BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON EMPAT Part : 236 (Tak mau kehilangan)


__ADS_3

Cantika memandangi wajah Bara sedemikian kawatirnya. Dia nggak berhenti memandang dan bertanya keadaannya. Sedangkan Bara hanya tersenyum saja melihat gadis mungilnya panik dan mengkawatirkan dirinya.


"Kamu habis nangis, ya?" ucapan Bara membuat Cantika sedikit malu. Buru-buru dia mengusap wajahnya.


"Enggak kok, Kak.!"


"Sudah jangan nangis, Kakak sudah nggak apa-apa, kok!"


"Tadi Cantik takut banget Kak. Bingung nggak bisa bantu saat Kak Bara di serang orang itu." jawab Cantika sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kamu takut banget kehilangan Kakak, ya.?" ucap Bara.


Cantika menunduk malu-malu, dia nggak berani menatap wajah Bara. Sedangkan Bara hanya tersenyum melihat sikap Cantika yang malu-malu. Dia hanya bisa memandang wajah ayu Cantika yang selama ini menemani hari-harinya.


Tak lama kemudian masuklah dokter dan perawat diikuti Gavin Raka. Mereka masuk untuk melihat keadaan Bara.


"Mas Bara, sebenarnya hari ini langsung boleh pulang. Berhubung sekarang sudah menjelang malam sekalian besok pagi saja." ucap dokter.


"Jadi hari ini nggak boleh pulang, dok.?"


"Boleh, cuma kan sudah hampir malam, lagi pula infusnya belum habis. Sekalian habis saja." jawab dokter sembari melangkah pergi.


"Sudahlah Nak Bara, nggak apa-apa, kamu istirahat dulu sampai pulih. Biar Cantik yang kagain kamu malam ini." ucap Gavin.


Sontak wajah Cantik merona karena merasa diatas angin dan lampu hijau dari Papanya. Bara langsung menampakan wajah yang sumringah karena bagaimanapun juga dia bisa berduaan dengan Cantika.


"Iya, Kak. Biar Cantika yang jagain disini. Biar besok pagi langsung bisa pulang." sahut Cantika.


"Iya Bara. Nanti bila perlu Kak Raka juga bantuin jagain kamu biar Cantik nggak sendirian." ucap Raka.


"Oh iya, gitu juga nggak apa-apa. Nanti biar Papa pulang sendirian. Besok pagi pas pulang biar ada yang setirin mobil Bara." jawab Gavin.


"Nanti malah ngerepotin Kak Raka saja, Om." jawab Bara.


"Sudah nggak akan ada yang direpotin kok." ucap Gavin.


"Ya sudah kalau memang tidak merepotkan. Makasih atas bantuannya." jawab Bara.


"Ya sudah, Nak Bara. Om pulang dulu ya. Cepat sembuh.!"


"Makasih, Om."


"Sama-sama, Cantik dan Raka. Kalau ada apa-apa langsung telpon rumah, ya?" tukas Gavin.


"Iya, Pa.!"

__ADS_1


Akhirnya Gavin meninggalkan ruangan itu. Sedangkan kini Bara ditemani Cantika dan Raka. Bara merasa senang dan beruntung sekali bisa kenal Cantika dan keluarganya. Mereka begitu care dan menganggap dia sebagai keluarganya sendiri.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dua hari setelah kejadian malam penyerangan yang menimpa dirinya, kini Bara sudah masuk kuliah seperti biasa. Hari ini dia berangkat kuliah bersama Cantika seperti biasa. Berhubung luka di pelipisnya belum kering, jadi dia ke kampus dengan masih di perban.


Mereka berdua berjalan dengan langkah yang penuh percaya diri. Banyak yang memperhatikan karena kepala Bara kenapa diperban. Malah ada yang terang-terangan bilang simpati dan ikut prihatin karena insiden yang menimpanya.


"Bar, aku ikut prihatin ya soal kejadian penyerangan terhadap kamu.!" ucap salah satu mahasiswa teman Bara.


"Iya, makasih. Sudah nggak apa-apa kok."


"Bilang sama aku siapa yang melakukan ini, biar kita balas." ucapnya.


