
Seseorang itu tak lain adalah Cindy. Gadis yang diam-diam dipacari Gazi karena suatu hal. Cindy berdiri sambil menatap Gazi dan keluarganya serta Zahra. Dia nggak berani mendekat karena dia tahu diri bahwa dia harus ngalah untuk jadi yang kedua.
Gazi terus menatap Cindy dari kauh karena dia juga nggak enak sama Zahra. Bu Ratih tahu soal kedatangan gadis itu, dan kemudian dia mendekati anaknya.
"Zi, ajak Cindy gabung kesini. Bilang Mama yang suruh, nanti aku yang bantu jelasin ke Zahra soal ini." ucap Bu Ratih.
"Baiklah Ma.!"
Kemudian Gazi berjalan menuju tempat dimana Cindy berdiri. Di waktu yang bersamaan Cindy langsung berlari menuju keluar meninggalkan tempat itu. Gazi mengejar Cindy yang kini menuju mobilnya.
Tapi akhirnya Gazi berhasil memegang pintu mobil Cindy dan dia jadi kesulitan karena mau menutupnya.
"Cindy kenapa kamu pergi.?"
"Maaf, mungkin aku hadir diwaktu yang nggak tepat." jawabnya pelan.
"Mama yang menyuruhku panggil kamu kesini.!"
"Tapi Zi, aku nggak enak sama Zahra. Aku harus tahu diri karena bagaimanapun posisiku salah." jawabnya sambil terisak.
"Cindy, tolong jangan mempersulit posisiku. Aku menerima kamu karena memang suatu hal dan kamu juga rela untuk jadi yang kedua, jadi tolong ngertiin aku." jawab Gazi.
"Iya aku faham, hubungan ini ada karena mau aku. Aku rela menjadi kekasih gelapmu, tapi disana ada kekasih sejatimu yang mendampingimu. Jadi aku harus rela pergi." jawab Cindy.
"Kalau kamu pergi itu menambah kecurigaan pada Zahra. Jadi aku mohon turunlah, bergabunglah agar terlihat biasa saja." jawab Gazi.
"Tetap aja aku nggak enak sama Zahra."
"Cindy tolong jangan keras kepala dong. Kamu nggak usah merasa nggak enak. Toh dia belum tahu soal hubungan kita. Setahu dia kamu memang suka sama aku, tapi selebihnya dia nggak tahu." jawab Gazi.
"Nanti kalau dia curiga gimana.?"
"Nggak akan. Lalu kamu sendiri kok tahu kalau aku ada acara ulang tahun disini?" tanya Gazi.
"Aku nggak tahu kalau ulang tahun kamu dirayakan disini. Yang aku tahu hari ini kamu ulang tahun, makanya aku kesini bawain kamu bunga dan kado karena aku mau bikin surprise. Tapi, ternyata keduluan sama Zahra." jawabnya lirih.
"Ya ampun, kamu ngapain juga susah-susah kesini bikin surprise secara kamu baru sembuh." ucap Gazi.
__ADS_1
"Ya aku ingin berada disisi orang yang aku cintai di hari bahagianya ini." jawabnya lirih.
"Cindy, aku hargai banget semua yang kamu lakukan buat aku saat ini. Tapi, aku mohon turunlah biar keadaan biasa saja. Misal kamu nggak turun bisa saja yang melihat kalau kita sedang bertengkar. Jadi turunlah, setidaknya lakukan demi Mama. Karena atas ijin beliau lah aku menyusul kamu kesini." jelas Gazi.
"Baiklah kalau begitu, aku akan turun. Tapi setidaknya terimalah ini dulu dan tolong jangan kasih tahu Zahra." jawab Cindy sambil memberikan bungkusan kecil.
Gazi menerima apa yang barusan Cindy berikan. Dia langsung memasukan kedalam ke sakunya. Meskipun sedikit menonjol tapi setidaknya tidak terlihat ditangannya.
Keduanya berjalan menuju dalam cafe dan bergabung dengan keluarga yang lainnya. Cindy berjalan dibelakang Gazi karena bagaimanapun juga dia sungkan dan sedikit gugup.
"Ma, ini Cindy datang buat ucapin selamat ulang tahun buat Gazi." ucap Gazi.
"Oh iya, selamat datang diacara Gazi. Silakan duduk Nak Cindy." jawab Bu Ratih.
"Makasih Bu Ratih."
