BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON TIGA Part : 154 (Senang)


__ADS_3

Akhirnya mereka kembali ke ruangan lagi karena masih ada mata kuliah satu lagi. Bu Ratih kemudian berkenalan dengan Mahasiswa yang lain. Akhirnya ada juga satu kenalan yang sesama perempuan.


.


.


.


Ditempat yang berbeda, kini Gavin lagi mempelajari kerjaan yang sekarang dia geluti. Dia dibantu Pak Fajar untuk mengenal bagaimana kinerja dalam bidang perhotelan secara langsung. Karena selama ini Gavin cenderung ke bisnis propertynya.


Seperti halnya siang hari ini, Gavin sengaja ngajak makan siang Pak Fajar guna mendiskusikan gimana cara mengembangkan Hotel diwaktu yang akan datang.


"Pak Fajar, untuk masalah mengelolah Hotel ini, saya mohon dibantu karena memang saya harus belajar mempelajari menejemen Hotel ini." ucap Gavin disela-sela makan siangnya dengan Pak Fajar.


"Tentu, Pak. Dengan senang hati saya akan membantu Pak Gavin. Mari kita majukan dan kembangkan Hotel ini bersama-sama." jawab Pak Fajar.


Gavin berbicara panjang lebar dengan Pak Fajar soal Hotel. Selama ini Hotel yang dikelolah Pak Fajar selalu menunjukan progres yang bagus. Gavin sempat takjub dengan perkembangan omset yang diperoleh Hotel ini.


Sejak pertama dia mempelajari laporan keuangan yang diberikan Pak Fajar kemarin, dia sudah bisa menduga bahwa Hotel ini punya prospek yang bagus. Dia semakin senang dan nyaman terjun di industri perhotelan ini.


Gavin akan membuat terobosan baru buat memajukan Hotelnya dengan bekerja sama dengan beberapa perusahaan tour and travel. Kebetulan dia juga nggak sedikit kenalan dengan perusahaan tersebut.


"Baiklah, Pak Fajar. Satu bulan kedepan kita akan mencoba beberapa program yang saya buat." ucap Gavin.


"Siap, Pak.!"


"Saya mau keruangan dulu, kalau Pak Fajar masih mau melanjutkan istirahat silahkan, nggak apa-apa." ucap Gavin.


"Iya, Pak. Silahkan." jawab Pak Fajar.


Gavin melangkah meninggalkan meja dimana dia tadi habis makan siang dengan Pak Fajar. Dia berjalan menyusuri koridor dan menuju lobby Hotel. Dia mengurungkan niatnya untuk kembali ke ruangannya, karena dia mau mengecek yang lainnya.


Gavin menuju kamar-kamar yang menurut dia akan direnovasi dijadikannya sebuah kamar yang punya nilai jual tinggi. Dia akan membuat semacam rumah yang lengkap dengan ruang tamu dan sebagainya. Konsepnya dibuat mirip sebuah paviliun namun lebih mewah.


Tujuannya untuk menyediakan tamu yang memang menginap satu keluarga, kesannya lebih privat. Kemarin saat dia berkeliling kepenjuru Hotel, masih ada lahan disamping Hotel disisi kiri yang masih kosong.


Dibenaknya dia akan membuat apa yang sudah direncanakan. Gavin optimis kalau Hotelnya akan semakin berkembang dan sukses. Ketika hendak membalikan badannya, Gavin tiba-tiba menabrak seorang perempuan dengan pakaian yang sangat sexy.

__ADS_1


Gavin matanya terbelalak ketika melihat perempuan dengan penampilannya kayak gini. Perempuan itu juga terkesima dengan Gavin, secara meskipun dia sudah nggak muda lagi, tapi pesona Gavin masih melekat pada dirinya.


"Maaf, Nona. Saya nggak sengaja." ucap Gavin dengan telapak tangannya ditakupkan.


Perempuan itu tersenyum sambil memperhatikan Gavin dari atas sampai akhir. Kemudian perempuan itu bersendekap dengan meletakan lengannya di dadanya.


"Okey, nggak apa-apa. Lain kali kalau jalan hati-hati. Tidak tahu apa, ada perempuan cantik gini.!" jawabnya ketus.


Gavin sontak kaget dengan apa yang barusan dia ucapkan. Penampilannya mirip artis papan atas. Berhubung Gavin disini adalah tuan rumah, jadi dia harus bersabar untuk tidak kebawa emosi lantaran sikapnya harus lemah lembut.


"Iya, Nona. Sekali lagi saya minta maaf." ucap Gavin sekali lagi.


