
Dito dan Kasih terkejut saat Rahman datang. Mereka hanya melongo ketika Rahman bertanya siapa Raka. Kemudian Rahman duduk disebelah Kasih lalu mencoba bicara pelan-pelan.
"Sayang, siapa Raka?" tanya Rahman sambil memegang tangan Kasih.
Kasih menoleh kearah suaminya lalu membalas pegangan tangan Rahman.
"Mas, mungkin saat inilah waktunya aku mengatakan sesuatu sama kamu. Entah reaksi setelah ini aku pasrahkan sama kamu." ucap Kasih.
"Sudahlah, katakan apa yang memang aku harus ketahui." ucap Rahman.
"Mas, sebenarnya aku punya anak satu lagi, Kakaknya Gazi, namanya Raka. Dia ikut sama Ayah kandungnya. Memang dulu waktu kamu menikahiku status aku janda dengan satu anak. Karena apa, karena anak itu memang sudah menjadi hak milik mantan suamiku dan istrinya." jawab Kasih.
"Kok bisa seperti itu.?" tanya Rahman penasaran.
Kasih menceritakan dari awal sampai akhir sama Rahman. Dia juga bilang kalau hamil anak kedua ini sengaja dia tidak bilang sama mantan suaminya, kalau dia bilang, maka mantan suaminya tidak akan mau berpisah dengannya. Sedangkan Kasih ingin berpisah dan keluar dari hubungan rumah tangga yang sulit ini.
Rahman manggut-manggut perlahan memahami apa yang dialami istrinya. Mungkin dia berfikir istrinya tidak mengatakan sama mantan suaminya soal kehamilannya, karena dia juga menginginkan anak.
"Kenapa kamu tidak menceritakan hal ini dari awal, sayang?" ucap Rahman.
"Karena aku nggak mau mengungkit soal anak itu, karena aku sudah nggak berhak atas anak itu. Secara tertulis memang dia tidak ada buatku, tapi secara hubungan darah dan hatiku, dia memang anak kandungku." jawabnya.
"Apa kamu nggak bermaksud mengambil kembali anak itu?" ucapan Rahman sedikit nggak pas ditelinga.
Kenapa Rahman sampai punya pikiran kalau Kasih akan mengambil kembali anak itu. Secara dia sekarang kan sudah ada Gazi. Apa karena sampai sekarang dia sama Kasih belum dikaruniai seorang anak.
Kasih menggelengkan kepalanya, "Enggak, Mas. Mereka sudah punya kehidupan sendiri. Raka juga sudah bahagia dengan Papa dan Mamanya. Aku juga sudah punya Gazi, kenapa aku harus mengambil kembali Raka." jawab Kasih.
"Baiklah kalau memang itu sudah keputusan kamu. Tapi, suatu saat kamu jangan sampai menyesali karena keputusanmu ini." ucap Rahman sambil dia melangkah masuk ke kamarnya.
Kasih langsung saling pandang sama Dito. Mereka nggak mengerti apa maksud kalimat dari Rahman barusan. Dito kemudian mendekati Kakaknya dan mencoba menghiburnya.
"Sabar, Kak. Mungkin Mas Rahman sedikit kecewa karena Kak Kasih nggak terus terang soal Raka." ucap Dito.
"Iya, Dit. Kakak juga mengakui akan hal itu. Sekarang Kakak tinggal menunggu gimana reaksi Mas Rahman saja." jawab Kasih pasrah.
"Sabar, ya Kak. Aku akan selalu ada dibelakang Kakak." ucap Dito sambil memegang tangan Kasih.
__ADS_1
(***)
Keesokan harinya Gavin dan keluarga berangkat ke Jogja. Mereka mempersiapkan segala sesuatunya. Mereka berangkat pagi-pagi jam enam pagi. Semua keluarga ngumpul dirumah Pak Indra. Keluarga Bu Ratih semua juga kesitu.
Setelah itu Gavin dan keluarga berpamitan ke semua keluarga besar. Llu berangkatlah mereka ke Jogja dengan naik mobil. Gavin duduk didepan samping sopir karena perjalanan ini lumayan jauh, jadi dia harus bergantian dengan Pak Narto.
Nanti di Jogja Gavin dan Bu Ratih memilih tinggal di kota Sleman yang dekat dengan kampus dimana Bu Ratih akan melanjutkan kuliahnya. Kebetulan di Sleman ada saudara dari Ibunya Bu Ratih. .
.
.
Sekitar jam tiga sore, akhirnya rombongan Gavin dan keluarganya sampai ditempat tujuan. Mereka langsung menuju rumah yang sebelumnya sudah disiapin oleh keluarga yang ada di Jogja.
"Budhe Rahayu..,!" seru Bu Ratih setibanya didepan rumah yang nantinya ditempatinya.
"Oh Cah ayu wes teko, ayo mlebu-mlebu kene. (Oh Anak cantik sudah datang, ayo masuk-masuk sini)" jawab Budhe Rahayu dengan bahasa jawa.
Segera seorang laki-laki umurnya sekitaran tiga puluhan keluar dari dalam dan membantu Budhe Rahayu beres-beres.
"Santo, tolong bantuin Mbak Ratih dan dan Mas Gavin membawa barang-barangnya masuk kedalam." titah Budhe Rahayu sama Santo.
"Itu Santo, Tih. Tetangga Pakde mu didesa. Kasihan dia korban PHK, makanya Budhe suruh kesini buat nantinya yang bantu kalian mengurus rumah." jelas Budhe.
