
"Alhamdulilah akhirnya bisa juga punya asisten. Biar kalau ditinggal Gavin keluar kota ada temannya. Nggak enak kalau hanya ada Santo saja." gumam Bu Ratih dalam hati.
Bu Ratih melanjutkan kembali mengerjakan tugas kuliahnya. Jarum jam sudah menunjukan pukul delapan malam. Raka lagi nonton tv ditemani Santo. Sudah dua hari dia ditinggal Gavin keluar kota.
Kemudian dia keluar kamarnya untuk mengajak Raka tidur. "Raka, sudah jam berapa, ini. Ayo tidur, Nak.?" ucapnya.
"Iya, Ma."
"Pak Santo, jangan lupa cek pintu dan jendela, ya?" titah Bu Ratih.
"Injih (iya), Bu.!"
Santo lalu bergegas mengecek pintu-pintu dan jendela. Bu Ratih mengantarkan Raka ke kamarnya. "Ma, tidur sama Raka, yuk?" rengeknya.
"Lho,! kan udah besar. Masa tidur sama Mamanya?" jawab Bu Ratih lirih.
"Hehe., kan Mama nggak ada temannya juga.!"
Bu Ratih tersenyum kemudian dia mendekat ke anaknya. "Baiklah, malam ini Mama tidur sama Raka."
"Asyiik, gitu dong.! sekali-sekali kan nggak apa-apa." jawab Raka antusias.
Malam ini Bu Ratih tidur sambil keloni Raka. Dia memandangi jagoan kecilnya yang sekarang mulai tumbuh menjadi remaja. Matanya berkaca-kaca saat dia pandangi wajahnya yang nggak berdosa itu.
Dia jadi ingat waktu sebelum dia terlahir didunia ini. Banyak cerita dibalik lahirnya bocah laki-laki dihadapannya kali ini. Setiap peristiwa demi peristiwa dia lalui dengan sabar. Banyak yang memujinya dengan sikap dan tindakannya pada saat itu. Tapi, ada juga yang menghujatnya karena keputusan yang diambil adalah keputusan yang konyol.
Dilihatnya Raka sudah tertidur, dia masih belum bisa memejamkan matanya. Tangannya masih terus mengelus punggung anaknya itu. Sampai akhirnya dia pun tertidur juga.
(***)
Keesokan harinya dia bangun pagi seperti biasa. Sibuk didapur kemudian menyiapkan bekal buat Raka. Setelah itu dia mandi dan sarapan bareng.
__ADS_1
"Ma, nanti Raka pulangnya paling jam sepuluhan. Karena gurunya ada rapat." ucap Raka.
"Ya nanti bilang sama Pak santo suruh jemput jam sepuluh." jawab Bu Ratih.
"Iya, Ma."
Bu Ratih dan Raka akhirnya berangkat. Santo sudah siap dengan mobilnya. Dalam perjalanan ke sekolah dan kampus, Raka sempat menanyakan Gavin kapan pulang.
"Pak Santo, nanti Raka minta jemput jam sepuluh. Setelah antar saya dan Raka jangan lupa jemput teman saya di alamat yang kemarin saya kasih." titah Bu Ratih.
"Baik, Bu."
"Oh iya, jangan lupa kamu kasih tahu apa yang harus dia kerjakan. Bilang aja nggak usah sungkan-sungkan, karena dia teman saya sekolah." ucap Bu Ratih.
"Siap, Bu. Laksanakan."
"Berarti nanti kita sudah ada pembantunya, Ma?" timpal Raka.
"Bukan pembantu, Nak. Asisten rumah tangga. Dia teman Mama saat sekolah dulu. Kasihan hidup sebatang kara karena ditinggal suaminya nggak tahu kemana, dan anak semata wayangnya baru saja menikah dan ikut suaminya ke kalimantan. Makanya Mama ajak kerja dirumah kita biar kita ada temannya juga." jelas Bu Ratih.
Santo dibelakang kemudi hanya mendengar cerita Ibu dan anak itu. Bu Ratih ini memang wanita yang sungguh mulia. Dia mengentas keadaan temannya yang lagi dalam kesulitan supaya bisa melanjutkan hidup. Batin Santo.
JAKARTA
Kasih yang bersih tegang dengan Rahman suaminya. Sedangkan Gazi ketakutan mendengar pertengkaran Ayah dan Bundanya itu. Kemudian Bu Laksmi langsung mengajaknya masuk ke dalam kamarnya.
