BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 60 (Heboh.. sekretaris baru)


__ADS_3

Gavin masih nampak bingung, karena belum pernah menjumpai wanita ini selama dia bergabung dengan perusahaan ini. Wanita itu jadi kikuk karena dari tadi Gavin memperhatikannya.


"Maaf, Pak. Saya hanya mengantar berkas-berkas yang perlu Bapak tanda tangani." ucap wanita itu seraya menaruh beberapa berkas dimeja Gavin.


"Oh iya, taruh saja disitu. Makasih.,!" jawab Gavin datar.


"Kalau gitu, saya permisi dulu, Pak." ucap wanita itu lagi sambil menunduk dan tersenyum.


"Eh tunggu.! Maaf, Anda tadi belum menjawab pertanyaan, saya." tanya Gavin.


"Oh iya, saya sekretaris Pak Indra yang baru." jawabnya dengan santai.


"Oh.. ya sudah.!" ucap Gavin.


"Saya, sudah boleh keluar, Pak.?" tanya wanita itu.


"Iya, silahkan." sahut Gavin sambil senyum.


Kembali dia heran kok ada pegawai baru dia nggak tahu. Kenapa Pak Bima juga nggak lapor sama saya, Gumamnya.


Kemudian Gavin membuka berkas-berkas itu lalu membacanya. Setelah dirasa cukup, barulah dia menanda tangani berkas tersebut. Setelah itu, dia berdiri dan keluar ruangan.


Dia berjalan menyusuri lorong ruangan dikantor itu. Maunya sih lihat-lihat situasi kerja, karena sudah seminggu dia tinggal cuti menikah. Gavin mendadak berhenti di depan pantry, ketika melihat Pak Firman lagi memarahi si Kasih.


Gavin langsung mendekati mereka, bukannya ikut campur, tapi, dia nggak suka kalau ada yang melakukan tindakan kurang berkenan.


"Ada apa ini, Pak Firman?" tanya Gavin ketika sampai didekat mereka.


Seketika Pak Firman dan Kasih kaget mendapati atasannya sudah berdiri disamping mereka.


"Emm..anu, Pak. Ini, si Kasih tadi sedikit ceroboh, waktu antar minuman ke ruangan Bu Yolanda, dia nggak sengaja menumpahkannya sampai mengenai baju beliau." jelas Pak Firman sambli menundukan kepalanya.


"Siapa tuh, Bu Yolanda.?" tanya Gavin sambil menautkan alisnya.


"Itu, Pak. Sekretaris baru Pak Indra.?" jawab Pak Firman.


Gavin terdiam sejenak. Jadi nama sekretaris baru itu Yolanda. Berarti dia nantinya menjadi sekretarisnya juga. Bathin Gavin.


"Tapi, kenapa Pak Firman memarahi Kasih!" seru Gavin.


"Iya, Pak. Bu Yolanda komplain ke saya, karena Kasih adalah anak buah, saya." jawab Pak Firman.


Gavin manggut-manggut mendengar penjelasan dari Pak Firman barusan. Secara profesonal kerja, memang tindakan mereka sudah benar. Cuma, kalau hanya soal kecerobohan seseorang itu dilakukan dengan tidak sengaja, kenapa harus ada marah-marah serta komplain. Bathinnya.


"Ya sudah, Pak Firman jangan terus marahi Kasih. Sebagai leader Pak Firman cukup menegurnya atau mengingatkan. Faham Pak?" tukas Gavin.


"Iya, Pak. Saya mengerti. Maafkan saya jika tindakan saya berlebihan." ucap Pak Firman.


"Iya, Pak.?" jawab Gavin dengan tersenyum seraya meninggalkan mereka berdua.


Gavin kembali berjalan menyusuri lorong di ruang-ruang kantornya. Kali ini dia mendapati ada beberapa karyawan yang bergerombol. Mereka sepertinya lagi membicarakan seseorang.

__ADS_1


"Kenapa sih, wanita itu bisa ketrima sebagai sekretaris Pak Indra. Secara dia orangnya sombong dan judes.!" ucap dari salah satu karyawan tersebut.


