BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON EMPAT Part : 219 (cikal bakal Bu Ratih)


__ADS_3

Beberapa bulan kedepan, tepatnya pagi hari seperti biasa keluarga Bu Ratih ngumpul di meja makan sebelum berangkat beraktivitas.


"Sayang, kamu jadi berangkat sama Kak Gazi atau dijemput Sisil.?"


"Sama Kak Gazi ajalah."


"Ya sudah kalai begitu, lanjut aja sarapannya."


Setelah kelulusannya Cantik memutuskan untuk kuliah di kampus yang sama dengan Gazi dan Mamanya. Dia ambil design grafis. Saat ini usia Cantika memang tergolong masih muda. Karena sekolahnya dulu memang dia ikut akslerasi jadi membuatnya muda sendiri diantara teman-teman seangkatannya.


.


.


.


Setibanya di kampus, dia berjalan menyusuri koridor gedung C untuk menuju kelas. Saat ditengah jalan dia bertabrakan dengan seseorang yang jalannya tergesa-gesa.


"Bruukk.!"


Cantika terjatuh dan bukunya lepas dari tangannya. Sedangkan yang nabraknya tadi cuek dan nggak menghiraukannya yang lagi tersungkur di lantai.


Cantik langsung memunguti buku-bukunya dan berdiri. Sedangkan yang menabraknya tadi masih berdiri tanpa rasa bersalah sama sekali.


"Sudah selesai beresin bukunya, berarti nggak ada masalah, kan.?" ucapnya ketus.


Gadis dengan memakai pakaian ala peragawati itu langsung membalikan badannya hendak meninggalkan tempat tersebut.


"Tunggu,!!"


Cantik melangkah menghampiri gadis tadi. Dia menatap wajah gadis itu dengan tatapan yang tajam. Sedangkan gadis itu jengah ketika Cantik menatapnya seperti itu.


"Kamu ngapain menatapku seperti itu. Apa kamu nggak terima, terus kamu mau laporkan kejadian ini sama Mama kamu. Aku tahu kalau Mamamu itu Dekan di sini. Tapi, aku nggak takut karena semua itu nggak ngefek buat aku.!" ucap gadis itu ketus.


"Hey, dengar ya. Kejadian ini kamu yang salah, yang nabrak aku duluan karena jalanmu nggak lihat-lihat. Nolongin juga enggak, sekarang kamu bilang kalau aku nggak terima dan akan melaporkan sama Dekan. Sebenarnya empati kamu ada nggak sih. Aku tadi manggil kamu karena apa." ucap Cantik tak kalah ketus.


"Memangnya apa.?" jawabnya penasaran.


"Ini,!" ucap Cantik sambil menunjukan sebuah anting yang panjangnya mengalahkan kereta api. (Itu hanya perumpamaan saja ya gaes, biar nggak tegang)


Sontak gadis itu memegang salah satu telinganya, dan benar itu adalah antingnya. Dia langsung saja menyambar anting tersebut. Cantik hanya geleng-geleng saja melihat ulah gadis itu.


"Makanya kalau punya pikiran jangan negatif melulu, sekali-sekali dibersihkan dulu sebelum buat mikir. Bukannya minta maaf malah menuduh yang nggak-nggak. Meskipun Mamaku disini seorang Dekan, tetap saja aku hanya seorang mahasiswi yang tetap mengikuti tata tertib kampus!" tukas Cantik.


"Jangan songong ya sama senior.!" bentaknya.


"Bukannya songong, kamu yang mulai duluan. Sudah jelas-jelas salah malah bicaranya ngelantur." jawab Cantik.

__ADS_1


Gadis itu mulai geram dengan tindakan Cantik yang berani terhadapnya, dia sudah nggak sabar menghadapi Cantik demgan muka yang merah nahan marah dia langsung melayangkan tangannya ke pipi Cantik.


"Plaaaak,!!"


Gadis itu langsung melongo ketika sadar dengan apa yang barusan dia lakukan terhadap Cantik. Dia lalu memegang telapak tangannya.


Sedangkan Cantik meringis kesakitan dan mengelus pipinya yang mungkin sebentar lagi berubah jadi merah. Matanya mulai berair mau menetes.


Tak lama setelah itu, datanglah seorang laki-laki mendekati Cantik yang mulai kesakitan. "Kamu nggak apa-apa.?" tanya laki-laki itu.


Cantik menggeleng lalu kembali memegangi pipinya. Gadis itu melongo karena laki-laki yang kini tengah berada disebelah Cantik adalah Bara. Cowok idola kampus ini. Sontak gadis itu langsung berubah, sikapnya jadi lembut terhadap Cantik.


