
Akhirnya sampai juga mereka dirumah. Bu Ratih menidurkan Cantik yang sudah tidur pulas. Dia pandangi wajah mungil tak berdosa itu sambil matanya berkaca-kaca. Dia kasihan karena anak sekecil ini sudah ditinggal orang tuanya.
Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa akan selalu menjaga Cantik seperti anaknya sendiri. Bagi dia Cantik adalah sebuah anugerah yang luar biasa yang dikirimkan Tuhan padanya.
"Tih, Budhe barusan lapor sama Pak RT, katanya dia bilang tunggu sampai dua kali dua puluh empat jam jika orang tuanya belum ambil, kita disuruh lapor ke Polisi, setelah itu soal hak asuh kamu langsung urus kepada pihak yang terkait." ucap Budhe.
"Oh iya, Budhe. Makasih sudah dibantu ngomong sama Pak RT." ucap Bu Ratih.
"Iya, nggak apa-apa."
Setelah itu Bu Ratih dan Budhe Rahayu ngobrol-ngobrol diruang tengah membahas soal Cantik. Semua menyarankan kalau anak itu mendingan Bu Ratih rawat sendiri. Soal membagi waktu sama jadwal kuliah, dulu waktu Raka masih kecil juga gitu, dia pakai jasa babysitter.
.
.
.
Sore harinya sekitaran jam empat sore, Bu Ratih sudah selesai memandikan Cantik. Lalu ditaruh stroller. Meskipun sedikit menyita waktu, tapi dia sangat senang melakukannya. Raka selalu membantu Mamanya menjaga Cantik.
"Pak Santo,! Pak.,!" teriak Bu Ratih mencari kedepan rumah.
"Iya, Bu." jawabnya sambil berlari mendekati Bu Ratih.
"Pak Gavin mendadak pulang, karena urusannya sudah selesai. Jadi, tolong nanti kamu jemput di bandara jam enam sore, ya?" tukas Bu Ratih.
"Siap, Bu. Saya akan jemput." jawabnya.
.
.
.
Ditempat lain, tepatnya disebuah rumah petak berukuran tiga kali enam, ada seorang wanita yang lagi tidur meringkuk diatas sebuah bale dengan tangan yang terikat. Disampingnya ada sebuah piring berisikan makanan dan segelas air putih.
Tak lama kemudian wanita itu terbangun dan membuka matanya. Dia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, matanya seketika membulat karena ruangan itu asing baginya, atau mungkin juga kok tempatnya kotor dan jorok.
Ketika wanita itu mau bangun dan berusaha membuka ikatan tali ditangannya, tiba-tiba ada seorang laki-laki tinggi besar masuk mendekatinya.
"Hai,! jangan coba-coba untuk kabur, kamu..!" teriak laki-laki itu.
"Iya, kalau kamu coba kabur, aku habisin kamu sekarang juga.!" sahut laki-laki yang satunya.
"Kalian mau apa lagi, aku kan sudah bilang kalau aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Suamiku sudah meninggal, dengan cara apa aku harus meyakinkan kalian kalau aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi." jawabnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian ada seorang laki-laki tinggi besar dan kumisnya tebal mendekati mereka. Lalu dia jongkok dan menyentuh dagu wanita itu.
"Rita, aku kan sudah bilang sama kamu, kalau memang kamu tidak mau menyerahkan anakmu. Menikahlah denganku.!" ucapnya.
Wanita itu ternyata Rita yang lagi disekap oleh Bos besar. Lalu Rita memberikan isyarat supaya sumpalan dimulutnya dilepaskan. Setelah itu Bos besar memerintahkan anak buahnya untuk melepaskannya.
"Apakah kalau saya bersedia menikah dengan Anda, apakah dijamin Anda tidak akan mengganggu anak saya lagi?" tanya Rita.
"Iya, saya janji. Sebenarnya dari dulu aku menginginkan kamu, makanya saat suamimu meninggal kamu aku suruh melunasi hutang-hutang suamimu dengan barter anak kamu, itu hanya sebagai alat saja untuk mengikatmu suapaya tetap bersamaku. Tapi, sekarang kalau memang anakmu sudah bersama orang lain, aku malah senang. Aku sebenarnya nggak suka sama anak kecil." jelasnya.
Hatinya Rita tersayat mendengar kalimat itu, dia tidak ada pilihan lagi. Kalau dia nggak mau menikah dengan Bos besar, maka hidup anaknya dalam bahaya. Mau nggak mau dia harus mengikuti kemauannya.
