BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON TIGA Part : 200 (Menduga-duga)


__ADS_3

Akhirnya kini tinggal makan-makan dan ngobrol. Raka begitu akrab dengan Gazi, mereka sampai nggak menyadari kalau lagi diperhatikan oleh Gavin dan Bu Ratih.


"Pa, coba lihat Gazi. Apa itu Gazi anaknya Kasih.?"


"Ah, yang benar. Nama Gazi kan ada banyak, Ma."


"Iya, juga sih."


"Kan, terakhir kita dapat kabar dari Pak Fajar kalau Kasih masih di Jakarta. Setelah suaminya menikah lagi, dia lebih sering di Jakarta." ucap Gavin.


"Iya juga, sih. Tapi, kenapa dulu Kasih mau kalau suaminya menikahi perempuan itu, ya?" ucap Bu Ratih.


"Mana aku tahu, Ma. Mungkin Kasih kasihan sama anaknya, kan dari wanita itu suaminya punya anak lagi." jawab Gavin.


Disaat Gavin dan Bu Ratih ngobrol-ngobrol. Tiba-tiba Raka mendekat ke orang tuanya itu.


"Ma, Pa. Teman Raka mau pulang." ucap Raka.


"Oh iya, kita kesana."


Akhirnya Gavin dan Bu Ratih kembali ke mejanya, yang sebelumnya dia berdiri sama Gavin agak jauh.


"Om, Tante. Dara permisi pulang dulu, ya. Karena jam enam nanti ada kuliah. Makasih telah mengundang Dara diacara ulang tahun Tante. Dan maaf kalau Dara belum bisa kasih kado, karena nggak tahu kalau ada acara ginian." ucap Dara sambil mencium tangan Bu Ratih kemudian Gavin.


"Ya ampun, kamu baik banget. Nggak apa-apa kok, Nak Dara. Tante senang banget Nak Dara sudah mau datang. Lain kali main-main kerumah." jawab Bu Ratih.


"Iya, Tante. Lain kali saya usahakan main ke rumah." ucapnya lagi.


"Saya mau pamit sekalian Tante, Om." ucap Gazi.


Gavin tersenyum ketika Gazi menyalaminya, Bu Ratih juga demikian. Sedangkan Gazi tiba-tiba matanya berkaca-kaca ketika bersalaman dengan kedua orang tua itu.


Gavin yang memergoki Gazi seperti itu dia tiba-tiba hatinya tersentuh. Dia seperti melihat Raka anaknya. Hatinya tiba-tiba merasakan ada yang lain dengan anak itu. Dia ingin memeluknya disaat Gazi berkaca-kaca.


"Gazi, kamu kenapa, Nak?" tanya Gavin tiba-tiba.


"Nggak apa-apa, Om."


"Iya, Nak. Kamu kenapa?" kini Bu Ratih ikut menimpali.


Raka dan Dara jadi bingung ketika melihat Gazi tiba-tiba mukanya bersedih.


Seketika Raka langsung mendekati Gazi dan mencoba menenangkannya.

__ADS_1


"Gazi, kamu kenapa?" tanya Raka.


"Nggak apa-apa, Kak."


"Iya, Zi. Kalau kamu nggak ada apa-apa kenapa sedih." ucap Dara.


"Nggak apa-apa. Cuma keinget sama Ayahku saja." jawabnya sedih.


"Emang kemana Ayahmu?" tanya Raka.


Gazi nggak langsung menjawab, dia hanya tersenyum. "Nggak apa-apa, kok."


"Ya sudah kalau gitu. Hati-hati dijalan." ucap Bu Ratih.


"Iya, Tante."


Akhirnya Gazi dan Dara meninggalkan tempat itu. Kini disitu tinggal keluarga Bu Ratih saja. Mereka kembali ke meja yang masih penuh dengan makanan.


"Kak, emangnya Kaka Dara itu saudaraan sama Kak Gazi?" tanya Cantik tiba-tiba.


"Nggak, kok. Katanya sih Dara itu tetangganya Nenek Gazi." jawab Raka.


"Oh gitu."


Akhirnya mereka berempat meninggalkan rumah makan itu. Kini Raka satu mobil dengan adiknya. Dan Bu Ratih sama Gavin. Mereka nampak kompak satu sama lain.


.


.


.


Malam harinya, Bu Ratih lagi ngobrol-ngobrol sama Gavin di ruang tengah. Mereka membahas soal anak-anknya.


