
Bu Ratih kaget, kenapa tiba-tiba Gavin melarang Kasih membantu membagikan nasi kotak buat para karyawan. Ada apa sebenarnya dengan suaminya.
"Emang kenapa, sayang. Kok Kasih nggak boleh bantu.?" tanya Bu Ratih dengan mimik curiga.
"Oh, nggak apa-apa. Takutnya Kasih kan capek. Habis bantuin kamu bikin kue." jawab Gavin asal.
Nggak tahu kenapa akhir-akhir ini Gavin kok sikapnya manis sama Kasih. Apa dia sudah mulai nyaman dengan rencana perjodohannya dengan Kasih. Tapi, selama ini dia hanya memganggap Kasih sebagai adiknya sendiri. Gavin masih dibuat nggak ngerti dengan sikapnya sama Kasih.
"Oh ya sudah, terserah Kasih aja. Dia mau bantu silahkan." sahut Bu Ratih.
"Saya mau bantuin aja, Pak. Maaf, saya kangen sama teman-teman." jawab Kasih sambil meninggalkan ruangan itu.
"Tuh, kan sayang. Dia nya saja mau. Biarin lah dia bantuin, biar dia bertemu sama teman-temannya." ucap Bu Ratih.
"Ya udah terserah lah," jawabnya.
"Kamu kenapa sih, sayang. Sikapmu sama Kasih seperti itu. Dia kan jadih takut!" tanya Bu Ratih.
"Nggak apa-apa. Cuma tadi kan takutnya dia capek habis bantuin kamu." jawab Gavin.
"Oh iya, sayang. Aku punya hadiah buat kamu." ucap Bu Ratih.
"Woow.,! apa tuh?" tanya Gavin penasaran.
"Tunggu, ya. Tutup mata kamu bentar." ucap Bu Ratih.
"Iya, sayang." jawab Gavin sambil memejamkan matanya.
Bu Ratih mengeluarkan kotak kecil warna merah maroon dari dalam tasnya. Lalu dia membukanya dan diletakkan pas didepan wajah suaminya.
"Sekarang buka mata kamu." ucapnya lirih.
Gavin perlahan membuka matanya. Dia mendapati tangan istrinya yang memegang sebuah kotak kecil warna maroon pas didepan wajahnya. Gavin langsung tersenyum dan mencium pipi istrinya.
"Woow, jam tangan. Aku suka banget, sayang. Memang aku butuh banget ini. Karena jam tanganku cuma dua, itu pun dibuat gantian, yang satunya batreinya habis belum sempat beli." jawab Gavin antusias.
"Iya, sayang. Aku tahu kalau kamu butuh satu lagi jam tangan. Biar bisa gantian pakainya. Cobain deh!" tukas Bu Ratih.
"Iya sayang" jawab Gavin seraya mengambil jam tangan itu lalu dicobanya.
Gavin tersenyum senang karena jam tangannya bagus banget, sesuai dengan kesehariannya sebagai bisnisman. Bu Ratih memang ahli dalam memilihkan aksesoris buat suaminya.
"Makasih sayang..," ucap Gavin sembari mengecup kening istrinya. Kemudian dia mendapati kertas yang ada didalam kotak tadi, lalu dia mengambilnya lalu membacanya.
"SELAMAT ULANG TAHUN MY BELOVED. SEMOGA PANJAMG UMUR, SEHAT SELALU, MURAH REJEKI, SUKSES KARIRNYA DAN SATU LAGI YANG PENTING, KAPAN NIKAHI KASIH? KARENA AKU JUGA PINGIN CEPAT PUNYA BABY MESKIPUN ITU TIDAK TERLAHIR DARI RAHIMKU."
Gavin membacanya dengan matanya berkaca-kaca. Dia tak menyangka kalau istrinya sampai menagih soal pernikahannya dengan Kasih. Ternyata dia juga menginginkan seorang bayi dari Gavin meskipun tidak lahir dari rahimnya. Jiwanya begitu besar, sampai-sampai megikhlaskan suaminya untuk menikahi wanita lain agar bisa suaminya mempunyai keturunan.
