanya memesan sate lilit dan ayam betutu. Dengan lahapnya Gavin menikmati makanan tersebut, begitu pula Bu Ratih. Mereka lupa akan diet dan lain sebagainya. Sampai akhirnya keduanya merasa kenyang.
Kemudian keduanya berjalan-jalan disepanjang taman kota itu. "Sayang, kira-kira kamu nanti ingin punya anak berapa?" tanya Gavin sambil memeluk pundak istrinya.
"Aku pinginnya dua saja. Program pemerintah, dua anak cukup." jawab Bu Ratih.
Mereka kemudian duduk di bangku taman sambil melihat anak kecil yang berlalu lalang.
"Tapi, aku pinginnya empat, dua cowok dan dua cewek." sahut Gavin.
"Hemmm.., oke dech! terserah Papanya aja." ucap Bu Ratih lirih.
Gavin seketika menoleh ke arah istrinya, dia ingin sekali lagi Bu Ratih mengulang kalimatnya itu. "Sayang, coba sekali lagi kamu tadi bilang apa?"
Bu Ratih spontan tersipu malu lalu beranjak dari duduknya, kemudian Gavin mengikutinya dibelakang. Setengah berlari dia menyusul istrinya.
Sekitar pukul sepuluh malam, keduanya memutuskan balik ke hotel. Bu Ratih melingkarkan tangannya di pinggang suaminya. Sesampainya di hotel Gavin dan Bu Ratih istirahat.
Cahaya mentari pagi menyelinap disela-sela jendela kamar. Bu Ratih beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi guna bersiap-siap. Gavin masih tertidur pulas. Tak lama kemudian dia terbangun dan tangannya meraba-raba kasur disebelahnya sudah kosong.
__ADS_1
Matanya bergerilya ke seluruh ruangan kamar mencari istrinya. Dia beranjak dan duduk di tepi ranjang. Tak selang lama kemudian, keluarlah Bu Ratih dari kamar mandi dengan memakai handuk yang menutupi tubuhnya. Dia nampak kaget, dikiranya tadi suaminya masih tidur.
Gavin hanya tersenyum melihat sikap istrinya yang sedikit kikuk karena hanya berbalut handuk saja. Kemudian Gavin berdiri dan menghampiri istrinya. Bu Ratih sedikit menepi dan mencoba menjauh dari Gavin.
"Sana ganti baju, aku mau mandi." ucap Gavin sbari mengecup kening istrinya.
Bu Ratih sedikit lega, dan melihat suaminya yang masuk kamar mandi. Kemudian dia memilih baju yang casual biar enak buat jalan-jalan hari ini.
***
Sekitar pukul delapan pagi, keduanya memesan mobil sewaan buat jalan-jalan. Jadwal hari ini mereka mau ke pantai pandawa yang terkenal indah.
Sesampainya ditempat tujuan, keduanya langsung menikmati indahnya pantai itu. Tebing yang tinggi serta air yang jernih warna biru menambah kecantikan alam itu.
Gavin menggandeng tangan istrinya berjalan menyusuri pantai itu. Kebahagiaan nampak dari wajah keduanya. mereka seolah terhipnotis dengan aura pantai pandawa yang memukau. Banyak turis asing dan domestik yang mengunjungi tempat itu.
"Sayang, kamu lihat sepasang kakek dan nenek itu." ucap Gavin sembari menunjuk dua orang yang lagi duduk dibawah pohon.
"Iya, aku lihat. Emang kenapa, sayang?" tanya Bu Ratih balik.
Bu Ratih langsung menggenggam tangan suaminya itu dengan hangat.
"Pasti itu, sayang. Kita akan selalu menciptakan kemesraan."
"Terima kasih, sayang. Kamu sudah mengerti." jawab Gavin.
"Kita akan tetap seperti ini sampai tua. Saling mendukung dan mengerti satu sama lain." ucap Bu Ratih.
"Iya, sayang. Aku berjanji akan selalu menjaga dan selalu disampingmu, jadi jangan pernah tinggalkan aku." ucap Gavin sambik mencium kening istrinya.
Gavin memeluk tubuh istrinya sambil menatap lautan lepas. Sinar matahari mulai memayungi bumi sehingga penghuninya mulai merasakan sedikit ada yang menusuk kulitnya. Gavin dan Bu Ratih sudah memakai topi yang dibawahnya dari rumah.
Setelah berjalan dan mengitari ke seluruh penjuru tempat itu, akhirnya keduanya memilih beristirahat duduk dibawah pohon yang sudah tertata kursi-kursi. Bu Ratih memesan dua es kelapa muda.
Gavin duduk sambil memeluk istrinya. Bu Ratih bersandar di dada suaminya sambil menikmati udara pantai pandawa. Tak lama kemudian es kelapa mudanya datang. Mereka akhirnya menikmati es ditengah-tengah teriknya matahari.
Tak terasa sudah hampir sore, jam menunjukkan pukul tiga sore. Rencana selanjutnya ke pantai kuta guna menikmati sunset.
__ADS_1
Berangkatlah mereka menuju pantai kuta. Diperjalanan Gavin selalu menghibur istrinya biar nggak jenuh. Tak lama kemudian tibalah mereka ditempat tujuan.
Keduanya kemudian menyusuri pantai dengan kaki telanjang. Pasir putih menjadi ciri khas pantai itu serta anak-anak pantai berlarian kesana kemari. Tukang kepang rambut berkeliaran menawarkan jasanya.
Ketika menjelang petang, Gavin menyiapkan kameranya untuk mengabadikan moment sunset tersebut.
Bu Ratih berlarian si pasir seperti anak kecil. Gavin tak lupa mengabadikan setiap tingkah istrinya.
"Ayo, sayang. Kejar aku.,!" seru Bu Ratih dari kejauhan sembari melambaikan tangannya.
Gavin hanya tersenyum melihat tingkah lucu istrinya. Dari kejauhan dia hanya memandangi istrinya yang lagi asyik berlarian sambil bermain pasir. Dia begitu bahagia karena telah mendapatkan istri sebaik Bu Ratih.
Dalam hatinya dia berjanji kalau tidak akan pernah menyakiti hati istrinya itu. Apapun keadaannya dia akan tetap menerimanya dengan hati yang tulus. Dia perempuan yang nantinya melahirkan anak-anaknya sebagai penerus garis keturunan WIJAYA.
"Sayang, kok kamu dari tadi lihatin aku melulu. Aku lihat dari jauh, pandanganmu tak lepas dari aku." tanya Bu Ratih setelah dia menghampiri suaminya.
"Nggak apa-apa kok. Aku bangga aja punya istri kamu." jawab Gavin asal.
"Hemm., masak sih.! nggak bohong, kan?" ucap Bu Ratih sambil mencubit pinggang suaminya.
Tanpa ba bi bu lagi, Gavin langsung memeluk tubuh istrinya dan mengangkatnya sambil berteriak
"RATIH...AKU CINTA KAMU. SAMPAI KAPANPUN AKU AKAN TETAP MENCINTAIMU.." teriak Gavin ditengah-tengah pantai itu.
Bersambung.....
-----------------------------------
Bu Dosen cantik di season dua ini nantinya menceritakan kehidupan Bu Ratih dan Gavindra paskah menikah. Dimana mereka harus mengalami lika-liku kehidupan berumah tangga.
ceritanya mungkin masih datar karena masih dalam romansa pengantin baru, jadi bawahaannya bahagia terus.
Jangan lupa like, komen dan vote nya, ya..
Salam,
Author.
__ADS_1