BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 95 (Kesabaran)


__ADS_3

Pak Indra membelalakan matanya menatap istrinya. Saking kepinginnya dia mempunyai cucu sampai punya niatan seperti itu.


"Pa, kenapa Papa melihati Mama seperti itu. Apa Mama begitu jahat dimata Papa?" tanya Bu Hesty sambil matanya berkaca-kaca.


Pak Indra jadi nggak tega melihat istri yang dicintainya ini menjadi sedih. Dia menurunkan emosinya lali meraih tangan istrinya. Kemudian dia menggenggamnya dengan mesra.


"Maafin Papa, ya Ma. Papa bukannya bermaksud membentak Mama." ucap Pak Indra.


"Iya, Pa. Mama ngerti." jawabnya sambil metanya berlinangan air mata.


"Hanya saja, Papa ini bingung, Ma. Papa ngerti dan faham apa maksud Mama sebenarnya. Mama hanya ingin menyelamatkan generasi Papa. Cuma, saat ini apa yang bisa Papa lakukan, sedangkan Papa orangnya nggak suka memaksa kehendak. Jujur dalam hati Papa sebenarnya juga demikian, Papa ingin Gavin mempunyai anak biar ada yang mewarisi kerajaan bisnis Papa, baik itu anak adopsi maupun anaknya sendiri. Papa nggak mempermasalahkan dari mana anak itu berasal. Karena Papa sendiri sadar kalau Papa juga anak yatim piatu yang dari kecil ikut Kakek. Dari kecil Papa sudah hidup enak, makanya sekarang Papa ingin membagi kebahagiaan semua itu sama anak dan cucu Papa. Karena Papa merasa sudah semakin tua dan harta juga nggak akan dibawa mati." jelas Pak Indra.


"Iya, Pa. Mama ngerti." jawab Bu Hesty pelan.


Kemudian mereka terdiam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Tak lama kemudian mobil Gavin datang. Keluarlah Gavin sama istrinya.


Melihat orang tuanya yang lagi duduk-duduk diteras, kemudian mereka menyalaminyanya seperti biasa, lalu masuk tanpa ada sepatah kata pun dari mereka. Hanya saja Bu Ratih mengulas senyum kepada kedua mertuanya.


Pak Indra dan Bu Hesty saling pandang. Mereka tampak merasa bersalah kepada mereka. Apalagi Bu Hesty, karena dialah yang menyebabkan situasi jadi seperti ini. Kemudian Bu Hesty masuk kekamarnya diikuti suaminya.


Gavin sendiri dan istrinya didalam kamar juga nggak banyak ngobrol. Mereka hanya bicara seperlunya. Bu Ratih masih sabar karena memang harus butuh waktu untuk menetralkan situasi ini.


"Sayang, kamu mau mandi sekarang.?" tanya Bu Ratih.


"Nanti saja, kamu duluan aja.!" jawab Gavin.


"Oke, aku mandi dulu, ya?" ucap Bu Ratih.


Gavin hanya mengangguk pelan dan memandangi istrinya melangkah ke kamar mandi. Dia jadi nggak tega kalau tetap mendiamkan istrinya seperti ini.


"Aku sebenarnya nggak tega telah mendiamkan kamu seperti ini, sayang. Tapi, kenapa kamu tega bicara seperti itu, untuk menyuruhku menikah lagi. Aku faham, sikapmu itu untuk menyenangkan Mamaku."


Gavin kembali tenggelam dalam kegalauannya. Dia akan kembali bersikap seperti semula. Tiba-tiba kamarnya ada yang mengetuk.


"Iya, ada apa, Bi!" seru Gavin ketika membuka pintu kamarnya.


"Nyo..Nyonya, Den." ucap Bibi terbata.


"Kenapa dengan Mama!" jawab Gavin panik.


"Nyonya, pingsan.!" jawab Bibi.


"Apa.!"


Bu Ratih yang kebetulan keluar dari kamar mandi, terkejut ketika melihat obrolan suaminya dan Bibi.


