
(****)
Beberapa minggu kemudian, keadaan Bu Ratih semakin membaik. Sekarang sudah kembali seperti sebelumnya. Secara psikis juga mulai tenang dan bisa menerima kenyataan. Cuma kalau fisik dia tidak boleh mengangkat beban berat dan capek.
Kegiatan sehari-hari dikampus hanya mengajar, pasti Bu Ratih nggak kenapa-napa. Kalau dirumah juga ada Bibi dan Kasih.
"Sayang, kamu kapan masuk ngajar,?" tanya Gavin saat duduk-duduk diruang tengah.
"Kurang seminggu lagi." jawab Bu Ratih.
"Rencananya Kasih tetap aku suruh disini dulu biar bantu-bantu Bibi. Sekalian tetap nemani kamu, meskipun kamu sudah sembuh. Gimana?" tanya Gavin.
"Nggak apa-apa, sayang. Aku malah senang ada temannya." jawab Bu Ratih.
Tak lama kemudian saat mereka ngobrol, Pak Indra dan Bu Hesty datang. Gavin dan Bu Ratih menyambutnya.
"Mama,!" seru Gavin.
Kemudian keduanya langsung menyalami mereka. Lalu duduk diruang tengah. Kini mereka membaur dan ngobrol-ngobrol.
"Gimana, Ratih. Kamu sudah enakan.?" tanya Pak Indra.
"Alhamdulilah sudah, Pa. Kurang seminggu sudah masuk kerja." jawab Bu Ratih.
"Syukurlah kalau begitu. Mulai sekarang, nggak usah mikir aneh-aneh, jalani hidup seperti sebelumnya." tukas Pak Indra.
"Iya, Pa. Makasih nasehatnya." jawab Bu Ratih.
Saat mereka lagi ngobrol, Kasih menghampiri mereka untuk mengingatkan Bu Ratih untuk minum obat.
"Bu Ratih, obatnya sudah saya siapkan." ucap Kasih.
"Baiklah, saya ke kamar." jawabnya.
Bu Ratih kemudian berdiri meninggalkan ruang tengah dan menuju kamar yang diikuti oleh Kasih. Sedangkan Gavin mengangkat telponnya karena ponselnya berdering. Dia keluar menuju teras untuk angkat telpon
Kini tinggal Bu Hesty dan Pak Indra. Mereka mengobrol.
"Pa, berarti kita sudah nggak punya harapan lagi untuk menimang cucu dari darah daging kita sendiri?" ucap Bu Hesty tiba-tiba.
"Maksud Mama apa?" tanya Pak Indra.
"Maksud Mama, Gavin kan istrinya sudah tidak bisa lagi hamil, berarti garis keturunan kita sudah tidak bisa lahir ke dunia ini dong. Secara Mahen kan bukan anak kandung kita, Pa!" jelas Bu Hesty.
"Mama ini ngomong apa, sih! Papa nggak suka Mama punya pikiran seperti itu. Meskipun Mahen bukan anak kandung kita, tapi, bagi Papa tetap aja, anak dari Mahen dan Kinan adalah cucu Papa.!" suara Pak Indra meninggi.
"Tapi, Mama juga pingin cucu dari Gavin, Pa. Biar darah Indra Wijaya mengalir ke generasi berikutnya." jawab Bu Hesty ketus.
"Mama makin lama ngomongnya kok gitu, sih!" seru Pak Indra.
"Mama kan nggak salah kalau ngomong seperti itu, memang kenyataannya begitu." jawab Bu Hesty.
"Iya, Papa juga tahu. Tapi, Papa nggak mikir sejauh itu. Yang Papa pikirkan sekarang adalah perasaan anak dan menantu kita setelah mengalami cobaan seperti ini. Mama kok malah mikirnya gitu." jawab Pak Indra.
__ADS_1
"Makanya itu, Pa. Mulai sekarang kita coba bantu cari jalan keluarnya." tukas Bu Hesty.
"Jalan keluar apa, soal anak! kalau itu kita serahkan sama mereka saja. Banyak anak diluar sana yang kekurangan kasih sayang orang tua. Di Yayasannya Kinan juga banyak anak dan bayi yang perlu kita perhatikan masa depannya. Gavin bisa mengadopsi salah satu dari mereka.!" jelas Pak Indra.
