
Bu Ratih terperanjat kaget melihat jam di dinding yang sudah menunjukan angka tujuh. Sinar mentari pagi menyelinap masuk melewati celah-celah jendela. Semalam dia dan suaminya pergi ke sebuah dimensi lain yang kata orang bernama surga dunia hingga tengah malam.
"Sayang, ayo bangun. Sudah siang, nih!" seru Bu Ratih ketelinga suaminya.
Gavin membuka matanya, dia mendapati istrinya yang ternyata sudah bangun duluan. "Kita kesiangan, sayang."
Bu Ratih kemudian bergegas menuju kamar mandi, dan Gavin sudah duduk ditepi tempat tidur.
Setelah keduanya sudah siap, mereka langsung turun dan tanpa sarapan karena hari sudah siang.
"Kita nggak sempat sarapan, Ma. Nanti dikantor saja, sekalian Ratih juga biar sarapan di kantin kampus." ucap Gavin sambil berlarian.
Mereka berdua kemudian menyalami Mamanya yang masih berdiri dipinggir meja makan. Bu Hesty hanya geleng-geleng kepala melihat ulah keduanya.
Gavin melihat mobilnya sudah dikeluarkan Pak Narto. Kini, dia tinggal memakainya. Setelah itu keduanya masuk mobil dan meluncurlah ke jalanan Ibukota.
Gavin mengemudikan mobilnya cepat sekali, sampai-sampai Bu Ratih berteriak.
"Sayang! pelanin dikit kenapa?" seru Bu Ratih dengan wajah sedikit ketakutan.
"Tenang, sayang. Kita sebentar lagi sampai kampus kamu, biar nggak terlambat, ya?" jawab Gavin.
"Iya, tapi jangan ngebut juga kali!" sahut Bu Ratih.
Tak lama kemudian sampailah di kampus Bu Ratih. Gavin menepikan mobilnya didepan nggak sampai masuk. Bu Ratih mencium tangan suaminya. Kemudian Gavin mencium kening istrinya. Lalu Bu Ratih keluar mobil dan menuju kampus.
Gavin kembali mengemudikan mobilnya dengan cepat, kini dibilang lebih cepat dari pada yang sama istrinya tadi. Dengan jiwa anak mudanya (ceile anak muda, udah punya bini loe) Gavin ngebut layaknya pembalap.
Akhirnya dengan selamat dia sampai juga di kantornya. Dia memarkiran seperti biasa lalu berjalan menuju kantor. Kini jalannya seolah dikejar dept colektor. Hampir berlari dia memasuki ruangannya.
Setibanya di ruangannya, dia dikagetkan dengan ulah sekretaris sok itu. Dia lagi memarahi Kasih yang sedang membawa secangkir teh manis diatas nampan. Gadis itu hanya menunduk tanpa berani menatap si empunya suara yang dari tadi Gavin dengar nyerocos melulu.
Gavin pun berdehem dan keduanya terkejut melihat kedatangan laki-laki tampan, kulit putih dan ditunjang tubuh atletis itu.
Keduanya buru-buru menepikan tubuhnya saat Gavin melangkah mendekati mereka. Kini, Bu Yolanda seakan hilang nyalinya dan tertunduk.
"Maaf, saya sedikit terlambat. Kasih, letakan itu di meja saya." ucap Gavin.
"Baik, Pak." jawab Kasih sembari meletakan secangkir teh manis itu. Kemudian dia menoleh ke arah atasannya itu dan Gavin mengangguk memberi kode agar dia meninggalkan ruangan ini.
Kasih pun bergegas meninggalkan dirinya dan sekretaris itu. Kini Bu Yolanda masih berdiri menunggu atasannya itu merintahkan sesuatu.
"Maaf, Bu Yola. Kalau nggak salah dengar tadi Anda memarahi Kasih? apa ada yang salah dengan pekerjaannya.!" tanya Gavin tegas.
"Emm..Maaf, Pak. Saya tadi hanya menegur dia, kenapa masuk ruangan Bapak tanpa ijin saya, secara saya kan sekretaris Pak Gavin." jawabnya dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Kasih itu sudah begitu tiap hari, sebelum saya datang, dia sudah menyediakan saya minuman tanpa saya perintah. Tapi, anehnya semenjak Anda disini kok itu menjadi sebuah kesalahan yang harus Anda permasalahkan.!" cercah Gavin.
"Iya, Pak. Maaf, kalau saya kelewatan. Lain kali, saya tidak mengulanginya lagi." ucapnya pelan.
"Ya sudah, silahkan Anda kembali ke ruangan. Jangan masuk kalau tidak saya panggil.!" seru Gavin.
"Baik, Pak." jawabnya sambil meninggalkan ruangan Gavin.
Kini Gavin mengambil tempat duduk dikursi seperti biasa. Diraihnya gelas yang berisi teh manis hangat. Dia teringat kalau pagi ini dia belum sarapan. Diraihnya gagang telpon disebelahnya. Ditekan tombol yang menghubungkan dengan pantry.
"Pak Firman, tolong saya dibelikan bubur ayam didepan kantor, hari ini saya belum sarapan." ucapnya ditelpon.
Tak lama kemudian Pak Firman muncul dari balik pintu.
"Masuk, Pak." ucap Gavin.
"Ini uangnya, Pak." ucap Gavin sambil menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan.
Pak Firman kemudian meninggalkan Gavin sendiri diruangan itu. Gavin lalu membuka komputernya dan mulai beraktivitas seperti biasa.
