BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON EMPAT Part : 214 (Prolog season empat)


__ADS_3

☆Sinopsis Season 1,2, dan 3☆


Season 1,2 dan 3 sudah banyak menceritakan gimana kehidupan Bu Ratih awal-awal menjadi Dosen, menikah, lalu menghadapi berbagai macam jenis permasalahan dalam hidupnya.


Pro kontra dalam keputusan yang pernah Bu Ratih ambil saat dia mengijinkan suaminya untuk menikah lagi demi mendapatkan keturunan di karenakan dirinya ada masalah dalam kandungannya.


Dengan ketulusan hatinya dan kesabaran akhirnya dia bisa melewati permasalahan tersebut sampai akhirnya dia hidup bahagia dengan anak yang dari awal sudah sepakat hak asuhnya dia ambil alih.


Dengan prestasinya dia meperoleh bea siswa melanjutkan S3 nya di salah satu universitas terkenal di Jogja, dari situ kehidupannya semakin bertambah membaik. Suaminya melanjutkan usaha Ayahnya yang bergerak dibidang perhotelan dan restoran.


Dengan berjalannya waktu akhirnya Bu Ratih menyelesaikan studi S3 nya dengan baik. Sebelum lulus dia sudah ditawari untuk mengajar di kampus dimana dia menempuh studi S3 nya.


Dengan melewati perundingan yang matang dan berbagai pertimbangan akhirnya Bu Ratih menerima tawaran untuk mengajar di Jogja.


Sampai pada akhirnya dia mewujudkan cita-citanya dengan mendirikan sebuah sekolah. Semuanya itu sudah Bu Ratih siapkan sudah jauh-jauh hari bahkan tahun.


Kebahagiaan kembali tercipta saat Bu Ratih dan keluarga mendapatkan sebuah anugerah dengan hadirnya bayi mungil nan cantik yang akhirnya diberi Nama Cantika putri wijaya.


Meskipun bayi mungil itu hanyalah titipan dari seseorang yang pernah dia tolong, tapi baginya itu adalah sebuah anugerah yang sangat luar biasa.


Dengan berjalannya waktu, akhirnya anak-anaknya tumbuh menjadi anak-anak remaja. Dan sampai akhirnya kebahagiaan rumah tangganya bertambah ketika dia dan suaminya mengetahui kalau sebenarnya Raka anaknya itu punya saudara kandung.


Sempat terjadi moment mengharu biru saat pertemuan itu. Semua kejadian seperti berlalu begitu cepat. Susah senang serta ketegangan bahkan perasaan was-was menemani perjalanan Bu Ratih sampai dititik seperti sekarang.


Dengan ketegaran, kesabaran serta keikhlasannya dia bisa melalui semua rintangan yang menaungi perjalanannya saat itu. Dalam hatinya hanya satu yang selalu ditanamkan. Dia lebih baik mengalah daripada terjadi perselisihan.


Dalam dirinya nggak pernah mau dan nggak ingin terjadi dalam hidupnya itu berselisih dan bertengkar dengan orang disekitarnya, terutama dengan keluarganya. Dia lebih baik diam daripada berbicara tapi akhirnya terjadi pertengkaran.


Kemuliaan hatinya lah yang membuat kebanyakan orang yang kenal dengan Bu Ratih menjadi segan bahkan selalu hormat dengannya karena sikapnya itu. Cara mendidik anak-anaknya pun selalu disiplin dan santun.


Dalam dirinya sudah mendarah daging jiwa sang pendidik, jadi saat merawat dan mendidik anak-anaknya pun tak lepas dari jiwa sang pendidiknya itu.


Kedua anaknya pun dibebaskan dalam menentukan pendidikan yang akan dia tempuh. Anaknya yang sulung kuliah ambil hukum, sedangkan yang perempuan ini sekolahnya pintar sekali. Dia ikut program akslerasi untuk sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atasnya.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆ lanjut Cerita..


Haripun berganti, bahkan tahunpun juga berganti menjadi dua tahun kemudian.


Raka sudah menyelesaikan kuliahnya dan lulus menjadi sarjana hukum. Dan kini dia melanjutkan kuliahnya diluar negeri tepatnya ke Jepang.


Sedangkan Cantik kini mau lulus sekolah menengah atas. Karena dia mengikuti program akslerasi, jadi dia menghabiskan sekolahnya cuma dua tahun saja, dan bulan depan dia sudah ujian dan lulus.


Sedangkan Gazi sejak Kasih membolehkannya ikut tinggal bersama Gavin dan Bu Ratih, kini dia memang tinggal bersama Gavin dan keluarganya.


Kuliahnya tinggal setahun lagi, dan Bu Ratih juga masih aktif di kampus dan tetap menjabat sebagai Dekan.