"Tapi, kan bukan darah daging dari Gavin, Pa. Mama pinginnya cucu dari Gavin." rengek Bu Hesty.
"Terserah Mama aja deh. Papa pusing mikirin soal keinginan Mama yang aneh-aneh." timpal Pak Indra sambil meninggalkan istrinya yang masih duduk sendirian.
Bu Hesty kini terdiam sendiri, sedangkan suaminya sudah masuk kamarnya. Tanpa sepengetahuan Bu Hesty dan Pak Indra, ternyata obrolan mereka didengar oleh Bu Ratih dari kamar.
Mereka lupa kalau Gavin dan istrinya masih menempati kamar tamu yang letaknya dekat dengan ruang tengah. Bu Ratih terdiam dan kaget kenapa Mama mertuanya bersikap seperti itu. Padahal biasanya dia paling sayang sama menantu-menantunya.
Tak terasa bulir bening jatuh membasahi pipinya yang putih mulus. Kasih yang melihat majikannya sedih, langsung saja dia memberanikan diri untuk memeluknya.
"Bu Ratih yang sabar, ya. Saya yakin Bu Hesty bicara seperti itu bukan lantaran dia membenci keadaan Ibu yang sekarang. Tapi, itu naluri seorang Ibu terhadap Anaknya yang ingin segera menimang cucu." jelas Kasih sambil mengelus punggung Bu Ratih.
"Tapi, kamu dengar sendiri kan, kalau Gavin tidak bisa memberikan cucu, berarti garis keturunan Indra wijaya berhenti disini. Secara Kak Mahen kan bukan anak kandung Pak Indra dan Bu Hesty." jawab Bu Ratih.
"Jadi, anak Pak Indra itu cuma Pak Gavin saja." tanya Kasih sambil melepaskan pelukannya.
"Saya juga baru tahu ini tadi. Gavin sudah tahu apa belum saya juga nggak tahu. Selama ini suamiku adalah anak tunggal. Berarti Kak Mahen anak siapa?" ucap Bu Ratih.
"Sebaiknya nanti ditanyakan sama Pak Gavin, Bu.?" jawab Kasih.
"Tapi, saya takut kalau aku menanyakan hal itu, berarti dia akan tanya kenapa aku bisa tahu hal ini." ucap Bu Ratih.
"Iya juga sih, Bu." jawab Kasih.
"Kamu jangan bilang ke Pak Gavin soal apa yang kita dengar barusan. ya?" titah Bu Ratih.
Sekarang Kasih membantu majikannya itu untuk mengganti pakaiannya. Dia selalu setia mendampingi Bu Ratih dalam segala aktivitasnya dirumah ini.
Setelah selesai mengganti pakaiannya, Bu Ratih ingin rebahan sebentar karena tiba-tiba kepalanya pusing. Dia berpesan pada Kasih kalau untuk makan malamnya nanti minta diantarkan kedalam kamar saja.
Kasih keluar kamar dan menuju kebelakang sambil membawa pakaian kotor majikannya itu untuk ditaruh ditempat laundry.
Gavin kemudian masuk kedalam, dan mau memberitahu Papanya kalau yang barusan telpon adalah Pak Ferry maulana. Tapi, Papanya tidak ada diruang tengah. Akhirnya niatnya dia urungkan dan kini menemui istrinya dikamar.
Gavin mendapati istrinya yang sudah terbaring dengan memakai baju tidur lengkap. Padahal kan belum makan malam, kok tumben-tumbenan istrinya ini sudah ganti baju.
Dia menghampiri istrinya yang lagi rebahan diatas tempat tidur. Dia belai lembut rambutnya istrinya dan mencium keningnya.
"Sayang, kok tumben sudah tiduran dan ganti pakaian.?" tanya Gavin.
"Aku capek aja, sayang. Pingin istirahat lebih awal." jawab Bu Ratih.
"Ya sudah kalau gitu, nanti biar Kasih yang antar makan malam kesini." ucap Gavin.
