BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON EMPAT Part : 238 (Konsekuensi)


__ADS_3

Bara dan Dipta langsung melepaskan cengkeraman tangannya terhadap kedua mahasiswa tersebut. Bu Ratih juga heran kenapa mereka memfitnah Dipta demikian.


"Kalian serius,!"" seru Bu Ratih.


"Iya, Bu."


"Kenapa tadinya kalian menyebutkan nama Dipta. Apa ini juga bagian dari rencana Vera.?" kini Bara ikut berbicara.


"Iya, Mas."


"Kalian masih muda, masih semester awal juga, ngapain mau-maunya jadi cecunguknya si Vera. Sayang kan tenaga dan masa depan kalian." sahut Dipta.


"Ya sudah, sesuai janji kami setelah kamu ngaku maka permasalahan ini tidak akan kami perpanjang dan melibatkan kalian. Sekarang kalian boleh kembali dan ingat, jangan ulangi lagi. Kalau kalian melanggar janji kampus tidak akan segan-segan mengeluarkan kalian,!" jelas Bu Ratih.


"Baik, Bu. Makasih. Kami janji tidak akan mengulanginya lagi." jawab salah satu mahasiswa itu.


"Oke, silakan tinggalkan ruangan saya.!"


Keduanya keluar ruangan, saat diluar ruangan ternyata masih ada beberapa mahasiswa yang menunggunya. Bara dan Dipta memberitahu mereka untuk tidak melakukan tindakan karena masalahnya sudah selesai.


"Bara dan kamu Dipta, sekarang saya perlu bicara sama kalian berdua.!" ucap Bu Ratih.


Keduanya lalu kembali ke ruangan dan duduk di hadapan Bu Ratih. Dengan masih posisi duduk Bu Ratih memandangi keduanya satu persatu.


"Baiklah, saya hanya ingin kalian menjelaskan kenapa ada insiden seperti yang dialami Bara, dan ada hubungan apa kok sampai Vera serta Dipta terbawa-bawa." tanya Bu Ratih.


"Maaf, Bu. Saya akan menjelaskan sedikit alasan kenapa Vera sampai melakukan ini. Mungkin ini juga ada hubungannya kejadian yang menimpa Cantika." Tapi, sebelumnya saya minta maaf karena mungkin saya juga ada andil kecil dalam hal ini. Tapi, saya jujur nggak tahu menahu soal kejadian yang menimpa Bara. Vera memang teman saya, dia suka sama Bara, dan dia nggak suka kalau Cantika dekat-dekat dengan Bara.


Saya kenal Cantika saat di perpustakaan dan ketemu lagi diluar ruang kelas. Pada saat itu saya kayak nggak terima kalau ada mahasiswa atau mahasiswi yang menyaingi saya sebagai asisten Dosen. Tapi, setelah ngobrol meskipun sebentar lama-lama dia asyik kalau diajak ngobrol. Vera mengira saya suka sama Cantika, padahal saya hanya salut dan kagum saja.

__ADS_1


Dia akhirnya mengajak kerjasama untuk membuat Cantika Malu, spontan saya menolak lalu saya dikatain ini itu kemudian saya nggak mau tahu, saya bilang itu terserah dia saja asalkan jangan sampai melukai Cantika. Setelah itu kejadian di toilet terjadi, dan mungkin Bara juga sudah mengetahuinya. Tapi, kalau soal penyerangan terhadap Bara saya tidak tahu menahu." jelas Dipta.


"Ya ampun, kok jadi ribet gini. Bara kenapa kamu nggak cerita sama saya soal kejadian yang menimpa Cantik di toilet." tanya Bu Ratih.


"Maaf Bu, Cantika sendiri yang nggak mau semua orang tahu. Yang penting dia benar dan tidak melakukan hal yang ditujukan kepadanya sudah cukup. Dia hanya ingin bisa menyelesaikan masalahnya sendiri." jawab Bara.


"Oke, Dipta. Saya bisa memaklumi apa yang kamu lakukan dan rasakan. Tapi, soal saingan dan menyaingi itu bukan jiwa seorang pejuang. Kamu kan kali ini menjadi pejuang untuk mencapai semua apa yang kamu impikan.


Menjadi sebagai asisten Dosen itu suatu prestasi yang luar biasa. Tidak semua orang bisa mendapatkan itu. Dan kamu termasuk yang beruntung karena bisa mendapatkan itu. Dan soal saingan, itu hal yang wajar.


