
Bu Ratih dan Mamanya terkejut setelah melihat kedatangan Gavin. Dia kemudian duduk dan bergabung.
"Eh, kamu sayang. Kok tahu aku sama Mama disini?" tanya Bu Ratih.
"Tadi aku kerumah, kata Mbak Irene kamu sama Mama ke supermarket, kemana lagi supermarketnya kalau nggak disini. Kan sudah jadi langganan kamu." ucapnya.
"Mau dipesankan sekalian es nya. Tadi aku dan Mama sudah pesan." tawar Bu Ratih.
"Iya, Nggak apa-apa. Terserah kamu saja." jawab Gavin.
"Kamu ngapain tadi kok nangis, sayang?" tanya Gavin penasaran.
"Nggak apa-apa, tadi cuma baper saja lihat ibu gendong anaknya." jawab Bu Ratih.
Gavin memandangi istrinya dengan pandangan yang iba, tak lama kemudian direngkuhnya tubuh wanitanya itu kepelukannya.
"Nggak usah nangis, yang sabar. Aku yakin kita pasti akan bisa melewati masa-masa sulit ini." ucap Gavin menghibur.
Kemudian Gavin melepaskan pelukannya karena pesanan sudah datang. Mereka akhirnya menikmati es teler kesukaan Bu Ratih.
Bu Rahma senang melihat anak dan menantunya sudah bisa melupakan masalah yang tengah mereka hadapi.
"Ngomong-ngomong, kamu tadi kok nggak ke kantor?" tanya Bu Ratih..
"Aku sengaja nggak ngantor, tapi aku sudah pamit Bu Yolanda dan Pak Bima kalau mau antar kamu periksa." jawab Gavin sambil tertawa.
"Ish, kamu kok gitu. Nggak boleh lho membohongi karyawannya, nanti kalau ketahuan kan nggak enak. Mentang-mentang bos kerja sak enaknya sendiri." sahut Bu Ratih.
"Nggak gitu, sayang. Kan yang penting kerjaanku beres semua." ucap Gavin.
"Hemm., alasan aja kamu ini, sayang." jawab Bu Ratih sambil menggelengkan kepalanya.
"Habis, aku sudah kangen banget sama istriku yang cantik ini." sahut Gavin sambil mencubit kedua pipi Bu Ratih.
Bu Ratih tertawa sambil memegang pipinya yang masih terasa sakit habis dicubit suaminya. Bu Rahma tak mau kalah, dia juga ikut tertawa lepas.
Kemudian mereka memutuskan untuk pulang. Gavin juga ikut pulang ke mertuanya karena sudah semalam dua tidur sendiri.
(*****)
Keesokan harinya, Bu Ratih sengaja ikut kekantor suaminya. Gavin berangkat kerja dari rumah mertuanya karena semalam dia menginap disitu.
Bu Ratih sudah selesai siap-siap tinggal berangkat saja.
Setelah sarapan dan pamit sama Mamanya, Bu Ratih dan Gavin langsung berangkat menuju kantor. Dalam perjalanan mereka sudah kembali seperti biasanya. Ngobrol dan bercanda satu sama lain. Nggak seperti sebelumnya, mereka hanya diam dan membisu.
__ADS_1
"Sayang, kemarin Mama nyuruh aku jemput Kasih, karena Mama butuh orang untuk meladeni dia. Nanti kalau mau minta tolong sama Bibi, kasihan kan. Pekerjaannya sudah banyak." kata Gavin.
"Oh ya Bagus itu, sayang. Biar Mama ada temannya. Karena kemarin kan aku juga lagi dirumah Mama. Mumpung libur, kangen Mama." jawab bu Ratih.
"Iya, sayang. Aku dan Mama juga ngerti kok. Makanya itu, pulang kerja langsung aku jemput dia dirumahnya." jawab Gavin.
Bu Ratih melirik suaminya yang sibuk dibelakang kemudi. Dia juga sedikit senang karena dia dan Kasih biar mulai belajar untuk saling kenal dan dekat. Bukannya Bu Ratih nggak peduli ataupun cemburu. Tapi, juga demi kedepannya nanti.
"Sayang, nanti aku pingin diajak jalan-jalan keseluruh kantor kamu, ya. Pingin tahu aja suasana perkantoran." ucap Bu Ratih.
"Siap Bu Bos.!" ucap Gavin sambil mengangkat tangannya layaknya orang hormat.
Akhirnya mereka sampai juga dikantor. Gavin memarkirkan mobilnya seperti biasa, kemudian dia keluar dan berjalan sambik menggandeng tangan istrinya.
Setiap karyawan yang berpapasan dengannya selalu memberi hormat dan tersenyum.
Saat memasuki lift, mereka bertemu dengan Sekretaris Gavin. Sampai saat ini memang dia nggak jadi dipindahkan karena permintaan Pak Indra. Dia hanya diberi peringatan aja, jika masih seperti dulu, dia langsung dikeluarkan.
Sejak itu, Bu Yolanda sudah banyak berubah dan lebih sopan. Saat didalam lift Bu Ratih menyapanya dan diapun tersenyum dan membalas sapaan Bu Ratih.
Akhirnya sampai juga dilantai tiga dimana ruangan Gavin itu berada. Gavin membuka pintu ruangannya. Bu Ratih langsung mendaratkan tubuhnya disofa, sedangkan Gavin menuju meja kerjanya.