"Mas,! aku dulu kan sudah bilang, kalau keadaanku ya seperti ini, janda dengan satu anak. Kenapa aku sebut dengan satu anak, karena memang Raka sudah bukan hak aku lagi, mas." ucap Kasih sambil matanya berkaca-kaca.
"Tapi, tetap saja dia itu anak kamu. Kamu yang mengandung dan kamu juga yang melahirkan. Apa kamu nggak sayang sama anak itu?" jawab Rahman.
"Ya sayang, Mas. Namanya juga anak kandung. Tapi, permasalahannya sudah berbeda. InshaAllah aku ikhlas bila Raka memang diasuh sama mantan suamiku dan istrinya. Dan itu juga karena aku sudah mengikhlaskan sejak dia belum lahir." jawabnya.
__ADS_1
"Kamu memang wanita aneh.! sudah mau dijadikan istri kedua yang hanya menginginkan rahim kamu buat bisa punya anak." ucap Rahman.
"CUKUP..! Jangan ungkit-ungkit masalah itu lagi. Jangan buat aku semakin tersiksa dengan kalimat-kalimat yang terus memojokanku. Aku sudah capek karena sejak pertama kamu tahu kalau sebenarnya aku punya dua anak dari mantan suamiku, sikap kamu jadi berubah. Gampang marah dan sudah nggak bisa lembut lagi sama aku dan Gazi." ucap Kasih sambil menangis.
Kasih menangis dengan sesenggukan. Dia menyayangkan kenapa hari ini sekolah libur, jadi pertengkarannya dengan suaminya sempat diketahui Gazi anaknya. Dito nggak tahu soal ini, karena dia lagi ke luar kota tugas kampus.
Rahman yang melihat istrinya menangis langsung mendekatinya. "Kalau kamu menangis terus seperti ini, masalah tidak akan pernah selesai."
"Terus mau kamu apa, Mas. Hah!" ucap Kasih dengan keras.
"Kalau kamu memang nggak mau mengambil hak asih lagi Raka nggak apa-apa. Tapi, ya kamu harus kasih tahu mantan suamimu bahwa sebenarnya dia masih punya anak satu lagi yang secarah sah menjadi pewaris kerajaan bisnis ayahnya.!" terang Rahman.
Sontak mata Kasih membelalak. Dia semakin geram dengan sikap suaminya yang sekarang menjadi seperti itu. Dia akui kalau Rahman memang keras, tapi dia dulu lembut dan sayang sama anaknya.
Dia nggak tahu, sejak dia tahu kalau dirinya punya anak lagi dari Gavin, sikapnya berubah. Kasih sampai heran kenapa dia bersikukuh menyuruhnya mengambil Raka.
"Apa kamu bilang. PEWARIS.!!"
"Iya, dong. Gazi masih punya hak lho atas kekayaan ayahnya." sahut Rahman.
"Mas, aku nggak pernah menuntut hak atas anakku Gazi. Bagi aku, dia sudah punya kehidupannya sendiri sama aku. Dia juga bakal mewarisi semua hartaku. Bukannya aku sombong, tapi aku menanamkan sejak dini pada anakku kalau memang bukan haknya jangan sampai meminta-minta." jawab Kasih dengan mata yang memerah habis nangis.
"Aku tahu harta kamu banyak. Tapi, ingat Kasih, semua itu jumlahnya hanya sepuluh persennya saja dari harta mantan suamimu. Dia bergelimang harta dan nggak habis sampai tujuh turunan. Coba kamu pikir kembali, apa kamu akan mampu membiayai Gazi sampai dia menjadi manusia yang mandiri." ucapan Rahman sangat menusuk hati Kasih.
Kasih mencoba menetralkan hatinya, dia perlahan mulai menurunkan emosinya. Tak sedikitpun dipikiran Kasih kalau Gazi akan dia mintakan haknya. Kenapa suaminya justru yang bilang seperti itu.
Dia tidak menanggapi Rahman dan melangkah kedalam kamarnya. Sedangkan Rahman sendiri keluar nggak tahu mau kemana, setelah mengambil kunci mobil lalu keluar.
Dalam kamar dia mulai curiga kenapa suaminya sikapnya jadi berubah seperti itu. Memang dia akui kalau Rahman orangnya mudah meledak, tapi dia nggak pernah menyinggung sama sekali soal kekayaan.
Kasih harus mencari tahu alasannya kenapa sampai suaminya sekarang ini kok sedikit-sedikit harta.
__ADS_1
---------------------------------
Bersambung..