BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 78 (Jatuh)


__ADS_3

Dua bulan kemudian, usia kandungan Bu Ratih kini menginjak tiga bulan. Bulan ini Irene akan melahirkan anaknya, Bu Ratih akan mempunyai keponakan. Kemudian bulan depan baru kelahiran anak Kinanti.


Dua bulan berturut-turut akan ada kelahiran bayi dalam keluarga Bu Ratih.


Suasana kampus seperti biasa, hiruk pikuk Mahasiswanya membuat ramai. Hari ini Bu Ratih ngajar dikelas Vanya. Sejak dekat Farrel, Vanya sudah tidak menunjukan sifat manjanya terhadap Bu Ratih. Dia ikut senang, karena Vanya kini ada kesibukan lainnya.


"Selamat pagi, semuanya..!" seru Bu Ratih setibanya dia sampai kelas.


"Selamat pagi, juga Bu..!" jawab serentak penghuni kelas.


"Baiklah, saya akan memulai materi hari ini." ucap Bu Ratih sambil membuka bukunya.


Dia berdiri didepan kelas seperti biasa memberikan materi kuliah didepan semua Mahasiswanya. Begitu telaten dia saat memberikan penjelasan ke anak didiknya.


Satu persatu sudah dia terangkan dengan jelas, karena dia nggak ingin kalau sampai Mahasiswanya sampai nggak mengerti dengan apa yang dia jelaskan.


Ketika selesai memberikan materi, Bu Ratih kembali ke tempat duduknya dan membereskan semua yang ada di mejanya. Kemudian dia keluar meninggalakn kelas.


Jadwal Bu Ratih tinggal satu lagi nanti habis istirahat. Kini dia duduk diruangan Dosen. Tapi, tiba-tiba pingin buang air kecil. Akhirnya dia berjalan menuju toilet.


Sesampainya dia di toilet, dia masuk seperti biasa. Tak lama kemudian dia keluar. Tapi, disaat hendak melangkah tiba-tiba kakinya terpleset.


"Aaarrrghh..!!" teriakan Bu Ratih mengagetkan orang yang berada di toilet tersebut.


Bu Ratih merintih kesakitan dan dia pegangi terus perutnya. Lalu datanglah Bu Silvi rekan sesama Dosen.


"Ya ampun, Bu Ratih.!!" teriak Bu Silvi.


Dia kemudian memanggil minta bantuan, akhirnya datanglah teman yang lainnya


Bu Ratih masih meringis kesakitan. Disaat dia melihat darah yang mengalir dikakinya, dia semakin histeris kemudian tak sadarkan diri.


Kemudian tubuh Bu Ratih diangkat menuju mobil salah satu Dosen. Pak Anwar memanggil Farrel buat membawa mobil itu, karena hari ini Farrel nggak bawa mobil.


Dilarikannya Bu Ratih ke salah satu rumah sakit terdekat.


Sesampainya dirumah sakit, Bu Silvi yang ikut menemani, meminta supaya lekas ditangani. Bu Ratih dibawah ke UGD, Farrel dan Bu Silvi menunggu diluar.


Farrel sudah hunbungi Gavin serta Kakaknya buat ngabari yang dirumah. Kini tinggal menunggu hasil pemeriksaan dari Dokter.


Tak lama kemudian Gavin datang setengah berlari menghampiri Farrel dan Bu Silvi. Dia kelihatan kawatir dan mukanya menjadi pucat.


"Rel, gimana kejadiannya sampai Ratih seperti ini.?" tanya Gavin penuh kawatir.


"Aku juga, nggak tahu betul, Mas." jawab Farrel.


"Begini, Pak Gavin. Bu Ratih tadi habis dari toilet, lalu saat mau balik Bu Ratih terjatuh." jawab Bu Silvi.


"Ya Tuhan., Ratih.!" teriak gavin sambil menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya.


"Tenang, Mas. Kak Ratih masih diperiksa." ucap Farrel.


"Pak Gavin, tenang dulu. Kita tunggu Dokter periksa Bu Ratih." kini Bu Silvi berbicara.

__ADS_1


Tak selang beberapa lama, keluarlah Dokter yang memeriksa Bu Ratih.


"Keluarga pasien.?" tanya Dokter itu.


"Iya, saya suaminya, Dok." jawab Gavin.