__ADS_1


Pagi ini semua aktivitas dirumah Gavin sama seperti sebelumnya. Bu Ratih mengerjakan tugas sebagai ibu dan istri di dapur. Setelah itu dia kembali mengurua dirinya sendiri untuk berangkat kampus.


"Ma, bulan depan Cantik sudah lulus SMU, lho?" ucap Cantik sembari sarapan.


"Oh iya, sayang. Nggak terasa kamu sudah tumbuh dewasa." jawab Bu Ratih.


"Nanti kalau lulus, Cantik mau kuliah design grafis, Ma. Sesuai hobby aku yang dari dulu suka gambar dan design." ucap Cantik.


"Terserah kamu sayang, yang penting belajar yang rajin dan raih cita-cita supaya sukses" jawab Bu Ratih.


"Oh iya, Gazi. Hari ini Mama bareng kamu ya, soalnya Papa mau ada urusan jadi harus ke rumah Om Fajar dulu. Kan nggak searah sama kampus.!" ucap Gavin.


"Iya, Pa. Biar Mama sama Gazi. Tapi, adek gimana?" tanya Gazi.


"Tenang saja, Kak. Cantik dijemput Sisil. Dia mobilnya baru." jawab Cantik.


"Oh ya udah kalau gitu. Hati-hati ya?"


"Iya, Kak.!"


Bu Ratih dan Gavin senang melihat kedua anaknya semakin akrab dan dewasa. Saat Raka melanjutkan studi S2 nya di luar negeri, kini kehampaan itu diisi oleh hadirnya Gazi.


"Baiklah, sekarang sudah jam setengah tujuh, Papa berangkat dulu." ucap Gavin sambil berdiri.


Semua bersalaman kepada Gavin saat dia mau berangkat. Kini Bu Ratih juga bersiap-siap mau berangkat. Cantik sudah berangkat duluan setelah Papanya.


.


.


.


Saat di sekolah Cantik, dia kini berkumpul dengan teman-temannya.


"Tik, setelah lulus nanti kamu mau melanjutkan kuliah disini apa di luar negeri seperti Kakakmu?" tanya Sisil.


"Kayaknya disini saja, biar deket. Lagian Mama biar ada temannya. Cuma ada Kak Gazi doang." jawabnya.


"Iya juga sih, aku juga mau kuliah disini saja." kini Nana menyaut.


"Iya, aku rencananya mau ambil design grafis. Ya sesuai dengan kesukaanku yang suka gambar." ucap Cantik tiba-tiba.


"Kamu itu pinter, cerdas. Sekolah kamu aja akslerasi. Pasti kamu bisa kuliah di kampus negri." ucap Nana.


"Ya harus disyukuri, dan aku harus mengimbangi dengan belajar yang tekun." jawab Cantik.

__ADS_1


Obrolan anak remaja kini terhenti saat ada salah satu teman prianya mendekat.


"Boleh aku gabung,?" tanya anak muda itu.


"Silakan, kita lagi ngibrol santai aja, kok."


Cantik tiba-tiba terdiam dan sesikit kikuk setelah teman prianya itu datang. Sisil mengerti kalau teman prianya ini mencari Cantik, karena dia tahu kalau dia lagi mendekati Cantik.


"Eh, Dio. Kamu kok diam aja sih. Terus ngapain kesini kalau diam aja." cerocos Sisil.


"Aku hanya ingin gabung saja mendengarkan kalian bercerita" jawabnya garing.


"Ish, kamu tuh ya, keburu masuk nih."


"Teet...teet...!"


Akhirnya bel masuk pun berbunyi. Dio nggak jadi ngomong karena sudah waktunya masuk kelas.


.


.


.


Siang harinya, saat di kampus Gazi terlihat makan siang di kantin kampus. Kini dia lagi sibuk-sibuknya karena mau ujian.


"Zi, enak ya kamu sekarang. Hidup bergelimang harta karena sekarang kamu tinggal sama Papamu." seru Anton temannya.


"Biasa saja kali, kamu jangan lebay gitu.!"


"Aku nggak lebay, kok. Memang ini kenyataannya." jawabnya lagi.


"Oh iya, kamu sudah makan? ayo silakan pesan makan, nanti keburu jam kuliah masuk lagi." ucap Gazi.


"Wuuush,! sekarang sombong ya kamu, pakai nawari kita makan segala. Tapi, maaf aja ya, aku nggak sudi makan bareng kamu. Yang sukanya pamer kekayaan orang tuanya." cerocos Anton.


"Maksud kamu apa dengan bicara seperti itu?" kini Gazi mulai kepancing dengan omongan Anton.


"Ya lihat saja. Dulu kamu ke kampus hanya pakai motor, tapi kini kamu pakai mobil mewah. Mobil sport lagi,!" ucap Anton lagi.


"Memang kenapa kalau Gazi ke kampus pakai mobil mewah, ada yang salah.?"


Suara seseorang langsung membungkam ucapan Anton.


-----------------------------

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2