"Hehe, sudahlah nggak usah. Aku sudah nggak apa-apa, kok. Makasih ya kalian sudah peduli sama aku.!"


"Ya sudah kalau begitu. Kita masuk duluan ya." ucapnya lagi.


"Okey, silakan.!"


Saat Bara dan Cantika sampai diujung pertigaan mau ke kelas masing-masing. Mereka berhenti sejenak.


"Gadis mungilku, kita berpisah dulu ya. Nggak lama kok. Paling nanti siang juga sudah ketemu lagi pas istirahat. Hehe,!" uca Bara sambil mengacak rambutnya Cantika.


"Oke cantik.!" jawab Bara sembari mengerlingkan matanya.


Cantika melotot sambil tersenyum. Kemudian dia berjalan menuju kelasnya yang letaknya memang jauh dari kelas Bara. Kini Bara melangkah menuju kelasnya seperti biasa.


"Bar, kemarin aku ditanyain sama Dipta anak menejemen itu, yang asisten dosen statistik. Dia tanya alamat kamu.!" ucap Wendi teman Bara.


"Apa, Dipta. Aku kok nggak begitu kenal ya. Tapi, kok nanya alamatku.!"


"Aku juga nggak tahu, Bar. Dia nanya ya aku jawab. Tapi ada nggak sih yang datang ke rumah kamu.?"


"Nggak ada. Emang kenapa.?"


"Nggak apa-apa sih, cuma aku juga penasaran kenapa dia tanya alamat kamu."


"Oh iya, tunggu bentar. Dipta anak menejemen, ya.?" tanya Bara.


"Iya, kamu kenal dia.?"


"Enggak, cuma ini pasti ada hubungannya dengan Vera." ucap Bara pelan.


"Kenapa, Bar.?"

__ADS_1


"Oh nggak apa-apa. Nanti aja aku kasih tahu. Itu Bu Metta masuk."


.


.


.


Setelah kurang lebih dua jam, akhirnya jam kuliah Bu Metta akhirnya selesai juga. Bara membereskan bukunya hendak berdiri. Tapi, si Wendi keburu mencegat dia karena penasaran dengan obrolan yang sempat terputus.


"Bar, kamu tadi belum selesai ceritanya. Kan aku penasaran.!" seru Wendi.


"Oh yang tadi itu toh, Dipta kan anak menejemen. Si Vera itu satu kelas dengan Dipta. Vera itu mungkin dendam sama aku. Soal Dipta nanya alamatku mungkin biar nggak kentara kalau dia yang butuh. Berarti ini sudah ada titik terang soal penyerangan terhadapku." jelas Bara.


"Oh mungkin juga, Bar. Emang kamu diserang dimana.?"


"Didekat pertigaan yang mau ke Pom bensin depan rumah makan SEDULUR." jawab Bara.


"Aku tahu, Bar. Mungkin yang menyerang kamu itu aslinya sudah mengikuti kamu dari rumah, lalu dia cari tempat yang aman dan pas." jawab Wendi.


"Mungkin juga begitu. Tapi aku belum bisa menemukan bukti yang kuat." jawab Bara.


"Kita cari pelan-pelan buktinya. Aku mau bantu kamu untuk cari siapa dalang dari penyerangan ini" ucap Wendi.


"Kamu serius, Wen!"


"Iya, tenang saja. Nanti aku juga kerahkan teman-teman." jawab Wendi.


"Oke thanks ya, Wen.!"


"Sipp sama-sama.,!"


Ketika mereka lagi ngobrol, tiba-tiba diluar ada rame-rame. Akhirnya Bara dan Wendi keluar untuk melihat apa yang terjadi. Dan ketika mereka sampai diluar, Bara dan Wendi terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Dua orang mahasiswa lagi berjalan diarak menuju ruangan Dekan. Setelah itu Wendi bertanya kepada salah satu mahasiswa yang ada disitu.


"Ada apa itu.?"


"Oh itu, mereka tadi berantem di belakang gedung. Sekarang mereka dibawa keruangan Dekan!"


"Berantem,! Kok kayaknya jaket yang digunakan oleh salah satu mahasiswa itu kok nggak asing.?" ucap Bara dalam hati.


--------------------------------


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2