__ADS_1
"Sayaang..! aku nggak sanggup melakukannya. Karena aku nggak mau melakukan sesuatu yang nantinya akan membuat istriku sakit hati." ucap Gavin sambil menangis dan memeluk istrinya.
"Aku ikhlas, sayang. Aku sadar kalau aku sudah tidak bisa memenuhi hal yang satu itu. Jujur aku juga menginginkan anak dari keturuanmu, darah dagingmu. Jadi tolong, kabulkan permintaanku ini. Benar aku nggak apa-apa, kok." jawab Bu Ratih sambil melepaskan pelukan suaminya.
Mereka berdua menangis, Gavin mengusap pipi istrinya begitu pula Bu Ratih dia menghapus air mata yang membasahi pipi suaminya. Mereka berdua berhadapan kemudian tersenyum. Gavin kembali memeluk istrinya.
"Baiklah, sayang. Aku akan memenuhi permintaan kamu segera." jawab Gavin.
"Makasih sayang..," ucap Bu Ratih seraya mengecup pipi suaminya.
Adegan romantis yang penuh haru biru itu nggak berlangsung lama. Tak selang kama datanglah Kasih dan Pak Firman karena sudah selesai membagikan semua kotak nasi pada karyawan.
"Maaf, Bu Ratih. Semuanya sudah kebagian. Sekarang tinggal punya Pak Gavin dan Bu Ratih aja yang masih tersisa." ucap Kasih.
"Oke, makasih. Terus, punya kalian apa sudah dimakan?" tanya Bu Ratih.
"Belum, Bu. Masih saya taruh pantry." jawab Kasih.
"Lho, ngapain. Ambil gih! sekalian kita makan bareng-bareng disini. Pak Firman juga, makan disini aja." titah Bu Ratih.
Taka lama kemudian mereka datang sambil membawa nasi kota bagian mereka. Akhirnya mereka berempat makan siang bareng diruangan Gavin. Kini mereka lagi menikmati suasana kekeluargaan yang akrab sekali, tanpa ada perbedaan antara atasan dan bawahan. Gavin memang memegang amanah dari Papanya untuk tidak bersikap arogan pada semua karyawannya. Harus santai dan tidak mudah gegabah.
.
.
.
"Eh, anak Papa. Oh iya, selamat ulang tahun ya, sayang." ucap Pak Indra sambil memelu Gavin.
"Iya, Pa. Makasih. Maaf, kalau Gavin merayakannya bersama karyawan dikantor. Karena Gavin sendiri tidak tahu karena ini semua kejutan dari Ratih." jawab Gavin.
"Iya, Vin. Nggak apa-apa, kok. Papa ngerti, sekarang keluarga kita jadi sering kepisah-pisah gini. Mamamu repot membantu Kakakmu, jadi dia sering pulang kerumah Mahen. Papa aja sering bolak-balik pulang kerumah." ucap Pak Indra.
"Iya, Pa. Tadi pasa Gavin di kantor, Mama sempat video call sama Gavin untuk mengucapkan selamat ulang tahun." jawab Gavin.
"Iya, sayang. Nggak apa-apa, yang terpenting sekarang kita tetap sehat dan selalu dalam lindunganNYA." ucap Pak Indra.
"Pa, Gavin mau bicara sesuatu sama Papa." ucap Gavin dengan serius.
"Bicara apa, Vin.?" tanya Pak Indra.
"Soal pernikahan kedua aku. Gavin ingin segera merealisasikan nya, Pa!" tukas Gavin.
Pak Indra menatap anaknya dengan muka serius. Dia nggak menyangka kalau anaknya yang memulai bicara soal pernikahannya dengan Kasih.
"Baiklah kalau ini sudah menjadi keputusan kalian berdua. Papa hanya tinggal merestui saja." ucap Pak Indra.
__ADS_1
"Makasih Pa..," jawab Gavin sambil memeluk Papanya.
"Rencananya kapan kamu menikahnya?" tanya Pak Indra.
"Minggu depan, Pa. Tapi, Gavin nggak mau ada banyak orang yang tahu. Biar keluarga aja. Dan nggak ada pesta, bila perlu langsung di KUA." ucap Gavin.
