
..................................
Seno kaget, itu kan Pak Ferry maulana rekan bisnisnya Pak Indra. Bathin Seno.
Pak Ferry melangkah mendekati Seno dan Sasha.
"Kamu, siapa? kenapa bisa sampai sama putri, saya?" tanya Pak Ferry.
"Saya, Seno. Saya baru kenal dengan putri Bapak, ini tadi disaat kami sedang di cafe." jawab Seno.
"Sebentar.., Seno? Apa nama kamu Arseno pramudya salim. Pemilik Salim Group.?" tanya Pak Ferry.
"Iya, Pak. Dan saya juga tahu siapa Bapak.? Anda kan rekan bisnisnya Pak Indra?" jawab Seno.
"Iya, betul! Oh ya., ayo masuk sini dulu. Sasha ajak teman kamu masuk kedalam." ucap Pak Ferry.
Sasha mengajak Seno masuk. Mereka akhirnya duduk di ruang tamu.
"Jadi, kamu kenal dengan Papaku.?" tanya Sasha.
"Kalau kenal akrab sih, enggak. Cuma karena kami sama-sama pengusaha, mungkin kenal sebatas didunia bisnis.
"Iya, Sa. Papa juga mengenalnya hanya sebatas sesama pebisnis. Tidak lebih." jawab Pak Ferry.
"Pak Ferry masih menjalani bisnis dengan Pak Indra?" tanya Seno.
"Emm.. iya, masih ada." jawab Pak Ferry gugup.
Sasha langsung pasang muka cemberut. Sasha agak kurang suka kalau Papanya ada urusan dengan Pak Indra. Dia nggak mau kalau Papanya memanfaatkan Pak Indra terus menerus.
Akhirnya Sasha pamit untuk kedalam. Kini tinggal Seno dan Pak Ferry berdua saja.
"Jadi, kamu tadi ketemu Sasha di cafe?" tanya Pak Ferry.
"Iya, Pak. Sebenarnya tadi saya nggak sengaja, lihat Sasha menangis di cafe. Lalu saya coba mendekati dan mencoba menenangkannya." jelas Seno.
"Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih karena telah menemani anak saya." ucap Pak Ferry.
__ADS_1
"Iya, sama-sama, Pak." jawab Seno.
"Kami, memang lagi selisih faham. Sasha kecewa karena saya telah membohonginya. Dia suka dengan anaknya Pak Indra si Gavindra. Saya cerita kalau Gavin sudah punya calon. Dia langsung bilang mundur. Tapi, saya sebagai Ayah yang ingin melihat putrinya senang, saya dukung dia untuk mendapatkan si Gavindra dan dengan segala cara, pasti saya lakukan agar keinginannya mendapatkan Gavin bisa terpenuhi. Ketika dia tahu kalau saya menggunakan cara yang curang, dia langsung marah dan bertengkar dengan saya." jelas Pak Ferry.
Seno langsung terperanjat mendengar penuturan yang baru saja keluar dari mulut Pak Ferry. Ternyata Pak Ferry adalah punya niat buruk terhadap hubungan Gavindra dan Bu Ratih.
Seno bingung, antara senang atau marah. Satu sisi dia senang kalau memang Pak Ferry punya niatan menjodohkan Putrinya dengan Gavin. Berarti dia masih ada kesempatan buat mendapatkan Bu Ratih kembali. Satu sisi dia marah, karena dia sudah berjanji sama Bu Ratih akan mendukung dan melepaskan Bu Ratih buat Gavin.
"Nak Seno, Nak? " panggil Pak Ferry.
"Eh..Maaf, Pak. Iya Pak!" jawab Seno.
"Kamu, tidak apa-apa, kan?" ucap Pak Ferry.
"Iya, nggak apa-apa." jawab Seno.
"Tapi, sebentar., saya baru ingat. Perusahaan Salim Group kan bekerja sama dengan perusahaan siapa, ya. Saya lupa." ucap Pak Ferry sedikit mengingat.
"Dengan PT. Cipta karya, Pak. Bagas nama pimpinannya" jawab Seno.
Seno diam saja ketika Pak Ferry bicara seperti itu. Belum tahu, kalau dia hampir saja menikah dengan Adiknya Bagas.
"Iya, Pak. Dia teman saya." jawab Seno.
"Dunia bisnis memang sempit, ya? ternyata tetap orang-orang itu saja." ucap Pak Ferry.
"Tapi, sekarang saya sudah tidak lagi berhubungan dengan perusahaan Bagas." ucap Seno.
"Lho, kenapa?" tanya Pak Ferry.
"Kami ada sedikit perbedaan pendapat." jawab Seno bohong.
"Oh gitu.," jawab Pak Ferry.
Seno melirik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul sebelas. Dia langsung minta ijin pulang.
"Pak, saya mohon pamit, dulu. Sudah malam." ucap Seno.
__ADS_1
"Oh, iya. Sebentar saya panggilkan Sasha dulu." ucap Pak Ferry.
Kemudian Pak Ferry melangkah masuk memanggil Sasha. Tak lama setelah itu dia kembali diikuti Sasha.
"Sa, aku pamit pulang dulu. Kapan-kapan aku main, lagi." ucap Seno.
"Iya, Sen. Makasih..." jawab Sasha.
Setelah itu Seno meninggalkan rumah Sasha. Dilajukan mobilnya kembali menyusuri jalanan Ibukota. Seno kali ini dibuat bimbang soal apa yang diceritakan Pak Ferry.
Memang dia belum tahu kalau kalau Seno pernah ada hubungan dengan Bu Ratih. Secara nasib memang posisi Seno dan Sasha adalah sama. Sama-sama kecewa dan gagal mendapatkan seseorang yang diinginkannya.
Kadang hati Seno masih sakit banget, karena dia merasa sakit hati dan kecewa. Apalagi dia sekarang baru menyadari kalau sebenernya dia sayang sama Bu Ratih.
Perasaan puas pernah melintas dibenak Seno, karena telah mendapatkan kesucian Bu Ratih. Tapi, disisi lain dia menyesal karena perasaan sayang itu tumbuh setelah kejadian terkutuk itu.
Seandainya perasaan sayang terhadap Bu Ratih itu tumbuh sebelum itu, pasti dia bisa mendapatkan hatinya Bu Ratih. Dia memang bodoh, dulu dia mau menerima perjodohan itu lantaran ambisi untuk menguasai saham perusahaan Bagas.
"Bodoh., bodoh! sekarang kamu menyesal Seno. Kamu sudah gagal mendapatkan Bu Ratih" gumamnya.
Seno memukul-mukul setir mobil itu, dia jadi histeris sendiri dalam mobilnya.
Perasaan Seno kembali kalut, dalam sisi hatinya yang lain, dia teringat ucapan Pak Ferry yang berniat main curang untuk mendapatkan Gavindra buat Putrinya.
Apa ini kesempatan dia untuk memulai kembali mendapatkan Bu Ratih kembali. Dia bisa mengajak Pak Ferry untuk kerjasama dalam hal ini.
Suara-suara itu terus mengiang-ngiang ditelinga Seno. Kali ini Seno bener-bener dibuat bingung. Keringat mengucur di seluruh muka Seno, dia menjadi sedikit kalap.
Akhirnya dia tidak kuat lagi dengan pengaruh suara-suara nggak jelas yang terus menerus merasuki pikirannya.
"Aaarrrggghh..!!"
"RATIH..,!!"
"AKU AKAN MENDAPATKANMU KEMBALI..!!"
Next...............(47).
__ADS_1