"Zahra, nggak apa-apa kan Cindy ikut gabung disini. Dia hanya ingin memberikan ucapan selamat ulang tahun buat aku. Jadi, aku ajak aja dia gabung sama kita disini." ucap Gazi lirih didekat Zahra.
"Nggak apa-apa, Bie. Aku senang kalau ada teman kamu yang datang." jawab Zahra pelan.
"Makasih sayang, kamu memang pengertian banget." jawab Gazi.
"Baiklah kalau gitu, mari kita lanjutkan lagi acara potong kuenya." sahut Cantika dengan antusias.
Mereka melanjutkan acara potong kuenya, tak lama kemudian Zahra masuk ke dalam dapur untuk mengeluarkan makanan yang sudah disiapkan bersama Fitri.
Tak lama kemudian Zahra dengan dibantu Fitri langsung keluar dengan membawa beberapa piring ikan dan lalapannya. Menunya adalah gurami asam manis, gurami bakar, serta ayak bakar. Semuanya sudah dipesan Zahra sebelum kesini.
Setelah makanan sudah disajikan semuanya, akhirnya mereka mulai untuk makan. Zahra mengambilkan makanan buat Gazi. Cindy melihat semua itu dengan hati yang miris. Dia tidak kuasa menahan sakit hatinya saat kemesraan Gazi dan Zahra.
Dia harus kuat dan sabar karena dia harus menerima konsekuensinya untuk menjadi yang kedua. Cindy melirik Gazi dan Zahra dengan tatapan yang miris. Dan Bu Ratih melihat semua itu perasaan yang dulu dia juga pernah meraskannya.
Tak lama setelah selesai makan, Bu Ratih mencoba mengajak bicara Cindy dari hati ke hati.
"Nak Cindy, Ibu boleh minta tolong senentar saja." ucap Bu Ratih.
"Oh iya boleh, Bu." jawab Cindy.
__ADS_1
"Ikut Ibu sebentar,!"
"Baik Bu."
Akhirnya Bu Ratih mengajak Cindy duduk di salah satu meja yang agak jauh dari tempat sebelumnya. Cindy sempat bingung kenapa Bu Ratih mengajaknya kesini.
"Cindy, apa Cindy tahu kenapa Ibu ajak kamu kesini.?"
"Belum tahu Bu." jawabnya.
"Kamu pasti cemburu melihat Zahra dan Gazi, kan.?"
Cindy tidak menjawab, dia hanya menundukan wajah ya tak berani menatap wajah Bu Ratih. Kemudian perlahan dia memberanikan mengangkat wajahnya dan menatap Bu Ratih.
"Kenapa Bu Ratih bisa bicara seperti itu.?"
"Iya sayang, Ibu juga pernah berada di posisi kamu. Jadi Ibu tahu bagaimana perasaan kamu saat ini."
"Maksudnya Bu.?"
"Gazi sudah menceritakan semuanya sama Ibu soal hubungan kalian di belakang Zahra. Awalnya Ibu kaget karena bagaimanapun juga hubungan kalian akan menyakiti orang lain. Tapi, setelah Ibu tahu alasannya kenapa Gazi menerima hubungan ini, jadi Ibu merasa memakluminya." jawab Bu Ratih.
"Iya Bu, saya yang meminta Gazi untuk menerima cinta saya. Karena saya merasa kalau hidup saya sudah tidak lama lagi jadi di sisa hidup saya yang singkat ini, saya ingin menjadi kekasih Gazi, laki-laki yang saya cintai." jawab Cindy dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Sssttt, kamu jangan pesimis soal kehidupan. Sakit yang kamu derita itu dari Tuhan, jadi obatnya juga pasti Tuhan berikan. Yang harus kamu lakukan adalah tetap semangat dan optimis buat sembuh." jawab Bu Ratih.
"Iya Bu. Saya tahu itu. Soal hubungan saya dengan Gazi, saya juga bisa menerima konsekuensinya." ucap Cindy.
"Iya, Nak Cindy. Kalian pasti bisa menempatkan diri masing-masing." jawab Bu Ratih.
"Oh iya tadi kok Bu Ratih bilang pernah merasakan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan.?" tanya Cindy.
Bu Ratih tersenyum kearah Cindy, dia kemudian memegang tangan gadis itu.
"Iya, karena Ibu dulu pernah merelakan laki-laki yang Ibu cintai berbagi cinta dengan wanita lain. Dan wanita itu adalah Bundanya Gazi.!"
-------------------------------
__ADS_1
Bersambung...