Saat makan malam, Pak Indra lebih banyak diam. Sedangkan Mamanya nampak seperti biasa. Dia meladeni suaminya.
"Lho, istri kamu mana, Vin.?" tanya Bu Hesty.
"Tadi dia bilang kepalanya pusing, Ma. Minta makanannya diantar ke kamar saja." jawab Gavin.
__ADS_1
"Oh ya sudah kalau gitu." jawab Bu Hesty.
"Kasih.! tolong, antarkan makanan buat Ibu." titah Gavin.
"Baik, Pak." jawab Kasih.
Kemudian dia mengambilkan makananan buat Bu Ratih. Tapi, sebelum dia mengantarkan kedalam. Kasih membantu Gavin untuk mengambilkan makanan seperti biasa.
"Sudah cukup, Sih. Makasih.!" ucap Gavin.
"Saya antarkan ke Bu Ratih dulu, ya Pak.?" ucapnya.
Gavin hanya mengangguk pelan. Kemudian Kasih masuk ke kamar Bu Ratih. Lalu dimeja makan tetap melanjutkan aktivitasnya masing-masing.
"Oh iya, Pa. Tadi Pak Ferry telpon Gavin. Dia membicarakan soal proyek yang di Bali. Katanya sudah kelar dan tinggal peresmian saja." ucap Gavin.
"Oh iya, Apa kabar dia sekarang. Sejak perdamaian kita dulu, Papa belum pernah kontak sama dia." jawab Pak Indra.
"Dia menetap di Bali, Pa. Kalau Sasha putrinya yang menikah dengan Seno itu, tetap tinggal di Jakarta. Sekarang Seno dan Sasha menjalankan usaha sendiri dibidang garment." jelas Gavin.
"Oh bagus itu. Berarti mereka berdua lepas dari campur tangan orang tuanya." jawab Pak Indra.
"Iya, Pa. Seno sudah nggak mau tahu soal perusahaan Salim Group sejak dipenjara dulu. Lalu, Sasha juga ingin mengembangkan bakatnya didunia modeling. Makanya sekarang dia punya usaha butik sendiri, dan merancang sendiri untuk baju-baju buat show." jawab Gavin.
"Tapi, kenapa Pak Fery menelpon kamu.?" tanya Pak Indra.
"Ya itu tadi, Pa. Dia mengabari kalau proyek yang dia ambil alih dari Papa sudah selesai, dan meminta Gavin buat menghadiri pembukaannya itu." jawab Gavin.
"Terus kamu jawab apa?" tanya Pak Indra.
"Gavin bilang belum tahu, soalnya Gavin juga banyak kerjaan, lagi pula Ratih juga habis sakit." jawab Gavin.
"Bagus itu. Mending nggak usah kamu hadiri." tukas Pak Indra.
"Lho kenapa, Pa. Kan kalian sudah baikan sama Ferry. Bagus kan kalau Gavin hadiri acara pembukaan itu.!" sahut Bu Hesty tiba-tiba.
"Iya, Papa tahu kita sudah damai. Tapi, untuk apa buang-buang waktu kesana. Lagian Ratih juga baru sembuh, masa ya ditinggal." ucap Pak Indra.
Bu Hesty terdiam. Kali ini dia sudah tidak mau berdebat sama suaminya lagi. Akhirnya makan malampun selesai. Kini mereka berlalu meninggalkan meja makan.
Gavin hendak kekamar, tapi Pak Indra memintanya untuk menemaninya ngobrol diteras depan. Kini mereka berdua ngobrol.
"Vin, Papa boleh tanya sesuatu, nggak?" tanya Pak Gavin.
"Iya, Pa. Silahkan mau nanya apa?" jawab Gavin.
"Tapi, pertanyaan Papa ini jangan terlalu dimasukin hati. Papa hanya ingin tahu rencana kamu selanjutnya, paskah istrimu dioperasi!" tukas Pak Indra.
"Iya, Pa. Gavin janji nggak akan marah atau tersinggung." jawab Gavin.
"Apa kamu punya keinginan untuk menikah lagi.?"
----------------------------------
__ADS_1
Bersambung....