"Maaf, Pak. Setelah kami periksa, pendarahan pasien begitu hebat sehingga menyebabkan janinnya tidak bisa diselamatkan. Mungkin jatuhnya tadi begitu keras. Jadi, sekali lagi saya minta maaf, ya Pak.?" ucap Dokter.


Dada Gavin rasanya begitu sesak seolah ada benda yang menindihnya. Dia seakan tak bertenaga dan tidak mampu menopang tubuhnya. Farrel dengan sigap menahan Gavin dari belakang. Dia terdiam karena mendengar kalimat yang diucapkan oleh Dokter.


"Sekarang, pasien gimana keadaannya, Dok?" tanya Bu Silvi.


"Dia masih belum sadar, mungkin karena pengaruh obat. Tenang saja, kondisi pasien tidak ada yang perlu dikawatirkan." jawab Dokter itu.


"Apa boleh kami masuk?" kembali Bu Silvi berkata.


"Silahkan, Bu. Kalau gitu saya permisi dulu, ya?" ucap Dokter itu.


Bu Silvi mengangguk, kini mereka bertiga masuk ruangan itu. Gavin berjalan didampingi Farrel. Gavin yang melihat istrinya masih terbaring dengan matanya yang tertutup langsung memeluk tubuh istrinya sambil menangis histeris.


Farrel memegangi punggung Gavin yang masih menelungkup diatas tubuh istrinya. Sedangkan Bu Silvi tidak bisa menahan air matanya yang melihat pemandangan di hadapannya kali ini.


"Mas, Mas Gavin.., sudah tenang dulu. Sabar ya, Mas." ucap Farrel menenangkan.


Gavin masih menangis sambil memeluk istrinya, dia kelihatan sangat terpukul atas insiden kali ini. Dia nangis sampai matanya sekarang jadi sembab.


Tak lama kemudian datanglah Bu Hesty dan Pak Indra. Dia menyaksikan anak bungsunya yang menangis sambil memeluk istrinya langsung mendekati dan memeluknya.


"Vin, kenapa ini? bagaimana keadaan istri kamu?" tanya Bu Hesty.


Bu Hesty mendengar ucapan Gavin jadi terkejut, dia nggak percaya dengan ucapan Gavin barusan. Lalu dia menatap Bu Silvi berharap mendapat penjelasan.


"Maaf, Bu. Akibat insiden ini membuat Bu Ratih jadi kehilangan janinnya." ucap Bu Silvi pelan.


Sejenak Bu Hesty terdiam dan membuat tubuhnya nyaris jatuh. Tapi, untung dia bisa menahan keseimbangan. Kini dilihatnya Gavin yang masih memeluk dirinya.


"Sabar ya, Nak. Mungkin ini memang sudah takdir. Kamu harus kuat, istrimu masih membutuhkan, kamu sayang." ucap Bu Hesty sambil mengusap wajah anaknya.


"Vin, Papa ikut prihatin atas musibah ini. Kamu, yang sabar. Kita ambil hikmahnya atas kejadian ini." ucap Pak Indra sambil menepuk punggung anak kesayangannya itu.


Sejenak Gavin melepaskan pelukannya. Bu Hesty membantu anaknya untuk duduk dikursi. Kini dia sedikit lebih tenang. Tapi, pandangannya tak bisa lepas dari istrinya.


Tak lama kemudian datanglah Bu Rahma dan Bagas. Dia mendapati Gavin yang matanya sembab habis menangis, dan terdiam saat kedatanganya.


Akhirnya Bu Hesty mendekati besannya itu dan memeluknya. Bu Rahma jadi semakin penasaran ada apa dengan anaknya.


"Bu Rahma, saya ikut prihatin. Janinnya Ratih tidak bisa diselamatkan." ucap Bu Hesty.


Bu Rahma seketika terkejut dan menutup mulutnya dengan tangannya. Lalu dia melepaskan pelukan besannya itu kemudian memeluk tubuh anaknya yang masih belum sadar.


"Ya ampun, Ratih. Mama nggak tahu harus bicara apa saat kamu siuman nanti. Kamu begitu bahagia dengan kehamilan kamu. Kamu, yang sabar, ya Nak.!" ucap Bu Rahma sambil memeluk tubuh anaknnya itu.


