
Bu Ratih dan Mamanya sontak kaget mendengar kalimat Gavin. Seketika menghentikan aktivitas mereka di dapur.
"Terus gimana, sayang. Mas Bagas bilang apa lagi.?" tanya Bu Ratih seraya mendekati suaminya.
"Dia bilang kalau kita jangan panik, dan minta doanya saja." ucap Gavin.
"Ya ampun, mudah-mudahan cepat melewati masa kritisnya." ucap Bu Rahma.
"Kasihan Mbak Irene, pasti sekarang dia bingung dan sedih." tukas Bu Ratih.
"Kita berdoa aja, sayang. Semoga lekas sembuh dan diangkat penyakitnya." sahut Gavin.
"Ya udah kalau gitu kamu ajak sarapan suamimu, Tih!" tukas Bu Rahma.
Bu Ratih mengangguk, kemudian menuju meja makan yang sudah tersaji menu untuk sarapan. Gavin ngikut dibelakang istrinya. Kemudian mereka berdua menikmati sarapan.
"Sayang, hari ini kita bantu Kak Mahen beres-beres di rumah barunya." ucap Gavin disela-sela sarapan mereka.
"Iya, sayang. Habis sarapan kita siap-siap menuju rumah Kak Mahen." jawab Bu Ratih.
Keduanya menikmati sarapan hanya berdua saja. Karena, semuanya sudah sarapan duluan. Tak beberapa lama, akhirnya mereka selesai sudah sarapannya. Bu Ratih membereskan semua bekas sarapannya dan suaminya.
"Ma, setelah ini Ratih dan Gavin mau langsung ke rumahnya Kak Mahen." ucap Bu Ratih setibanya di dapur untuk mencuci piring bekas sarapan tadi.
"Oh iya, ya Tih. Hari ini Mahen mau nempati rumah barunya." jawab Bu Rahma.
"Iya, Ma. Ratih dan Gavin mau bantu-bantu Kak Mahen beres-beres. Ntar malam pas syukuran Mama tinggal telpon Ratih aja. Misal, Mas Bagas nggak bisa antar karena harus urus mertuanya, Mama dan Winda biar dijemput Gavin." terang Bu Ratih.
"Iya, Nak. Mama ngikut saja." jawabnya santai.
Setelah selesai mencuci piring, Bu Ratih menuju ruang tengah dimana suaminya lagi nonton TV. Bu Ratih duduk pas di sebelahnya Gavin. Mendapati istrinya yang ikut duduk disampingnya, Gavin langsung menyambut dengan membelai rambut istrinya.
"Sayang, rencana ke rumah Kak Mahen jam berapa.?" tanya Bu Ratih sambil bersandar di pundak suaminya manja.
"Terserah kamu, saja. Sekitaran jam sepuluhan gitu juga nggak apa-apa. Toh, sekarang juga masih pagi." ucap Gavin seraya melirik jam tangannya.
"Besok kamu sudah mulai masuk kerja, kan?" tanya Bu Ratih.
"Iya, aku besok sudah mulai ngantor lagi. Pekerjaan sudah menyambutku dikantor." jawab Gavin.
__ADS_1
"Aku juga besok sudah mulai aktif ngajar lagi. Karena sebentar lagi ujian semester, jadi harus ngebut." ucap Bu Ratih.
Gavin melirik ke istrinya sambil mengelus pipi yang sekarang sudah menjadi haknya itu. Gavin begitu menyayangi istrinya, begitu pula sebaliknya. Bu Ratih selalu berusaha menjadi istri yang baik.
Sekitaran jam sepuluhan mereka siap-siap untuk berangkat ke rumah Mahen. Kali ini Bu Ratih memakai celana jeans dipadu kaos lengan panjang yang casual. Begitu pula Gavin, hanya memakai celana selutut dengan atasan kaos oblong dibalut dengan jamper warna abu.
Keduanya keliatan santai dengan pakaiannya itu. Biar nanti bisa leluasa bergerak jika bantu-bantu di rumahnya Mahendra.
Dilajukannya mobil setelah dikeluarkan dari garasi. Gavin mengendarai mobil dengan santai. Bu Ratih disampingnya hanya tersenyum tatkala matanya besirobok dengan Gavin.
Akhirnya sampai juga dirumah Mahen. Setelah tadi dia minta Kakaknya untuk kirim lokasi, karena Gavin belum pernah kesini sebelumnya. Mobil Gavin mengarah ke sebuah rumah yang lumayan cukup besar dan mewah. Rumah itu hanya lantai satu, tapi lumayan besar. Halamannya juga cukup luas bisa buat parkir mobil sekitar empat sampai lima mobil.
Gavin memarkirkan mobilnya disebelah mobil Kakaknya. Keduanya lalu keluar mobil kemudian masuk rumah itu. Gavin menyusuri tiap ruangan yang ada di rumah itu. Pertama, ruang tamu yang cukup luas. Ada tiga kamar dengan ukuran yang lumayan besar. Ruang tengah sengaja dibuat menyatu dengan meja makan serta dapur. Sebelah dapur ada kamar yang ukurannya lebih kecil, mungkin jika suatu hari Kakaknya pakai jasa pembantu.
Bu Ratih mengikuti dibelakang suaminya. Tapi, sampai mereka berkeliling rumah, kok belum menjumpai Kakak serta istrinya. Akhirnya Gavin menuju pintu yang dekat ruang tengah dan dapur. Disitu pintu menghubungkan dengan halaman belakang.