"Sayang, aku mau keruangan Pak Bima sebentar, ya?" ucap Gavin.
"Oke, silahkan. Aku tunggu disini saja." jawab Bu Ratih.
Pintu pun terbuka, ada dua orang wanita yang berdiri didepan pintu tersebut. Yang satu Bu Ratih mengenalinya yaitu Bu Yolanda Sekretaris suaminya. Tapi, yang satunya Bu Ratih belum mengenalnya.
"Maaf, Bu Gavin. Ini tadi sudah saya cegah masuk, karena saya tahu, Pak Gavin lagi tidak ada diruangannya. Tapi, Ibu ini maksa Masuk." jelas Bu Yolanda.
"Ya sudah, Bu Yolanda bisa kembali ketempat." sahut Bu Ratih.
"Baik, Bu." jawabnya.
Wanita itu menatap Bu Ratih dari atas sampai bawah. Perawakannya tinggi langsing berkulit putih. Dia memakai stelan celana panjang dan blazer layaknya pakaian kantor pada umumnya.
Bu Ratih mencoba menetralkan keadaan hatinya yang masih bingung dengan wanita dihadapannya ini sebenarnya siapa. Bu Ratih mendekatinya dan mencoba menyapanya.
"Selamat pagi, maaf, Anda siapa dan ada perlu apa mencari suami saya." tanya Bu Ratih dengan sopan.
"Oh, jadi ini istrinya Gavin yang Dosen itu. Cantik juga, pantesan Gavin tergila-gila sama kamu.!" ucap wanita itu sinis.
Kemudian dia mengeliligi ruangan Gavin sambil melihat-lihat pajangan. Lalu dia duduk dikursi Gavin seraya memegang frame foto yang ada dimeja. Foto itu adalah foto Gavin yang lagi memeluk Bu Ratih dari belakang.
Lalu ditaruhnya kembali sambil dia berdiri dan sekarang duduk disofa. Bu Ratih masih berdiri ditempat semula dan hanya memandangi wanita itu layaknya dia yang jadi Bos disini.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Gavin datang dan masuk keruangannya. Dia terkejut karena mendapati ada wanita tak dikenal nyelonong masuk keruangannya.
Dia berdiri disamping istrinya.
"Maaf, Anda siapa, ya. Kok masuk keruangan saya?" tanya Gavin pelan karena dia masih menghormatinya.
Wanita itu langsung berdiri dan mendekati Gavin. Kemudian dia mengulurkan tangannya kearah Gavin dan menyebutkan namanya.
"Saya Tiara. Mungkin kamu masih belum kenal sama saya. Mama kamu sudah banyak cerita soal kamu. Saya putrinya Pak Handoko sahabat Mama kamu waktu kuliah." jelas wanita itu.
"Saya Gavin, dan ini Ratih istri saya." jawab Gavin sembari membalas uluran tangan Tiara.
Bu Ratih pun demikian, dia juga menyalami tangan Tiara sambil tersenyum. Gavin masih nggak habis fikir, kenapa Mamanya nggak pernah cerita kalau akan ada wanita ini ke kantornya.
"Maaf, Mama memang belum pernah cerita soal Anda kesini. Tapi, kalau boleh saya tahu, ada perlu apa ya?" tanya Gavin.
"Saya mau melamar kerja disini. Sebelumnya Papa saya sudah bicara dengan Tante Hesty, kalau mau melamar langsung kekantor. Nanti bisa nemui anaknya." jawab Tiara.
Gavin melirik kearah Bu Ratih. Mereka juga bingung kenapa bisa seperti ini.
"Oke, saya akan lihat CV Anda. Silahkan duduk disini." ucap Gavin seraya menunjukan kursi untuk ditempatinya.
Gavin kemudian duduk dikursinya, lalu wanita itu mengikuti perintah Gavin dan langsung ambil tempat duduknya.
"Sayang, kamu duduk aja disana. Jangan berdiri disitu, nanti kamu capek." ucap Gavin halus.
"Iya, sayang." jawab Bu Ratih sambil melangkah menuju sofa yang dari tadi didudukinya.
"Baiklah, sekarang saya akan periksa CV Anda dulu, ya?" ucap Gavin.
Wanita itu menyerahkan map besar yang berisi data-data untuk melengkapi persyaratan lamaran pekerjaannya. Gavin mengamati satu persatu. Setelah itu dia kembali menutupnya. Lalu Gavin menelpon seseorang.
"Gimana, Vin. Saya diterima kerja disini kan? Mamamu bilang saya pasti diterima." tanya Tiara.
"Tunggu sebentar, setelah ini Anda pasti tahu jawabannya." jawab Gavin santai.
Kemudian masuklah Pak Bima bagian HRD. Dia mendekati meja Gavin dan Gavin menyerahkan semua berkas itu kepadanya.
"Pak Bima, tolong, tangani dulu Nona ini. Soal penempatan kan Anda sudah tahu, divisi apa yang kurang." ucap Gavin.
"Baik, Pak Gavin.!" jawab Pak Bima.
"Lho, Vin. Kok saya malah disuruh ikut Bapak ini.?" tanya Tiara dengan wajah kurang suka.
"Mari Nona, ikut ke ruangan saya.!" ucap Pak Bima.
__ADS_1
----------------------------------
Bersambung......