"Iya. Padahal kan Pak Indra selama ini terkenal baik, santun, kebapakan dan humoris. Nggak cocok dech kalau punya sekretaris seperti Bu Yolanda." sahut yang lainnya.


"Iya, tadi aja aku lihat si Kasih Office girl yang baik itu, dimarahinya gara-gara nggak sengaja menumpahkan air minum ke bajunya. Lebay banget, kan.!" sahutnya lagi.


Gavin semakin penasaran dengan tabiat wanita itu. Tadi pas masuk ke ruangannya dia terlihat biasa-biasa saja. Bathinnya.


"Eh, nantinya kan dia menjadi sekretaris Pak Gavin, kalau Pak Indra pensiun.?" celetuknya lagi.


"Iya, kasihan Pak Gavin. Dia juga orangnya baik banget. Apalagi dia baru saja menikah, takutnya dia godain Pak Gavin." sahut yang satunya lagi.


"Kalau sampai dia menggoda Pak Gavin, kita akan membantunya, kasihan kan Pak Gavin.!" serunya lagi.


Obrolan-obrolan itu masih seputar tentang Yolanda. Dia tersenyum mendengar reaksi para karayawannya terhadap dirinya. Betapa pedulinya mereka terhadap dirinya.


Biar tidak penasaran lagi, kini dia menuju ruangan HRD. Didepan pintu dia berpapasan dengan Yolanda. Ternyata, wanita itu baru saja ketemu Pak Bima.


Dia mengamati Gavin dari atas sampai bawah, kemudian dia tersenyum seraya menutup pintu kembali. Kini dia berdiri pas dihadapan Gavin.


"Eh, Pak Gavin. Ada perlu apa?" tanya Bu Yolanda sambil pasang muka manis.


"Saya mau ketemu Pak Bima." jawab Gavin datar.


"Oh iya, Pak. Di dalam juga ada Pak Indra." jawabnya.


"Kamu sendiri, ada apa, kok disini?" tanya Gavin balik.


"Em..anu, Pak--"


Seketika Bu Yolanda melangkah meninggalkan Gavin yang masih berdiri di depan pintu. Kenapa tiba-tiba Gavin berpikiran kalau apa yang dibicarakan karyawannya itu benar. Sikapnya tadi dia kurang begitu suka. Tapi, apa boleh buat, karena Papanya sudah menerima dia.


"Tok...tok...tok.."


Gavin mengetuk pintu, kemudian membukanya. Pak Indra dan Pak Bima kemudian menoleh kearahnya.


"Eh kamu, Vin. Ada apa?" tanya Papanya.


"Tadinya Gavin mau lihat-lihat sekeliling kantor, Pa. Tapi, tadi Gavin mendengar anak-anak lagi ngobrolin tentang sekretaris baru. Kok, Gavin baru tahu kalau ada sekretaris baru, ya Pa?" tanya Gavin.


"Iya, Pak Gavin. Maaf, saya belum bicara soal ini sama Pak Gavin. Selain Pak Gavin baru masuk setelah cuti, tadi pagi Pak Indra langsung ngajak meeting. Jadi, maaf kalau saya belum sempat." jawab Pak Bima dengan sedikit ketakutan.


"Oh gitu, ya sudah nggak apa-apa, Pak." jawab Gavin.


"Vin, tadi Papa dan Pak Bima juga ngobrolin soal sekretaris baru itu. Memang dulu yang acc untuk diterima adalah Papa. Karena dia adalah keponakan dari salah satu teman Papa. Setelah melihat CV nya langsung Papa terima, itu pun juga rundingan sama Pak Bima." terang Pak Indra.


"Kok, Tadi Gavin mendengar ada omongan nggak enak soal dia. Sudah berapa hari dia diterima disini?" tanya Gavin.


"Baru seminggu Pak Gavin. Waktu Pak Gavin ambil cuti nikah." jawab Pak Bima.


"Emangnya apa yang dibicarakan mereka, Vin." tanya Pak Indra.

