
Setelah malam itu, Raka jadi sering keinget sama Gazi. Kenapa anak itu selalu menyita perhatiannya.
(****)
Pagi harinya berhubung hari minggu, mereka semua ada dirumah. Raka baru bangun dan turun kebawah. Mama dan Papanya sudah santai dan lagi duduk di ruang tengah.
"Ya ampun anak Mama kok baru bangun, sih.?"
"Maaf, Ma, Pa. Raka kesiangan. Adek mana, Mana?" ucapnya.
"Kamu itu baru bangun bukannya mandi dulu malah nyariin adikmu. Dia tadi joging keliling komplek sama Fia anak Pak Rudy tetangga depan rumah." jawab Bu Ratih.
"Kak, lekas mandi sana. Nanti ikut Papa.!" ucap Gavin.
"Kemana Pa,"
"Udah, mandi sana cepat."
"Siap Pak bos."
Raka kembali ke kamarnya untuk mandi. Gavin dan Bu Ratih hanya tersenyum melihat kelakuan anak sulungnya itu.
"Pa, emangnya nanti Papa jadi belikan mobil baru buat Raka.?" tanya Bu Ratih.
"Iya, Ma. Kasihan kalau dia masih bawa mobilnya yang lama. Selain itu model sudah lama, lagian style nya bukan anak muda banget." ucap Gavin.
"Iya juga, sih. Ya sudah kalau gitu. Mama nggak ikut dirumah saja." ucap Bu Ratih.
"Iya, nggak apa-apa. Mungkin Papa juga bentar doang kok." jawab Gavin.
Tak lama kemudian Raka turun dari kamarnya. Kali ini style yang dikenakan adalah jeans atasan kaos lengan panjang dengan jumper sedikit keliatan casual dipadu dengan sniker.
Gavin memperhatikan anaknya seperti dia melihat dirinya sendiri saat masih kuliah dulu. Bu Ratih juga demikian, dia juga bangga dengan anak laki-lakinya ini. Dia begitu gagah dan tampan seperti Gavin semasa masih muda.
"Kak, kamu keren banget. Persis Papamu sewaktu muda." ucap Bu Ratih kagum.
"Masa sih, Ma. Emang waktu muda sekeren aku gini." ucapnya sedikit sombong.
"Eh, kamu baru tahu, ya. Papamu ini idola dulu waktu di kampus. Cewek-cewek pada . untuk dapetin Papa." jawab Gavin nggak kalah sombong.
"Woow, hebat dong. Berarti Mama salah satu cewek-cewek yang antri itu, dong,!" ucap Raka.
"Ish, sorry ya. Mama dulu bukan Gavindra garis keras. Papamu aja yang cinta mati sama Mama." sahut Bu Ratih protes.
"Eleh-eleh, Bu Dosen Cantik segitunya. Emangnya dulu Mama nggak cinta sama Papa." ucap Gavin.
"Emang Papa manggil Mama gitu, ya Pa?" tanya Raka bingung.
Gavin dan Bu Ratih saling pandangdan kemudian mereka tertawa ngakak. Raka semakin bingung dengan sikap kedua orang tuanya itu.
__ADS_1
"Kok, Papa ama Mama malah ketawa." ucap Raka.
"Dulu kan Mama memang Dosennya, Papa?" ucap Bu Ratih.
"Apa,! yang bener, nih. Kok bisa gitu?" tanya Raka antusias.
"Iya, Kak. Dulu Mama ngajar dimana Papa kuliah." jawab Gavin.
"Terus,!"
"Mama dulu itu jutek banget, Papa aja sampai takut kalau dia pas diajar Mama." jawab Gavin.
"Jadi, Papa ini mahasiswa nya Mama?" tanya Raka.
"Iya, Mama itu dulu meskipun usianya diatas, Papa. Tapi, masih saja imut dan cantik. Makanya Papa sampai jatuh cinta." jelas Gavin.
"Tuh, kan. Berarti bukan Mama yang ngejar-ngejar Papa, itu Papa sendiri sudah ngaku." jawab Bu Ratih.
"Wuaah, hebat dong Ma. Berarti Papa bucin banget sama Mama. Haha." ucap Raka sambil ketawa.
"Iya, dong. Mama kan memang cantik." jawab Mamanya.
"Sudah-sudah., nanti aja dilanjutkan ceritanya. Raka, ayo berangkat." ajak Gavin.
Gavin dan Raka berangkat. Kini Gavin yang memegang kemudi. Mereka berangkat menyusuri jalan raya. Disaat dipusat kota. Gavin menyuruh Raka membelokan mobilnya ke sebuah showroom mobil mewah.
Raka bingung kenapa Papanya mengajaknya kesini. Dia langsung memarkirkan mobilnya di parkiran.