"Kamu sudah nggak apa-apa, kan.?" tanya gadis itu lembut.


Cantik menggerutu dalam hati. Memang gadis ini licik dan bermuka dua.


"Nggak apa-apa.!" jawab Cantik datar.


"Hei, Vera. Kamu jangan pura-pura baik. Aku sudah melihat semuanya. Dan sekarang, kamu minta maaf sama dia!" ucapnya sambil melirik ke Cantik.


Gadis itu ternyata namanya Vera. Wajahnya berubah ciut setelah Bara berkata seperti itu. Perlahan dia menghampiri Cantik yang berdiri di sebelah Bara.


"Maafin aku, ya.?" ucapnya.


"Iya, nggak apa-apa." jawab Cantik.


"Ya sudah, sekarang kalau kamu sudah tidak ada keperluan, tinggalkan tempat ini." seru Bara.


"Maaf, Mungkin tadi kamu sudah tahu nama saya siapa. Bara mahasiswa semester enam. Saya anak design grafis." ucap Bara.


"Oh, iya. Nama saya Cantika, Kak. Saya anak design grafis juga." jawab Cantik.


"Oh ya. Sama dong kalau gitu." jawabnya sumringah.


"Kakak kenal sama Kak Vera tadi.?"


"Sebenarnya nggak kenal banget. Kebetulan saya tahu dia itu karena dia sering ikut ajang yang diselenggarakan kampus ini tapi nggak pernah menang. Hehehe.!" jawabnya sambil terkekeh.


"Kok, Kakak ketawanya senang gitu.?"


"Iya, kalau orang yang banyak gaya tapi otaknya nggak pernah dipakai ya percuma. Betul nggak.?" ucapnya.


"Hehehe., Kak Bara ini bisa saja." jawab Cantik.


"Oh iya, kamu beneran nggak apa-apa, kan. Apa kita laporkan kejadian ini. Biar dia kena sanksi.?" ucap Bara.


"Nggak usah, Kak. Saya sudah nggak apa-apa." jawab Cantik.

__ADS_1


"Oh iya, mana handphone kamu.?"


"Buat apa, Kak.?"


"Sudah, sini.!"


Akhirnya Cantik memberikan poselnya kepada Bara. Setelah itu Bara memasukan nomornya dan dia simpan dengan nama Bara. Cantik hanya tersenyum ketika melihat ulah Bara.


"Kalau kamu butuh tanya-tanya tentang mata kuliah atau sharing-sharing soal kuliah, silakan hubungi Kakak." ucap Bara.


"Siap, Kak,!"


"Baiklah, Saya masuk dulu."


"Baik, terima kasih, Kak."


Cantik dan Bara berpisah dan masuk ke kelasnya masing-masing. Kini Cantik berjalan menuju kelasnya.


Saat dia sudah masuk kelas, tak lama kemudian Dosennya datang. Materi kuliah akhirnya dimulai. Bu Rani adalah Dosen


yang terkenal disiplin. Makanya dia selalu on time.


"Selamat pagi semuanya,!"


"Selamat, pagi.!" jawabnya serentak.


"Baiklah, hari ini saya mau melanjutkan materi yang minggu lalu tentang Desain fundamentals yang dimana terdiri beberapa elemen antara lain, titik, garis, bentuk, tekstur, ruang dan warna. Semuanya itu merupakan teknik dasar dalam design grafis." jelas Bu Rani.


Semuanya menyimak dengan seksama, apalagi Cantik terlihat serius memperhatikan saat Bu Rani menjelaskan.


"Apa sampai disini ada yang ditanyakan." tanya Bu Rani.


Seketika Cantik mengangkat tangannya karena dia mau bertanya sesuatu.


"Maaf, Bu. Saya mohon ijin untuk bertanya." ucap Cantik.


"Iya, silakan.!"


"Oh iya, Bu. Apa seni Fotografi itu termasuk dalam design grafis.?" tanya Cantik.


"Pertanyaan yang bagus, baiklah akan saya jawab. Iya perlu, kenapa demikian? Karena disini kalian akan belajar seputar pemahaman teknis fotografi sebagai medium komunikasi visual melalui praktik di lapangan kamu akan terlatih menggunakan teknik-teknik fotografi, montage, komposisi dan pencahayaan." jelas Bu Rani.


"Baiklah, Bu. Terima kasih." jawab Cantik.


"Sama-sama, Cantik." ucap Bu Ratih.


"Anak ini cerdas sekali, disaat yang lainnya diem dan hanya menyimak, dia berani bertanya tentang fotografi. Padahal materi ini baru mau saya berikan di pertemuan berikutnya." ucap Bu Rani dalam hati.

__ADS_1


--------------------------------


Bersambung...


__ADS_2