
Bara masih menatap ke arah Cantika, dia kini tersenyum sambil memegang bahunya. "Kamu nungguin Kak Bara, ya?"
"Apaan sih, Kak." jawab Cantika malu-malu.
"Masa tadi di kampus ketemu sekarang sudah kangen," ucap Bara sambil memegang dagu Cantika.
"Kak Bara,!" seru Cantika sembari memukul lengan Bara.
"Sudah-sudah becandanya, ayo kita makan." ajak Bu Ratih.
Akhirnya mereka semua menuju meja makan. Tak lama kemudian mereka berenam makan malam bersama. Ada obrolan kecil di meja makan seputar usaha yang mau dibuka oleh Gazi dan Heru.
Saat selasai makan kini mereka melanjutan obrolan di ruang tamu, kalau ini hanya berempat saja larena memang Cantik dan Bu Ratih nggak ikut dalam urusan itu.
"Konsepnya nanti akan kami bikin instagramable Om, karena itu sasaran utama anak muda." ucap Heru.
"Bagus nggak apa-apa. Cuma nanti jangan menutup kemungkinan sasaran kalian orang dewasa juga. Kali aja tempat kalian akan digunakan untuk meeting kecil para pengusaha." ucap Gavin.
"Iya, Pa. Gitu juga bagus. Kita buat sesimple mungkin namun tetap kekinian serta tidak lepas dari ciri khas sebuah cafe itu sendiri." sahut Gazi.
"Okey, berarti secara konsep kita sudah menemukan jawabannya, ya." ucap Gavin.
"Iya, Om. sekarang tinggal strategi marketing serta logo cafe." ucap Heru.
"Itu serahkan sama Bara, biar dia sendiri yang merancang logo yang mewakili semua konsep yang barusan kita bahas." ucap Gavin.
"Bara, gimana. Kamu sudah mendapatkan ide setelah mendengar pembahasan kami seputar konsep cafe kita." tanya Gazi.
"Okey, siap Kak. Setelah mendengarkan konsep yang Kak Gazi buat dan sasaran untuk para pengunjungnya nanti, berarti nanti akan saya buatkan logo simple tapi elegan dan mudah diingat." jawab Bara.
"Iya, aku serahkan itu sama kamu untuk mendesainnya." jawab Gazi.
"Rencananya apa nama cafe nya, Kak.?" tanya Bara.
"Rencananya kami akan kasih nama ZIE'S Cafe." jawab Gazi.
"Bagus, nanti saya akan buatkan." jawab Bara.
"Oke, sekarang kita sudah selesai membahas konsep dan pembuatan logonya. Berarti kalian harus menghubungi orang buat furniture nya." ucap Gavin.
"Kebetulan sudah, Om. Kami sudah serahkan sama teman kami yang kebetulan Ayahnya pengerajin mebel." jawab Heru.
"Siip, berarti kalian memang sudah siap dan niat untuk membuka usaha ini." ucap Gavin.
"Oh iya, Kak. Rencananya cafenya akan di bangun dimana.?" tanya Bara.
__ADS_1
"Kita dapat tempat di dekat kampusnya Heru, itu letaknya di deretan ruko-ruko." jawanb Gazi.
"Kira-kira sudah fix disitu, dan prospeknya bagus kan.?" sahut Gavin.
"Bagus, Om. Biasanya memang sering dibuat nongkrong mahasiswa yang lagi istirahat." jawab Heru.
"Bagus, untuk soal personilnya gimana. Maksud Om soal penjaganya." tanya Gavin.
"Sementara saya yang akan jaga sendiri sama Gazi. Misal saya free berarti saya yang akan di cafe, begitu juga sebaliknya. Jika kita sama-sama sibuk kuliah maka kami sudah sepakat untuk menaruh satu orang bisa dipercaya untuk menjaganya. Kami akan memperkerjakan sepupu saya, yang kebetulan dia nggak kuliah." jelas Heru.
"Sepupu kamu cowok apa cewek.?" tanya Gavin.
"Cowok, Om. Dia sebelumnya pernah kerja di restoran, berhubung restorannya ada pengurangan, jadi dia nggak kerja lagi." jawab Heru.
"Okey, nggak apa-apa. Itung-itung kalian menolong dia. Atau gini aja, jangan pekerjakan dia kalau kalian sibuk aja. Meskipun kalian berdua ada, dia tetap kerja buat asisten kalian. Soalnya kalau kalian berdua saja takutnya malah kerepotan." jawab Gavin.
