
Akhirnya Cindy berhasil dibawa pergi sama pemuda yang ngakunya sebagai pacarnya. Semua yang ada dilokasi sekarang sedikit lega, karena insiden kecil itu bisa lekas diatasi. Untung saja kejadian itu disaat tamu undangan sudah pergi dan tinggalah pengunjung bebarapa saja.
"Aku nggak habis pikir apa sih yang Cindy mau, sampai segitunya dia mempermalukan dirinya sendiri dihadapan orang banyak nyamperi aku kesini.!" umpat Gazi sambil mendaratkan badannya di kursi.
Zahra mendekatinya lalu mengambilkan minum dan memberikannya pada kekasihnya itu. "Ini minum dulu biar nggak tegang!" ucapnya.
"Makasih ya?" jawab Gazi.
"Sudahlah, kamu jangan terpancing Cindy. Dia hanya ingin mencari perhatian sama kamu, Zi." ucap Zahra pelan sambil memegang tangan Gazi.
"Iya sayang, benar apa yang dibilang Zahra. Dia hanya ingin merusak moment penting kamu. Kamu sekarang fokus sama cafemu saja. Mumpung pengunjung belum begiti banyak." sahut Bu Ratih.
"Jengkel aku Ma, dia itu selalu ngejar Gazi.!" umpatnya.
"Sudah-sudah, sekarang kamu urus lagi itu cafe. Papa sama Mama pulang dulu ya, biar kalian aja yang disini. Kan anak muda." ucap Gavin.
"Iya, Pa. Cantik akan disini bantu Kak Gazi."
"Raka juga, Ma. Akan bantu Gazi dulu." sahut Raka.
"Ya sudah, kalian baik-baik aja ya. Kami berdua permisi dulu." ucap Bu Ratih.
Semua anak-anak Bu Ratih menyalami tangan Mama dan Papanya dengan hormat dikuti oleh yang lainnya. Akhirnya situasi kembali seperti semula rame dengan pengunjung.
Cantika dan Raka dengan senang hati membantu sudaranya itu. Kini mereka semua beraktivitas kembali.
(***)
Beberapa hari setelah itu kini tiba Raka balik ke Jepang. Liburan akademik sudah habis dan dia kembali melanjutkan aktivitasnya disana. Gazi mengantarkan Kakaknya ke bandara.
Setelah mengantarkan ke bandara, Gazi mempir ke cafenya sebentar. Dia memarkirkan mobilnya di halaman cafe.
"Hai Her, gimana perkembangannya setelah seminggu kita buka.?" tanya Gazi.
"Alhamdulilah Zi, pembelinya luar biasa. Terus kalau perkembangan seperti ini, nanti setiap malam minggu kita hadirkan live music." ucap Heru.
"Sykurlah kalau begitu. Nggak sia-sia usaha kita selama ini Her, kita harus semangat supaya kita bisa mengembangkan usaha cafe ini." jawab Gazi.
__ADS_1
"Oh iya aku sampai lupa, tadi ada Cindy kesini lagi cariin kamu. Ya aku bilang kalau kamu waktunya jaga sore." jawab Heru.
"Kamu nggak tanya ngapain dia nyariin aku.?" ucap Gazi.
"Nggak Zi, aku nggak mau ikut campur. Cuma dia pesan minum ya aku layani, setelah itu dia aku tinggal." jawab Heru.
Ketika mereka lagi ngobrol, tiba-tiba ada mobil masuk ke halaman. Mereka pikir pengunjung seperti biasa, tapi setelah mendekat, ternyata Cindy. Gazi dan Heru kaget.
"Her, katanya dia sudah pergi. Kok dia kesini lagi.?" tanya Gazi.
"Nggak tahu, Zi. Tadi dia sudah bilang pamitnya pulang." jawab Heru sambil melangkah pergi.
Kini Gazi duduk sendiri lalu Cindy menghampirinya dan duduk di sebelah gazi. Mereka diam sejenak dan akhirnya Cindy yang mulai bicara.
"Hai zi,!"
"Hai, tumben kesini.?"
"Aku tadi sudah kesini, tapi kata Heru kamu jaga sore. Tapi, ini tadi pas aku nunggu teman, aku lihat mobil kamu masuk jadi aku menyusul kesini." jawab Cindy.
