
Seketika semua pengunjung restoran jadi menoleh kearah insiden tersebut. Termasuk orang-orang dimejanya Gavin.
"Maaf, Nyonya! Saya tidak tahu kalau Anda mau lewat. Sekali lagi saya minta maaf,!" ucap pelayan itu.
Wanita berhijab itu menganggukan kepalanya. Tapi, laki-laki yang disampingnya spontan murka karena melihat kejadian itu.
"Makanya, kamu kerja yang betul. Jalan itu lihat-lihat depan ada orang apa, nggak. Jangan asal lewat saja,!" ucap laki-laki disebelah wanita berhijab itu.
"Sudah, dia nggak sengaja. Lagian dia sudah minta maaf, kan?" jawab wanita itu.
"Tapi, sayang. Lihat baju kamu jadi kotor.!" ucapnya lagi.
"Sudah, aku nggak apa-apa, kok." jawab wanita itu.
Kemudian mereka mencari tempat duduk. Akhirnya mereka pilih meja pas disamping mejanya groupnya Gavin. Wanita itu memakai cadar jadi nggak tahu siapa dia.
"Wanita itu baik banget, tapi suaminya nyolot banget kayak petasan." ucap teman Gavin.
"Hahaha, kamu itu bisa saja, bro. Dia itu bukan kayak petasan. Melainkan kompor meleduk,!" sahut Gavin sambil tertawa.
Wanita yang bercadar itu kemudian menoleh kearah meja Gavin. Dia kaget setelah ada Gavin diantara mereka. "Mas Gavin,!" serunya lirih.
"Mas Gavin, kamu tetap ganteng meskipun sudah nggak muda lagi. Gimana kabar Raka dan Mbak Ratih." ucap dia dalam hati.
"Kasih,! kamu lagi ngeliatin apa, sih!" ucap laki-laki yang bersamanya tadi.
Ternyata wanita itu Kasih. Dia bersama laki-laki mungkin suami atau kekasihnya. Wajahnya langsung memerah ketika kepergok sedang melihati Gavin. Serta-merta dia memalingkan muka ke arah laki-laki tersebut.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku hanya melihat kok kayak temanku." jawabnya asal.
"Teman apa teman, apa dia mantan?" tanya laki-laki itu tiba-tiba.
"Kamu ini bicara apa sih, Mas. Aku kan bilang, kalau itu kayak teman aku.!" suara Kasih meninggi sehingga membuat orang-orang dimeja Gavin ikut menoleh.
Kasih langsung menunduk ketika salah satu orang dari meja Gavin menoleh kearah dirinya. Sementara dimeja Gavin justru Gavinlah yang nggak begitu memperhatikan, karena dia type orang yang nggak mau mencampuri urusan orang lain selama tidak meminta bantuan kepadanya.
"Pak Gavin, itu pasangan memang laki-lakinya yang keras. Bicara sama istrinya kok bentak-bentak." ucap salah satu teman Gavin.
"Biarin saja lah Pak, kita lihat saja. Selama dia tidak melakukan kekerasan terhadap wanita, kita nggak usah ikut campur." jawab Gavin.
"Iya juga, sih Pak. Lagian bukan urusan kita juga." jawabnya.
Tapi Gavin penasaran juga, siapa wanita bercadar itu kok tadi sempat melihat kearah dirinya. Tak lama kemudian datanglah seorang pemuda yang usianya sekitar delapan belas tahunan.
__ADS_1
"Kak Kasih,!" seru pemuda itu.
"Iya, ada apa Dit?" jawab Kasih.
"Ibu bilang, kita lebih baik pulang saja, Kak. Karena Gazi kebangun dan dia minta pulang." jawab Dito.
"Oh iya bentar. Pesanannya masih dibungkus. Ini Kak Rahman lagi bayar ke kasir." jawab Kasih.
