BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 137 (Acara Kampus 2)


__ADS_3

Hari ini adalah pas acara penggalangan dana di Kampus Bu Ratih. Untuk proses belajar mengajar hari ini sementara diliburkan. Para Mahasiswa dan Mahasiswi sibuk membantu panitia untuk menyiapkan semuanya.


Dari urusan panggung dan dekorasi semuanya ditata secara rapi. Karena rencananya ada acara live music juga. Persembahan dari Mahasiswa dan ada bintang tamu nya juga.


Bu Ratih berangkat pagi-pagi sekali karena dirinya sebagai penanggung jawab konsumsi harus mengecek apakah semuanya sudah siap apa belum. Karena konsumsinya bukan hanya untuk pas acara inti saja. Tapi, juga buat konsumsi para pekerja bagian dekorasi dan panggung.


Saat Bu Ratih duduk dikursi sendirian tiba-tiba Pak Reyhan mendekati Bu Rtaih dan ikut duduk disebelah Bu Ratih.


"Kok Bu Ratih sendirian?" tanya Pak Reyhan.


"Eh iya, Pak. Bu Silvi tadi sudah bilang kalau datang agak telat karena ada urusan bentar. Pak Reyhan sendiri kok tumben sudah disini?" ucap Bu Ratih.


"Iya, nih. Saya kebagian sebagai penanggung jawab Sie acara dan peralatan. Jadi saya mengawasi dan mengecek ini semua, Bu." jawab Pak Reyhan.


"Pak Reyhan bertugas sama siapa, ya. Saya lupa kemarin pas rapat." tanya Bu Ratih.


"Saya bertugas sama Pak Rustam, Bu." jawab Pak Reyhan.


"Oh iya-iya, Pak." ucap Bu Ratih sambil manggut-manggut.


Tak lama kemudian Bu Silvi datang dan ikut membaur sama Bu Ratih dan Pak Reyhan. Mereka semua bekerja sesuai dengan bagiannya masing-masing. Tak terasa hari semakin siang, para pekerja dan penata panggung masih sibuk dengan pekerjaannya.


Sekitar pukul setengah dua belas siang semua pekerja berhenti dulu karena untuk istirahat makan siang. Para panitia semuanya berhsnti beraktivitas untuk makan siang.


Bu Ratih dan Bu Silvi membantu Mahasiswi yang bertugas sebagai Sie konsumsi untuk membagikan nasi kotak yang sudah disediakan. Kebetulan makanan itu dipesan di RENGAS CATHERING punyanya Kakak iparnya yang direkomendasikan oleh Bu Ratih.


"Bu Ratih, masakannya enak lho. Recomended banget." ucap Bu Silvi ditengah-tengah makan siang bareng.


"Iya, Bu. Kakak ipar saya memang dulu hobby nya masak. Lalu pernah buka warung nasi padang. Setelah menikah sama Kakak saya, dia dimodalin sama suaminya buat buka usaha katering ini. Awalnya dirumah saja, melayani lewat online. Lama-lama usahanya berkembang, akhirnya dia buka kantor dan sekalian tempat produksi sendiri. Berawal dari menyewa dulu gedungnya, akhirnya sekarang punya gedung sendiri dan karyawannya awalnya sepuluh sekarang sekitaran tiga puluhan. Soalnya melayani dari jam lima pagi sampai jam sepuluh malam. Jadi karyawannya kerjanya harus shift." jelas Bu Ratih.


"Woow hebat juga, ya Bu. Memang masakannya enak banget." puji Bu Silvi.

__ADS_1


"Syukurlah Bu, memang kalau kita berusaha dengan tekun pasti hasilnya juga tidak akan mengecewakan. Yang penting jangan berhenti berdoa." jawab Bu Ratih.


Sekitaran pukul dua siang semua selesai, dan sebagian ada yang pulang dulu untuk bersiap-siap. Karena acaranya sendiri akan dimulai pukul enam sore sampai selesai. Begitu juga dengan Bu Ratih dan Bu Silvi, mereka pulang dulu untuk bersiap-siap dulu.


.


.


.


Sore harinya sekitar pukul setengah lima sore, Bu Ratih sudah bersiap hendak kembali ke Kampus lagi. Raka sengaja dititipkan sama Ibu mertuanya karena Babysitternya tidak bisa full sampai malam karena ada urusan.


Gavin sengaja pulang cepat karena dia mau antar jemput istrinya ke Kampus. Kini dia sudah siap berangkat mengantarkan Bu Ratih ke Kampus. Bu Ratih memakai baju batik lengan pendek dipadu dengan rok yang panjangnya lima senti dibawah lutut serta sepatu hitam.


Kali ini Bu Ratih tampak anggun serta aura keibuannya terpancar.


Gavin menatap istrinya yang kali ini tampak cantik dan beda dari biasanya. Bu Ratih melangkah keluar menuju mobil Gavin yang sudah menunggunya. Mereka saling pandang dan melempar senyum. Kemudian Gavin membukakan pintu mobil buat istrinya.


