BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 92 (Teringat)


__ADS_3

Bu Ratih sontak kaget dengan pertanyaan Pak Keanu. Kenapa dia tiba-tiba menanyakan hal itu. Kini hati Bu Ratih kembali rapuh dan teringat bayang-bayang Keanu.


Pak Keanu yang melihat wajah Bu Ratih jadi sedih jadi merasa bersalah. Dia langsung menghentikan mobilnya karena nggak mau kalau Bu Ratih jadi marah.


"Kenapa berhenti, Pak?" tanya Bu Ratih tanpa menatap ke Pak Keanu.


"Maaf, Bu Ratih. Kalau tadi pertanyaan saya menyinggung Bu Ratih. Saya nggak bermaksud mengingatkan sama mantan Bu Ratih. Saya tadi becanda biar suasana tidak tegang." ucap Pak Keanu dengan memohon.


Bu Ratih menoleh kearah Pak Keanu. Wajahnya sudah kembali seperti biasa. Dia tersenyum dan menatap Pak Keanu dalam-dalam. Sedangkan Pak Keanu sedikit kikuk karena Bu Ratih terus melihatnya.


"Saya nggak apa-apa, kok Pak. Kenapa Pak Keanu minta maaf. Soal mantan saya yang kebetulan namanya sama dengan Anda itu mungkin hanya teringat sedikit. Tapi, saya tidak akan terbawa suasana. Toh, dia juga sudah tenang dialamnya." jelas Bu Ratih.


"Alhamdulilah, Bu. Saya pikir Bu Ratih marah. Kan, saya jadi nggak enak." jawab Pak Keanu.


"Ya sudah, sekarang antarein saya pulang." titah Bu Ratih.


"Baiklah, Bu." jawabnya singkat.


Kembali Pak Keanu mengemudikan mobilnya, kini dia sudah lega karena Bu Ratih tidak jadi marah. Sedangkan Bu Ratih sendiri juga tidak tahu, kenapa dia seperti mengalami dejavu.


Bu Ratih senyum-senyum sendiri sambil memandang keluar lewat kaca mobil. Mungkin dia nyaman karena bayangan Keanu muncul. Ini nggak adil bagi suaminya, karena dia memikirkan laki-laki lain. Tapi, laki-laki itu sudah di alam yang berbeda.


Pak Keanu melirik wanita disebelahnya ini. Dia begitu cantik. Sayang Bu Ratih sudah menikah. Dulu Pak Keanu sempat marah ketika Vanya mau mendekatkan dirinya dengan Bu Ratih lantaran dia sudah punya suami. Tapi, kenapa kini Pak Keanu tidak mempermasalahkan itu. Ada apa dengan dirinya.


Akhirnya sampai juga dia dirumah Bu Ratih. Ketika mobil Pak Keanu masuk, ternyata mobil Gavin sudah terparkir di garasi. Bu Ratih kaget, ternyata suaminya sudah pulang. Pak Keanu juga nggak enak, karena telah mengantarkan pulang istri orang.


"Bu, apa saya ikut turun, kali aja suami Bu Ratih bertanya kenapa Bu Ratih bisa sama saya. Nanti saya yang akan menjelaskan?" ucap Pak Keanu.


"Nggak usah, Pak. Saya langsung masuk saja. Kan, suami saya juga didalam." jawab Bu Ratih.


"Ya sudah kalau gitu. Saya langsung pulang saja." sahut Pak Keanu.


"Iya, Pak. Terima kasih telah mengantarkan saya pulang." ucap Bu Ratih seraya keluar dari mobil.


"Sama-sama, Bu." jawab Pak Keanu.


Mobil Pak Keanu langsung belok dan keluar halaman rumah Bu Ratih. Ketika mobil itu hilang dipintu gerbang, Gavin keluar ke teras dan matanya tertuju kearah gerbang, kayak melihat sesuatu.


"Kamu diantar siapa, sayang?" tanya Gavin.


"Oh itu, Tadi aku diantar Papanya Vanya." jawab Bu Ratih lirih.


Gavin menautkan alisnya pertanda heran. Kok bisa istrinya bisa bareng Papanya Vanya. Batinnya.

__ADS_1


"Kok bisa sama Papanya, Vanya?" tanya Gavin penasaran.


"Tadi, waktu di Gramedia aku bertemu dengan Pak Keanu. Dia habis meeting sama kliennya. Dia menawarkan bareng karena kebetulan dia ada perlu ke rumah temannya yang dekat dengan komplek ini. Kan searah sama rumah ini. Ya sudah aku mau aja." jelas Bu Ratih.


"Oh gitu..,!" jawab Gavin singkat.


"Ayo masuk, sayang." ajak Bu Ratih.


Gavin hanya mengangguk lalu memeluk pundak istrinya. Bu Ratih melirik suaminya yang hanya diam sampai masuk kamar. Gavin langsung merebahkan tubuhnya yang masih menggenakan pakaian kantor.


"Sayang, kenapa nggak ganti baju dulu.!" seru Bu Ratih yang sambil duduk didepan meja rias untuk membersihkan make up nya.


"Nanti saja, masih malas." jawab Gavin sambil tangannya ditaruh dibawah kepala dengan mata terpejam.


"Oh ya sudah, aku mandi dulu, ya.?" ucap Bu Ratih.


"Iya.!"


Kini Bu Ratih masuk kamar mandi, sedangkan Gavin masih tetap diatas tempat tidur dengan malas-malasan. Gavin sedikit cemburu karena istrinya yang diantarkan pulang sama laki-laki lain. Dia sebenarnya percaya saja sama istrinya, cuma hatinya tidak bisa dibohongi kalau sebenarnya dia tidak suka kalau istrinya dekat-dekat dengan laki-laki lain selain saudara.


