
...............................
Gavin dan Bu Ratih seraya menoleh kearah suara yang memanggil Kasih. Ternyata atasannya Kasih. Mungkin dia ada perlu dengan Kasih. Ternyata tidak ada yang perlu dikawatirkan, Gavin dan Bu Ratih meninggalkan mereka.
Diparkiran Gavin menyalakan mesin mobilnya dan kemudian meninggalkan Mall tersebut. Dalam perjalanan Gavin tak henti-hentinya melirik kekasihnya itu.
"Sayang, kalau nyetir yang fokus, jangan suka melirik." ucap Bu Ratih menggoda.
Raut muka Gavin seraya berubah merah nahan malu. Karena kepergok oleh Bu Ratih.
"Kan, aku lagi menikmati makhluk cantik ciptaan Tuhan." ucap Gavin.
"Kamu, tuh, ya. Pinter ngegombal." jawab Bu Ratih.
"Biarin, lihat hasilnya kalau aku ngegombalin kamu, sekarang kita mau tunangan." ucap Gavin sembari tertawa.
"Tuh, kan. Ini yang bikin aku tambah sayang, kamu kocak." jawab Bu Ratih.
"Tih,!" ucap Gavin.
"Hemm, iya, ada apa?" jawab Bu Ratih.
"I LOVE YOU" ucap Gavin seraya mengedipkan matanya.
Bu Ratih jadi salah tingkah hingga pipinya merona.
"LOVE YOU TO.." jawab Bu Ratih.
Dengan cepat tangan kiri Gavin memegang tangan Bu Ratih. Kedua sejoli itu langsung tertawa sembari memandang satu sama lain.
Akhirnya sampai juga di rumah Bu Ratih. Gavin hanya ngedropin aja tidak mampir. Setelah berpamitan Gavin kembali ke mobilnya dan pulang.
****
Beberapa hari kemudian, hari sabtu dimana hari ini Gavin akan bertunangan dengan Bu Ratih. Keluarga Bu Ratih sudah menyiapkan segala keperluan, meskipun yang hadir hanya orang-orang terdekat saja, tapi keluarga Bu Ratih tetap menyajikan yang istimewa. Irene sebagai menantu yang juga sekaligus yang mengurusi cathering untuk acara tersebut.
Bu Ratih di kamar sibuk untuk berdandan. Acara dilaksanakan jam tujuh malam setelah isya.
Tak jauh beda dikediaman Gavin juga sibuk. Mobil sudah disiapkan dari siang. Gavin sengaja ngantor setengah hari. Kini dia juga lagi sibuk bebenah. Pak Indra dan Bu Hesty tak kalah sibuk untuk mempersiapkan.
__ADS_1
Kali ini Pak Indra melangkah keluar ke teras. Dia memanggil anak buahnya yang ditugaskan untuk mengawal dan menjaga acara ini.
"Jason, sini kamu!" panggil Pak Indra.
"Iya, Pak. Ada apa?" jawab Jason sambil berlari mendekati Pak Indra.
"Kamu, Pastikan situasi aman, terus si Ramon kamu hubungi, gimana keadaan di rumah Ratih baik-baik saja." ucap Indra.
"Siap, Pak! laksanakan." ucap Jason.
Jason kembali ke depan. Sedangkan Pak Indra tetap berdiri di teras. Di dalam semua nampak siap. Mahen dan Kinanti mengecek barang-barang seserahan sudah lengkap apa belum.
Tak lama kemudian Gavin turun menyusuri anak tangga dengan gagah. Dia memakai batik lengan panjang dipadu bawahan warna gelap tapi tetap modis. Ketampanannya tidak berkurang sama sekali.
Bibi dan Pak Narto sibuk memindahkan barang seserahan itu ke mobil. Jam sudah menujukkan pukul enam. Dirasa cukup jika berangkat sekarang. Semua berjalan menuju halaman.
Ada tiga mobil yang disiapkan. Satu mobilnya Pak Indra dan mobilnya Mahen. Gavin sengaja nggak bawa mobil sendiri. Kali ini dia satu mobil dengan Mama Papanya yang dikemudikan Pak Narto. Sedangkan Mahen berdua dengan istrinya.
Lalu Jason sendiri dibelakang.
Mobil beriring-iringan menyusuri jalanan Kota ini. Setelah setengah jam, akhirnya rombongan mobil Gavin nyampai di rumah Bu Ratih. Rumah Bu Ratih nampak rame.
Meskipun acara itu dilaksanakan didalam rumah saja, tapi dekorasinya tidak kalah dengan yang digedung. Mama Bu Ratih sengaja mempersiapkan sedemikian rupa karena calon besannya ini adalah orang terpandang.
Ada beberapa anggota keluarga dari Bu Ratih. Keluarga Gavin menempati tempat duduk yang telah disiapkan. Teman-teman dekat Bu Ratih pun hanya sebagian yang hadir, begitupun rekan bisnis Bagas hanya beberapa yang kelihatan.
