BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON EMPAT Part : 232 (Kumpul keluarga)


__ADS_3

Gazi berdiri agak menjauh untuk menerima telpon. Sedangkan di meja masih duduk Gavin dan yang lainnya.


"Iya, Ra. Ini Kak Raka sudah disini.?"


"Iya, ini aku sudah dekat lokasi."


"Oke, aku tunggu.!"


Gazi menutup ponselnya lalu menuju ke meja dimana keluarganya menunggu.


"Siapa yang telpon, Kak.?" tanya Cantika.


"Teman Kakak!" jawab Gazi pelan.


"Oh,.!"


"Kenapa, dek. Ngarep yang di telpon itu tadi, Bara ya.?" goda Gavin.


"Papa mesti gitu, senang kalau godain Cantik." jawab Cantika.


Disaat mereka lagi ngobrol tiba-tiba datanglah dua perempuan muda yang cantik menghampiri mereka. Yang satunya berhijab dan yang satunya sudah tidak asing lagi bagi keluarga Gavin.


"Kak Dara,!" seru Cantik.


"Dara,!" kini Raka menyaut sambil menatap tanpa kedip.


"Tante, Om. Apa kabar.?" ucap Dara.


"Ya ampun kamu kok nggak pernah main ke rumah, sih. Meskipun Raka nggak ada kan masih ada Cantika dan Tante." sahit Bu Ratih.


"Iya, Dara. Kamu kenapa nggak main ke rumah.?" tanya Gavin.


"Iya, maaf Dara sibuk kerja sama mau skripsi." jawab Dara.


"Dar, kamu tambah cantik aja." batin Raka.


"Oh iya itu siapa.?" tanya Bu Ratih.


"Oh ini Zahra temen Dara kerja." jawab Dara.


Zahra tersenyum dan menyalami semuanya. Kemudian mereka berdua duduk di kursi yang sudah disediakan.


Gazi duduk disebelah Zahra sedangkan Dara disebelah Raka. Mereka kemudian ngobrol-ngobrol.


"Dara, maaf aku nggak jemput kamu kesini. Aku nggak tahu kalau kamu kesini juga." ucap Raka.


"Iya, nggak apa-apa, kok Ka. Aku tadi ditelpon Gazi untuk ngajak Zahra sekalian kok." jawab Dara.


"Kak Raka sebenarnya kalian pacaran nggak sih, kok adem ayem gitu kelihatannya." tanya Cantika.


Raka dan Dara seketika langsung saling pandang. Mereka memang nggak pernah jadian, cuma keduanya hanya saling komunikasi dan jaga hati. Jadi, kalau ditanya mereka pacaran apa nggak jelas nggak bisa jawab.

__ADS_1


"Dek, aku sama Kak Dara ini memang nggak pernah bilang jadian. Kami berdua hanya saling jaga hati masing-masing. Karena kami sebelumnya sepakat kalau menyelsesaikan kuliah dulu." jawab Raka.


"Iya, Tik. Kami memang teman dekat saja. Nanti kalau memang sudah waktunya dan ada jodoh kita langsung nikah.!" jawab Dara.


"Bagus,! Papa suka kata-kata seperti itu. Lanjutkan, asalkan nggak mengganggu kuliah dan pekerjaan masing-masing." sahut Gavin.


"Siap, Om.!" jawab Dara.


"Oh iya Pa, Ma.! ini Zahra adalah teman Dara satu kerjaan, dan kebetulan dia adalah pacar Gazi." ucap Gazi malu-malu.


Sontak yang hadir disitu langsung melongo setelah mendengar penjelasan Gazi. Terlebih Bu Ratih dan Gavin, mereka langsung saja terkejut. Anaknya yang satu ini terkenal pendiam dan nggak suka neko-neko. Tapi, hari ini tiba-tiba bilang kalau Zahra pacarnya.


"Woow keren ini, Pa. Diam-diam menghanyutkan. Mantap, Zi!" seru Raka.


"Kamu serius, Zi." tanya Bu Ratih.


"Iya, Ma." jawabnya singkat.


"Kalau Papa sih apa yang menjadi keputusan anak-anak Papa, pasti Papa support." sahut Gavin.


"Iya, Pa. Makanya ini tadi Gazi telpon Dara untuk ajak Zahra sekalian kesini." jawab Gazi.


"Dara, apa kamu nggak dikasih tahu Raka kalau dia pulang.?" tanya Gavin.


"Dikasih tahu, Om. Cuma untuk acara hari ini memang enggak. Saya ditelpon Gazi suruh ajak Zahra gitu." jawab Dara.


"Iya, Pa. Raka malah janjiannya besok sepulang dia kerja kita ketemuan."jawab Raka.


