BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON TIGA Part : 169 (Gavin terjebak)


__ADS_3

Pelayan restoran itu kemudian menjelaskan kepada Gavin dan Pak Fajar bahwa Pak Alex telah dipukuli orang nggak dikenal.


"Dimana sekarang Pak Alex?" tanya Gavin.


"Sudah dibawa teman-teman ke ruangannya, Pak." jawab pelayan itu.


Akhirnya Gavin dan Pak Fajar menuju ruangannya Pak Alex. Disana sudah ngumpul staf yang membantu Pak Alex mengobati lukanya. Ketika melihat Gavin dan Pak Fajar, spontan Pak Alex beringsut membetulkan duduknya.


"Ada apa ini, Pak?" tanya Gavin tiba-tiba.


"Saya nggk tahu, Pak. Tiba-tiba ada dua orang yang menyerang saya, saat saya di area. Dia datang seperti pengunjung yang lainnya, lalu tiba-tiba saya diserang." jawab Pak Alex.


"Tapi, kalau nggak ada sebabnya kenapa Pak Alex diserang.?" sahut Pak Fajar.


"Saya juga nggak tahu, Pak. Saya juga nggak punya musuh." jawab Pak Alex ketakutan.


"Ya sudah, kalau memang lukanya ada yang serius, bawa ke rumah sakit saja. Nanti soal keamanan biar saya ketati lagi. Biar saya lapor kejadian ini ke Polisi setempat." tukas Gavin.


"Nggak ada, kok Pak. Hanya memar sedikit saja. Nggak apa-apa. Jangan lapor Polisi, Pak. Saya rasa ini hanya kesalah pahaman saja." jawab Pak Alex.


"Oh ya sudah kalau gitu. Pak Fajar sekarang ikut saya sebentar." ucap Gavin.


Ketika Gavin dan Pak Fajar meninggalkan ruangannya, Pak Alex langsung saja berdiri seolah nggak terjadi apa-apa. Lalu dia menuju pintu dan langsung menutupnya.


"Kerja bagus, kamu bisa mengalihkan perhatian Pak Gavin dan Pak Fajar sehingga mereka meninggalkan mejanya." ucap Pak Alex sinis penuh kemenangan.


"Iya, Pak. Semuanya sesuai dengan rencana kita." jawab pelayan itu.


"Oh iya, kira-kira temanmu bisa mengoperasikan lapotopnya Pak Gavin nggak?" tanya Pak Alex.


"Kalau posisi lapotopnya Pak Gavin On nggak susah, Pak. Dia tinggal mencari file yang Pak Alex minta." jawab pelayan itu.


"Tadi saya cuma suruh dia menghapus file yang menangani proyek pembangunan resort." ucap Pak Alex.


"Kalau boleh saya tahu, tujuannya apa Pak Alex menghilangkan konsep itu?" tanya pelayan itu.


"Saya hanya ingin proyek itu gagal. Biar Pak Gavin mengembalikan Pak Dody dan Pak Arman ke posisi semula. Lalu saya kembali memegang Restoran yang di Semarang." jawab Pak Alex dengan senyum sinis.

__ADS_1


"Tapi, saya dengar kan Semarang sekarang sudah dipimpin Manager baru, Pak?" tanya pelayan.


"Itu gampang, nanti saya akan melakukan rencana kedua." jawab Pak Alex.


"Jadi, ini baru rencana awal, Pak. Berarti ada rencana-rencana berikutnya.?" tanya pelayan itu menyelidik.


"Iya, kamu betul. Kalau kamu setia, nanti bayaran kamu akan saya naikan dua kali lipat." ucap Pak Alex.


"Siap, Bos.!"


Setelah itu mereka berdua menyudahi pembicaraan itu. Pelayan itu meninggalkan ruangan Pak Alex, dan kembali ke tempat dia bekerja. Dari kejauhan ada yang melihat pelayan itu keluar dari ruangan Pak Alex.


Sedangkan dimejanya Gavin dan Pak Fajar tadi masih dengan posisi seperti sebelumnya. Ada laptop, kopi serta makanan kecil yang tersaji di piring.


"Pak Gavin, apa sebaiknya kita tambah keamanan, Pak. Kok saya agak curiga dengan Pak Alex tadi.?" tanya Pak Fajar.


"Curiga gimana, ya Pak Fajar?" tanya Gavin.


"Bukannya saya berfikiran negatif sama beliau, selama saya bergabung di tempat ini, nggak pernah sekalipun ada kejadian seperti ini. Lalu motifnya apa, kok tiba-tiba menyerang Pak Alex, secara beliau b


baru pindah dari luar kota. Terus disaat Pak Gavin mau lapor Polisi, beliau juga melarangnya." jelas Pak Fajar.


