BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON TIGA Part : 162 (Gavin balik Jogja)


__ADS_3

Gavin menginstruksikan kepada semua jajaran Staf Hotel N' Resto untuk berkumpul di Jogja. Gavin mau membicarakan program baru untuk satu tahun kedepan. Hari ini dia langsung balik Jogja karena meeting tersebut diadakan besok di Hotel N' Resto yang di Jogja.


Dalam perjalanan Semarang ke Jogja dia menyetir sendiri. Gavin mengambil rute yang melewati Solo. Perjalanan Semarang Jogja yang lewat Solo memakan waktu kurang lebih tiga jam itu kalau jalananan lancar dan nggak macet.


Gavin berangkat dari Semarang tadi sekitar pukul enam pagi. Dia mengemudiakan mobilnya dengan santai. Nggak terasa dia sudah sampai Ungaran. Sebuah kota di Semarang yang terkenal dengan Desa wisata Lerep ungaran.


Dimana sebuah desa kecil yang terkenal dengan kebudayaan lokal dan cenderung memperkenalkan kebiasaan rutin warga setempat. Konon di dusun yang namanya Indrokilo, ada kegiatam semacam memeras susu sapi sendiri, rutinitas warga setempat yang mengundang para wisata lokal maupun aisng untuk mencoba dan mempraktekannya.


Gavin sangat takjub dengan alam kota Ungaran yang terkenal sejuk dan bersih. Tak bisa dipungkiri kenapa sampai dinamakan Desa wisata, karena memang panoramanya sangat menudukung jika memang dijadikan tempat wisata.


Dalam benak Gavin, ingin dia nantinya dapat membangun sebuah restoran dengan konsep pedesaan dan dikombinasi dengan area bermain yang tradisonal dan asli dari desa tersebut. Nggak salah dia tadi ambil rute lewat Solo karena melewati kota Ungaran ini, karena bisa dibuat referensi baginya nanti.


Setelah itu dia meneruskan perjalanannya menuju Jogja. Kini dia memasuki kota Salatiga, dalam perjalanannya kali ini dia tidak akan berhenti lagi karena dia ingin cepat sampai rumah. Sambil menikmati pemandangan yang sangat indah, Gavin mengemudikan mobilnya dengan senang.


Sekitaran jam sembilanan dia sudah sampai Klaten. Sebentar lagi di akan sampai Jogja. Akhirnya sekitaran pukul sepuluhan di smpi Jogja. Sleman adalah kota tujuannya.


Ketika hampir sampai komplek perumahannya, dia mengemudikan mobilnya pelan-pelan karena biasanya banyak anak kecil. Perlahan akhirnya dia sampai dirumahnya.


"Ting...tong..!"


Tak lama kemudian ada seorang wanita keluar sambil berlari membukakan pintu pagar. Gavin terkejut siapa wanita ini. Apa dia asisten rumah tangga yang baru. Batinnya.


Gavin memasukan mobilnya lalu keluar sambil membawa kopernya. Fatma langsung membantu membawakan kopernya Gavin. Tapi, dia larang karena biar dia angkat sendiri aja.


"Maaf, Tuan. Saya Fatma, asisten rumah tangga yang baru. Anda pasti Pak Gavin, kan?" ucapnya.


"Oh, iya. Saya Gavin." jawab Gavin.


"Biar saya bawakan, Pak.?"


"Nggak usah, ini berat. Biar Santo saja yang bawa."


"Pak Santo lagi jemput Den Raka. Hari ini dia pulang cepat." jawab Fatma.


"Oh, ya sudah biar saya angkat sendiri saja."


Gavin membawa kopernya menuju kamarnya. Sedangkan Fatma kembali ke belakang. Dia lalu membuatkan minuman buat Gavin, lalu diletakannya di meja ruang tengah.


"Maaf, Tuan. Ini minumnya saya taruh di meja." ucap Fatma ketika melihat Gavin sudah keluar kamar lagi.


"Iya, Mbak. Terima kasih."

__ADS_1


Gavin menuju ruang tengah dan duduk sambil memainkan ponselnya. Fatma melihati Gavin yang tengah duduk sendiri diruang tengah.


"Suami Ratih ganteng banget, pantesan Ratih sampai kepincut, secara usianya lima tahun dibawah Ratih" ucap Fatma dalam hati.


Gavin masih fokus sama ponselnya dan dia tidak merasa kalau lagi diperhatikan oleh Fatma dari dapur.


"Astaghfirulloh.., apa-apaan sih, aku ini.! Pikiran macam apa ini. Sudah-sudah Fat, kendalikan emosimu." ucapnya dalam hati.


Sekitaran setengah jam kemudian, Santo datang dengan Raka. Anak laki-laki itu akhirnya berlari ketika melihat Papanya sudah pulang.