Mahendra menoleh ketika mendapati ada orang yang masuk. Seketika mereka tertawa lepas karena begitu gembira saat Gavin dan Bu Ratih tiba-tiba nongol.
"Kalian sudah dari tadi disitu?" tanya Mahen.
"Aku dan Ratih sudah muter-muter melihat seluruh ruangan, Kak." sahut Gavin sambil menghempaskan tubuhnya dikursi.
"Iya Kak, kami sengaja melihat-lihat dulu keseluruh ruangan. Barang-barang sebagian sudah lengkap. Cuma tadi di ruang tamu masih kosong." Jawab Gavin.
"Iya, Vin. Kakak memang mecicil membeli perabotannya, terakhir yang belum dikirim meja kursi buat ruang tamu sama beberapa perlengkapan dapur dan meja makan. Katanya hari ini dikirim, makanya Kakak nunggu." jelas Mahen.
"Bagus Kak rumahnya, warna serta penataannya simple tapi kelihatan elegan." sahut Bu Ratih.
"Iya, Tih. Soal penataan aku serahkan sama Kakakmu ini," ucap Mahen sambil melirik ke arah Kinanti.
"Terus, aku dan Ratih bantu apa, nih! padahal rencananya ingin bantu-bantu beres-beres." ucap Gavin.
"Ya kan, nanti kalian bisa bantu bersih-bersih sekalian menata buat syukuran malam nanti." sahut Kinanti.
"Iya, Kak. Nanti Ratih bantu kalau urusan dapur. Kalau, yang berat-berat biar urusan para cowok-cowok." tukas Bu Ratih sambil menyenggol tubuh suaminya.
Mereka berempat akhirnya tenggelam dalam obrolan. Mereka tak menyadari kalau hari kian siang. Gavin melirik jam tangannya ternyata sudah menunjukan pukul setengah dua belas
Mereka memesan makanan lewat online buat makan siang. Selang benerapa menit, akhirnya makanan pun datang. Berhubung meja makan belum ada, akhirnya mereka makan dibawah dengan alas karpet.
__ADS_1
Keakraban mereka begitu hangat. Hubungan Kakak beradik itu sungguh menyenangkan. Dengan lahap mereka menyantap makanan itu. Setelah makanan mereka habis, kemudian kembali membereskan bekas makan siang itu.
Gavin dan Mahen sibuk menata ulang sekiranya ada yang perlu dibenahi. Ketiga kamar tidur sudah lengkap dengan isinya. Bu Ratih dan Kinanti sibuk sendiri didapur. Ada beberapa hiasan yang harus dipasang didapur buat pemanis. Tak lama kemudian perabotan yang ditunggu-tunggu datang juga.
Tukangnya memasukan barang-barang tersebut sesuai perintah Mahen. Hampir tiga jam mereka menata dan akhirnya selesai juga. Semuanya beres dan rumah sudah rapi dan tinggal nempati saja.
Tak terasa hari sudah beranjak senja, dan sebentar lagi Cathering yang dipesan buat acara syukuran datang.
Kinanti pesan sekitar seratus porsi buat acara syukuran nanti. Rencana yang diundang hanya keluarga dekat, tetangga kanan kiri serta beberapa anak yatim piatu dari yayasan dimana dia bekerja.
Sekitaran jam enam semuanya sudah beres ditata. Gavin dan Bu Ratih sudah ganti baju yang sengaja dibawa dari rumah. Pak Indra serta Bu Hesty sudah datang dan berkumpul di ruang tengah. Mamanya Bu Ratih dijemput Pak Narto sopirnya Pak Indra, karena Bagas tidak bisa datang.
Setelah semuanya sudah berkumpul, acaranya pun dimulai. Pak Ustad yang sengaja didatangkan dari yayasannya Kinanti memimpin doa buat acara syukuran tersebut. Acara berlangsung dengan hikmad dan lancar.
Akhirnya acaranya pun selesai. Sekitaran jam sembilanan sudah berakhir. Semua undangan sudah kembali kerumahnya masing-masing. Kini tinggal keluarga inti saja. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, akhirnya semuanya memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing.
Pak Narto membawa mobil Gavin sendirian karena Pak Indra dan Bu Hesty ikut mobil yang dikendarai Gavin. Sengaja Gavin membawa mobil Papanya karena sekalian mengantar Mertua dan Adik iparnya. Sebab mobilnya sendiri tidak muat. Akhirnya mereka kembali pulang, dan Mahen dan Kinan kembali berduaan.
Setelah semuanya pergi, Mahen dan Kinan menutup rumahnya dan masuk. Kinanti tiba-tiba merasa pusing dan badannya lemas.
"Aa'..! Aa'.!" teriak Kinanti memanggil suaminya.
Mahendra seketika berlari menuju istrinya yang kini duduk di meja makan. Dilihatinya muka istrinya pucat sekali. Badannya sedikit gemetar.
"Kenapa, sayang.? Aa' panggil dokter, ya?" ucap Mahen.
Kinanti menggelengkan kepalanya, dia kini merasa mual dan pusing
"Hueeeek.! hueeek..!!"
----------------------------------
Bersambung.....
Woow.. bisa ditebak nih, Kinanti kenapa?
Jangan lupa komen, like dan vote nya ya...
Salam manis.
__ADS_1
Author..