BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 123 (Malam pertama yang kedua)


__ADS_3

Gavin mengetuk pintu kamarnya Kasih. Tak lama kemudian pintu pun terbuka. Kasih terkejut karena Gavin sudah berada didepannya.


"Eh, Pak Gavin.!" seru Kasih kaget.


"Kenapa kamu kaget begitu.?" tanya Gavin.


"Iya, maaf. Kaget saja karena Pak Gavin kan nggak pernah kesini." jawab Kasih sambil menundukan wajahnya.


"Saya nggak disuruh masuk, nih!" ucap Gavin.


Kasih terperanjat kaget setelah mendengar ucapan Gavin barusan. Dia lupa kalau dirinya sekarang sudah menjadi istri Gavin.


"Eh iya, silahkan masuk, Pak." ucap Kasih.


Gavin memasuki kamar Kasih. Dia kemudian menuju pinggir tempat tidur Kasih. Dia masih nggak percaya kalau sekarang dia sekamar dengan wanita yang tidak dicintainya. Tapi, dia harus melaksanakan kewajibannya sebagai suami.


Kasih masih berdiri dipinggir pintu tanpa berani mendekati Gavin. Dia juga nggak menyangka kalau sekarang dia bisa satu kamar dengan laki-laki yang pernah mencuri hatinya. Tapi, dia sekarang melakukannya bukan karena cinta, tapi karena sebuah kesepakatan.


"Kasih, kemarilah.!" seru Gavin memanggil Kasih.


"Iya, Pak." jawabnya.


"Duduk disebelah saya, ada yang mau saya bicarakan." ucap Gavin sambil menunjuk tempat disebelahnya.


Kasih perlahan mendekati Gavin dan duduk disebelahnya. Dia masih kaku dan kikuk karena harus berdekatan seperti sekarang ini.


"Kasih, saya mencintai Ratih. Tapi, saya juga suamimu. Jadi, ijinkan saya melaksanakan kewajiban saya sebagai suami kamu. Jadi, ini saya lakukan karena permintaan istri saya." ucap Gavin.


"Iya, Pak. Saya mengerti itu." jawab Kasih dengan hati yang sedikit sakit. Memang sakit, tapi Kasih harus konsekuen dengan omongannya kalau dalam hal ini dia tidak akan mencampur adukan masalah pribadinya.


"Baiklah, ijinkan sekarang saya melaksanakan kewajiban sebagai suami yang sah padamu." ucap Gavin sambil menatap kearah wajah Kasih.


Kasihpun mulai berani mengangkat wajahnya untuk membalas tatapan Gavin. Kemudian kedua insan itu mulai memasuki kedalam suasana pengantin baru. Gavin dan Kasih kinipun melakukannya dengan pikiran yang mungkin berada ditempat lain. Sejenak Gavin melupakan soal Bu Ratih. Kini dia sudah tenggelam dan masuk ke dimensi yang berbeda.


"Kasih, kamu memang masih gadis, maafkan saya jika kamu harus menyerahkan kegadisanmu hanya untuk memenuhi permintaan istri saya, meskipun kita melakukannya secara halal karena kita sudah sah menjadi suami istri" Batin Gavin.


Dilihatnya Kasih tertidur pulas, Gavin mencoba mengecup kening Kasih dan memeluknya dari belakang. Bu Ratih bilang kalau dia harus memperlakukan Kasih sama seperti dia memperlakukan dirinya.


(****)


Saat pagi tiba, Kasih kaget karena disampingnya sudah ada laki-laki yang kini sah sebagai suaminya. Dilihat jam dinding sudah menunjukan puku lima pagi. Dia nggak berani bangun karena posisi Gavin sedang memeluknya dari belakang. Dia bingung, padahal dia pingin lekas membersihkan badannya. Dia merasakan sakit diujung pangkal paha, mungkin karena semalam Gavin sudah melaksanakan kewajibannya sebagai suaminya.


Tak lama kemudian, Gavin membuka matanya. Dia mendapati Kasih sudah bangun, tapi tidak bisa beranjak karena posisi lengan Gavin memeluk dari belakang. Seketika Gavin melepaskan pelukannya, dan dia teringat, semalam dia sudah melaksanakan kewajibannya sebagai suami.


"Kamu, mau mandi?" tanya Gavin.


"Iya, Pak. Saya mau membersihkan diri." jawab Kasih.


"Oh iya, mulai sekarang jangan panggil saya Pak lagi. Panggil saya Mas gitu aja. Kita sudah melakukan kewajiban sebagai suami istri, masa kamu masih panggil saya Pak." ucap Gavin.