"Iya, Budhe. Ratih senang kalau ada yang membantu urus rumah." jawab Bu Ratih.
"Oh iya, Budhe. Pakde dimana?" sahut Gavin.
"Biasa Pakde mu masih di kios batiknya. Kemarin ada pesanan banyak dari kebupaten buat seragam." jawab Budhe.
"Syukurlah, oh iya Budhe, Ibu dan Mas Bagas nitip salam. Winda sekarang ikut suaminya di Surabaya. Jadi yang dirumah Mas Bagas dan istrinya yang temani Ibu." ucap Bu Ratih.
"Iya, sama-sama. Sini cucu Budhe mana. Anak genteng." ucap Budhe Rahayu.
Raka langsung mendekati dan dipeluknya anak itu. Rumah Bude Rahayu satu komplek dengan rumah yang nantinya akan ditempati Bu Ratih dan keluarganya. Cuma beda blok. Mungkin kalau naik motor butuh waktu lima menit.
"Budhe, maaf waktu itu yang menghubungi Budhe adalah anak buah Papa Indra yang disini. Ratih dan Gavin lagi sibuk dengan pekerjaan." ucap Bu Ratih.
__ADS_1
"Iya, sempat sebelumnya ada yang hubungi Pakde mu, nanya rumah yang disekitar rumah Budhe ada yang dijual apa nggak. Pakde mu ingat kalau dikomplek ini kebetulan ada. Lalu sekitar seminggu kemudian dia datang lagi dan bilang kalau dia suruhan Pak Indra dari Jakarta. Akhirnya Pakde mu pastikan ke orangnya, ternyata masih belum laku. Rumahnya ya ini, lumayan besar karena Budhe tahu lah selera mertua kamu seperti apa." jelas Budhe Rahayu.
Memang rumahnya lumayan besar ada dua lantai. Depan rumah ada pohon mangga jadi sedikit rimbun tapi nggak kelihatan gelap. Ada empat kamar, diatas dua kamar dan dibawah dua kamar. Gavin dan Bu Ratih mengelilingi rumah tersebut diantar Budhe Rahayu.
Semua perabotannya sudah lengkap dan sudah bersih. Kamar bawah terdiri dari kamar utama dan kamar tamu. Sedangkan diatas ada dua kamar yang ukurannya nggak begitu besar dibandingkan kamar dibawah.
Setiap kamar ada kamar mandinya sendiri-sendiri, ada juga kamar mandi dibelakang dekat dapur itu khusus buat umum. Ada ruangan kecil dekat dapur dan kamar mandi, mungkin ini memang disediakan kalau pemilik rumah akan menyewa pembantu.
"Ratih, Gavin. Inilah rumahnya, kalian pasti suka. Semua sudah Santo bersihin kemarin. Saat kamu menghubungi Budhe, langsung Pakde mu telpon Santo untuk membantu disini. Kalau nantinya kalian butuh pembantu, biar Budhe carikan juga. Tapi, kalau nggak juga nggak apa-apa. Biar Raka nanti bisa main ke Nenek, ya?" jelas Budhe Rahayu.
"Iya, Budhe. Gavin makasih banget lho karena kita tinggal masuk saja. Budhe sudah menyiapkan semuanya. Gavin sampai kaget karena rumahnya bersih dan asri karena banyak tanaman." ucap Gavin.
"Sudahlah, Nak. Budhe disini hanya berdua sama Pakde mu saja. Anak Budhe sekarang sibuk urusin kost-kostannya didekat kampus, jadi jarang pulang kerumah." jawab Budhe Rahayu.
"Budhe, apa nanti nggak ada cara ngaji gitu buat slametan rumah baru?" tanya Bu Ratih.
"Iya, harus itu, Tih. Tenang saja, semua sudah siap. Kalian sekarang makan dulu, ajak dua sopir kamu itu makan. Kalian pasti lapar." ucap Budhe Rahayu sambil mengajak ke meja makan yang sudah siap semua makanan.
"Pak, Narto. Ajak Pak Bari untuk makan. Nanti kalau pulang sudah saya pesankan tiket. Sekitar jam enam sore nanti berangkatnya." ucap Gavin.
"Iya, Mas Gavin." jawab Pak Narto.
Akhirnya mereka semua makan yang sudah disiapkan oleh Budhe Rahayu. Gavin dan Bu Ratih sangat senang banget karena suasana disini sangatlah asri dan sejuk. Beda dengan Jakarta yang lumayan bising. Sleman memang kota besar, tapi suasana hawa Jogja nya kental banget.
"Budhe, nanti malam tidur sini aja dulu, temani kita. Kan belum kenal tetangga sini." ucap Bu Ratih.
"Iya, Nak. Nanti Pakde mu juga pulang dari kios, pasti langsung kesini. Tenang saja. Kalian disini aman kok." sahut Budhe.
"Makasih, Budhe." ucap Gavin.
"Oh iya, nanti Budhe kenalin sama Pak RT yang kebetulan rumahnya pas depan rumah kamu. Kemarin Pakde mu juga sudah bilang kalau kamu hari ini datang. Nanti pas acara pengajian dia pasti datang." ucap Budhe.
"Iya, Budhe."
Ketika mereka lagi makan dan ngobrol-ngobrol, tiba-tiba Santo masuk memberitahu kalau diluar ada yang mencari Budhe Rahayu.
---------------------------------
__ADS_1
Bersambung.....