"Papa...!" teriaknya sambil memeluk Gavin.


"Jagoan Papa sudah pulang." ucap Gavin.


"Papa kapan pulang?" tanya Raka.


"Tadi jam sepuluh Papa sampai." jawab Gavin.


"Sekarang Papa nggak akan keluar kota, kan?" ucap Raka polos.


"Enggak, sayang. Papa sudah nggak ada tugas luar kota lagi." jawab Gavin.


Tak lama kemudian Fatma menghampiri Raka da Gavin. "Den, Raka ganti baju dulu, yuk?" ajak Fatma.


"Iya, Mbak." jawab Raka sembari mengikuti Fatma naik ke kamarnnya.


Sekitar pukul setengah dua siang, Gavin dan Raka menjemput Bu Ratih dari kampus. Ini kejutan karena Bu Ratih nggak tahu kalau suaminya pulang hari ini.


"Raka, sudah siap apa belum?" tanya Gavin.


"Sudah, Pa."


Akhirnya keduanya masuk mobil, lalu Gavin melajukan mobilnya menyusuri jalanan. Siang ditengah-tengah kota Sleman memang panas tapi disertai hembusan angin sehingga panasnya tidak begitu menyengat.


Sekitar tiga puluh menit mereka sampai kampusnya Bu Ratih. Gavin memakirkan mobilnya diluar pagar kampus. Raka menunggu sambil mengamati megahnya bangunan bertingkat dihadapinya kali ini.


Gavin masih diatas jok sambil memainkan ponselnya. Raka masih sibuk mengagumi gedung bertingkat.


"Pa, besok kalau besar Raka pingin buat bangunan seperti itu." serunya polos.


Gavin tersenyum sembari mengacak rambut anaknya ini. Ucapannya untuk hari ini memang mungkin kedengarannya ngaco. Tapi, kalau dicerna semuanya mengandung makna yang luar biasa.

__ADS_1


"Iya, sayang. Besok kalau sudah besar, kamu bisa bikin bangunan seperti itu yang buanyaak. Semaunya Raka." jawab Gavin sembari memegang pipi anaknya.


"Beneran, Pa. Besok kalau besar bisa bikin bangunan yang besar-besar.?" tanyanya polos.


"Iya, dong. Anaknya Gavindra putra wijaya itu harus bisa berbisnis. Karena mewarisi darah Indra wijaya dan Gavindra putra wijaya." jawab Gavin.


"Iya-iya, Pa. Dan sekarang Raka kaindra putra wijaya sebagai anak Papa, harus belajar dan sekolah yang rajin, biar pinter dan kalau besar biar bisa seperti Opa dan Papa.!" jawabnya antusias.


"Pinternya jagoannya Papa dan Mama ini." ucap Gavin seraya meraih tubuh anaknya itu kedalam pelukannya.


"Oh iya, Pa. Mama kok lama, ya?" tanya Raka tiba-tiba.


Gavin merenggangkan pelukannya, kemudian menatap wajah Raka. "Mungkin sebentar lagi, sayang. Ini masih jam dua lebih." jawab Gavin.


"Pa, ayo beli Baso yang dipinggir jalan itu, yuk?" ajak Raka sambil menunjuk warung bakso diseberang jalan.


"Raka mau Baso?" tanya balik Gavin.


Raka menganggukan kepalanya, "Mau, Pa!" jawabnya.


"Oke Bos. Kita kesana.?"


Keduanya turun dari mobil. Lalu berjalan menuju warung Baso. Setibanya di warung itu, Raka langsung memesan dua mangkok Baso.


"Bang, Baso nya dua, ya?" ucapnya.


"Baik, Den."


Setelah pesanannya selesai, Bu Ratih keluar kampus. Raka melihat Mamanya yang berdiri di pinggir jalan sambil menunggu jemputan.


"Pa, itu Mama sudah keluar?" ucap Raka.


Seketika Raka keluar warung dan berlari mendekati Mamanya. Ketika hendak menyebrang, dari arah kiri ada sebuah mobil minibus warna hitam melaju dengan kecepatan yang nggak begitu cepat namun jaraknya sudah dekat dengan posisi Raka mau nyebrang.


Seketika Gavin meraih tangan anaknya sehingga selamat dari mobil itu. Sedikit saja Gavin terlambat menarik tangan anaknya, mungkin Raka sudah disrempet mobil tadi.


"Rakaaa..!" teriakan Gavin memancing orang disekitar menjadi gaduh. Demikian juga dengan Bu Ratih jadi tahu kalau ada anak dan suaminya.


"Raka.!" teriaknya dari seberang jalan.


Seketika langsung berlari menghampiri anak dan suaminya itu.

__ADS_1


---------------------------------


Bersambung...


__ADS_2