BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON EMPAT Part : 233 (Komitmen)


__ADS_3

Dara mengangguk untuk yang kedua kalinya. Kali ini mereka kembali ke meja keluarganya. Gavin dan Bu Ratih memandangi kedua anak muda dihadapannya kali ini.


"Dari mana sih, Kak. Kok pakai mojok segala.?" tanya Cantika usil.


"Bukan urusan kamu dong, dek. Ini urusan orang dewasa, hehe..!" jawabnya sambil memencet hidung Cantika.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah acara kumpul keluarga, keesokan harinya Raka dan Dara ketemuan berdua. Kini Raka siap-siap mau berangkat jemput Dara.


"Kak, nanti aku bawa mobilnya Mama aja, kalau Kak Raka mau pakai mobil Kak Raka." ucap Gazi sambil menyeruput susu hangatnya di meja makan.


"Kakak pakai mobil Papa aja kok, kamu bawa aja mobil Kakak." jawab Raka sambil memetulkan pakaiannya.


"Iya Zi. Kamu pakai aja. Biar Kak Raka pakai mobil Papa. Kamu tetap pakai mobil Kak Raka aja nggak apa-apa." sahut Gavin yang juga lagi duduk santai.


"Oh ya udah kalau gitu." jawab Gazi sembari mengambil makanan yang sudah dibuat Bu Ratih.


Sore ini lagi ngumpul keluarga Bu Ratih. Hari sabtu aktivitas semuanya memang kebanyakan setengah hari. Kalau kuliah lagi libur. Malam minggu adalah malamnya buat yang muda-muda untuk sekedar menikmati apa yang dinamakan malam minggu.


Sekitar pukul setengah lima sore Raka sudah bersiap mau jemput Dara ke rumahnya. Kini dia sudah berdandan rapi banget.



(Penampilan Raka saat ini)


"Woow anak Mama keren banget!" seru Bu Ratih.


"Kayak mudanya Papa, ya Ma.?" sahut Gavin dengan melirik kearah Bu Ratih.


"Heemm, maunya kamu Pa,!" jawab Bu Ratih sambil membawakan minuman ke suminya.


"Makasih Mama sayang,!" jawab Gavin sambil mengedipkan matanya.


"Ish Papa sama Mama kayak anak muda aja, nih!" sahut Cantika saat turun dari atas.


"Eh anak Mama ini kok cantik juga, mau malam mingguan juga nih.!" ucap Bu Ratih.


"Mau tahu aja Mama ini," jawab Cantika.


"Oh iya Pa, mana kunci mobilnya." ucap Raka.


"Diatas meja biasanya" jawab Gavin.


"Pa, Ma. Raka berangkat dulu ya.?" ucap Raka sembari mencium pungung tangan orang tuanya.

__ADS_1


"Hati-hati ya sayang!" jawab Bu Ratih.


Gavin dan Bu Ratih memandangi putranya itu yang telah tumbuh menjadi laki-laki dewasa.


.


.


.


Sesampainya di rumah Dara, Raka langsung turun untuk menjemput Dara. Dia menunggu Dara keluar dari dalam rumahnya. Sekitar sepuluh menit menunggu, akhirnya Dara keluar dengan sudah berdandan secantik mungkin.



(Penampilan Dara ya gaees.,)


Raka melototkan matanya karena dia terhipnotis dengan wajah ayu dihadapannya kali ini. Dara menautkan alisnya karena heran melihat Raka yang kayak orang bengong.


"Kamu cantik sekali, Ra.!" seru Raka.


"Dari dulu kan memang aku cantik, kamunya aja yang nggak peka kalau ada cewek cantik di dekat kamu.," jawabnya cemberut.


"Iya maaf, aku kurang peka ya. Maaf-maaf aku nggak bermaksud cuek atau nggak melihat. Karena memang aku butuh waktu untuk semua itu." jawab Raka.


"Okey, siap.!" jawab Raka.


Akhirnya keduanya meninggalkan tempat itu dan menuju mobil. Setelah masuk Raka mengemudikan mobilnya melintasi jalanan yang sore ini mulai ramai. Karena hari ini sabtu mungkin banyak orang yang berlalu lalang dengan keluarga.


Kota Sleman adalah salah satu kota terbesar di wilayah Jojga. Kota yang terkenal dengan pendidikannya karena di kota tersebut ada kampus yang sangat terkenal di seluruh Indonesia.


