
Setelah mereka berdebat, akhirnya mereka berdua masuk kembali ke kamar Gazi. Raka heran, kenapa dengan Bundanya Gazi kok kelihatan akrab sama Papanya. Gazipun demikian, dia heran karena Bundanya sudah kenal akrab dengan Papanya Raka.
"Bun, kenapa Bunda bicara sama Om Gavin diluar?" tanya Gazi.
"Oh nggak apa-apa, Nak. Bunda dan Om Gavin hanya berunding soal tawaran Om Gavin dan Tante Ratih soal kamu tinggal disana." jawabnya.
"Tapi, kenapa Om Gavin tiba-tiba menyuruh Gazi tinggal sama mereka." pertanyaan Gazi membuat Gavin jadi nyalihnya ciut.
"Nggak apa-apa, Nak. Ya kamu kan temannya Raka, kali aja mereka pingin kamu ada temannya gitu." jawab Kasih bijak.
"Gazi mau tinggal sama Nenek aja." jawabnya singkat.
Rahman tersenyum sinis penuh kemenangan. Sedangkan Gavin hanya diam dengan muka yang menahan marah. Bu Ratih langsung menggenggam tangan suaminya supaya dia tidak kebawa emosi.
"Baiklah sayang, kamu memang seharusnya tinggal sama Nenek saja, bukannya dengan orang lain." jawab Rahman sembari melirik kearah Gavin.
Seketika Gavin sedikit kepancing emosinya, tapi dengan sigap Bu Ratih langsung menarik tangan suaminya. Akhirnya dia diam.
"Kasih, sebaiknya aku sama Ratih pulang dulu. Kamu selesaikan dulu urusan kamu dengan keluargamu. Bilang sama suamimu, kalau memang masih ingin dipanggil Ayah oleh Gazi, suruh dia lebih perhatian sama Gazi. Jangan sampe dia nyesel dikemudian hari.!" ucapan Gavin seolah menampar wajah Rahman.
Kasih dan semuanya kaget setelah mendengar apa yang barusan diucapkan Gavin. Terlebih Gazi dan Raka. Kedua anak muda itu bingung kenapa orang tua mereka jadi berantem dan saling melontarkan kalimat yang sedikit menyinggung masing-masing.
"Apa kamu bilang,! saya akan menyesal. Justru adanya kamu yang menyesal karena sudah berani berkata itu sama saya. Camkan itu Tuan Gavindra putra wijaya yang terhormat.!" teriak Rahman sambil memperhatikan Gavin melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.
Raka yang mendengar Papanya diperlakukan seperti itu langsung naik pitam dan mendaratkan bogem mentah kearah muka Rahman.
"Buuuggh.,!!"
"Raka,!"
Spontan Kasih meneriaki Raka yang sedang menghantam muka Rahman. Sedangkan Rahman hanya meringis kesakitan karena mukanya yang baru saja kena bogem mentah.
"Anda kalau bicara yang sopan. Papa saya nggak akan bersikap seperti itu kalau tidak ada yang menyakitinya. Ucapan Anda seharusnya dikontrol, ini rumah sakit. Nggak seharusnya teriak-teriak seperti dipasar saja.
__ADS_1
Mungkin yang dikatakan Papa saya benar, sebagai Ayah seharusnya Anda bisa berperan seperti Ayah yang sewajarnya. Kemana disaat anak Anda terkapar dirumah sakit dan sedang membutuhkan banyak darah. Sedangkan Papa saya mau diambil darahnya untuk keselamatan Gazi dan tidak memperdulikan akan kondisinya dirinya sendiri. Saya sebenarnya tidak akan berbicara sejauh ini kalau Anda sendiri yang tidak memulai.
Papa saya tidak memandang siapa yang dia tolong, selama dia bisa membantu, dia akan melakukannya. Sekali lagi Anda bicara yang nggak-mggak mengenai Papa saya, tanggung sendiri akibatnya.
Maafkan saya Tante Kasih, kalau bicara saya kelewatan. Tapi, yang saya lakukan adalah memang apa adanya dan nggak saya buat-buat. Saya menyayangi Gazi seperti adik saya sendiri, begitu juga dengan Papa. Semua teman saya sudah dianggap seperti anaknya sendiri." jelas Raka panjang lebar.
Kasih hanya bisa meneteskan air mata ketika Raka berbicara panjang lebar seperti barusan. Dia tidak menyangkal karena Gavinlah anaknya bisa tertolong. Sudah dua kali Gavin menyelamatkan anaknya yang dia sendiri belum tahu kalau Gazi itu anaknya kala itu.
