BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON EMPAT Part : 252 (Nostalgia)


__ADS_3

Mobil yang di kendarai Gavin langsung berhenti. Gazi kaget karena tiba-tiba Papanya mengerem mendadak.


"Ada apa, Pa,?" tanya Gazi.


"Apa, Bunda kamu mau menikah lagi,?" jawab Gavin nggak percaya.


"Iya, Pa. Emangnya kenapa,?" kawab Gazi.


"Nggak apa-apa, sih. Cuma kok cepat banget move on nya.?"


"Pa, itungannya kan Bunda sudah pisah lama dengan Ayah, hanya sejak sebulan yang lalu saja baru resmi cerai, jadi kalau move on mungkin juga sudah lama," jawab Gazi.


"Iya juga, sih. Tapi Bundamu suruh hati-hati dulu karena takutnya seperti Rahman," jawab Gavin.


"Yuppss betul itu Pa. Nanti Gazi bilang sama Bunda."


"Ya sudah kalau gitu."


Akhirnya Gavin melanjutkan kembali perjalanan menuju rumah. Gazi melirik Papanya, dia merasa kalau Papanya sepertinya cemburu mendengar kalau Bundanya berencana menikah.


.


.


.


Malam harinya Gavin dan Bu Ratih lagi duduk-duduk di ruang tengah sambil nonton tv. Gazi belum pulang dan Cantika masih keluar dengan Bara.


"Ma, Gazi cerita kalau Kasih sudah cerai dengan Rahman, lalu dia berencana menikah lagi," ucap Gavin.


"Ya ampun kasihan Kasih, Pa. Rahman memang laki-laki nggak tahu diuntung. Kurang apa coba Kasih, dia baik, kalem dan mapan usahanya sukses," jawab Bu Ratih.


"Tapi mendingan gitu, Ma. Kalau mereka masih menjadi suami istri justru kasihan di Kasihnya. Kalau cerai gini kan enak, dia sudah tidak berurusan lagi dengan Rahman," jawab Gavin.


"Iya juga sih, tapi apa laki-laki yang bakal menikahi Kasih nanti orangnya baik apa nggak," ucap Gavin kawatir.


Bu Ratih melirik suaminya yang kelihatannya kawatir banget dengan Kasih. Bu Ratih mengerti kalau sebenarnya Gavin lambat laun mencintai sudah mencintai Kasih.

__ADS_1


"Pa, apa Mama boleh ngomong sesuatu.?"


"Iya, mau ngomong apa.?"


"Papa mencintai Kasih,?" pertanyaan Bu Ratih mengejutkan Gavin.


Gavin sontak menoleh kearah Bu Ratih yang duduk disampingnya. Dia nggak habis fikir kenapa tiba-tiba Bu Ratih bertanya seperti itu.


"Kenapa Mama bertanya seperti itu,?" tanya Gavin.


"Ya Mama nebak saja. Apa memang benar demikian,?" tanya Bu Ratih.


"Mama ini ada-ada saja," ucap Gavin.


Bu Ratih tersenyum melihat mimik muka suaminya yang nampak malu-malu. Dia selalu tahu apa yang di rasakan oleh suaminya. Karena dia kenal suaminya sudah puluhan tahun.


Kini Gavin ganti menoleh kearah istrinya yang terdiam. Kemudian dia menghadap dan mencoba menatap wajah istrinya.


"Kenapa sih, Pa. Kok menatapnya segitunya sama Mama,?" tanya Bu Ratih.


"Mama cemburu, kah,?" tanya Gavin.


"Kok diam, Ma,"


"Pa, kenapa aku harus cemburu, toh Kasih itu memang Ibunya Raka dan Gazi, sedangkan kamu Papanya. Aku tidak akan cemburu dengan perempuan yang sudah relakan kebahagiaannya dengan anak-anaknya untuk diberikan sama aku. Sekarang Ibu mana yang membiarkan anak-anaknya tinggal sama Mama tirinya," jelas Bu Ratih.


"Kamu memang berhati mulia, Ma. Aku semakin bangga sama kamu."


