
Akhirnya sejak kejadian itu Pak Alex akhirnya diberhentikan dari kerjanya. Sementara Reza karyawan yang sempat membantu Pak Alex tersebut tidak dikeluarkan, dia hanya dikasih sanksi SP saja, karena setelah dipertimbangkan dia masih ada itikad baik untuk memperbaiki sikap dan tingkah lakunya.
(****)
Beberapa minggu kedepan, tepatnya hari ini Gavin akan pergi ke Jakarta karena perusahaan yang di Jakarta ada sesuatu hal yang membutuhkan tanda tangan dia. Gavin berencana naik pesawat karena butuh cepatnya. Bu Ratih dan Raka nggak ikut lantaran mereka lagi kuliah dan sekolah.
Setelah membawa sedikit pakaian, karena sebenarnya dirumah Jakarta juga masih ada bebarapa pakaiannya. Dia ke Bandara diantar Santo. Sedangkan Bu Ratih ke kampus bawa mobil sendiri sekalian antar Raka ke sekolah.
Sesampainya di kampus, Bu Ratih seperti biasa masuk ruang kelas dengan santai. Ternyata dia kepagian, karena hanya ada dia dan satu lagi temannya yang sudah terlebih dahulu sampai.
"Pagi Bu Sani. Kita kepagian apa yang lainnya memang kesiangan." ucap Bu Ratih.
"Pagi juga, Bu Ratih. Kita memang kepagian." jawabnya.
"Bu, Apa Bu Sani diundang Bu Aliyah ke acara nikahan adiknya?" tanya Bu Ratih.
"Iya, Bu. Kebetulan rumah Ibu saya dekat dengan rumahnya Bu Aliyah, jadi tetangganya Bu Aliyah. Mereka sudah kenal keluarga saya." jawab Bu Sani.
"Oh gitu, saya juga diundang. Kebetulan acaranya diselenggarakan di Hotel suami saya." ucap Bu Ratih.
"Oh iya, wuaah enak, nih.! pasti Bu Aliyah dapat diskon secara kan teman sendiri. Hehe" jawab Bu Sani sambil tertawa.
"Hehe, iya Bu. Soal diskon itu bisa diatur. Kalau Bu Sani berminat ada acara aniversary atau apa gitu, monggo datang ke Hotel kami buat hunting dulu nggak apa-apa." seloroh Bu Ratih sembari mempromosikan.
"Iya-iya, Bu. Makasih infonya. Iya nanati kalau saya butuh akan hubungi Bu Ratih langsung." jawab Bu Sani.
"Kok, saya jadi promosi, ya. Hehe!" tukas Bu Ratih.
"Nggak apa-apa, Bu. Kan nggak salah, toh kuliahnya juga belum dimulai. Dari pada gibah, hayoo.!" jawab Bu Sani.
"Hehe, iya benar apa yang Anda bilang. Promosi kan nggak dosa. Selama apa yang kita promosikan itu pekerjaan atau sesuatu yang halal." ucap Bu Ratih sambil tertawa.
"Oh iya, Bu. Bu Ratih ke acaranya nanti malam sama siapa, Bu?" tanya Bu Sani.
"Mungkin saya akan mengajak anak saya. Kebetulan suami saya lagi ada urusan kerjaan di Jakarta." jawab Bu Ratih.
__ADS_1
"Oh gitu, saya jelas sama suami saya." ucapnya.
Akhirnya jam kuliah pun dimulai. Semua masuk ruangan, lalu tak selang laam Prof Arif masuk. Hari ini dia akan melanjutkan materi yang waktu itu belum selesai. Dari awal menerangkan, Prof Arif selalu sibuk dengan kacamatanya. Dia begitu semangatnya mengajar mahasiswa S3 secara usianya nggak muda lagi.
Dari kesekian Dosen yang mengajar kelas Bu Ratih, hanya Prof Arif saja yang selalu datang dan tanpa absen. Dia Dosen terajin yang pernah Bu Ratih lihat selama dia menjadi mahasiswi disini. Semangatnya itulah yang patut dicontoh. Bu Ratih diam-diam mengidolakan sosok Prof Arif. Dia berjanji dalam dirinya sendiri, suatu saat dia akan melakukan hal yang sama dengan Prof Arif.
Sudah hampir tiga jam materi yang dibawakan oleh Prof Arif, kini jamnya hampir habis.
"Baiklah, sampai disini dulu materi dari saya. Sampai jumpa lusa, ya. Besok saya ada dikelas lainnya. Selamat siang semuanya.!" ucap Prof Arif.