"Baiklah, sebagai permintaan maaf Anda, saya mau kita nanti malam dinner di restoran ini. Gimana, setuju?" tukas Perempuan itu.


Gavin tidak langsung menjawab karena dia bingung mau menjawab apa. Dia nggak berani memutuskan sesuatu dalam keadaan emosi. Tak lama kemudian Pak Fajar datang karena dia ada yang kasih info kalau Gavin lagi bersitegang sama salah tamu yang menjadi langganan Hotel ini.


"Oh, Ada Bu Cathrine. Maaf, Bu. Ini Pak Gavin, owner yang baru di Hotel ini!" tukas Pak Fajar.


Seketika perempuan itu yang dipanggil Cathrine oleh Pak Fajar langsung beringsut malu. Dia ternyata berhadapan pemilik langsung Hotel ini. Seketika Cathrine mengulas senyum lalu bicaranya lebih lembut dari sebelumnya.


"Oh, maaf Pak Gavin. Saya juga nggak tahu kalau Anda sebenarnya pemilik Hotel ini." ucap Cathrine.


Kemudian Cathrine memberikan sebuah kartu nama kepada Gavin. Nggak tahu maksudnya apa tapi demi menghormati tamu Hotel, apalag itu tamu special. Gavin menerima saja kartu nama yang diberikan perempuan itu.


Kemudian perempuan itu meninggalkan Gavin dan Pak Fajar. Setelah tamu itu menghilang, Gavin mengajak ngobrol Pak Fajar disebuah kursi dekat lobby.


"Pak Fajar, coba jelaskan siapa perempuan tadi.?" tanya Gavin.


"Oh itu Bu Catrhine, Pak. Dia dulu dekat sama Pak Robby sebelum dia memutuskan untuk menjual separuh saham kepada Pak Indra. Jadi kalau Pak Robby ada pertemuan ataupun undangan ditempat lain, pasti mengajak Bu Catrhine." jelas Pak Fajar.


"Oh gitu. Pantesan lagaknya seperti yang punya Hotel ini saja. Jadi dia teman dekatnya Pak Robby?" tanya Gavin.


"Iya, Pak Gavin. Dia juga seorang pengusaha butik ternama di Jogja. Makanya dia sering menjadi tamu langganan Hotel ini. Jadi kalau Bu Cathrine mengikuti event atau pagelaran busana di Hotel ini, dia selalu menginap disini, Pak." jelas Pak Fajar.


"Oh jadi gitu, iya-iya.!" jawab Gavin manggut-manggut.


"Tapi, hati-hati Pak. Dia terkenal suka genit sama laki-laki berduit, hehehe." sahut Pak Fajar terkekeh.

__ADS_1


"Pak Fajar bisa aja. Saya kan nggak berduit, ini saja Hotel milik Papa saya." jawab Gavin merendah.


"Tapi, Pak Gavin kan keren." seloroh Pak Fajar sambil tertawa ngakak.


"Iya-iya, Makasih saya sudah diperingatkan. Saya akan ingat omongan Pak Fajar." jawab Gavin.


.


.


.


Sore harinya, ketika jam empat sore, Gavin masih berkutat dengan lapotopnya diruangannya. Dia hendak pulang, tapi kerjaan masih banyak. Dia menyiapkan konsep yang akan dibahas saat meeting bulanan besok.


Dia akan mengkoordinasikan ke seluruh jajaran staff terkait untuk mendiskusikan rencana yang Gavin usulkan untuk membuat Hotel menjadi maju dan berkembang.


Kriing...kring...kring...


Gavin mengangkat telpon dimejanya.


"*Iya, ada apa, ya?"


"Pak Gavin, ini saya Fajar. Nanti jam enam sore ada tamu Hotel yang kepingin ketemu langsung sama pemilik Hotel ini."


"Ada apa, ya Pak. Kok dia pingin ketemu saya langsung?"


"Dia mau ada mengadakan event, katanya dari perusahaan Garment terkenal asal Jakarta, yang kebetulan perusahaannya mau ada acara Gathering di Jogja, sekalian bikin event."


"Baiklah kalau begitu, nanati saya usahakan bisa menemuinya."


"Makasih, Pak*.!"


Gavin kembali menutup telponnya. Dia masih bingung siapa lagi tamu itu. Dia banyak menghadapi orang karena memang perusahaan yang digelutinya sekarang perusahaan beda dengan yang dia geluti dulu.


Gavin mempercepat pekerjaannya karena nanti sore jam enam akan bertemu dengan klien.


----------------------------------

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2