"Selamat pagi, Pak Gavin. Barangnya sudah ready dan sesuai dengan permintaan Bapak." ucap salah satu petugas showroom.
"Oh iya, makasih."
"Mari ikut saya, Pak."
Gabin mengangguk lalu mengikuti petugas itu. Raka mengikuti Papanya, dan nggak tahu maksudnya apa. Dan ketika mereka sudah sampai di salah satu ruangan, Gavin dan Raka sangat takjub sekali dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Papa, ini bagus banget." ucap Raka dengan takjub.
"Kamu suka?" tanya Gavin.
"Raka, Pa.!"
"Iya, Papa nanya kamu suka nggak dengan mobil ini.?"
"Siapa yang nggak suka dengan mobil ini, Pa. Raka ya suka banget. Keren.!" sahutnya antusias.
Raka mengelilingi mobil sport warna merah yang dihadapannya ini. Dia memegangi dan bahkan mengelus mobil itu dengan gembira.
Gavin yang melihat anaknya begitu gembira sekali saat memegangi mobil sport tersebut, dia jadi terharu. Dia baru kepikiran membelikan anaknya mobil model ginian baru kali ini. Padahal dulu sewaktu dia masih muda, pertama kali masuk kuliah dia sudah mendapatkan hadiah mobil sport dari Papanya.
__ADS_1
"Kak. Kalau kamu suka, coba kamu masuk untuk melihat-lihat dalamnya." ucap Gavin.
Seketika petigas showroom itu membukakan pintu mobil tersebut, lalu Raka mencoba duduk dibelakang kemudi. Dia kelihatan gagah sekali, Gavin seperti dejavu. Dia seperti melihat dirinya sendiri saat masih muda dulu.
"Gimana, Pa. Keren, nggak Raka pakai mobil gini?" tanya Raka.
"Keren dong. Siapa dulu dong, Papanya."
"Iya deh percaya. Anaknya Gavindra." jawab Raka bangga.
"Ya sudah, mobil itu buag kamu." ucap Gavin singkat.
"Apa.,! Apa Raka nggak salah dengar. Mobil ini beneran buat Raka, Pa.?"
"Iya, ini buat kamu." jawab Gavin sambil senyum.
Raka langsung keluar dari mobil itu lalu memeluk Papanya erat. Dia senang sekali ketika Papanya bilang kalau mobil ini buatnya. Memamg selama ini dia mengidam-idamkan mobil seperti ini tapi dia nggak berani bilang sama Papanya.
"Makasih, ya Pa. Sekali lagi terima kasih banyak." ucap Raka antusias.
"Iya, Nak. Sama-sama. Kalau kamu suka dan senang, Papa juga ikut senang." jawab Gavin.
"Kalau memang Pak Gavin sudah pas dan sreg dengan pilihannya ini, langsung saya urus surat-surat beserta kwitansinya, ya Pak." ucap Petugas itu.
"Iya, Mas. Kemarin sudah saya transfer dpnya, kan." sahut Gavin.
"Iya, sudah Pak. Sekarang tinggal pelunasannya saja." jawab Petugas showroom itu.
"Baiklah, saya akan transfer sekarang untuk sisa pembayarannya." ucap Gavim sambil mengeluarkan ponselnya.
Kemudian dia langsung mentransfer melaui M-Banking. Setelah selesai, dia kembali menunjukan bukti transfernya.
"Sudah saya transfer, Mas. Ini sudah saya kirim juga sekalian buktinya." ucap Gavin.
"Iya, Pak. Makasih atas kepercayaannya terhadap showroom kami. Silahkan ikut saya." ucap petugas itu.
Gavin dan Raka mengikuti Mas petugasnya itu kedalam sebuah ruangan. Mereka selanjutnya menyelesaikan transaksinya. Tak lama kemudian, Gavin dan Raka keluar dan menuju keluar showroom.
"Pa, Raka kan ulang tahunnya masih lama, kenapa Papa belikan Raka mobil baru." tanya Raka.
"Nggak apa-apa. Biar tambah semangat aja belajarnya." jawab Gavin.
"Nanti mobilnya diantar kerumah, kan Pa.?" tanya Raka.
"Iya, nanti diantar."
Akhirnya mereka berdua keluar showroom dan kembali pulang. Dalam perjalanan mereka dengan santai dan bercanda. Keakraban antara ayah dan anak itu kini seperti sahabat saja. Gavin kadang menjadi teman curhat anak laki-lakinya itu.
"Raka, andai ibumu tahu kamu sekarang sudah menjadi laki-laki dewasa. Alangkah bahagianya dia. Mengetahui anaknya tumbuh menjadi laki-laki yang gagah dan ganteng. Kasih, apa kabarmu sekarang." ucap Gavin dalam hati.
__ADS_1
---------------------------------
Bersambung...