"Iya, Prof. Selamat siang." jawab serempak yang ada diruangan itu.
Aktivitas belajar mengajar di kampus itu memang sangatlah padat. Kampus yang lumayan besar dan cukup terkenal diseluruh Indonesia. Bahkan ada yang dari luar negeri pun ada yang kuliah dikampus tersebut.
Teriknya matahari membuat Bu Ratih sedikit membutuhkan sedikit tetesan air buat membasahi tenggorokannya. Dia melangkah menuju kantin guna membeli air minum lalu dia menuju perpustakaan.
Dibukanya laptop yang dibawanya kemudian dia mulai belajar apa yang dia dapat barusan.
Baginya belajar ada suatu kewajiban dalam diri Bu Ratih. Kata itu sudah tertanam dalam dirinya sejak dari dulu. Tak ada kata bosan untuk belajar. Makanya saat dia mendapat kesempatan mendapat bea siswa untuk melanjutkan kuliah S3 dia menyambutnya dengan senang hati
Berusaha dan berdoa itu sebagian dari cara kita mensyukuri nikmat tersebut. Seperti halnya yang dia alami selama ini, baginya itu juga bagian dari takdir yang telah digariskan untuknya, dan dia hanya bisa sabar, mensyukuri, dan tetap menjalaninya.
Dia ingin nantinya dia bisa kenal akan sepak terjangnya didunia pendidikan yang sudah membawanya sampai ke masa sekarang ini. Ketika dia lagi asyik melamun dan merenung, tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata Gavin suaminya yang telpon.
"Ma, aku barusan sampai. Ini sudah perjalanan menuju kantor." ucapnya diujung telpon.
"Oh, iya Pa. Nanti kalau pulang ke rumah Mama. Salam buat Papa Mama, ya?"
"Iya, Ma. Oh iya. Aku nanti boleh nggak nongkrong sama teman-teman kantor untuk melepas kangen."
"Iya, boleh. Asal jagag kesehatan saja, jangan begadang."
"Siap, Ma.!"
"Oke, bye.!"
__ADS_1
Bu Ratih menutup kembali ponselnya, kemudian dia melihat jam sudah menunjukan pukul dua belas siang. Sebenarnya ada satu mata kuliah lagi dimulai setengah satu. Ini masih ada setengah jam lagi.
.
.
.
Akhirnya jam kuliah pun selesai. Dia melangkah menuju parkiran mencari mobilnya. Dia lihat jam setengah tiga kurang lima menit. Raka pasti sudah dijemput karena dia pulangnya jam setengah dua an.
Bu Ratih melajukan mobilnya menyusuri jalan raya menuju rumahnya. Hari ini dia ingin beli buah karena persediaan buah dikulkasnya sudah menipis. Apalagi Raka anaknya itu suka sekali sama buah apel dan anggur. Kalau dirinya cenderung suka apel sama semangka.
Setelah membeli buah-buahan itu, dia langsung mengemudikan kembali mobilnya ke rumah. Sekitar setengah jam Bu Ratih sudah sampai rumahnya. Saat turun dari mobil, dia mendapati Budhe Rahayu sedang duduk diteras bersama Raka dan Santo.
"Kamu sudah pulang, Nduk?" tanya Budhe.
Bu Ratih kemudian menyalami Budhe lalu ikut duduk diantara mereka. Wajah Budhe Rahayu sedikit sumringah karena mungkin ada sesuatu yang membuatnya gembira.
"Iya, Budhe. Budhe sendiri udah dari tadi,?" tanya Bu Ratih.
"Baru saja, saat Santo puang jemput Raka, Budhe telpon minta jemput sekalian." jawab Budhe.
"Budhe, kok kelihatan senang.?"
"Tih, Mbak mu Ifa akhirnya mau dilamar sama Nak Didit.!"
"Apa Budhe? syukurlah Budhe, Ratih ikut senang."
"Iya, Nak. Budhe dan pakdemu ini sudah nggak akan kepikiran lagi."
Akhirnya Mbak Ifa mau sama Pak Didit. Inilah yang dinamakan jodoh. Kenalnya sebentar, serius lalu menikah.
"Aku ikut senang, Mbak. Kamu akhirnya menemukan jodohmu kembali. Sudah bertahun-tahun hidup sendiri sejak ditinggal suaminya meninggal, dan kini bertemu dengan jodohnya yang baru." ucap Bu Ratih dalam hati.
--------------------------------
__ADS_1
Bersambung....