
Sore harinya keluarga Bu Ratih ngumpul bareng-bareng dirumah. Gavin, Bu Ratih, Gazi serta Cantik. Sepulang dari kampus tadi Bu Ratih sengaja membeli ayam bakar buat makan malam sekeluarga.
"Cantik, sayang. Bantuin Mama sebentar, ya?" seru Bu Ratih yang sibuk di dapur.
"Siap, Ma.!"
"Gazi juga ikut bantuin, nggak Ma?" seru Gazi.
"Nggak usah, Nak. Cowok-cowok bagian ngecek rumah saja. Kali aja masih ada yang perlu dibersihkan. Kasihan kan Pak Santo membersihkan rumah sendirian." ucap Bu Ratih.
"Siap Ma.!" sahut Gazi.
"Zi, ayo kita cek halaman. Nanti kalau masih ada yang kotor, Ibu negara bisa marah besar. Nanti kita nggak dapat jatah ayam bakar, lho. hehehe,!" ucap Gavin sambil tertawa.
"Hahaha.., Papa bisa saja.!"
Keakraban diantara keluarga itu memang selalu tercipta. Bu Ratih memang selalu menerapkan kedisiplinan dalam keluarganya. Sejak Cantik memasuki kelas enam sekolah dasar, dia sudah tidak memakai jasa asisten rumah tangga.
Bu Ratih sejak dini menerapkan untuk selalu bekerja sama untuk mengurus rumahnya. Untuk masak dia sendiri yang melakukannya. Dulu sebelum ada Gazi, Raka dan Cantik dapat bagian membersihkan rumah. Kalau halaman tetap kerjaan Pak Santo.
Tapi tidak menutup kemungkinan Pak Santo juga membantu membersihkan rumah, cuma setidaknya anak-anaknya harus ngerti bagaimana bekerja sama dalam mengurus rumah.
Meskipun dirinya tergolong dari keluarga berada, tapi dia tidak mau memanjakan anak-anaknya untuk ongkang-ongkang kaki saja. Berawal dari membersihkan kamarnya masing-masing sampai akhirnya membersihkan rumah.
Mungkin Bu Ratih adalah seorang pendidik yang membuat dirinya selalu disiplin baik di kampus maupun di rumahnya.
"Ma..Mama,!" seru Gazi dari luar yang kini berjalan ke dapur.
"Ada apa sih, sayang. Kok teriak-teriak gitu." jawab Bu Ratih kalem
"Semuanya sudah beres, Ma. Lihat deh kedepan, pasti Mama senang melihatnya." ucap Gazi.
"Iya, Mama percaya sama kamu, bentar ini tinggal dikit lagi, sayang. Pasti nanti Mama lihat deh." jawab Bu Ratih.
"Oke, Ma. Sekarang Gazi mau melanjutkan yang di dalam." ucapnya sambil berlalu.
Bu Ratih geleng-geleng kepala saja melihat tingkah polos anaknya yang satu ini. Gazi memang beda dengan Raka. Dia cenderung pendiam dan penurut. Kalau Raka bukannya nggak penurut, dia sedikit cenderung keras tapi baik hatinya.
"Ini sudah semua, Ma. Cantik taruh sini semua, ya?" ucap Cantik sambil meletakkan irisan timun kedalam wadah.
__ADS_1
"Iya, sayang. Pinter anak Mama, sudah bisa iris timun ala restoran." ucap Bu Ratih.
"Cantik kan suka gambar, Ma. Jadi kalau untuk iris mengiris yang sekiranya perlu kerapihan pasti Cantik bisa. Sudah naluri, Ma. Kayak menggambar diatas media buah-buahan." jawab Cantik.
"Kamu nanti kalau kuliah jadi ambil design grafis, kedepannya kira-kira ilmu kamu buat apa?" tanya Bu Ratih.
"Cantik ingin ngajar seperti Mama. Tapi, disamping itu Cantik pingin mendirikan perusahaan yang ada hubungannya dengan ilmu yang Cantik punya. Misal percetakan, periklanan atau yang lainnya yang Cantik bisa." jawab Cantik.
"Bagus sekali cita-cita kamu, apapun yang kamu impikan, Mama tinggal support dan mendoakan saja. Yang penting belajar yang tekun dan terus berusaha." ucap Bu Ratih.
Obrolan antara Ibu dan anak itu berlangsung sambil mengerjakan kerjaan yang di dapur. Bu Ratih selalu memberikan wejangan kepada anak perempuannya ini setiap ada kesempatan.