Bagas kemudian mendekati Gavin yang masih duduk terpaku. Dia tahu kalau Adik iparnya kini sangat terpukul dan syok banget atas kejadian ini.

__ADS_1


"Vin, Mas Bagas ikut prihatin atas kejadian ini, ya. Kamu yang kuat." ucap Bagas sembari menepuk pundak Adik iparnya.


Gavin menatap Kakak iparnya itu lalu mengangguk pelan. Semua yang ada di ruangan itu terdiam sejenak. Hening untuk beberapa saat.


Malam ini yang tinggal dirumah sakit tentunya Gavin ditemani Ibu mertuanya. Semuanya kembali pulang demikian juga dengan Pak Indra dan Bu Hesty.


Kini Bu Ratih dipindahkan ke ruang perawatan karena hanya menunggu siuman saja. Gavin dan Bu Rahma mendampingi Bu Ratih saat dipindahkan.


Hari sudah semakin larut, jarum jam sudah menunjukan pukul delapan malam. Gavin mendekati Ibu mertuanya.


"Ma, Mama belum makan. Biar Gavin belikan makanan." ucap Gavin.


"Mama belum lapar, Nak. Kamu, saja yang makan. Pasti kamu dari tadi siang belum makan." jawab Bu Rahma.


"Gavin juga nggak nafsu makan. Perut Gavin langsung kenyang, Ma." ucap Gavin.


"Tapi, Nak. Kalau nggak makan, nanti malah sakit. Ingat, Ratih nanti masih butuh, kamu.!" tukas Bu Rahma.


"Tapi, Mama juga makan, ya? biar Gavin ada temannya." ucap Gavin.


"Ya sudah, Mama mau." jawab Bu Rahma sembari tersenyum.


Gavin keluar meninggalkan ruangan itu. Bu Rahma masih menemani Bu Ratih dikamar. Dipandanginya wajah putrinya itu. Ada rasa kasihan ketika menatap wajahnya. Kenapa musibah selalu saja menghampiri dirinya.


Tak lama kemudian Gavin datang dengan membawa bungkusan makanan. Dia meletakan makanan itu diatas meja dekat tempat tidur pasien. Saat Gavin menaruh itu tiba-tiba tangan istrinya bergerak.


Seketika Gavin senang melihat Bu Ratih sudah mulai siuman. Bu Rahma berdiri untuk mendekatkan dirinya ke tubuh Bu Ratih. Gavin pun demikian.


Bu Ratih membuka matanya dan mengedarkan pandangan keseluruh ruangan. Semuanya serba putih. Lalu dilihatnya ada Mama dan suaminya.


Gavin mencoba menenangkan supaya istrinya jangan dulu banyak bergerak. Bu Ratih mencoba mengingat apa yang baru saja dia alami sampai berada disini.


"Sayang, apa yang terjadi denganku.?" tanya Bu Ratih sambil menoleh kearah suaminya.


"Sudah, kamu tenang dulu. Jangan banyak bergerak dulu, ya?" jawab Gavin pelan.


"Ma,! ada apa?" tanyanya lagi.


Bu Ratih kemudian mengingat kejadian yang tadi dialami dikampus. Setelah berhasil mengingat, dia lalu histeris.


"Sayang, aku tadi terjatuh dikamar mandi. Dan aku juga banyak mengeluarkan banyak darah." ucap Bu Ratih sambil menangis.


Gavin dan Bu Rahma terdiam dan menjadi ikut terharu karena melihat sikap Bu Ratih. Gavin hanya memegangi tangan istrinya itu.


"Sayang, tolong, jawab aku. Bagaimana dengan anak kita. Apa yang terjadi dengannya. Kalian jangan diam saja." ucap Bu Ratih sambil mengguncang-guncang tangan suaminya.


"Sabar, ya sayang. Kamu harus kuat dan tabah dengan semua ini. Mudah-mudahan kejadian ini adalah ujian buat kita." jawab Gavin sambil air matanya tak terbendung.


Bu Rahma juga tidak bisa menahan air matanya yang keluar begitu saja. Bu Ratih sudah dapat menyimpulkan sendiri apa yang terjadi, karena suami dan Mamanya tiba-tiba ikut menangis.


"Ya Allah.. Anakku..!!!"


---------------------------------

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2