__ADS_1


"Sebenarnya sih bukan masalah yamg serius, itu cuma karena sikap aja. Mereka bilang kalau dia sombong dan judes." jawab Gavin.


"Soal itu nanti biar dievaluasi sama Pak Bima. Kita lihat cara kerjanya selama tiga bulan. Kalau masih seperti itu, kita berhak tidak memperpanjang kontraknya. Karena semua karyawan yang masuk harus melewati masa training dulu." jawan Pak Indra.


"Iya, Pak Gavin. Nanti saya yang akan memantau dan menegur dia jika ada sikap yang kurang berkenan." sahut Pak Bima.


"Ya sudah kalau begitu, Pak Bima. Saya serahkan sama Anda." jawan Gavin.


Kemudian dia pamitan untuk meninggalkan ruangan itu. Kini Papanya dan Pak Bima masih didalam.


.


.


Setelah seharian berkutat dengan urusan pekerjaan. Kini jam kepulangan kantor tiba. Gavin pamit sama Papanya untuk pulang cepat karena harus menjemput istrinya. Pak Indra mengangguk saat Gavin pamitan untuk pulang duluan.


Diparkiran seperti biasa, dia dibantu satpam kantor untuk mengatur jalannya. Gavin merabah-rabah saku celananya guna mencari kunci mobil, tapi, tiba-tiba dia melihat sekretaris tadi lagi berdiri menunggu jemputan. Dari kejauhan dia melihat kearah dirinya yang sibuk mencari kunci tadi.


Gavin sedikit terganggu dengan pandangan Yolanda yang tajam seperti mau memakannya saja. Tak lama kemudian dia sudah menemukan kunci mobil dan membukanya.


Gavin melajukan mobilnya dengan dibantu pak satpam tadi. Setibanya dia melewati tempat dimana Yolanda berdiri, Gavin sengaja tidak membuka kaca jendela.


Setelah mobilnya meninggalkan kantor, Gavin mengemudikan dengan kecepatan tinggi. Kini pikirannya hanya tertuju pada istrinya yang sudah menunggu dikampus.


Akhirnya sampai juga dia dikampus istrinya. Dilihatnya dia sudah menunggunya. Gavin tersenyum melihat istri tercintanya itu.


"Sudah lama, sayang?" tanya Gavin setelah keluar dari mobil.


"Baru lima menit yang lalu." jawab Bu Ratih pelan.


"Ya sudah, kalau gitu kita pulang." aja Gavin.


"Okey," jawab Bu Ratih.


Keduanya kemudian masuk mobil. Lalu Gavin melajukan mobilnya menuju rumahnya. Dimobil Gavin selalu memegang tangan istrinya itu. masih terlihat romansa pengantin baru.


Setibanya dirumah Bu Hesty menyambut mereka dengan senyuman. Gavin dan Bu Ratih sedikit terheran-heran. Kok Mamanya keliahatan gembira banget.


"Vin, ada kabar gembira. Barusan Mama di telpon Kakak iparmu, kalau sekarang dia lagi hamil." seru Mamanya dengan ekspresi yang gembira.


"Wooow..Benar, Ma. Gavin mau punya keponakan.?" ucap Gavin dengan ekapresi yang nggak kalah senangnya.


Mamanya mengangguk dan terlihat antusias banget karena sebentar lagi punya cucu. Kemudian Bu Hesty melangkah masuk ke rumah.


Bu Ratih ikut gembira mendengar kabar yang dikatakan oleh mertuanya itu. Berarti kini dia mau menerima dua keponakan. Satu dari Kakaknya Bagas, satu dari Kakaknya si Mahen.


"Bagus, sayang. Kak Kinan pasti senang, karena hampir satu tahun lebih menunggu kehadiran seorang anak." sahut Bu Ratih.


"Iya sayang, berarti nanti kita kebut ya, biar kamu bisa seperti Kak Kinan." bisik Gavin sambil mencium bibir istrinya lalu berlari meninggalkan Bu Ratih sendiri.


"Gaviiiinn...!! kamu tuh ya.." teriak Bu Ratih.

__ADS_1


-----------------------------------


Bersambung.....


__ADS_2