Tak lama kemudian, istrinya keluar kamar mandi. Gavin masih dengan posisi yang sama. Bu Ratih jadi nggak enak kalau suaminya jadi diam begini. Dia kemudian mendekati Gavin dan duduk ditepi tempat tidur.


"Sayang, kamu kenapa kok diam. Apa kamu marah karena aku diantar pulang sama Pak Keanu.?" tanya Bu Ratih.


"Tapi, kamu kok diam saja." ucap Bu Ratih sambil memegang dada suaminya.


"Saya percaya, kalau kamu nggak bakal macem-macem. Tapi, aku nggak percaya sama dia. Gimana kalau dia suka sama istriku yang cantik ini.?" ucapnya seraya membelai wajah Bu Ratih.


"Ya ampun suamiku cemburu nih.! aku nggak bakal macem-macem, sayang." jawab Bu Ratih.


"Iya, aku percaya." jawab Gavin.


"Tapi, sekarang giliran aku yang nanya. Malam itu kamu belum jawab pertanyaanku soal kamu bakal menikah lagi apa nggak setelah mengetahui kondisiku seperti ini?" ucapan Bu Ratih bagai bom waktu yang meledak kapan saja.


Gavin tidak langsung menjawab pertanyaan istrinya. Wajahnya yang tiba-tiba jadi merah. Dia nggak menyangka kalau istrinya akan membahas masalah ini lagi.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu lagi, sayang?" ucap Gavin.


"Iya, karena itu penting buatku. Sebagai wanita yang keadaannya seperti aku, mungkin kekawatiran akan ditinggal suaminya nikah lagi itu besar banget. Secara dalam sebuah pernikahan itu pasti salah satu tujuannya adalah untuk mendapatkan keturuan. Dan aku diposisi yang lemah. Aku sudah mendengar semua obrolan kamu sama Kasih, obrolan Papa sama Mama kamu, semuanya aku sudah mengerti." jelas Bu Ratih.


"Jadi kamu su--" Gavin belum sempat melanjutkan kalimatnya.


"Iya, aku sudah tau semuanya. Bahkan aku juga tahu kalau kamu sebenarnya adalah anak tunggal dari Pak Indra dan Bu Hesty." ucap Bu Ratih dengan serius.

__ADS_1


"Apa,! kamu tahu itu.?" tanya Gavin sambil memegang pundak istrinya.


"Iya, tanpa sengaja aku mendengarkan obrolan mereka. Intinya Mama kamu menginginkan anak dari kamu biar generasi Indra wijaya bisa terlahir untuk menggantikan kamu dikemudian hari." tukas Bu Ratih.


"Sayang, sebenarnya semua ini juga diluar kemauanku. Papa juga sependapat sama aku. Jika aku menginginkan anak, kita bisa mengadopsi dan Papa juga akan menganggapnya sebagai cucu sendiri. Tapi, kalau soal Mama yang menginginkan hal itu justru aku baru tahu dari kamu ini. Papa nggak pernah bilang kalau Mama punya maksud seperti yang kamu bilang tadi." jelas Gavin.


"Aku bingung, sayang." ucap Bu Ratih sambil matanya berkaca-kaca.


"Bukan kamu saja, sayang. Aku juga sempat stress soal omongan Papa. Dia memang pernah menanyakan hal itu sama aku, tapi aku nggak tahu kalau Mama yang menginginkannya." jawab Gavin sambil memeluk istrinya.


"Tapi, kalau memang kamu berniat punya anak dari wanita lain untuk memenuhi keinginan Mama, aku pasrah.!" ucap Bu Ratih dalam pelukan suaminya.


"Sssttt...! Kamu ini bicara apa sih, siapa yang akan menuruti keinginan Mama. Aku juga mikir berulang kali kalau mau ambil keputusan." jawab Gavin.


"Tapi, apa kamu juga nggak pingin punya anak dari darah daging kamu sendiri.?" tanya Bu Ratih.


"Oke, aku jawab. Sebagai laki-laki normal pasti semua menginginkan keturunan. Tapi, sekarang kasus yang kita alami kan beda. Sedangkan aku nggak mau menyakiti hati istriku jika aku memaksakan untuk mendapatkan keturunan." jawab Gavin.


Bu Ratih melepaskan pelukan suaminya. Dia menatap Gavin dengan tatapan yang mesra.


"Makasih sayang, kamu memang suami yang baik." ucap Bu Ratih.


"Ya sudah, mulai sekarang kita nggak usah ngomongin ini lagi, ya.?" tukas Gavin.


"Iya, maafin aku yang sempat bikin kamu cemburu sama Pak Keanu." ucap Bu Ratih.


"Aku juga minta maaf, karena sikap orang tuaku yang bikin kamu sakit hati." ucap Gavin pelan.


Mereka akhirnya kembali seperti biasanya, tidak ada lagi yang mengganjal dalam hati masing-masing. Gavin kemudian mandi dan Bu Ratih menunggunya diruang tengah.


Tak lama kemudian diluar terdengar bel berbunyi. Kasih kedepan untuk membukakan pintu. Tak lama kemudian dia balik keruang tengah.


"Siapa, Sih?" tanya Bu Ratih.


"Nggak tahu, Bu. Katanya mencari Pak Gavin." jawab Kasih.


"Laki-laki apa perempuan?" tanya Bu Ratih lagi.


"Perempuan.!" jawab Kasih.


----------------------------------


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2