"Iya, Pa. Nanti kita pertimbangkan lagi." jawab Gazi.
"Baiklah, Papa rasa cukup untuk diskusi hari ini. Papa akan menjadi penanam modal pertama di cafe kalian." ujar Gavin.
"Makasih ya Pa.?" ucap Gazi.
"Makasih juga, Om." sahut Heru.
"Sekarang Papa masuk dulu, ya. Kalian lanjutin aja ngobrolnya." ucap Gavin sambil melangkah masuk kedalam.
"Kak, gimana kalau kita coba desain sekarang?" tanya Bara.
"Boleh, apa kamu bawa laptop.?" tanya Gazi.
"Iya, aku bawah. Sebantar aku ambil di mobil dulu." jawab Bara.
Nggak ada lima menit Bara akhirnya sudah kembali lagi. Kini Bara membuka laptopnya dan mulai mengerjakannya. Dengan kelihaiannya mendesain, Bara membuat beberapa jenis model.
"Gimana kalau yang ini, Kak.?" ucap Bara dengan menunjukan satu hasil desian yang dia buat.
Gazi mengamati logo yang ada dihadapannya kali ini, Heru mengangguk-anggukan kepalanya lalu menoleh Gazi kemudian tersenyum.
"Okey, ini bagus dibanding satunya tadi." ucap Gazi.
"Iya, aku juga setuju yang ini." sahut Heru.
"Baiklah kalau begitu, fix pakai yang ini, ya?" tanya Bara.
"Iya, yang ini saja." jawab Gazi.
__ADS_1
"Aku juga setuju, pakai ini saja." sahut Heru.
(Seperti itu gaes desainnya)
Akhirnya mereka bertiga sepakat memakai logo seperti itu. Gazi dan Heru sangat senang ketika melihat hasilnya. Memang simple namun teyap elegan dan kekinian. Selain itu logo dan tulisannya mudah diingat.
"Baiklah kalau memang ini fix, aku simpan dulu di file. Nanti pengerjaan banner baliho serta brosur buat grand opening akan aku serahkan pada karyawanku di ruko. Oh iya Kak, kasih neon box di depan cafenya biar tambah strong. Nanti sekalian aku buatin neon boxnya." jelas Bara.
"Iya, Bara. Kalau urusan itu kami serahkan ke kamu saja." ucap Gazi.
"Iya, Bar. Kami nggak tahu soal gituan karena memang bukan bidangnya." jawab Heru.
"Bentar, aku panggilkan Cantika dulu, kali aja kalian pingin ngobrol. Kan urusan kita sudah clear." ucap Gazi sambil melangkah ke dalam.
Tak lama kemudian Gazi keluar diikuti oleh Cantika. Dia tampak malu-malu karena tadi bilangnya Gazi kalau dia dipanggil Bara. Mungkin dalam hati Cantika senang sekali karena Bara memanggilnya.
"Bara, itu anaknya." ucap Gazi sambil mengajak keluar Heru.
"Lho, Kak Gazi dan Kak Heru mau kemana.?" seru Cantika.
"Kita masih ada urusan. Mau antar Kak Heru pulang." sahit Gazi sa.bil melangkah pergi.
Kini tinggalah mereka berdua saja di ruang tamu. Bara tampak senang karena melihat Cantika yang sedikit gugup dan salah tingkah. Sedangkan Cantika sendiri juga sumringah ketika melihat Bara.
"Kok, Kakak nggak ikut mereka.?" tanya Cantika.
"Ngapain ikut, enakan disini ditemani si Cantik yang cantik." jawan Bara sambil menatap wajah mungil nan ayu Cantika.
"Apaan sih, Kak. Cantik kan malu." jawab Cantika pelan.
"Kenapa mesti malu, kan memang kamunya cantik, Dek." jawab Bara.
"Udalah Kak, nggak usah gombal." sahut Cantika.
"Desainnya sudah selesai, dan hasilnya Kak Gazi dan Kak Heru setuju. Nanti tinggal pengerjaannya." ucap Bara sambil menunjukan hasil desainnya.
Cantika sangat senang sekali setelah melihat hasil desain Bara. Dia semakin kagum dengan Bara karena kemampuannya dalam mendesain.
Bara memperhatikan Cantika yang matanya tertuju pada laptop yang ada gambar desain tadi.
"Ternyata Cantika kalau dilihat memang cantik. Aku selama ini buta karena didekatku ternyata ada cewek cantik seperti Cantika" ucap Bara dalam hati.
------------------------------
__ADS_1
Bersambung...