Tak lama kemudian makanan yang sudah dipesan datang juga. Kini mereka menikmati makannya bersama-sama. Sesekali Gavin melirik anak-anaknya yang sekarang sudah tumbuh dewasa.


"Selain kerja saya juga mengajar di salah satu yayasan sekolah TK" jawab Zahra.


"Oh jadi kamu guru.?" tanya Bu Ratih.


"Iya Tante, masih pemula." jawabnya malu-malu.


"Nggak apa-apa, di telateni saja." jawabnya.


"Zahra ini yatim piatu, Ma. Dia dibesarkan di yayasan dimana dia sekarang mengajar." jelas Gazi.


"Oh iya, nggak apa-apa." jawab Bu Ratih.


"Sebenernya dia malu Ma kalau aku ajak ketemu keluarga. Katanya dia minder karena keluarga Gazi orang kaya." jelas Gazi.


"Ya ampun kenapa minder, keluarga kita nggak pernah memandang orang dari status sosialnya, kita semua sama." jawab Bu Ratih.


"Iya, Nak Zahra. Keluarga Om tidak pernah memilih-milih siapa yang boleh berteman dengan anak kami." sahut Gavin.


"Nggak usah minder lagi, ya? Kita disini semua sama aja." ucap Bu Ratih.


"Baik Tante, makasih telah menerima saya dengan baik" ucap Zahra.

__ADS_1


"Iya, sayang. Jangan pernah punya pikiran macam-macam lagi, ya.?" ucap Bu Ratih.


"Iya makasih Tante." jawab Zahra.


"Kamu juga gitu, Ra. Nggak usah sungkan-sungkan dan minder. Om dan Tante akan menerima siapa saja yang akan menjadi pasangan anak kami." jawab Bu Ratih.


"Tuh, dengerin. Sudah dapat lampu hijau dari Mama!" sahut Raka sambil menyenggol Dara.


"Kamu apaan, Ka. Aku kan malu.,!" ucap Dara sambil mencubit pinggang Raka.


"Auuuww,! sakit tahu sayang." jawab Raka sambil meringis kesakitan.


"Cie..cie.., sayang. Gitu kalau dibilang pacaran nggak mau, huuuh dasar Kak Raka modus.!" celetuk Cantika.


"Kamu itu sirik aja, kasihan deh pacar kamu nggak ada disini. Wueek!" ledek Raka sambil menjulurkan lidahnya.


"Biarin, aku kan memang masih kecil, hehehe,!" jawab Cantika.


"Kecil dari hongkong, Dasar Bu Dosen cantik,!" seloroh Raka.


"Lho,! Mama ini pasti yang cerita ke Kak Raka." sahutnya sambil cemberut.


"Sudah-sudah, nggak usah bertengkar. Lanjut makannya,!" sahut Gavin.


Begitulah kalau Raka dan Cantika kumpul, mereka selalu saling mengejek dan membuly, tapi pada dasarnya mereka saling sayang. Gavin dan Bu Ratih selalu melerai kalau keduanya lagi bertengkar.


"Ra, ikut aku sebentar, ya.?" ajak Raka.


"Kemana,?"


"Udah, ikut saja." ucap Raka sambil menggandeng tangan Dara.


Setelah pamit sama kedua orang tuanya, Raka dan Dara meninggalkan meja tersebut menuju sebuah meja yang letaknya agak jauh dari meja sebelumnya.


"Ada apa sih, Ka?" tanya Dara penasaran.


"Sudah Duduk saja." jawab Raka.


"Ish, kamu bikin penasaran orang aja."


"Oh iya, tadi pas Gazi perkenalkan Zahra sama Mama dan Papaku sebagai pacarnya, apa dalam hati kamu juga ingin seperti itu.?" tanya Raka sambil menatap wajah Dara.


Sejenak Dara diam dan membalas menatap mata Raka tanpa kedip. Kemudian dia tersenyum dan mengangguk malu-malu, "Iya," jawabnya lirih.


Seketika Raka langsung memeluk gadis manis yang ada di depannya kali ini. Raka selama ini bukannya tidak peka, tapi memang dia ingin kalau semua studynya selesai, baru dia menikahi Dara.


"Maafin aku ya, Ra. Bukannya aku nggak peka, aku cuma ingin menyelesaikan study aku dulu baru mikirin soal menikah." ucap Raka sambil memeluk Dara.


"Iya, aku ngerti kok. Maaf kalau jawabanku ini akan menjadikan beban buat kamu." jawab Dara.


"Tidak sama sekali, aku ngerti kalau kok. Tapi kamu siap kan menjadi istriku dan menjadi Ibu dari anak-anakku.?" tanya Raka.

__ADS_1


-------------------------------


Bersambung....


__ADS_2