"Aku juga mau minta maaf soal kejadian waktu kamu grand opening saat itu. Aku galau dan nggak ada yang bisa aku ajak cerita." ucap Cindy.
"Oh iya nggak apa-apa, kasihan cowok kamu saat itu, dia mencari kamu." jawab Gazi.
"Dia bukan cowok aku, dia hanya suruhan Papa untuk mencari aku.!" jawabnya pelan.
"Oh jadi itu bukan cowok kamu, aku kira dia cowok kamu." jawab Gazi.
"Kamu masih marah sama aku.?" tanya Cindy.
"Kenapa aku harus marah? Memangnya aku punya hak apa atas kamu.!" jawab Gazi.
"Kamu jangan gitu, aku ngerti kamu mencintai Zahra. Tapi, apa kurangnya aku Zi, aku tulus sama kamu.!" ucapnya memelas.
"Cin, kamu itu cantik, kaya dan masih bisa mendapatkan yang lebih dari aku." jawab Gazi.
"Tapi aku sayang sama kamu, Zi!" jawab Cindy dengan matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
Gazi jadi nggak tega kalau melihat perempuan menangis. Dia kemudoan mencoba menenangkan Cindy dengan memegang pundaknya.
"Cin. Kamu yang tenang. Kita kan masih bisa bersahabat. Aku nggak benci sama kamu kok, aku cuma ingin kamu ngerti kalau sekarang ada yang harus aku jaga perasaanya." jawab Gazi.
"Tapi, kenapa dulu kamu nggak mau menerima cintaku. Padahal kan kita bersahabat sudah lama, bahkan sebelum kamu kenal dengan Zahra" ucap Cindy.
"Aku nggak bisa membohongi perasaanku, Cin. Aku hanya menganggapmu sebatas teman saja. Tolong kamu ngertiin aku.!" jawab Gazi.
"Kamu tahu nggak, aku suka sama kamu itu karena apa. Kamu itu baik, pendiem dan nggak banyak tingkah seperti anak muda pada umumnya. Aku sadar aku ya seperti ini, suka maen, nongkrong sama teman-teman kadang juga suka shopping, dan itu bertentangan sama kamu. Tapi, aku bisa kok merubah semua itu asalkan kamu bisa menerima cintaku." jelas Cindy sambil menatap mata Gazi dengan lekat.
"Kamu kalau mau berubah jangan karena orang lain. Berubahlah karena memang kamu niat berubah. Aku nggak malu dan keberatan kok jika harus berteman dengan kamu. Maka dari itu, jadilah diri sendiri tanpa merubah suatu apapun hanya untuk bisa disukai orang lain." jawab Gazi.
"Jadi aku sudah nggak bisa ada harapan lagi untuk menjadi pacar kamu.?" tanya Cindy.
"Maaf Cin, kita hanya bisa sebatas teman saja. Dan aku percaya kalah kamu nantinya bisa mendapatkan yang lebih dari aku." jawab Gazi sambil menatap wajah Cindy tanpa kedip.
Cindy membalas tatapan itu, Gazi agak heran kenapa semakin diperhatikan kok wajah Cindy semakin pucat. Apa dia sakit. Batin Gazi.
"Zi, aku boleh minta minum.?" ucapnya pelan.
Gazi seketika berdiri dan langsung mengambilkan minum ke belakang. Sekitar dua menit kemudian, Gazi balik dengan membawa segelas air putih. Dia langsung memberikan minum pada Cindy.
"Makasih ya Zi, aku memang lagi nggak enak badan." jawabnya pelan.
"Kamu itu lagi nggak enak badan tapi kok keluyuran sih!" ucap Gazi.
"Aku hanya ingin ketemu kamu, dan ingin memastikan kalau aku masih ada kesempatan apa nggak." ucap Cindy dengan bibirnya bergetar.
"Ya ampun Cin, kamu ini kok bandel banget sih, kenapa kamu nggak menunggu besok aja kalau di kampus untuk bicara. Malah dibela-belain nyusul ke cafe aku seperti ini." jawab Gazi sedikit kesal.
"Aku hanya ingin kamu tahu tentang aku satu hal. Tapi, aku ingin kamu diam saja hanya kita yang tahu." ucapnya.
"Apa itu.?"
-------------------------------
Bersambung...
__ADS_1