Hati dan jiwa Bu Ratih memang lembut, meskipun disiplin, namun selalu menghadapi persoalan dengan kepala dingin. Begitu pula dalam menghadapi persoalan anak-anaknya, dia nggak mau koar-koar atau ramai.
.
.
.
Makan malampun tiba, semua sudah kumpul dimeja makan. Bu Ratih dengan di bantu Cantik menyiapakan semuanya.
Bu Ratih meladeni suaminya, setelah itu anak-anaknya. Mereka tampak rukun dan bahagia sekali.
"Ma, kapan yuk kita liburan ke Jepang sekalian jenguk Kak Raka." celetuk Cantik.
"Tuh, bilang sama Pak bos nya dong. Dia kan yang punya fulus. Hihihi..,!" jawab Bu Ratih sambil meringis kearah Gavin.
"Iya, Ma. Biar sesekali kita ada waktu kumpul keluarga seperti saat ini. Tapi, itu dilakukannya di luar negeri." sahut Gazi.
"Ya nanti kalau kalian habis ujian semua. Cantik kan mau lulusan, sedangkan Gazi mau ujian semester. Nah, setelah semuanya itu baru kita liburan." jawab Gavin.
"Asyiik, kita liburan Kak,!"
"Iya, Dek. Kita akan lihat bunga sakura."
Kedua anak itu langsung gembira dan besorak. Gavin dan Bu Ratih hanya tersenyum melihat tingkah lucu kedua anaknya.
Gavinpun demikian, dia nggak nyangka kalau sebenarnya dia punya dua jagoan. Kedua anak laki-lakinya itu bakal menjadi pewaris kerajaan bisnis keluarga wijaya.
__ADS_1
"Kak Gazi, Dedek Cantik,! ayo makannya dihabisin dulu. Nanti dilanjut lagi soraknya." seru Bu Ratih.
"Eh iya, Ma. Maaf ya, Ma." ucap Gazi.
"Iya, maaf ya Ma." kini Cantik bersuara.
Setelah makan malam, Cantik membantu Mamanya membereskan meja makan. Sedangkan Gazi kini tengah duduk diruang tengah dengan Papanya.
Keceriaan keluarga Bu Ratih selalu tercipta karena mereka adalah orang-orang baik. Setelah selesai bersih-bersih kini Bu Ratih dan Cantik ikut nimbrung.
Kini Cantik duduk disamping Mamanya sambil tangannya memijit lengan Bu Ratih. Sedangkan Gavin duduk disamping Gazi.
"Gazi, kalau kamu lulus nanti. Kamu mau langsung kerja apa melanjutkan kuliah lagi seperti Kakakmu.?" tanya Gavin.
"Gazi ingin langsung kerja saja, Pa. Nanti soal kuliah lagi gampang. Soalnya Gazi ingin segera kerja dan punya uang sendiri." jawabnya.
"Bagus, kamu mau kerja di perusahaan Papa apa Bundamu.?" pertanyaan Gavin sedikit membuat Gazi bingung.
"Sebenarnya semua masuk dengan ilmu yang Gazi timba. Kan Gazi ambil menejemen bisnis. Jadi itu bisa Gazi terapkan sama keduanya. Tapi, kalau mengingat Bunda menjalankan perusahaan hanya dengan Om Dito saja, Gazi ingin membantu Bunda." jelas Gazi.
"Ya itu terserah kamu, kami nggak maksa." jawab Gavin.
"Iya, Zi. Mama juga nggak maksa kalau kamu harus ikut kerja di perusahaan Papa. Semua Mama serahkan sama kamu. Gimana yang menurut kamu baik, lakukan." ucap Bu Ratih.
"Ya, Kalau Kak Gazi kerja di Jakarta. Cantik sama siapa dong.!" ucapnya cemberut.
"Tenang saja, Dek. Kan masih lama. Kamu mikirnya kejauhan." sahut Gazi.
"Iya, sayang. Kan Kak Gazinya masih kuliah." sahut Bu Ratih.
"Oh iya, Ma. Lama nggak lihat sekolah." ucap Gavin.
"Mama sering, Pa. Tiap hari rabu Mama selalu ke sekolah. Lalu sama tiap bulan selalu kunjungan." jawab Bu Ratih.
"Kapan-kapan Cantik diajak dong, Ma. Kan Cantik pingin ngajar seperti Mama." sahut Cantik.
"Iya, sayang. Kapan-kapan Mama akan ajak kamu melihat sekolah. Dan melihat bagaimana cara seorang pendidik lagi mendidik murid-muridnya." jawab Bu Ratih.
-------------------------------
__ADS_1
Bersambung....