Acarapum dimulai, pembawa acara memulai berbicara didepan mikrofon yang telah disiapkan. Pertama acara pembuka, lalu diteruskan sambutan dari pihak Bu Ratih. Kali ini yang bertugas adalah saudaranya Bu Rahma.
Setelah itu giliran sambutan dari keluarga Gavin, yang maju adalah Pak Indra sediri. Pak Indra berbicara dengan percaya diri. Setelah beberapa lama kemudian, sampailah acara puncak, yaitu tukar cincin.
Bu Ratih keluar dari dalam diiringi Winda dan salah satu temannya. Dia nampak cantik yang luar biasa, kebaya warna biru muda membalut tubuhnya yang langsing. Riasan diwajahnya meskipun tipis tapi tidak mengurangi kecantikannya. Lipstik warna merah muda menambah keanggunan Bu Ratih.
Dia duduk diantara Bagas dan Mamanya. Demikian juga Gavin duduk diantara Papa Mamanya. Setelah pembawa acara memanggil keduanya untuk maju ke tempat yang sudah disiapkan.
Gavin dan Bu Ratih berdiri lalu maju kedepan. Sekarang mereka berdiri berdampingan. Tak lama kemudian Mama Gavin maju dengan membawa cincin dan mendekati mereka. Lalu diikuti Mamanya Bu Ratih.
Acara tukar cincin pun berjalan dengan sempurna. Sekarang Gavin resmi menjadi tunangan Bu Ratih. Tepuk tangan para undangan menyeruh ke seluruh ruangan. Gavin dan Bu Ratih pun tersenyum penuh bahagia.
Sekarang tiba acara ramah tama. Semua yang hadir disitu semua menikmati hidangan yang telah disediakan oleh tuan rumah. Pak Indra beserta keluarga menikmati hidangan tersebut.
__ADS_1
Kini Gavin dan Bu Ratih memilih tempat agak menjauh dari tamu undangan. Mereka berdua kelihatan bahagia sekali. Gavin memegang tangan Bu Ratih dan menatap wajah kekasihnya itu.
"Kamu, hari ini kelihatan cantik sekali, sayang." ucap Gavin seraya menatap tanpa kedip wajah Bu Ratih.
"Kamu juga, hari ini kelihatan tampan dan gagah sekali." sahut Bu Ratih.
"Kamu, bahagia, nggak?" ucap Gavin.
"Banget, sayang. Bahagia banget." ucap Bu Ratih.
"Aku, juga bahagia banget, sayang. Bahagia, karena hari ini kamu lima puluh persen sudah menjadi milikku." ucap Gavin.
Bu Ratih memandang Gavin dengan tatapan yang hangat dan penuh harap. Tak terasa bulir bening jatuh ke pipinya yang halus. Seketika tangan kekar Gavin menyeka pipinya itu.
"Kenapa, menangis?" tanya Gavin.
"Aku, menangis bahagia, sayang." jawab Bu Ratih.
Tak lama kemudian tangan Gavin merengkuh tubuh Bu Ratih kedalam pelukannya. Mereka berpelukan meluapkan rasa bahagianya. Bu Ratih merasa beruntung sekali karena mendapatkan laki-laki sebaik Gavindra.
Laki-laki yang bisa menerima dia apa adanya. Keluarganya pun juga begitu. Sangat baik karena tidak pernah memandang status sosial.
Gavin pun demikian, dia beruntung mendapatkan wanita sebaik dan secerdas Bu Ratih.
Tiba-tiba Pak Indra mendekati Gavin dan Bu Ratih. Setelah melihat kedatangan Pak Indra, Gavin melepaskan pelukannya.
"Nggak apa-apa, Vin. Papa juga pernah muda." ucap Pak Indra.
"Eh, Papa." jawab Gavin.
"Selamat, ya Nak? kalian akhirnya sampe kejenjang ini. Papa bangga sama kamu, Vin. Karena bisa membawa wanitamu kedalam kehidupanmu yang lebih dalam. Jaga baik-baik calon istrimu." ucap Pak Indra seraya memeluk putra bungsunya itu.
Tak terasa Gavin meneteskan airmata. Bu Ratih ikut terharu melihat pemandangan didepannya. Kemudian Pak Indra memandang kearah Bu Ratih. Lalu merangkulnya juga kedalam pelukannya. kini mereka bertiga berpelukan.
"Papa, harap. Kalian kelak bisa menjadi pasangan yang abadi, bisa meneruskan generasi Indra wijaya." ucap Pak Indra.
Keduanya memgangguk dalam pelukan Pak Indra.
Dari kejauhan, nampak seseorang memperhatikan pemandangan yang begitu bahagia. Dia juga bisa merasakan bagaimana bahagiannya ketiga orang tersebut. Tak terasa airmatanya pun jatuh menetes melintasi pipinya.
__ADS_1
"Aku, ikut bahagia jika kamu juga bahagia, Tih..!" ucap seseorang yang dari tadi memperhatikannya.
Next........................(43).