
Bagai disambar petir Gavin mendengar pertanyaan dari Papanya. Dia kaget kenapa Papanya punya pikiran seperti itu.
"Papa kok tiba-tiba bertanya seperti itu,?" tanya Gavin balik.
"Maaf, kalau pertanyaan Papa seperti ini tadi mengagetkanmu. Cuma Papa juga mikirkan perasaan kamu. Tentunya kamu juga pingin punya keturunan. Dulu Papa juga begitu saat menanti hadirnya seorang anak. Tapi, kalau Papa itu terserah kamu saja. Misal kamu angkat anak juga Papa setuju." jelas Pak Indra.
"Gavin belum mikir sampai segitu, Pa. Cuma Ratih sempat bertanya sama Gavin. Gimana rencana Gavin selanjutnya setelah mengetahui dia sudah tidak bisa memberikan anak. Apa Gavin punya keinginan punya anak dari wanita lain. Terus Gavin jawab, nggak mungkin. Karena Gavin juga nggak mau menyakiti perasaan Ratih, Pa.?" jawab Gavin.
"Ya sudah kalau gitu. Berarti kan sudah jelas, kamu nggak bakalan punya keinginan punya anak dari wanita lain." jawab Pak Indra.
"Iya, Pa. Gavin cinta dan sayang sama Ratih. Dan nggak mau membuat hatinya terluka kalau misal Gavin menikah lagi. Makanya Gavin nggak memikirkan hal itu." jawab Gavin.
"Papa nggak maksa. Misal kamu adopsi anak pun, Papa anggap itu cucu kandung Papa sendiri." jawab Pak Indra dengan tersenyum.
"Makasih Pa, atas pengertiannya. Gavin sangat beruntung punya Papa yang sangat bijak." jawab Gavin.
"Iya, Vin. Papa juga bangga punya anak seperti kamu yang sangat menyayangi istrinya." ucap Pak Indra sambil menepuk pundak anaknya.
Tak terasa obrolan antara Ayah dan Anak itu berlangsung lama. Malam semakin larut dan udara juga semakin dingin. Gavin dan Pak Indra akhirnya masuk ke kamar masing-masing untuk istirahat.
(****)
Pagi harinya Gavin berangkat kerja seperti biasa. Bu Ratih membantu suaminya sebelum berangkat kerja. Kasih membantu Bibi dibelakang.
Kemudian Pak Indra dan Bu Hesty keluar kamar dengan sudah pakaian rapi. Sepertinya mau pergi. Gavin siap di meja makan dan Bu Ratih.
"Mama mau pergi kemana, kok sudah rapi?" tanya Gavin.
"Kakakmu, pagi-pagi tadi telpon Mama. Katanya, Kakakmu Kinanti perutnya mules. Makanya sekarang Mama dan Papa kesana." jawab Bu Hesty.
"Oh, ya udah kalau gitu. Salam aja buat Kak Mahen dan Kak Kinan." ucap Gavin.
"Baik. Sekarang kami berangkat dulu, ya?" ucap Bu Hesty.
Gavin dan Bu Ratih menyalami kedua orang tuanya. Karena mereka tidak ikut sarapan bersama.
"Sayang, nanti kalau ada apa-apa langsung telpon aku, ya?" ucap Gavin.
__ADS_1
"Iya, sayang." jawab Bu Ratih.
Kini mereka melanjutkan sarapan. Kasih tidak ikut sarapan bareng karena masih ada kerjaan dibelakang. Setelah selesai sarapan, Bu Ratih mengantarkan suaminya kedepan untuk berangkat kerja.
Sesampainya ditempat kerja, Gavin seperti biasa langsung masuk dan naik ke ruangannya. Diruangan kerja Gavin masih memikirkan omongan Papanya tadi malam.
Dia sempat bingung dengan omongan Papanya. Kalau dipikir memang ada benarnya, kalau dia tidak bisa memberikan cucu kepada orang tuanya, berarti garis keturunan Indra wijaya terakhir cuma dirinya. Secara dia sebenarnya anak tunggal.
Tapi, disisi lain, dia juga nggak mau melukai perasaan istrinya jika harus menikah lagi seperti apa yang ditanyakan Papanya tadi malam. Mungkin secara tidak langsung Papanya menyuruhnya mempunyai anak, tapi, dia masih mempertimbangkan perasaan menantunya.
Seandainya istrinya tahu, apa tidak membuatnya semakin sedih. Gavin semakin tidak fokus dengan pekerjaannya, dari tadi dia hanya memainkan mouse komputernya.
Dengan menghela nafas panjang, dia beranjak dari tempat duduknya dan melangkah keluar meninggalkan ruangannya itu. Dilihat jam tangannya jarum jam baru menunjukkan pukul sembilan pagi. Dia nggak tahu mau kemana, yang jelas saat ini dia lagi galau berat dengan omongan Papanya.
Diruangan Pak Bima, dia hanya minta ijin keluar ada urusan. Kalau ada apa-apa langsung hubungi dirinya.
Setelah itu dia kembali keluar dan berjalan menuju parkiran mobil.
Gavin mengendarai mobilnya kencang sekali, dia tidak tahu harus kemana yang jelas sekarang pikirannya lagi kacau dan kalut. Dulu dia mungkin memikirkan dirinya dan istrinya saja soal anak. Tapi, dia lupa kalau ada perasaan orang tuanya yang harus dipikirkan juga.