"Untuk saat ini saya mungkin belum bisa menunjukan Pak. Cuma kita harus waspada Pak." ucap Pak Fajar.


"Baiklah, Pak Fajar. Saya minta Pak Fajar mencarikan saya satu orang buat jadi mata-mata disini." tukas Gavin.


"Baik Pak. Saya akan cari satu orang sesuai dengan permintaan Pak Gavin." jawab Pak Fajar.


Ternyata Pak Fajar selangkah lebih maju dari Pak Alex. Dia sudah mencurigai Pak Alex kalau ini semua ada hubunganya dengan Pak Alex sendiri. Dan kini mereka malah menyiapkan bodyguard untuk mengawasi Pak Alex.


Kemudian Gavin menutup laptopnya lalu menyudahi makan siangnya dengan Pak Fajar. Mereka kemudian berpisah dan menuju ruangannya masing-masing.


Sedangkan orang yang tadi disuruh menghapus filenya Gavin kini telah meninggalkan restoran tersebut. Gavin berjalan dengan santai menuju ruangannya.


.


.

__ADS_1


.


Sekitar jam setengah lima sore, Gavin hendak meninggalkan office dan pulang. Dia membereskan mejanya sebelum meninggalkan kerjaannya itu. Dia berjalan melewati lobby Hotel dan bertemu dengan Pak Fajar lalu mereka berjalan bersama menuju parkiran guna mengambil mobilnya masing-masing.


Saat di parkiran Pak Fajar melihat Bu Christy lagi bicara dengan salah satu pelayan restoran. Ada apa dengan mereka. Padahal sejak Pak Robby pindah ke luar negeri, wanita itu sudah jarang kesini. Tapi, sekarang malah sering menginap di Hotel ini. Ada yang nggak beres. Batin Pak Fajar.


"Sayangnya Pak Gavin sudah pulang duluan, kalau nggak dia akan tahu satu titik terang ini. Aku akan merekam mereka meskipun obrolannya tidak bisa didengar. Setidaknya bahasa tubuhnya sudah bisa menunjukan sesuatu." ucap Pak Fajar pelan.


Dia kemudian masuk mobil dan melajukan mobilnya keluar parkiran. Dalam perjalanan pulang Pak Fajar nggak habis pikir, apa sih maunya Pak Alex itu sampai melibatkan Bu Christy segala. Batinnya.


Akhirnya sekitar jam setengah enam an Gabin sampai rumahnya. Dia langsung memarkirkan mobilnya ke garasi dan langsung masuk rumah. Diletakannya tas kerjanya dimeja ruang tengah, lalu dia duduk dikursi sambil melepas dasinya.


"Aduuh, hari ini aku capek banget, Ma." ucap Gavin saat melihat Bu Ratih keluar dari kamarnya.


Kemudian Bu Ratih ikut duduk disampingnya lalu merapikan dasi dan sepatu suaminya. Gavin menyandarkan badannya kesandaran kursi itu, lalu melirik kearah istrinya dan tersenyum.


"Aku nggak jadi capek, Ma." ucap Gavin.


"Kok, aneh. Tadi bilangnya capek, sekarang bilangnya nggak capek. Yang konsisten dong, Pa." jawab Bu Ratih.


"Iya, Ma. Aku nggak jadi capek karena aku melihat wajah istriku yang cantik sekali." jawab Gavin sambil senyum-senyum kegenitan.


"Ish, gombal mulu. Malu tuh ama umur. Anaknya saja sudah besar dan sebentar lagi masuk sekolah menengah pertama, masa Papanya ngegombal terus." jawab Bu Ratih.


"Ya wajar dong aku ngegombalin istriku sendiri, dari pada aku ngegombalin iatri orang, hayoo.!" jawab Gavin meledek.


"Hmmm.,! jadi mau ada rencana ngegombalin istri orang, Nih.,!" sahut Bu Ratih sewot.


"Ya enggaklah, sayang. Kan tadi hanya perumpamaan. Mendingan aku mgegombalin kamu, kan?" jawab Gavin sambil memegang pipi istrinya.


"Awas kalau kamu macem-macem.,!" tukas Bu Ratih.


"Enggaklah, sayang. Mana mungkin aku berpaling dari Bu Dosen Cantik ku ini." jawab Gavin.


Keduanya kemudian masuk kamar, dan Bu Ratih membawakan tas kerja serta sepatu dan dasinya tadi.


"Kamu enak, Tih. Punya suami ganteng, penyayang dan kaya lagi. Sedangkan aku, suamiku meninggalkan aku nggak tahu kemana. Dia sudah menikah lagi apa belum aku juga nggak tahu." ucap Fatma lirih dari dapur.

__ADS_1


----------------------------------


Bersambung...


__ADS_2