
Gavin kaget kenapa respon Menejer restoran itu seperti itu. Berarti selama ini restoran miliknya dipimpin oleh laki-laki ini. Batinnya.
"Maaf, Pak. Tolong, jangan marahin karyawan Bapak. Disini justru saya yang salah karena tidak membaca secara lengkap daftar menunya."
"Ya Bapak memang salah, kalau mau pesan sesuatu itu dibaca sampai selesai. Kalau sudah gini komplain sama karyawan, saya.!" sahutnya sambil pergi.
Gavin dan Pak Ramon saling pandang kemudian geleng-geleng kepala.
"Sudah, Mbak. Maafkan kami, ya. Sekali lagi maaf jika karena kelalaian kami, Mbak nya kena marah." ucap Gavin.
"Nggak apa-apa, Pak. Beliau memang seperti itu. Kita anak buahnya sudah kebal dengan wataknya." jawab pelayan itu.
"Oh gitu. Ya sudah kalau gitu Mbak nya boleh kembali. Biar ini kami nikmati dulu." ucap Gavin.
"Iya, Pak. Nanti kalau kurang apa-apa, tinggal panggil saya aja." ucapnya.
"Baik, Mbak. Makasih." jawab Gavin.
Akhirnya Gavin dan Pak Ramon menikmati makan siangnya.
"Pak Gavin, Menejer seperti itu kok masih Bapak pakai untuk mempimpin restoran Bapak?" tanya Pak Ramon.
"Saya baru tahu kalau Menejer nya seperti itu. Saya memang kesini mau mengecek restoran ini, Pak. Restoran ini kan baru beberapa bulan sepenuhnya menjadi milik Papa saya, sebelumnya usaha ini adalah gabungan dari Papa dan temannya." jelas Gavin.
"Oh gitu. Evaluasi saja, Pak. Kalau sikapnya masih seperti itu bisa-bisa restoran Pak Gavin akan hancur." ucap Pak Ramon.
"Iya, Pak Ramon. Nanti akan saya pertimbangkan. Makasih telah diingatkan." jawab Gavin.
Setelah selesai makan, Gavin memanggil karyawan tadi yang melayani dia dan Pak Ramon. Tak lama kemudian dia mendekati meja Gavin.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya perempuan itu.
"Saya mau nanya, siapa penanggung jawab restoran ini?" tanya Gavin.
Perempuan itu kaget kenapa tiba-tiba Gavin menanyakan hal ini sama dia. Apa karena kejadian barusan, wajahnya semakin memerah.
"Jangan takut, Mbak. Kami tidak akan melaporkan soal kejadian tadi, kok." ucap Gavin.
"Iya, Mbak. Bapak ini hanya ingin tahu saja siapa penanggung jawab restoran ini?" kini Pak Ramon ikut menimpali.
__ADS_1
"Menejer resotan ini memang Bapak yang tadi kesini, dia namanya Pak Alex. Tapi, kalau penanggung jawab penuh dipegang Pak Fajar yang sekarang ditempatkan di pusat, Hotel dan Resto yang di Jogja." jawab perempuan itu.
"Oh gitu, iya-iya. Makasih Mbak, sekarang Mbak boleh kembali." ucap Gavin.
Tak lama kemudian Pak Ramon poselnya berdering, lalu dia pamit Gavin untuk mengangkat telpon. Sementara Gavin juga hendak menelpon seseorang.
"Hallo, selamat siang Pak Fajar." ucap Gavin di telpon.
"Iya Pak, siang juga. Ada apa, ya?" jawabnya diujung telpon.
"Pak Fajar, apa Pak Alex itu karakternya seperti itu. Ini tadi saya mengalami kejadian yang kurang enak saja. Memang dia belum tahu siapa saya sebenarnya. Cuma, saya kok agak kurang nyaman sama dia, ya?" jelas Gavin lagi.
"Oh iya, Pak. Saya selaku penanggung jawab semua cabang sebelumnya minta maaf atas ketidak nyamanan sikap beliau. Sebenarnya dari dulu Pak Alex memang seperti itu, saya nggak berani menegur atau mengevaluasi beliau, lantaran beliau adalah keponakannya Pak Robby. Memang secara jabatan saya diatas beliau. Tapi, secara pribadi sudah dari awal beliau dekat dengan pimpinan. Kami semua jajaran direksi, sudah tahu trade record beliau, Pak." jelas Pak Fajar.
"Kenapa Pak Fajar nggak cerita sama saya?" tanya Gavin.