Suasana jalan sore itu begitu tenang dan nggak sepadat biasanya. Raka mengajak Dara kesebuah tempat yang Dara sendiri nggak tahu. Sekitar dua puluh menit mereka sudah sampai hotel yang tak lain hotel Papanya sendiri.


Dara kaget kenapa tiba-tiba Raka membawanya ke hotel. Apa sejak kuliah di luar negeri dia sudah mulai mengikuti trend kehidupan bebas. Tapi negara itu Jepang bukan Amerika. Dia nggak mau keburu berpikir negatif dulu.


"Ayo turun, Ra.!"


"Ngapain kesini, Ka?"


"Sudah ikut saja."


Ahkirnyà mereka berdua turun dan berjalan menuju hotel. Raka mengajaknya ke sebuah restoran, dan dia sebelumnya sudah menelpon menejer nya untuk disiapkan satu meja untuk dua orang.


Raka menuntun Dara untuk duduk di sebuah meja yang sudah ditata rapi, dia menarik kursi kebelakang untuk ditempati Dara.


"Ka, ngapain kamu bawa aku kesini.?"

__ADS_1


"Ini hotel Papa, ya nggak apa-apa, kan.?"


"Oh jadi ini hotel milik keluarga kamu.?"


"Iya, ini hotel milik Papa."


"Terus ngapain kita kesini.?"


"Ya makan lah, masak main bola!"


"Ish kamu ini, aku nanya serius."


"Sudahlah, kita makan aja dulu. Tunggu sebentar ya. Aku sudah memesannya kok,"


Sekitar lima belas menit mereka menunggu akhirnya makanannya datang juga. Dara membelalakan matanya karena makanannya banyak sekali. Apa dia bisa menghabiskan makanan sebanyak ini.


"Ka, apa ini nggak kebanyakan.?"


"Ya nggak usah di habisin, Ra.!"


Setelah itu mereka memulai memakan makanan itu. Raka dan Dara dengan lahapnya menikmati makanan tersebut. Ketika mereka sedang menikmati makannya, tiba-tiba ditempat live music yang biasanya. Penyanyi dan band tersebut memberitahukan kalau lagu yang akan dibawakannya ini khusus ditujukan untuk Dara.


Seketika Dara langsung kaget dan wajahnya memerah menahan malu. Lagu yang dibawakannya adalah lagunya Kahitna JANJI SUCI.


Raka menatap wajah wanita dihadapannya kali ini, sesekali Dara melirik ke arah Raka lalu dia kembali menikmati lagu yang dibawakan band tersebut.


Dia nggak menyangka kalau Raka bisa seromantis ini. Dan yang nggak bisa dibayangin Dara adalah sampai segitunya Raka mensetting semua ini.


Ketika sekitar lima menit akhirnya lagu itu selesai sudah. Dan kini Raka beranjak dari tempat duduknya lalu menuju stage dimana band tadi performent.


"Selamat malam buat semuanya yang hadir di restoran ini, saya mohon waktunya sebentar saja untuk menyampaikan sepatah-dua kata buat perempuan yang ada disana.," ucap Raka sembari tangannya menunjuk kearah Dara yang sedamg duduk tepat didepan stage tersebut.


"Aseek-asek, lanjut Mas Raka.!" seru karyawan restoran itu sambil bertepuk tangan.


"Baiklah di sore ini, ditengah-tengah kalian semua untuk menjadi saksi ini. Kali ini saya mau melamar seorang gadis. Dia bukan pacar saya, bukan pula kekasih saya, karena memang kami nggak jadian dan nggak pacaran. Dia adalah teman, sahabat yang setia menemani saya. Dia adalah gadis yang sekarang duduk di kursi tepat di hadapan saya kali ini." ucap Raka sambil menunjuk Dara yang lagi duduk.


Dara yang mendengar semua itu langsung terharu dan matanya berkaca-kaca. Dia nggak nyangka kalau Raka bakal melamarnya kali ini. Dan yang lebih nggak bisa dibayangin oleh Dara adalah dia sempat-sempatnya mensetting semua ini.


Raka memberi kode pada salah satu karyawan restoran untuk mengambilkan sesuatu. Setelah itu Dara melangkah mendekati Raka. Lalu kini karyawan itu memberikan sebuah kotak kecil warna merah. Setelah Raka membukanya, mata Dara langsung membulat karena isinya cincin berlian yang sangat indah.


"Ratu fandara sasmita, apakah kamu bersedia menikah denganku.?"


-------------------------------


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2