"Oh iya, Gazi. Maafin Kakak, ya. Kakak harus pamit pulang. Kamu jangan banyak fikiran, tetap semangat buat sembuh biar kita bisa maen bareng lagi. Anggap kita ini tadi lagi selisih faham saja." ucap Raka sambil memegang tangan Gazi.
Tapi disaat Raka mau membalikan badannya, tanganya ditahan oleh Gazi.
"Kak, maafin Ayahku, ya. Tolong sampaikan terima kasihku sama Om Gavin karena telah mendonorkan darahnya buat Gazi." ucapnya sambil tangannya masih menggenggam tangan Raka.
"Iya, Zi. Ntar Kakak sampaikan sama Papa. Baiklah, semuanya saya permisi dulu." ucapnya sambil membungkukan badannya.
Tak lupa tangan Raka langsung menggandeng tangan Dara. Gadis manis itu pun akhirnya ikut pamitan dan mengikuti Raka meninggalkan ruangan itu.
Mertuanya langsung mendekatinya, kemudian mengelus pundak menantunya itu. Pak Fajar hanya menggelengkan kepalanya setelah melihat sikap Rahman tadi.
Perlahan Kasih mengangkat mukanya kemudian dia menoleh kearah Rahman yang masih berdiri disamping istri mudanya. Lalu dia berdiri dan mendekati Rahman.
"Puas kamu, Mas. Hah.!" ucapnya sambil matanya berkilat-kilat.
"Kenapa kamu bisa bilang begitu. Kenapa kamu justru membela laki-laki itu dibanding suamimu sendiri. Lagian dia dulu yang mulai bicara nggak sopan." jawab Rahman.
"Cukup.,!"
"Sih, sabar nduk." sahut mertuanya.
"Aku lihat dengan mataku sendiri ketika kamu tersenyum sinis sama Mas Gavin. Senyuman itu seolah mengejeknya, lalu ucapanmu sengaja membikin hatinya semakin sakit dan panas. Wajar saja kalau dia balik melontarkan kalimat seperti itu.
Kalau aku dengar, memang nggak ada yang salah dengan ucapannya. Kamu dihubungi nggak datang-datang, sedangkan tempat tinggal kamu masih satu kota dengan Gazi. Aku yang jauh saja datangnya lebih dulu dari kamu." jelas Kasih dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Aku kan sudah bilang kalau Fardan sakit."
"Itu alasan klasik. Disana juga banyak saudara dari istrimu yang bisa menemani. Sedangkan disini, Ibu sendiri, apalagi sudah tua. Untung saja ada Bram, sampai-sampai dia nggak masuk kerja. Kebetulan bosnya itu Mas Gavin, kalau tidak mungkin Bram sudah kena marah." jelas Kasih lagi.
"Apa.! Gavin adalah Bosnya Bram?" tanya Rahman nggak percaya.
"Iya, kamu kaget, ya.?"
"Berarti saat Gazi kecelakaan dulu waktu kecil, yang bantu menyumbangkan darahnya adalah Gavin." ucap Rahman.
"Iya,!"
Rahman nggak percaya kalau Gavinlah yang membantu Gazi kecil saat kecelakaan dulu. Dan kini dia lagi yang membantu Gazi saat kecelakaan.
"Tapi, itu kan memang sudah tugasnya sebagai A--"
"Cukup, Mas.!! aku kan sudah bilang, soal itu biar aku sendiri yang menyelesaikannya. Kamu nggak berhak ikut campur.
"Mas Rahman, sudahlah. Biarkan Mbak Kasih istirahat. Dia sudah kecapekan. Sebaiknya Mas Rahman pulang saja dulu. Nanti atau kapan lagi bisa datang kemari." sahut Pak Fajar.
"Kamu mengusir kami, Bram?" tanya Rahman.
"Aku tidak ngusir, Mas. Ini demi kesembuhan Gazi juga. Dia kan perlu ketenangan juga." jawab Pak Fajar.
"Yah, benar apa yang dibilang Om Bram. Gazi ingin istirahat. Sebaiknya Ayah pulang saja, dari pada disini ribut melulu sama Bunda. Aku nggak mau melihat Ayah selalu memarahi Bunda terus." ucap Gazi.
"Baiklah, Zi. Ayah pulang dulu. Kamu cepat sembuh, ya. Maafin Ayah kalau belum bisa membantu kamu." ucap Rahman.
Akhirnya Rahman dan istri mudanya meninggalkan ruangan Gazi. Kini tinggal mereka berempat. Kasih, Gazi dan Nenek serta Pak Fajar.
----------------------------------
Bersambung....
__ADS_1