
Sore harinya setelah pulang kuliah, Cantika mencari Mamanya yang lebih dulu pulung.
"Ma., Mama.,!" teriaknya.
Bu Ratih yang ada di kamarnya lalu keluar setelah mendengar Cantika memanggilnya.
"Ada apa, sayang." jawab Bu Ratih sambil membawa kapas karena habis membersihkan make up wajahnya.
"Ma, sini deh!" seru Cantika sambil meraih tangan Bu Ratih lalu mengajaknya duduk di kursi ruang tengah.
"Ada apa sih, Nak. Kok kamu kelihatan senang sekali." jawab Bu Ratih.
"Ma, Cantik ditawari Bi Arin untuk memjadi Asisten Dosennya." ucap Cantika dengan mata berbinar.
"Apa, kamu jadi Asisten Dosen.,?" sahut Bu Ratih sambil membulatkan mmatanya.
Cantika mengangguk dengan antusias, "He'em, Ma. Tadi Cantik dibilangin, kalau mau jadi Asisten Dosennya, maka segera kabari karena Bu Arin akan membuat jadwalnya.
"Ya nggak apa-apa, Nak. Itu sama dengan prestasi kamu." jawab Bu Ratih.
"Ma, Mama kan Dosen. Apa sih yang membuat Cantik ditawari jadi Asisten Dosen.?" tanya Cantika.
Bu Ratih tersenyum sambil membelai rambut anaknya itu. Dia memandangi wajah Cantik sejenak setelah itu dia memegang tangannya.
"Sayang, kalau Dosen kamu sampai menawarkan posisi itu sama kamu itu berarti kamu mahasiswi yang paling spesial. Biasanya seorang Dosen itu memilih mahasiswa atau mahasiswinya sebagai asisten Dosennya karena mahasiswa itu selalu melakukan yang terbaik, dia selalu satu langkah didepan teman-temannya, selalu berpenampilan memukau saat presentasi, dia selalu membangun kepercayaan diri, membangun hubungan baik dengan Dosen. Selain itu dia juga suka menanyakan hal-hal yang nggak biasa." jelas Bu Ratih.
"Oh jadi seperti itu, ya Ma." jawab Cantika.
"Iya, sayang. Kamu juga harus bisa menjadi tauladan teman-teman kamu." ucap Bu Ratih.
"Ma, apa Cantik mampu menjalankan itu semua.?" tanya Cantika sambil menatap Bu Ratih.
"Sayang, tanpa kamu sadari kamu sudah melakukan sebagian hal itu. Karena itulah kamu ditunjuk sebagai Asisten Dosen. Sekarang tinggal kamu jalankan tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepadamu." jawab Bu Ratih.
"Iya, Ma. Cantik akan berusaha menjalankan itu semua dengan semaksimal mungkin." jawab Cantika.
"Dan selain itu, tugas Asisten Dosen itu biasanya membantu mahasiswa saat melakukan Acc atau asistensi tugas. Bukan berarti kamu ikut mengerjakan atau membantu mengerjakan. Tapi, kamu hanya sekedar membantu memberi saran dan masukan saja." jelas Bu Ratih lagi.
"Oh gitu ya, Ma. Untung sekali aku punya Mama seorang Dosen, jadi aku bisa sharing-sharing soal tugas Asisten Dosen." ucap Cantika.
"Ya itulah Nak gunanya dan mafaatnya pendidikan, apapun itu pekerjaannya kalau tidak ditunjang dengan latar belakang pendidikan baik formil maupun otodidak, pasti akan mengalami sedikit kesulitan, meskipun itu tidak semua pekerjaan, sih. Tapi, setidaknya pendidikan itu penting." ucap Bu Ratih.
"Iya, Ma."
__ADS_1
"Sekarang misalnya Mama hanya seorang Ibu Rumah tangga saja yang tidak ada basic pendidikan formal atau Mama nggak pernah baca buku, disaat kamu bertanya seperti ini tadi apa Mama bisa menjawab.?" tanya Bu Ratih.
"Nggak bisa, Ma." jawab Cantika nya.
"Nah itu dia, kebetulan saja Mama juga Dosen jadi bisa memberikan atau membantu menjelaskan soal itu tadi. Dan satu lagi, seandainya nanti Mama harus fakum dari dunia pendidikan dan fokus ke mengurus rumah tangga, Mama nggak akan berhenti untuk belajar. Karena nantinya Mama nggak mau kalau suatu saat anak dan cucu Mama bertanya seputar dunia pendidikan dan Mama nggak bisa jawab. Jadi, nantinya Mama tetap berguna walaupun memberikan pendidikan secara otodidak pada cucu-cucu Mama." jelas Bu Ratih.
"Mama memang Mama terhebat." ucap Cantika.