"Baiklah, saya bersedia menikah dengan Anda Tuan, tapi janji jangan ganggu anak saya lagi. Dia sekarang sudah aman dengan keluarga barunya." jawab Rita.
"Bagus.,! dari tadi bilang gitu kan enak, jadi aku nggak harus menyiksamu seperti ini." ucap Bos besar.
Akhirnya kedua anak buah Bos besar melepaskan ikatan tangan Rita, kemudian mereka membantu Rita untuk berdiri. Lalu Bos besar menuntun Rita keluar dari ruangan itu. Lalu mereka masuk dalam mobil besar dan meninggalkan tempat itu.
Dalam perjalanan Rita hanya diam duduk disamping Bos besar itu. Sedangkan sebaliknya, Bos besar itu senyum-senyum sendiri penuh kemenangan.
"Rita, kita akan meninggalkan kota ini." ucap Bos besar itu.
"Apa Tuan.?"
"Iya, kita akan pindah keluar kota yang jauh dari kota ini." jawabnya.
"Kamu nggak perlu tahu, yang penting kamu ikut saya." jawab Bos besar.
Rita nggak berani menjawab apa-apa lagi. Dia pasrah dengan keadaannya sekarang. Yang penting nasib anaknya sudah aman dengan keluarga yang baik dan kaya. Setidaknya masa depannya terjamin.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sekitar jam enam sore, Cantik belum tidur lagi digendong sama Fatma. Bu Ratih lagi menemani anaknya belajar. Santo sudah berangkat jemput Gavin di bandara.
"Tih, apakah kamu akan menyewa babysitter. Kan kamu juga kuliah.?" tanya Fatma.
"Iya aku akan sewa babysitter." jawab Bu Ratih.
"Aku kan bisa bantu jaga, Tih. Nggak usah sewa juga nggak apa-apa." ucap Fatma.
"Apa kamu nggak keberatan, kan kamu urus rumah juga." tanya Bu Ratih.
"Iya juga, ya?" jawab Fatma.
"Nanti aku tanya Gavin dulu, aja." jawab Bu Ratih.
__ADS_1
.
.
.
Sekitaran jam delapan malam, Gavin sampai rumah. Bu Ratih masih menunggu diruang tengah sambil menatap laptopnya. Seketika Bu Ratih terlihat sumringah saat Gavin memasuki rumahnya.
"Hai sayang, kamu kok belum tidur?" tanya Gavin sambil mencium kening istrinya.
"Aku lagi nyicil ngerjain tugas kampus sekalian menunggu kamu pulang." jawab Bu Ratih.
"Aku pas kamu telpon soal bayi itu, aku dirumah kaget dan merenung. Apakah memang ini rejeki kita. Sudah saatnya Raka punya adik. Tuhan begitu sayang sama aku dan kamu." ucap Gavin.
"Kamu setuju, kan. Jika anak itu kita angkat menajadi anak kita?" tanya Bu Ratih.
Gavin melihat dimata Bu Ratih ada sebuah pengharapan terhadap anak itu. Dia kasihan melihat Bu Ratih yang selalu terpojok jika membahas soal anak. Kemudian dia mendekat dan menyentuh wajah istrinya itu sambil tersenyum.
"Iya, aku setuju sayang." jawab Gavin.
"Makasih, sayang. Kamu suami hebat." ucap Bu Ratih.
"Aku pingin lihat anak itu, penasaran." ucap Gavin.
Bu Ratih mengangguk kemudian dia menggandeng tangan Gavin mengajaknya ke kamar. Ketika mereka sudah sampai di kamar, Gavin terharu melihat anak kecil tanpa dosa itu tidur dengan pulasnya.
Gavin mendekati dan mencoba menyentuh
wajah anak itu.
Bu Ratih tersenyum ketika melihat suaminya membelai wajah Cantik. Kemudian dia memegang tangan suamunya.
"Pa, kamu yang kasih nama anak ini, ya?" ucap Bu Ratih.
"Emangnya kamu nggak tahu siapa nama anaknya?" tanya Gavin.
"Belum sempat. Tapi, Raka memanggil dia Cantik." jawab Bu Ratih.
"Kok Cantik.?"
"Iya, soalnya anaknya Cantik."
"Ya sudah kalau gitu kita kasih nama dia CANTIKA PUTRI WIJAYA." ucap Gavin.
Bu Ratih langsung tersenyum lalu memeluk Gavin dengan haru. Dia sangat berterima kasih sekali atas kemurahan hati suaminya, dan menyematkan nama Wijaya sebagai nama keramat dan nama wajib dikeluarganya.
__ADS_1
----------------------------------
Bersambung...