Aktivitas kantor berjalan seperti biasa, semua karyawan hilir mudik bergerak layaknya sebuah pertunjukan pasar malam. Karena kantor Wijaya's Group begitu besar dan luas dan terdiri dari tiga lantai.
*****
Dihari yang sama, tempat yang berbeda. Bu Ratih mengajar seperti biasa. Dia kini ada kelas.
Tak lama kemudian masuklah seorang wanita muda didampingi Pak Rustam. Ada apa dengan mereka, bathinnya.
"Maaf, sebelumnya saya minta waktunya sebentar. Ini saya datang bersama Mahasiswi baru untuk bergabung di kelas ini. Silahkan perkenalkan diri kamu." ucap Pak Rustam.
"Baik, selamat pagi semuanya. Perkenalkan nama saya Vanya rosita. Saya pindahan dari salah satu kampus yang ada di Surabaya. Terima kasih." ucap Gadis itu.
Kemudian Pak Rustam kembali dan meninggalkan Vanya yang sekarang sudah ada Bu Ratih.
"Ya sudah kalau gitu, Vanya. Silahkan ambil tempat duduk yang masih kosong." seru Bu Ratih.
"Baik, Bu. Terima kasih.,"jawabnya.
Kembali aktivitas belajar mengajar dilanjutkan, Bu Ratih kini membantu Vanya yang ketinggalan mata kuliah sebelumnya.
Bu Ratih dengan telaten membimbing Vanya. Kini Dosen dan Mahasiswi itu terlibat perbincangan yang serius. Vanya terlihat nyaman dengan cara Bu Ratih mengajarnya.
Tak terasa, jam mata kuliah Bu Ratih sudah habis. Kini Bu Ratih bersiap-siap untuk meninggalkan ruangan kelas itu. Tapi, sebelum sampai dia keluar kelas, tiba-tiba Vanya menghampirinya.
"Bu Ratih, maaf. Misal saya mau minta bantuan jika ada yang saya kurang mengerti, bersediakah Ibu membantu saya?" tanya Vanya.
__ADS_1
"Iya, Vanya. Ibu akan siap membantu, kamu." jawab Bu Ratih dengan lembut.
"Kalau, gitu saya minta nomor Bu Ratih. Biar, nanti kalau saya ada perlu sama Ibu, bisa langsung menghubungi Bu Ratih." ucap Vanya.
Bu Ratih seketika tersenyum mendengar kalimat anak didiknya itu. Lalu mereka saling tukar nomor telpon. Kemudian Bu Ratih meninggalkan Vanya.
Saat jam kuliah usai, semua Mahasiswa dan Mahasiswi berhamburan keluar. Suasana kampus menjadi riuh karena aktivitas penghuninya.
Bu Ratih beranjak dari ruangannya dan berjalan menuju pelataran kampus untuk menunggu suaminya menjemput. Ini tadi Gavin sudah mengubunginya untuk menunggu sampai dia menjemput.
Kini dia duduk dikursi dekat pos satpam. Ternyata disitu ada Vanya. Mahasiswi baru tadi juga lagi menunggu jemputan.
Vanya tersenyum ketika melihat kedatangan Bu Ratih.
"Eh, Bu Ratih juga nunggu dijemput?" tanya Vanya.
"Iya, Van. Saya nunggu jemputan." jawab Bu Ratih.
"Saya juga nunggu dijemput, Bu. Papa, yang jemput Vanya." ucap Gadis itu.
"Oh jadi, kamu dijemput Papa, kamu?" tanya Bu Ratih.
"Iya, Bu." jawabnya.
Tak lama kemudian masuklah sebuah mobil sedan warna putih ke pelataran kampus. Kemudian keluarlah seorang laki-laki jangkung dengan masih memakai pakaian kerja lengkap, umurnya sekitaran empat limaan keatas.
Vanya yang melihat kehadiran Papanya langsung pasang muka sumringah. Kini dia melambaikan tangannya ke arah Papanya. Kemudian laki-laki itu menghampiri Vanya yang berdiri disamping Bu Ratih.
"Ayo, sayang. Kita langsung pulang." ajak Laki-laki itu.
"Bentar, Pa. Ini kenalin dulu Dosen Vanya." ucap Vanya sembari melirik ke arah Bu Ratih.
Laki-laki itu kemudian tersenyum kearah Bu Ratih yang kini berdiri disamping Vanya.
"Kenalin, saya Keanu. Papanya Vanya." ucap Papanya Vanya sembari menyalaminya.
Bu Ratih kemudian gemetar setelah mendengar siapa nama Papanya Vanya. Dia membalas uluran tangan Papanya Vanya dengan suara gemetar.
"Sa..ya, Ratih. Dosennya Vanya." jawab Bu Ratih terbata.
Kini Bu Ratih merasa seperti dejavu. "Keanu" nama itu mengingatkan dia saat awal kenalan dengan Keanu mantan tunangannya yang meninggal. Kejadian seperti ini sudah pernah dia alami.
Kemudian Vanya dan Papanya pamit untuk pulang duluan. Kini Bu Ratih kembali duduk dikursi sebelah pos satpam dengan pikiran yang melayang ke masa lalunya.
"Keanu.! memang orangnya beda, cuma namanya itu yang bikin dia kembali ingat." gumamnya.
__ADS_1
-----------------------------------
Bersambung.......