"Ada apa, sayang?" tanya Bu Ratih.


"Mama, sayang. Dia pingsan." jawab Gavin.


"Ayo kita lihat,!" jawab bu Ratih.

__ADS_1


Dengan tergesa-gesa Gavin dan Bu Ratih melangkah menuju kamar Mamanya. Dia mendapati Mamanya yang lagi ditunggui Kasih dan Pak Indra. Kasih telah mengoleskan minyak angin ke hidung Bu Hesty serta memijit-mijit telapak kakinya.


"Ada apa, ini Pa?" tanya Gavin.


"Papa nggak tahu, Vin. Tadi dia mengeluh pusing gitu aja. Lalu tiba-tiba badannya panas sekali. Sampai akhirnya dia pingsan. Papa panggil Bibi yang kebetulan dia ada didapur." jelas Papanya.


"Gimana, Sih. Badannya sudah kembali normal kah?" tanya Bu Ratih.


"Masih, Bu. Sebaiknya kita bawa kerumah sakit saja." jawab Kasih.


"Oke, benar itu. Ayo sayang, kita bawah kerumah sakit.!" ajak Gavin.


"Baiklah, sayang." jawab Bu Ratih.


Gavin keluar menyiapkan mobil, lalu dia kembali untuk mengangkat Mama ke mobil. Pak Indra dan Kasih juga ikut. Mereka berangkat ke rumah sakit.


Sesampainya dirumah sakit, Bu Hesty langsung dibawa ke UGD dan mendapat penanganan. Semua keluarga diharap menunggu diluar kamar. Pak Indra dan Gavin kelihata panik dan mondar-mandir kesana kemari.


Bu Ratih dan Kasih duduk dikursi yang ada didepan UGD. Mereka juga penasaran dengan apa yang terjadi dengan Bu Hesty.


Tak lama kemudian Dokter keluar, Gavin langsung menghampiri Dokter itu. Demikian juga dengan Pak Indra.


"Maaf, Anda keluarga dari Ibu itu.?" tanya Dokter.


"Saya anaknya, Dok. Dan ini Papa saya." jawab Gavin.


"Oh iya, Begini Pak, Ibu Anda kena typus dan butuh istirahat total. Untung saja langsung dibawa kesini, karena panasnya tadi lumayan tinggi. Sekarang sudah kami kasih tindakan dan obat, dan sekarang panasnya sudah turun." jelas Dokter itu.


"Sejauh ini tidak ada. Beliau masih tertidur karena pengaruh obat. Habis ini dipindahkan ke ruang perawatan." jawab Dokter.


"Syukurlah kalau gitu, Dok. Tolong, kasih pelayanan yang terbaik buat Ibu saya, Dok.!" ucap Gavin.


"Siap, Pak. kami selalu berusaha melakukan yang terbaik buat pasien kami." jawab Dokter itu sambil meninggalkan Gavin dan Pak Indra.


Tak lama kemudian Perawat membawa Bu Hesty keluar dan menuju kamar inap. Gavin dan yang lainnya mengikuti dibelakangnya.


Kini semua menunggui Bu Hesty dikamar.


Tak lama kemudian Bu Hesty tersadar. Gavin dan yang lainnya langsung menghampiri Bu Hesty.


"Mama sudah sadar,?" seru Gavin.


Bu Hesty mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Dia kini ingat kalau tadi badannya panas banget. Lalu sudah tidak bisa mengingatnya lagi.


"Mama kok disini.?" tanya Bu Hesty.


"Iya, Ma. Tadi Mama pingsan lalu kita bawa kesini, karena badan Mama panasnya nggak turun-turun." sahut Pak Indra.


"Mama disuruh istirahat dulu karena Mama kena typus. Jangan mikir yang berat-berat dulu." ucap Gavin.


"Iya, Vin." jawab Bu Hesty.

__ADS_1


Akhirnya hari sudah beranjak malam, jarum jam menunjukan pukul sepuluh malam. Gavin, Pak Indra serta Bu Ratih pulang. Yang menunggui cuma Kasih.