"Baiklah. Papa setuju." jawab Pak Indra.
"Kapan kita kerumah Kasih membicarakan ini dengan keluarganya?" tanya Gavin.
"Terserah kamu. Sebisanya kamu." jawab Pak Indra.
"Baiklah, besok kita akan membicarakan dengan keluarganya. Mama gimana, Pa?" tanya Gavin.
"Mama itu urusan Papa. Pokoknya besok kita semua kerumah Kasih." jawab Pak Indra.
"Baiklah, Pa.!" jawab Gavin.
Kemudian mereka melanjutkan ngobrol-ngobrol lagi sampai malam banget. Akhirnya mereka menyudahi ngobrolnya dan masuk ke kamar masing-masing.
(***)
Hari ini Gavin rencananya ke rumah Kasih buat membahas soal pernikahannya dengan Kasih. Semalam dia sudah bicara sama Papanya dan istrinya. Rencananya nanti sore dia akan kesana.
.
.
.
Sore harinya sekitaran pukul lima sore, Gavin berangkat kerumah Kasih. Yang ikut adalah Pak Indra dan Bu Hesty, lalu Gavin dan Bu Ratih. Kasih sendiri sudah disuruh pulang dari tadi pagi untuk memberitahu soal kedatangan Gavin dan orang tuanya.
Mereka berempat hanya bertamu seperti biasa. Tidak ada seseraham ataupun bawa hantaran. Ini hanya pembicaraan biasa, karena ini memang sifatnya dadakan dan tidak perlu tereskpos.
Sampailah mereka dirumah Kasih. Mereka memarkirkan mobilnya diluar Gang, karena mobil itu nggak bisa masuk. Pak Indra dan Bu Hesty kaget kalau Kasih tinggal ditempat seperti ini. Perkampungan padat pendudut tapi, nggak kumuh. Rumah Kasih tergolong lebih besar dibanding dengan yang lainnya.
Ketika sampai, mereka disambut oleh Ibu Kasih dan Pak Firman serta Kasih. Lalu mereka pun berkumpul diruang tamu yang nggak begitu besar. Hanya ada kursi tamu yang kecil dan sederhana. Semuanya berkumpul dan Kasih memberikan minuman buat tamu-tamunya.
"Pak Firman dan Ibu. Saya langsung pada pokok permasalahan nya saja. Kedatangan kami semua kesini untuk membahas pernikahan Kasih dan putera kami. Kenapa anak saya yang sudah menikah, kok datang untuk meminta anak gadis orang untuk menjadi istrinya yang kedua. Saya rasa semua yang ada disini sudah mengetahui permasalahan yang sebenarnya. Jadi saya tidak perlu menjelaskan alasan anak saya untuk menikahi anak Ibu. Kami sudah sepakat kalau pernikahan itu akan diselenggarakan minggu depan." jelas Pak Indra.
"Baik, Pak. Saya sebagai perwakilan dari Ibunya Kasih selaku orang tua, saya memahami maksud kedatangan Pak Indra kesini. Sesuai dengan kesepakatan kita bertiga, kami juga menyetujui pernikahan ini. Kami menyetujui bukan karena apa-apa. Ini murni niat Kasih yang secara ihklas membantu dan membalas semua kebaikan yang telah Bu Ratih berikan kepada keluarga kami." jawab Pak Firman.
"Baiklah, Pak Firman. Berarti disini sudah jelas, kan. Untuk keperluan semuanya biar pihak kami yang urus." jelas Pak Indra.
Setelah semua pembicaraan selesai, kini mereka menikmati suguhan yang disediakan. Bu Ratih dan Gavin saling pandang. Setelah itu Gavin pun ikut seperti yang lainnya menikmati makanan seadanya. Meskipun ini kemauannya sendiri, Bu Ratih juga nggak bisa membohongi perasaannya kalau pada sisi hatinya yang lain ada perasaan cemburu karena suaminya akan menikah lagi. Matanya berkaca-berkaca. Tapi, perasaan itu cepat-cepat ditepisnya, karena dia nggak mau ini akan menjadi sebuah masalah.
"Sayang, kamu kenapa menangis?"
__ADS_1
-------------------------------
Bersambung....