"Iya, Pak., eh maaf. Mas." jawab Kasih malu-malu.


"Baiklah, bersihkan diri kamu dulu. Saya akan mandi dikamar saya aja." jawab Gavin.


"Iya, Mas." jawab Kasih.


Gavin meninggalkan kamar Kasih. Dia memakai pakaiannya kembali dan turun menuju kamar Bu Ratih. Kini Kasih masih terdiam dan memandangi tempat tidur yang spreinya berantakan akibat semalam. Dilihatnya ada bercak warna merah yang tertinggal disana. Dia tersenyum bahagia karena mahkotanya diserahkan pada laki-laki yang dia cintai meskipun dengan jalan yang berbeda.

__ADS_1


"Krieet.!" suara pintu kebuka.


Gavin masih mendapati Bu Ratih masih tertidur pulas. Dia kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Tak lama kemudian dia keluar kamar mandi dan menuju pinggir tempat tidur.


"Sayang, maafin aku, ya. Aku telah tidur satu ranjang dengan wanita pilihan kamu." ucapnya lirih sambil membelai wajah istrinya.


Bu Ratih terbangun karena merasa ada yang menyentuh dibagian wajahnya. Dia membuka matanya dan kaget karena telah mendapati suaminya sudah didepannya.


"Lho sayang, kok kamu disini!" seru Bu Ratih sambil membulatkan matanya.


"Iya, ini tadi aku baru saja turun dan mandi disini." jawab Gavin.


"Oh, kirain kamu semalam tidur disini." jawab Bu Ratih sambil tersenyum dan membelai wajah suaminya.


"Sayang, maafin aku, ya. Semalam aku telah menyentuh wanita lain selain kamu." ucap Gavin.


"Iya, nggak apa-apa, sayang. Dia juga istrimu. Aku senang kalau kalian sudah melakukannya." jawab Bu Ratih.


"Aku semakin mencintaimu, sayang." ucap Gavin sambil memeluk istrinya.


"Iya, sayang. Aku juga mencintaimu, sayang. Aku mandi dulu, ya?" ucap Bu Ratih.


"Iya, sayang." jawab Gavin.


Sedangkan didapur, Kasih sudah turun dan membantu Bibi menyiapkan sarapan. Bibi kaget karena Kasih masih saja mebantunya.


"Mbak Kasih, udah jangan diterusin lagi. Biar Bibi aja yang kerjakan." ucap Bibi.


"Bi, meskipun sekarang aku sudah menjadi menantu dirumah ini, bukan berarti aku nggak boleh membantu memasak. Biarkan aku mengerjakannya. Karena Kasih bingung mau ngapain kalau nggak membantu Bibi." ucap Kasih memohon.


"Eh Pak Gavin. Ini lho, Mbak Kasih maksa ikut bantuin Bibi didapur." ucap Bibi.


"Biarin saja Bi, nggak apa-apa. Tapi, kali ini saya butuh dia sebentar. Kasih ikut saya!" ucap Gavin sambil menggandeng tangan Kasih.


Kasih kaget kenapa Gavin tiba-tiba menarik tangannya. Dia ngikut aja karena dia kini sudah menjadi suaminya. Gavin mengajak Kasih ke kamarnya diatas.


"Kamu pasti kaget kenapa tiba-tiba aku menarik tanganmu. Kita bicaranya "aku-kamu" aja ya, biar nggak formal-formal banget." ucap Gavin.


"Iya, Mas. Ada apa?" tanya Kasih.


"Mulai sekarang, bantuin aku untuk menyiapkan baju kerja. Biar Ratih nggak keburu-buru kalau mau ke kampus. Biasanya memang kita gantian siapin dan siapa yang nganggur. Berhubung sekarang ada kamu, dan juga sebagai istriku, jadi apa salahnya kamu yang bantuin." jelas Gavin.


"Iya, Mas. Sekarang apa sudah disiapkan?" tanya Kasih.


"Untuk hari ini kebetulan, sudah." jawab Gavin.


"Baiklah, aku siapin sarapan kamu dan Mbak Ratih dulu." ucap Kasih.


"Tunggu.,!" seru Gavin seraya menarik tangan kasih.


"Iya, ada apa." tanya Kasih.


"Makasih, ya Sih. Kamu baik banget telah membantu aku dan Ratih." ucap Gavin sembari memegang tangan Kasih.


"Iya, Mas. Aku ikhlas kok. Jadi apapun yang aku lakukan tidak ada unsur paksaan." jawab Kasih sambil membalas memegang tangan Gavin.