Spontan Gavin terkejut, dia seperti lemas setelah mendengar pemuda itu memyebut nama Kasih. Apalagi Kasih tadi menyebutkan nama Dit. Dia semakin yakin kalau itu adalah Kasih, mantan istrinya.
Gavin perlahan sudah bisa menguasai dirinya, dan dia kini lebih tenang. Teman-temannya sempat bingung dengan perubahan sikap Gavin. Setelah mereka selesai makan, salah satu temannya mengajak balik ke kantor.
Ketika diparkiran, Gavin melihat seorang wanita bersama anak laki-laki yang usianya sekitaran sembilan tahunan berdiri disamping mobil mewah warna hitam. Gavin terkejut untuk yang kedua kalinya kalau wanita itu ternyata Bu Laksmi Ibunya Kasih.
Berarti benar, yang ada didalam restoran tadi adalah Kasih dan pemuda itu adalah Dito adiknya. Tapi, dia masih bingung lalu siapa laki-laki dewasa bersama Kasih. Apa dia suami Kasih. Batin Gavin.
Ketika Gavin hendak menyamperi Bu Laksmi dan anak laki-laki itu. Dia mengurungkan niatnya karena Kasih sudah terlebih dahulu datang. Gavin kemudian melangkah masuk mobilnya karena sudah ditunggu teman-temannya.
Ketika Gavin hendak masuk, Kasih sempat menoleh kearah dirinya, mata mereka beradu pandang sejenak. Mereka terdiam tenggelam dalam pikirannya masing-masing sampai-sampai moment itu terhenti lantaran Gavin dipanggil temannya untuk masuk.
Sedangkan Kasih masih berdiri masih mentap mobil Gavin yang perlahan meninggalkan pelataran restoran.
"Mas, maaf kalau aku sengaja tidak menyamperi kamu. Aku nggak ingin mengganggu kebahagiaan kamu dan Mbak Ratih. Karena sekarang aku juga punya kebahagiaan sendiri dan itu juga kenang-kenangan dari kamu. Seorang anak laki-laki tangguh adiknya Raka. Dialah Gazi, Mas. Anak kamu juga. Maaf, dulu aku nggak bilang kalau aku mengandung disaat kita belum bercerai. Tapi, setelah anak ini lahir, barulah aku mengajukan gugatan itu. Ada banyak alasan kenapa aku tidak bilang kalau aku mengandung lagi. Tapi, alhamdulilah suamiku ini bisa menerima adanya Gazi. Meskipun dia karakternya keras, tapi dia sayang banget sama Gazi." ucap Kasih dalam hati.
"Iya, sayang. Bunda masuk, kok." jawab Kasih.
"Kamu ngapain berdiri disitu sih, Kasih. Anak kamu dari tadi menunggumu lho,!" ucap Bu Laksmi.
"Iya, sayang. Kamu ngapain lama-lama diluar tadi." sahut laki-laki tadi yang sekarang berada dibelakang kemudi.
"Maaf, Mas. Aku tadi kayak mau muntah, tiba-tiba mual" jawab Kasih asal.
"Jangan-jangan kamu hamil, sayang?" ucap laki-laki itu.
"Nggak mungkin, Mas. Aku hari ini lagi dapet." jawab Kasih.
"Oh, mungkin kamu masuk angin saja." jawabnya lagi.
Akhirnya Kasih sekeluarga meninggalkan halaman restoran itu. Mereka menuju rumahnya. Kasih masih terdiam karena memikirkan Gavin barusan.
.
.
__ADS_1
.
Sore harinya, disaat Gavin sudah sampai rumahnya. Dia langsung menemui istrinya. Bu Ratih lagi didepan cermin karena baru saja selesai mandi.
"Sayang, Papa tadi ketemu seseorang" ucap Gavin sambil menaruh tas kerja nya dimeja, kemudian dia menghampiri Bu Ratih dan memeluknya dari belakang.
"Siapa, Pa?" jawab Bu Ratih masih dengan aktivitasnya didepan cermin.
"Kasih.!"