"Pa, kamu ngerasa nggak kalau Raka itu kayaknya naksir sama Dara." tanya Bu Ratih.


"Papa rasa juga seperti itu, Ma. Cara pandangnya, cara bicaranya sama Dara. Pokoknya beda banget." jawab Gavin.


"Tapi, anaknya juga ramah, cantik serta kalem. Mama sih oke saja kalau memang Raka jadian sama Dara." ucap Bu Ratih.


"Jangan kejauhan, Ma. Mereka aja mungkin berteman dulu. Selebihnya biar mereka yang putusin." jawab Gavin.


"Oh iya, Pa. Mama kok masih kepikiran Gazi. Mama merasa apa itu anaknya Kasih?" tanya Bu Ratih tiba-tiba.

__ADS_1


"Ah, Mama mikirnya kejauhan. Gazi kan bukan anaknya Kasih saja. Tapi, meskipun dia anaknya Kasih, terus Mama mau apa. Kan, bagus Raka bisa akrab. Bagaimanapun mereka masih saudara satu Ibu." jawab Gavin santai.


"Iya, juga sih. Cuma Mama dari dulu masih ada yang mengganjal dalam hati Mama soal anaknya Kasih." ucap Bu Ratih.


"Mengganjal apa maksud Mama."


"Mama boleh bicara jujur, nggak.?"


"Boleh, Mama mau bicara apa.?"


"Pa, Mama kok ngerasa kalau Gazi itu adalah anak Papa." ucap Bu Ratih.


Ucapan Bu Ratih mengagetkan Gavin. Kenapa dia berkata seperti itu. Tapi, Gavin jadi penasaran kenapa istrinya bisa bicara seperti ini.


"Kenapa Mama bisa bilang begitu?" jawab Gavin.


"Soal usia Raka dan Gazi, nggak jauh beda. Mereka selisih nggak ada dua tahun. Papa ingat, saat Raka usia satu tahun. Kasih kan masih jadi istri Papa. Lalu dia menghilang nggak ada kabar kurang lebih sekitar sembilan sampai sepuluh bulanan. Lalu tak lama kemudian datang surat gugatan cerai dari Kasih. Berarti saat itu usia Raka kan belum genap dua tahun, sedangkan sekarang kuliahnya selisih dua semester. Ini misalkan, waktu itu Kasih langsung menikah dan hamil, kemungkinan anaknya itu lahirnya sembilan bulan kemudian. Sedangkan Kasih ada masa idanya juga. Setidaknya Raka dan Gazi itu selisihnya kurang lebih tiga tahunan. Tapi, ini nggak ada dua tahun, Pa." jelas Bu Ratih.


Gavin sedikit terbuka pikirannya setelah mendengar penjelasan istrinya seperti itu. Selama ini dia nggak kepikiran sampai sejauh itu. Bu Ratih melihat kalau suaminya sedang memikirkan perkataannya barusan.


"Iya, juga ya Ma. Aku kok nggak mikir sejauh itu. Misal memang Gazi bukan anakku, seharusnya dia lahir setelah setahun kemudian setelah perceraian." jawab Gavin.


"Bentar, Pa. Saat Papa membantu mendonorkan darah untuk keponakan Pak Fajar waktu itu, berarti itu kan si Gazi. Kenapa juga nggak suami Kasih saja yang diambil darahnya.?" ucap Bu Ratih.


"Iya, ya Ma. Malah darah Papa yang cocok buat Gazi." jawab Gavin.


"Papa kan waktu Mama tanya kenapa kok nggak si Ayahnya, Papa bilang kalau nggak sempat nanya, sedangkan Pak Fajar juga nggak cerita ke Papa. Jelas ini benar, Pa." ucap Bu Ratih antusias.


"Terus apa yang harus kita lakukan, Ma.?"


"Sekarang Mama balikin ke Papa. Apa Papa ingin memastikan kalau Gazi itu benar-benar anak kandung Papa apa bukan?" tanya Bu Ratih.


"Jujur Papa ingin, Ma. Apa Mama mengijinkan kalau seandainya Papa ingin tahu soal Gazi."


"Pa, Mama sangat setuju jika Papa memang mau mencari tahu soal Gazi." jawab Bu Ratih.


"Misal dia benar anakku, gimana Ma?" tanyab Gavin.


"Ya nggak apa-apa. Anak laki-laki Papa ada dua." jawab Bu Ratih.


"Emang, dua sama siapa, Ma. Kalau Papa punya dua anak laki-laki." suara Cantik terdengar dari atas.


---------------------------------

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2