Akhirnya Kasih turun kebawah untuk menyiapkan sarapan untuk Gavin dan Bu Ratih, kebetulan Pagi-pagi sekali Pak Indra dan Bu Hesty sudah balik ke rumah Mahen lagi. Jadi, sekarang dirumah tinggal mereka berempat dan Bibi.

__ADS_1


Kasih sibuk dimeja makan untuk menyiapkan sarapan, tak lama kemudian Bu Ratih keluar kamar dengan pakaian yang lengkap mau ngajar. Dia mengedarkan matanya mencari seseorang.


"Kasih, kamu yang siapin ini semua?" tanya Bu Ratih saat dimeja makan.


"Iya, Mbak. Tadi dibantuin sama Bibi juga, kok!" jawab Kasih.


"Lho, Gavin mana, Sih? kok nggak kelihatan?" tanya Bu Ratih.


Kasih bingung mau jawab apa, karena baru saja dia ada dikamarnya. Tapi, sebelum dia menjawab pertanyaan Bu Ratih. Tiba-tiba Gavin turun dari lantai atas.


"Lho, dari mana sayang.?" tanya Bu Ratih.


"Aku habis dari kamarku, ambil ikat pinggang. Mau ganti biar nggak bosen." jawab Gavin.


"Ayo kita sarapan sama-sama,!" ajak Bu Ratih.


"Kasih, kamu juga sekalian sarapan." ucap Gavin.


"Iya, Pak." jawab Kasih.


"Lho, manggilnya kok masih Pak. Panggil Mas gitu lho, jangan panggil Pak lagi, ya!" ucap Bu Ratih.


Gavin dan Kasih saling pandang. Padahal semalam mereka sudah sepakat untuk memanggil dengan sebutan seperti yang Bu Ratih inginkan. Gavin mengangguk kearah Kasih.


"Iya, Mas." jawab Kasih malu-malu.


" Nah gitu dong. Biar keliatan tambah mesra." ucap Bu Ratih seraya mengerlingkan matanya kearah Gavin.


"Apaan sih kamu, sayang. Tuh lihat, pipi Kasih jadi merah, lho. Jangan godain anak orang deh!" sahut Gavin.


"Iya.,iya sayang. Maap deh, suaminya nggak terima kalau bini nya aku godain." jawab Bu Ratih sambil tertawa lepas.


Suasana dimeja makan memang terlihat akrab antara mereka bertiga. Istri pertama dan istri kedua saling goda. Dan sang suami sebagai penengah malah ikut menggoda sang istri kedua.


Bu Ratih memang sengaja menciptakan suasana sebegitu santai karena dia nggak ingin ada perbedaan antara dirinya dan Kasih dimata Gavin. Kasih terlihat sudah nggak tegang lagi, karena Bu Ratih dan Gavin tidak bersikap yang aneh-aneh. Mereka masih sama seperti sebelumnya.


Akhirnya mereka pun selesai sarapan. Gavin dan Bu Ratih siap-siap untuk beraktivitas. Gavin melangkah beriringan dengan Bu Ratih menuju teras depan. Gavin berhenti untuk membetulkan dasinya dengan membawa tas kerjanya.


Sedangkan Bu Ratih nggak tahu karena sudah terlanjur berdiri didekat mobil Gavin. Kasih yang melihat kesuliatan pada suaminya langsung mendekatinya dan membawakan tas itu biar Gavin tidak kesulitan lagi untuk membetulkan dasinya.


Gavim tersenyum dan Bu Ratih memperhatikan dari jauh ikut tersenyum. Memang ini yang Bu Ratih inginkan, melihat Gavin dan Kasih semakin akrab dan lebih jauh mengenal satu sama lain.


Ada perasaan Bu Ratih yang sedikit teriris ketika melihat pemandangan itu. Sebagai wanita normal, pasti rasa cemburu itu ada. Tapi, dia nggak ingin menampakannya. Karena semua ini juga atas kemauan dirinya.


Gavin selesai membetulkan dasinya dan kini dia siap berangkat kerja. Dia mengambil tasnya lagi dari tangan Kasih. Kemudian dia memberikan tangannya kearah Kasih untuk pamitan berangkat.


Awalnya Kasih kaget, tapi setelah Gavin menyuruhnya akhirnya dia mengerti juga.


"Aku berangkat dulu, ya." ucap Gavin.


"Iya, Mas. Hati-hati." jawab Kasih dengan senyum manisnya.


Bu Ratih yang menunggu dimobil sedikit meneteskan air matanya karena terharu. Ya Allah kuatkan hati hambaMU ini, jangan biarkan hati ini rapuh, karena ini memang yang aku mau. Aku ingin suamiku mempunyai keturunan. Batinnya.


---------------------------------


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2