Dalam hal apapun pasti ada persaingan yang penting kita bisa mengendalikannya. Soal masalah ini mungkin kamu dan Vera perlu dikasih teguran atau peringatan. Nanti saya akan bicarakan lebih lanjut dengan yang lainnya karena saya juga harus mempertimbangkannya." jelas Bu Ratih.


"Makasih Bu atas pengertiannya, saya janji tidak akan merasa tersaingi dan sombong karena merasa tidak ada yang menyaingi saya lagi." jawab Dipta.


"Baiklah saya maklumi kali ini, lain kali kamu harus bisa bersikap lebih dewasa lagi. Karena tidak ada yang merasa menyaingi dan mengungguli kamu. Kalian sama-sama panutan dan harus bisa kasih contoh pada teman-teman semua." jawab Bu Ratih.


"Baik Bu Ratih, makasih ilmunya dan pencerahannya. Kalau memang saya sudah tidak diperlukan disini, saya mohon ijin untuk kembali." ucap Dipta.


Setelah berpamitan kepada Bu Ratih dan Bara akhirnya Dipta meninggalkan ruangan Bu Ratih dan kini tinggalah Bu Ratih dan Bara berdua saja.


"Bara, tolong bilangin Cantika untuk tidak keras kepala, lain kali kalau ada masalah jangan dipendam sendiri. Kita sebagai keluarga fungsinya untuk membantu memberi solusi bukan sebagai pembela. Jika memang dia salah, saya harus objektif untuk menegurnya. Jika sebaliknya, maka saya wajib membantu mencari solusi." jelas Bu Ratih.


"Iya, Bu. Maaf jika saya masih belum bisa sepenuhnya menjaganya." jawab Bara.


"Iya nggak apa-apa. Baiklah kalau begitu kamu boleh kembali ke ruangan kamu." ucap Bu Ratih.


"Iya Bu, sekarang saya pemisi dulu." jawab Bara sambil mencium tangan Bu Ratih.


Bara meninggalkan ruangan Bu Ratih dan menuju kantin. Karena siang ini tadi dia berencana ngisi perut di kantin.

__ADS_1


.


.


.


Sore harinya ketika jam kuliah habis, semua mahasiswa berhamburan keluar kelasnya masing-masing. Cantika berjalan meyusuri koridor gedung C untuk menuju keluar ke halaman.


Dengan ringan langkah dia berjalan menuju pintu keluar kampus. Dia menunggu Bara untuk pulang bersama. Dia berdiri dibawah pohon dekat parkiran. Dengan wajah cemas dan sesekali melihat jam tangannya jelas menyiratkan sikap yang nggak tenang.


Matanya menjelajahi seluruh area parkiran dengan meneliti satu persatu dan berharap ada orang yang memang lagi dia tunggu. Setelah hampir sepuluh menit akhirnya yang ditunggu-tunggu muncul juga.


Bara berjalan dengan penuh percaya diri sambil menatap terus kearah gadis mungilnya ini. Lalu dia tersenyum ketika sudah di depan Cantika.


"Nunggu lama, ya.?"


Wajahnya cemberut.


"Maaf, tadi masih ada urusan bentar. Ntar sebagai ganti ruginya aku beliin es cream deh."


Wajahanya kini ganti langsung berderai. Bara suka tawa itu, suka binar matanya, dia juga suka genggaman tangannya seolah mengatakan bahwa dia membutuhkannya. Kemanjaan yang membuat Bara merasa benar-benar dianggap ada.


Bara menyukai tingkahnya, semua yang Cantika punya, meski kehadirannya kadang membuatnya teringat akan adik kesayangannya yang sudah meninggal. Kehadiran Cantika sedikit mengobati rindu yang memuncak pada adik kesayangannya itu.


Sampai pada akhirnya Bara tersadar bahwa hubungannya dengan Cantika tidak bisa seperti kakak sama adik, lantaran lambat laun Bara mulai tumbuh rasa yang lebih dari sekedar sayang kakak kepada adiknya.


Dipandanginya gadis mungilnya ini dengan tatapan yang penuh kelembutan, kehangatan serta penuh kasih sayang. Dia berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga Cantika karena bagaimanapun juga dia sayang sama Cantika.


------------------------------

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2