"Kita sudah tidak muda lagi, Pa. Kenapa harus cemburu. Saat ini kita waktunya menikmati masa tua dengan menyaksikan kebahagiaan anak-anak kita," jawab Bu Ratih.


"Iya, Ma. Raka dan Gazi sebentar lagi sudah menikah. Kita nggak lama lagi di panggil kakek dan nenek," sahut Gavin.


"Pa, nanti kalau Mama sudah pensiun dari kampus, Mama akan fokus di sekolah saja. Yayasan yang Mama dirikan itulah nantinya yang menemani hari-hari tua Mama," ucap Bu Ratih.


"Iya, Ma. Papa juga begitu. Hotel dan restoran biar diurus Gazi. Papa pingin tinggal di rumah sambil menikmati masa tua, tapi tetap memantau semua aktivitas anak-anak," jawab Gavin.


"Oh ya Pa, Mama mau menawarkan sama Papa. Apa Papa nggak berniat rujuk sama Kasih lagi,?" tanya Bu Ratih tiba-tiba.

__ADS_1


"Uhuuk-uhuuk,!" Gavin tersedak saat meminum kopi ketika Bu Ratih berkata seperti itu.


Bu Ratih buru-buru memberikan air putih dan diberikannya ke Gavin. Setelah itu dia duduk kembali sambil mengelus punggung Gavin.


"Maafin Mama, ya Pa. Mama nggak berniat membuat Papa kesedak," ucap Bu Ratih dengan wajah yang ketakutan.


"Ma, jangan pernah bilang seperti itu, dong. Papa kan trauma," jawab Gavin.


"Trauma kenapa, Pa,?" tanya Bu Ratih.


"Papa trauma saat dulu Mama menyuruh Papa menikahi Kasih. Hampir tiap malam Papa gelisah tak bisa tidur karena memikirkan soal pernikahan dengan Kasih."


"Ya ampun, Pa. Itu kan sudah kejadian dulu banget. Tapi emangnya Papa nggak kasihan sama Kasih kalau harus menikah dengan laki-laki lagi,?" tanya Bu Ratih.


"Ma, jujur kalau cinta tidak ada, namun rasa sayang karena dia adalah Ibu dari Raka dan Gazi mungkin perlahan sudah Papa rasakan," jawab Gavin pelan.


"Mama ngerti itu, Pa. Dan Mama tidak cemburu ataupun marah. Karena apa, karena Mama percaya kalau Papa tetap seperti Gavin yang dulu pertama aku kenal dengan gaya yang sok ganteng, yang merasa menjadi idola cewek-cewek di kampus, tapi dia bertekuk lutut dengan dosennya sendiri gara-gara selalu terlambat masuk kelas," jelas Bu Ratih sambil tersenyum.


"Iya, Ma. Papa juga nggak tahu kenapa aku dulu begitu terpesona dengan sosok Bu Dosen Cantik yang bernama Ratih putri gayatri."


"Bu Dosen Cantik yang selalu cerewet dan ngomel kalau mahasiswanya yang bernama Gavindra putra wijaya selalu datang terlambat."


Keduanya lalu bernostalgia dengan kejadian dimana pertama kali bertemu di kampus lalu Gavin mengejar-ngejarnya sampai akhirnya keduanya saling jatuh cinta dan menikah.


---------------------------------


Bersambung....


(***)


Buat penggemar Bu Ratih, tinggal satu bab lagi episode terakhir. Dalam bab ini saya umumkan bahwa bab 253 adalah bab terakhir BDC. Nanti sequelnya akan saya ceritakan kisah dari CANTIKA.


Belum tahu kapan, yang jelas akan saya usahakan up sequelnya. Dan saya juga ada cerita-cerita yang lainnya monggo mampir.


Terima kasih buat semua pembaca BDC yang budiman, tanpa kalian saya tidak ada apa-apanya. Like, coment serta support kalian adalah semangat buat saya untuk terus bekarya.


Love u all

__ADS_1


--------


__ADS_2