Dengan telaten Kasih merawat Bu Hesty, meskipun kadang sikap Bu Hesty juga menunjukan kurang suka, cuma Kasih harus bersabar. Itu yang dipesankan sama Bu Ratih.


(****)


Pagi harinya, Gavin dan Bu Ratih sudah berkomunikasi seperti biasa. Tidak ada lagi diam dan marah. Kejadian Mamanya semalam membawa berkah tersendiri bagi mereka.


"Sayang, hari ini aku akan ijin ngantor. Aku mau jagain Mama dirumah sakit sama Papa. Biar Kasih pulang untuk gantian istirahat. Kamu aku antar ke kampusnya sekalian berangkat ke rumah sakit." jelas Gavin.


"Iya, sayang. Aku ngikut saja." jawab Bu Ratih.


"Sayang, maafkan aku, ya. Akhir-akhir ini aku diemin kamu." ucap Gavin sambil memeluk istrinya.


"Iya, sayang. Nggak apa-apa. kok.!" sahut Bu Ratih.


"Aku jadi kepikiran soal Mama. Kenapa dia tiba-tiba jadi drop.?" ucap Gavin.


"Iya, sayang. Apa Mama mikirin sesuatu.?" tanya Bu Ratih.


"Apa karena malam itu yang aku bertengkar sama Mama. Aku juga nyesel habis bentak dia." ucap Gavin pelan.


"Kamu nanti jangan lupa minta maaf. Biar Mama nggak kepikiran." ucap Bu Ratih.


"Iya, sayang. Aku juga terlalu keras bicara sama Mama. Karena aku juga tersinggung saat dia bicara seperti itu sama kamu." jelas Gavin.


"Sayang, aku sudah nggak apa-apa, kok. Beneran, aku juga sudah rela dan ihklas kalau memang kamu akan menuruti kemauan Mama kamu." ucap Bu Ratih sambil menatap dalam-dalam ke Gavin.


"Kamu kok bisa bicara seperti itu. Apa kamu nggak sakit hati atau marah kalau harus berbagi suami sama yang lain.?" tanya Gavin.


"Aku akan setuju jika memang kamu harus menikah lagi. Tapi, ada syaratnya.!" jawab Bu Ratih.


"Syarat,! memang apa syaratnya?" tanya Gavin.


Bu Ratih meraih tangan suaminya dan mengajaknya duduk ditepi pembaringan. Dia kemudian menggenggam tangan suaminya.


"Aku ijinkan kamu menikah lagi, asalkan nanti jika kalian punya anak, maka hak asuh anak itu akan diberikan sama aku dan kamu, baik secara administrasi dan merawat sehari-harinya. Gimana?" tanya Bu Ratih.


"Apa.! tapi, apa kira-kira ada wanita yang mau memenuhi persyaratan itu?" tanya Gavin.


"Kita akan memikirkan lagi soal wanita itu. Yang penting sekarang aku sudah bicara sama kamu dan mengijinkan kamu." jawab Bu Ratih.


"Aku masih belum percaya sama apa yang kamu katakan barusan. Karena aku nggak mikir sejauh ini." ucap Gavin.


"Sudahlah, kamu coba pikirkan lagi penawaranku ini. Karena aku juga mikir kesehatan Mama Hesty kedepannya. Aku nggak mau dia kenapa-kenapa dan kita akan menyesal nanti." tukas Bu Ratih.


"Baiklah kalau memang kamu terus memaksaku, aku akan mempertimbangkannya. Dan ini aku lakukan bukan demi aku. Tapi, demi dua wanita yang aku cintai didunia ini. Yaitu Mama dan Istriku." jawab Gavin seraya dia memeluk istrinya.


"Alhamdulilah, akhirnya aku bisa bernafas lega dengan masalah ini. Jangan lupa, nanti dirumah sakit bilang sama Mama soal ini." ucap Bu Ratih.


-----------------------------------

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2