Dia membelokan mobilnya ke sebuah Cafe. Dia ingin menghilangkan penat dengan memesan secangkir kopi susu hangat. Kemudian dia memesan kepada pelayan. Dia memilih tempat duduk yang sepi.
Tak lama kemudian dia didatangi seorang laki-laki, usianya sekitaran tiga puluh lima. Gavin hanya memperhatikan saja apa yang mereka lakukan. Dia tidak berani ikut campur.
Pelayan menghampirinya untuk mengantarkan pesanannya. Dia langsung meminumnya. Baru saja dia akan meletakan kembali cangkir kopinya, Gavin melihat Sasha dan laki-laki itu bertengkar. Laki-laki itu meninggikan suaranya sampai pengunjung Cafe melihat ke arah Sasha dan temannya itu.
"Plaakk.!!"
Terdengar suara tamparan pada pipi Sasha. Gavin hendak melangkah mendekat untuk membantunya, tapi dia tidak berani karena bukan urusan dia. Kalau melihat Sasha diperlakukan seperti itu, dia juga nggak tega.
Kali ini pertengkaran mereka sangat hebat, kembali laki-laki itu bicaranya tinggi sehingga membuat Sasha semakin ketakutan. Gavin tak sabar untuk membantunya, dia tidak peduli kalau ini bukan urusan dia. Tapi, ini tempat umum jadi, dia berhak menolong orang yang butuh bantuan.
"Hentikan.,!!"
Laki-laki itu menoleh kearah Gavin dengan pandangan sinis. Sasha langsung mendekat saat tahu siapa yang datang menolongnya. Sementara laki-laki itu mengepalkan tangannya menahan amarah.
"Anda siapa! kenapa mencampuri urusan kami.!" serunya.
__ADS_1
"Anda nggak perlu tahu siapa saya. Yang jelas, tindakan Anda sudah kelewat batas. Saya memang tidak tahu ada urusan apa Anda dengan wanita ini. Yang jelas, tindakan Anda sudah salah.!" teriak Gavin.
"Suami dia punya hutang dengan boss saya, sedangkan Nona ini sanggup membayarnya, makanya kami membuat janji untuk ketemuan ditempat ini membahas soal itu. Ternyata, Nona ini berkelit dengan alasan belum ada uangnya. Siapa yang nggak marah karena dia sudah mempermainkan kami." jelas laki-laki itu.
Gavin hanya diam dan menoleh kearah Sasha. Dia juga bingung harus bagaimana. Tanpa persetujuan Sasha Gavin membuat keputusan.
"Ya sudah, sekarang Anda boleh meninggalkan tempat ini, ini kartu nama saya, bilang sama boss Anda untuk urusan hutang dari suami Nona ini, harap hubungi saya.!" jelas Gavin.
Laki-laki itu terkejut setelah membaca kartu nama itu. Mungkin dia tahu kalau Gavin adalah pengusaha besar. Makanya dia langsung tersenyum lalu meninggalkan mereka.
Sasha masih kaget dan takut. Kenapa Gavin mau melakukan ini untuknya.
Kemudian Gavin membantu menenangkan Sasha dan menyuruhnya untuk duduk.
"Maaf, Sa. Bukannya aku ikut campur dalam masalah yang kamu hadapi. Aku hanya menjauhkan kamu dari tindakan kekerasan." ucap Gavin.
"Iya, Mas Gavin. Nggak apa-apa. Justru aku yang berterima kasih karena Mas Gavin susah membantuku." jawab Sasha.
"Bagaimana ceritanya kalian bisa terlibat hutang. Kemarin Papa kamu telpon aku mengabarkan bahwa proyek yang di Bali sudah selesai dan mengundangku untuk hadir. Dia juga cerita bahwa kamu dan Seno sudah memiliki usaha sendiri." tanya Gavin.
"Iya, Mas. Memang awal kita buka usaha itu disamping uang tabungan kita, juga pinjam pada orang. Karena Mas Seno nggak mau merepotkan orang tua masing-masing. Papa juga sempat nawari Mas Seno untuk kerja dikantor Papa, cuma dia menolaknya." jawab Sasha.
"Jadi hutang itu lah yang membuat kalian jadi dikejar-kejar dept colektor tadi.?" tanya Gavin.
"Iya, Mas. Tadi aku memang yang minta ketemuan karena Mas Seno sekarang lagi sakit, awalnya aku pikir mudahlah untuk minta waktu dulu untuk membayar cicilan bulan ini. Karena uang tabunganku menipis buat berobat Mas Seno." jelas Sasha sambil matanya berkaca-kaca.
"Seno sakit! emangnya sakit apa?" tanya Gavin serius.
"Dia divonis mengidap kanker otak. Aku nggak mau siapa-siapa tahu tentang hal ini. Tapi, aku sendiri bingung Mas." jawab Sasha sambil tangisnya pecah.
Gavin menepuk pundak Sasha, dia mencoba menenangkannya. Sasha menangis sambil menakupkan kepalanya dimeja itu.
"Sa, yang sabar, ya. Kamu pasti bisa hadapi semua ini." ucap Gavin.
Sasha kemudian mendongakan wajahnya dan menatap Gavin lekat-lekat. Dia tersenyum kemudian membuka suara.
"Iya, Mas Gavin. Aku berterima kasih banyak atas bantuan Mas Gavin, Sasha bingung harus membalas dengan apa sama Mas Gavin.!" ucap Sasha sambil memeluk Gavin.
__ADS_1
----------------------------------
Bersambung.....