"Saya nggak mau dibilang tukang adu domba, Pak. Biar nantinya Pak Gavin yang melihatnya sendiri." jawab Pak Fajar.
"Baiklah, alasan Pak Fajar saya bisa terima dan memakluminya. Tapi, lain kali kalau memang ada masalah yang bakal merusak nama baik Hotel dan Resto kita, langsung tindak lanjuti saja. Karena Pak Fajar yang lebih punya wewenang." jawab Gavin.
"Baiklah, Pak. Saya akan menegur beliau. Sekali lagi saya minta maaf, ya Pak?"
"Iya, sama-sama. Dan saya nggak mau dia bersikap seperti itu lagi."
Akhirnya Gavin menutup telponnya dan kembali melanjutkan menikmati kopi susu yang dia pesan. Pak Ramon akhirnya kembali ke meja.
"Maaf Pak Gavin, saya balik dulu ke lokasi, karena ada supplier barang yang belum kirim bahan." ucap Pak Ramon.
"Apa perlu saya antarkan, Pak."
"Oh nggak usah, saya naik taksi saja nggak apa-apa. Pak Gavin lanjutkan saja makan siangnya" jawab Pak Ramon.
"Baiklah, kalau begitu." jawab Gavin.
Pak Ramon meninggalkan Gavin yang masih duduk di mejanya sambil menikmati secangkir kopi dan camilan. Disaat dia sedang memainkan ponselnya, tiba-tiba ada yang menghampirinya. Ketika Gavin menoleh ternyata laki-laki yang tak lain Pak Alex menejer restoran.
Dia mendekati Gavin yang asyik dengan ponselnya. Lalu dia seperti gugup dan takut ketika menatap Gavin.
"Selamat siang, Pak Gavin. Saya nggak tahu kalau Anda adalah putra dari Pak Indra. Sekali lagi, saya minta maaf." ucapnya sambil menyalami tangan Gavin.
__ADS_1
"Oh iya, nggak apa-apa." jawab Gavin datar.
"Saya barusan ditelpon sama Pak Fajar. Bahwa Anda sedang ada disini. Makanya saya langsung kesini." ucapnya lagi.
"Oh iya, tolong antar saya keliling restoran." ucap Gavin.
"Baik, Pak. Mari ikut saya." jawab Pak Alex.
Gavin berjalan disamping Pak Alex. Dia menjelaskan satu persatu tempat dan divisi yang ada di restoran tersebut. Gavin melihat restoran ini memang bersih dan rapi. Pekerjanya juga ramah-ramah dan good looking.
Kemudian Gavin melihat area dapur yang menjadi tempat mengelolah semua bahan makanan. Gavin menebar senyum setiap melewati para karyawan yang sedang melakukan aktivitasnya masing-masing.
Hampir seluruh ruangan sudah Gavin lihat, kini dia melihat office nya. Dia kemudian menuju ruangan Menejer karena dia akan mengcek laporan keuangannya.
"Tolong, saya diantar ke ruangan Pak Alex." ucap Gavin tiba-tiba.
Spontan, dia langsung kaget. Karena diruangannya ada seseorang yang mungkin akan membuat Gavin marah besar.
"Tapi, buat apa Pak Gavin ke ruangan saya.?" tanya Pak Alex.
"Saya mau lihat laporan keuangan saja." jawab Gabin singkat.
Pak Alex sedikit kurang nyaman ketika Gavin ingin melihat laporan keuangannya.
"Kenapa Pak, apa saya nggak boleh melihat laporan itu?" tanya Gavin.
"Bukannya nggak boleh, tapi ini kan bukan wewenang Pak Gavin?" jawabnya sedikit meninggi.
"Memang restoran ini bukan wewenang saya. Tapi, saya berhak tahu semua laporan keuangan dari Hotel dan Resto yang ada dibawah naungan Indra N' Rabby Corp." jawab Gavin tegas.
"Iya, saya tahu Pak. Tapi, saya juga berhak atas semua itu." ucap Pak Alex.
"Anda beda dengan saya, Pak. Mungkin Anda hanya berhak atas restoran ini saja. Tapi, saya berhak atas semuanya." ucap Gavin.
"Kok bisa begitu."
"Sekarang, saya mau Anda kumpulkan semua kepala divisi untuk meeting diruangan Anda." ucapnya sambil melangkah pergi.
"Kenapa Pak Gavin bersikap seperti itu. Sok kuasa.!" dengus Pak Alex kesal.
__ADS_1
---------------------------------
Bersambung....