"Apa,!" teriak Bu Ratih sembari dia menoleh kebelakang kearah Gavin.
Mereka sejenak berpandangan dan tanpa bicara. Gavin tersenyum melihat mimik muka istrinya yang terkejut bercampur senang.
"Dimana itu, Pa. Terus kenapa nggak Papa ajak kesini. Lalu dia sekarang seperti apa?" cerocos Bu Ratih.
"Nanyanya satu-satu, Ma. Papa bingung mau jawab yang mana dulu!" jawab Gavin.
"Maaf, Pa. Aku antusias banget kalau menyangkut Kasih, Pa." jawab Bu Ratih.
"Aku hanya ketemu dari jauh, awalnya aku nggak ngerti kalau dia itu Kasih. Cuma gara-gara ada pemuda yang memanggil dia dengan sebutan "Kak Kasih" aku sedikit curiga kalau itu adalah Kasih nya kita. Sedangkan satu sisi Kasih memanggilnya dengan sebutan "Dit" berarti kan Dito, Ma. Kemudian saat diparkiran, aku melihat Bu Laksmi dengan anak laki-laki usianya sekitaran sembilan tahunan berdiri disamping mobil menunggu seseorang. Maunya aku samperin tapi keburu Kasihnya datang. Jadi aku mengurungkan niatku untuk menyapa Bu Laksmi. Nggak enak juga, kayaknya dia sudah menikah lagi dan saat itu dia juga bersama laki-laki dewasa." jelas Gavin.
"Ya ampun, Pa. Syukurlah kalau memang dia sehat-sehat saja. Berarti anak laki-laki itu adalah anaknya Kasih Pa?" ucap Bu Ratih.
"Aku juga nggak tahu persis, Ma. Ya mungkin juga anaknya dengan suaminya sekarang." jawab Gavin.
"Usianya nggak jauh dari Raka, kalau dia sembilan, sedangkan usia Raka sekarang sepuluh tahuan menginjak ke sebelas. Tapi, kok aneh ya Pa. Jarak usia Raka dengan anak itu dekat banget. Papa bercerai dengan Kasih disaat usia Raka menginjak dua tahunan. Kalau anak laki-laki itu sekitaran usia sembilan, apa dia--" Bu Ratih tidak berani melanjutkan kalimatnya.
"Maksud Mama apa?" tanya Gavin.
"Nggak apa-apa, Pa. Toh kita juga belum tahu usia anak itu sebenarnya." jawab Bu Ratih.
"Iya, sayang. Sudah nggak usah dibahas lagi soal itu. Kita sekarang fokus ke masalah kita sendiri. Besok kita berangkat ke Jogja, kan?" ucap Gavin.
"Iya, Pa. Lebih baik kita persiapkan buat kita pindah ke Jogja. Urusan sekolah Raka juga sudah aku urus. Meskipun sekarang dia kelas lima dan tinggal setahun lagi lulus sekolah dasar, tapi nggak apa-apa, Raka ankanya supel dan nggak minderan, jadi nantinya dia bakal cepat menyesuaikan diri serta sistem belajarnya." jawab Bu Ratih.
"Terima kasih sayang, kamu adalah Ibu yang baik bagi Raka, meskipun itu tidak terlahir dari rahim kamu. Aku bangga sekali mempunyai istri seperti kamu, sayang!" jawab Gavin sambil memgecup kening Bu Ratih.
Bu Ratih tersenyum sambil memegang pipi Gavin. Kemudian dia mencium mesra bibir suaminya itu. Mereka serasa pengantin baru saja. Gavin membalas ciuman itu sambil memeluk erat istrinya. Sejenak mereka tenggelam dalam situasi yang mungkin tidak bisa diutarakan dengan kata-kata. Sampai akhirnya ketukan pintu kamar yang membuat mereka menghentikan kegiatan yang mungkin sudah lama terlupakan.
"Tok..tok.."
--------------------------------
__ADS_1
Bersambung....