"Silahkan masuk Bu Dosen Cantik.,!" seru Gavin sambil membungkukan badannya layaknya seorang sopir kepada majikannya.


"Gimana Bu Dosen, apa bisa berangkat sekarang?" tanya Gavin menggoda lagi.


"Kamu ini apaan sih, sayang. Iya ayo berangkat." jawab Bu Ratih sambil mencubit pinggang Gavin.


.


.


.


Akhirnya sampai juga di Kampus. Bu Ratih turun lalu pamitan seperti biasa. Kemudian dia menuju ke teman-teman Dosennya. Ternyata semua teman-temannya sudah berkumpul ditempat yang sudah disiapkan.

__ADS_1


Akhirnya acara pun segera dimulai, para undangan sudah kumpul semuanya. Dari perwakilan perusahaan-perusahaan sampai dengan Orang tua Mahasiswa juga sebagian sudah ada yang datang.


Terlihat Pak Indra wijaya dan Gavindra datang dan masuk menuju tempat yang sudah disediakan. Kemudian beberapa perwakilan dari perusahaan lain.


"Bu Ratih, itu kan Gavin suami Bu Ratih," tanya Bu Silvi ketika melihat Gavin dan Pak Indra datang.


"Oh iya, Bu. Mereka adalah suami saya dan Papa mertua saya." jawab Bu Ratih.


"Saya dulu nggak nyangka lho Bu, kalau Bu Ratih bisa menikah dengan Mahasiswa nya sendiri. Cinta memang nggak pernah mandang usia, karena cinta itu murni adanya. Tapi, sejak kehadiran Bu Ratih diawal-awal ngajar saat itu, Gavin jadi berubah bertambah Baik. Padahal biasanya dia suka datang terlambat dan nggak pernah disiplin. Bu Ratih berhasil membuat Gavindra menjadi pribadi yang lebih baik lagi." jelas Bu Silvi.


"Iya, Bu. Saya juga nggak menyangka kalau bakal berjodoh dengan Gavindra. Karena saat itu saya juga dijodohkan sama keluarga saya." jawab Bu Ratih.


"Tapi, akhirnya kalian hidup bahagia, kan?" ucap Bu Silvi sambil memegang bahu Bu Ratih.


"Bu Silvi nggak tahu apa yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga saya, Bu. Dan Bu Silvi juga nggak tahu kalau suamiku menikah lagi lantaran suatu dan lain hal." ucap Bu Ratih dalam hati.


Acara demi acara telah berlangsung. Kini saatnya pada acara penggalangan dana nya. Perwakilan dari panitia naik keatas panggung untuk memulainya. Semua yang hadir disini kebanyakan orang-orang berdoku tebal.


Terlihat Pak Indra naik keatas panggung dan menyerahkan sebuah amplop kepada panitia untuk menyumbangkan sebagian dari hasil jerih payahnya selama ini pada anak-anak penyandang difabel. Para undangan semuanya bertepuk tangan secara meriah ketika para-para sang Dermawan naik keatas panggung untuk membantu.


Kini Gavin ingin naik keatas panggung untuk memberikan sumbangan. Gavin memang hadir atas undangan perwakilan keluarga dari Bu Ratih sendiri, sedangkan Pak Indra hadir atas undangan untuk perwakilan perusahaan.


"Selamat malam semuanya. Perkenalkan saya Gavindra putra wijaya, saya datang ditengah-tengah acara ini atas undangan untuk keluarga dari Bu Ratih selaku Dosen Akuntansi di Kampus ini. Beliau adalah istri saya. Saya adalah Alumni Kampus ini juga, dan sekarang saya ingin sedikit berbagi untuk mereka yang membutuhkan, ini murni hasil kerja keras selama saya selama bekerja di perusahaan Wijaya's Group. Saya harap ini akan bermanfaat bagi yang membutuhkan. Kurang lebihnya saya ucapkan banyak terima kasih." Jelas Gavindra dari atas panggung. Semua yang hadir bersorak ramai.


Yang hadir ada yang berbisik-bisik, "Keren banget, ganteng dermawan lagi." ucap salah satu yang hadir.


Bu Ratih yang menyaksikan suaminya diatas panggung jadi terharu campur gembira. Gavin memang suami yang baik. Dia bangga pada suami yang meski usianya lebih muda empat tahun dibanding dirinya.


Sekarang tibalah diakhir acara yaitu hiburan live music. Para undangan dipersilahkan menikmati makanan yang sudah dibagikan oleh panitia. Banyak yang hadir diacara tersebut dari berbagai kalangan.


Bu Ratih melangkah hendak mencari suaminya dan Papa mertuanya, tapi tiba-tiba dia melihat seseorang yang wajahnya nggak asing, samar-samar karena memang suasananya banyak orang.

__ADS_1


---------------------------------


Bersambung....


__ADS_2