"Ya sudah, nanti kata Papa Kakakmu mau ajak temannya kesini buat bahas soal buka usaha itu." ucap Bu Ratih.
"Oh iya, Kak Bara juga kesini dong." sahut Cantika dengan sumringah.
"Iya mungkin, karena tadi Kak Gazi bilang kalau suruh pesan makan malamnya nambah dua porsi." ucap Bu Ratih.
"Tapi, kok Kak Bara nggak bilang ya.?" ucap Cantik pelan.
"Ya mungkin dia lupa, Nak.!" jawab Bu Ratih.
Cantik kayaknya suka sama Bara, itu terlihat dari raut wajahnya yang sumringah saat menyebutkan nama Bara. Batin Bu Ratih.
"Ya sudah, sekarang Mama minta tolong kamu telponkan ayam bakarnya Pak Kumis. Nanti biar diantarkan kesini saja." ucap Bu Ratih.
"Sekalian nasinya apa nggak, Ma.?" tanya Cantika.
"Nggak usah, lauk sama lalapan aja. Nasinya Mama sudah masak." jawab Bu Ratih.
Akhirnya setelah menelponkan ayam bakar Pak kumis, dia naik ke kamarnya karena mau mandi. Sedangkan Bu Ratih juga mau membersihkan badannya dulu.
Sekitar pukul tujuh malam, Kakaknya datang dengan temannya yang mau bahas soal buka usaha cafe tersebut. Mereka mau rundingan sama Gavin selaku pebisnis handal.
"Her, kamu duduk dulu. Aku mau mandi dulu bentar." ucap Gazi.
"Oke, Zi."
Gazi masuk ke dalam, saat dia naik ke kamarnya, di tangga berpapasan dengan Cantik.
" Dek, tolong ambilkan minum buat teman Kakak di ruang tamu." ucap Gazi.
"Okey,!"
Cantika akhirnya menuju dapur, dia membuatkan kopi susu hangat. Setelah itu dia melangkah ke luar untuk memberikan minuman.
Ketika Cantika sampai di ruang tamu, dia memberikan minuman itu di atas meja. Heru memperhatikan Cantika tanpa kedip. Lalu Cantika menoleh dan tersenyum kearah Heru.
__ADS_1
"Silakan diminum, Kak!"
"Iya, makasih."
Setelah itu Cantika masuk kedalam.Bafu saja dia masuk, ternyata ada tamu yang mencari Bu Ratih.
"Ada apa, ya Mas?" tanya Cantika.
"Ini pesanan atas nama Bu Ratih."
"Oh iya, tunggu sebentar ya, Mas. Saya ambikan uangnya dulu"
"Nggak usah Mbak. Karena sudah dibayar Bu Ratih lewat tranfer."
"Oh ya sudah kalau gitu."
Akhirnya Cantika membawa masuk pesanan itu kedalam dan untuk dihidangkan sama tamunya. Dengan cekatan Cantika membantu Bu Ratih untuk menyiapkan semua makanan yang sebentar lagi buat makan malam.
Setelah semuanya selesai, dia lalu duduk diruang tengah sambil nonton tv. Gazi sudah kembali dari kamarnya lalu bicara pada Papanya yang kebetulam juga lagi duduk di sebelah Cantika.
"Pa, kita makan dulu apa langsung bahas soal cafe itu." tanya Gazi.
"Makan aja dulu, kasihan teman kamu pastinya belum makan." jawab Gavin.
"Tapi, Bara belum datang." ucap Gazi.
"Kak Bara biar Cantik yang telpon. Sampai mana dia." sahut Cantika dengan antusias.
"Hemm, giliran soal Bara saja kamu antusias, Dek. Kakak tahu, kamu naksir ya sama Bara." goda Gazi.
"Pa, Kak Gazi pasti gitu deh. Selalu godain Cantik." jawabnya cemberut.
"Ssstt, sudah-sudah. Dek, kamu telpon Bara gih,!" ucap Gavin.
Sebelum Cantika menelpon, ternyata sudah terdengar suara mobilnya. Cantika lalu membelalakan matanya kegirangan. Tak lama Bara masuk.
"Tuh, yang ditunggu-tunggu sudah datang.!" seru Gazi.
"Emang siapa yang menunggu Bara, Kak Gazi.?" tanya Bara.
"Itu.,tuh.! Gadis mungilmu itu,!" sahut Gazi sambil melirik kearah Cantika.
Seketika Bara menoleh ke Cantika yang kini juga menatapnya. Bara sejenak menatap Cantika dan beradu netra sekedar meyakinkan apa yang diucapkan Gazi itu benar. Apakah Mata Cantika benar-benar menunjukan kalau dirinya sedang menunggunya.
__ADS_1
----------------------------
Bersambung...