
Pagi itu matahari bersinar menyinari kota Jakarta. Udara yang dulunya sejuk sekarang sudah berganti oleh sesaknya polusi jalanan padat. Masih seperti dulu jalanan yang macet dan suara kendaraan sudah menjadi bagian kota Jakarta.
Hari ini seperti hari-hari lainnya, Bu Ratih berangkat ke kampus dipagi hari, karena ada jadwal mengajar di jam pertama. Jalanan padat dipenuhi berbagai kendaraan yang berlalu-lalang.
Bu Ratih mengendarai mobilnya sendiri menuju kampus. Dulu semasa mudanya dia memang belum berani mengendarai mobil sendiri, tapi sekarang dia sudah berani dan itupun atas dorongan Gavin suaminya. Mobil itu meluncur dijalanan menuju kampus.
Setibanya Bu Ratih di kampus, dia memarkirkan mobilnya khusus Dosen disebalah utara. Ketika keluar mobil dia berpapasan dengan banyak mahasiswa. Semuanya tersenyum saat bepapasan dengan Bu Ratih.
Tak lama kemudian jam masuk kampus tiba, Bu Ratih berjalan disepanjang koridor gedung F untuk menuju kelas. Dia akan mengajar mata kuliah Akuntasi. Banyak sekali Mahasiswa yang berpapasan dengan Bu Ratih tersenyum dan menyapa dengan Ramah.
Bu Ratih melewati perpustakaan dimana tempat itu menjadi tempat favoritnya di kampus ini. Banyak koleksi buku-buku yang bagus membuat Bu Ratih sering mengunjungi diwaktu kosong untuk menunggu jadwal mengisi mata kuliah.
"Selamat pagi semuanya!" sapa Bu Ratih setibanya di kelas.
"Pagi juga, Bu!" jawabnya serentak.
Bu Ratih menuju mejanya seperti biasa. Lalu dia mulai memberikan materi. Seperti biasa Bu Ratih setelah menjelaskan panjang lebar, dia selalu mengadakan tanya jawab ringan, sekedar untuk mengulang apa yang baru saja dia jelaskan.
"Dita,!" seru Bu Ratih.
Seketika Mahasiswa yang lainnya menoleh kearah Dita. Ternyata dia ketiduran sambil memegang bukunya. Bu Ratih mendekatinya karena dia tidak mendengarkan panggilannya.
Bu Ratih menyentuh bahu anak itu, "Dita, apakah kamu, sakit?" kalimat Bu Ratih membuat Dita terbangun dan memasang muka malu.
"Eng..gak, Bu!" jawabnya terbata.
"Tapi, kenapa kamu tidur?" tanyanya.
"Saya, semalam tidur jam tiga pagi." jawab Dita pelan.
"Kenapa kamu baru tidur jam segitu. Kamu begadang?" cerca Bu Ratih.
"Emm, saya membantu orang tua berjualan di pasar, Bu." jawabnya tertunduk.
"Huuuh..!!" teriak semua yang dikelas.
"Diam semua,!" seru Bu Ratih sambil matanya menatap sekeliling.
Seketika yang ada di ruangan itu terdiam dan menunduk. Bu Ratih masih berdiri dengan wajah yang menahan marah.
"Kalian berteriak seperti itu tujuannya apa!" ucap Bu Ratih tegas.
Semua masih terdiam, sedangkan Dita masih menunduk dengan wajah ketakutan bercampur malu. Bu Ratih yang melihat Dita seperti itu langsung menenangkan.
"Kamu nggak usah sedih, oh iya, nanti kalau jam istirahat, temui saya diruangan saya." ucap Bu Ratih pelan.
"Baik, Bu!" jawabnya.
"Untuk semuanya yang ada di ruangan ini, saya nggak mau ada kejadian seperti ini lagi. Kali ini saya maafkan. Tapi, lain kali kalau ada kejadian seperti ini lagi. Saya tidak segan-segan menghukum kalian. Dan buat kamu, Dita. Kalau kamu ngantuk, cuci muka dulu, ya?" ucap Bu Ratih.
"Baik, Bu." jawabnya serentak.
Akhirnya setelah panjang lebar menjelaskan, Bu Ratih mengakhiri materinya.
"Baiklah, Ibu akhiri dulu materi hari ini. Sampai jumpa besok." ucap Bu Ratih.
.
.
__ADS_1
.
Sekitar jam setengah dua belas siang, Bu Ratih makan siang dikantin, setelah itu dia kembali ke ruangannya karena ada janjian sama Dita.
"Silahkan duduk, Dit." ucap Bu Ratih.
"Makasih Bu..," jawabnya.
"Dita, Ibu mau nanya sesuatu sama, kamu. Sengaja Ibu ajak kamu kesini itu supaya teman-temanmu tidak menertawakanmu lagi. Kalau boleh Ibu tahu, orang tua kamu jualan apa dipasar?" tanya Bu Ratih.
"Bapak Ibu saya jualan krupuk, Bu. Jadi tiap malam saya dan adik saya membantu Ibu membungkusi krupuk-krupuk itu, sedangkan Bapak yang menggorengnya. Tiap jam tiga pagi berangkat ke pasar untuk dijual." jelas Dita.
"Sampai jam segitu, ya. Apa tidak bisa dibungkusi pas malamnya, gitu?" tanya Bu Ratih.
"Bisa, Bu. Tapi, kemarin itu pas ada pesanan banyak sekali, jadi kita semuanya lembur sampai jam tiga pagi. Dan ikut mengantarkan ke pasar. Kalau biasanya sih, jam dua belas malam sudah selesai." jawab Dita lagi.
"Oh gitu, syukurlah kalau gitu. Cuma pesan saya, kamu boleh membantu orang tua kamu. Tapi, kewajiban kamu juga harus diperhatikan. Kamu itu salah satu Mahasiswi disini yang berprestasi, lho. Jadi pertahankan prestasi kamu." ucap Bu Ratih.
"Iya, Bu. Saya akan usahakan. Maafkan saya tadi pas Ibu ngajar, saya ketiduran." ucap Dita.
"Iya, nggak apa-apa. Ibu maklumi, kok." jawab Bu Ratih.
"Kalau Bu Ratih mau, besok saya bawakan krupuk." tawar Dita.
"Oh boleh juga. Tapi, nggak ngerepotin kamu.?" tanya Bu Ratih.
"Enggak Bu. Saya senang kalau Ibu mau." ucap Dita.
"Oke, saya rasa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Kamu boleh meninggalkan ruangan saya." ucap Bu Ratih.
"Baik, Bu. Saya permisi." jawab Dita.
.
.
.
Jarum jam sudah menunjukan pukul empat sore. Jam kuliah sudah habis. Bu Ratih dan para Dosen yang lain bersiap-siap untuk pulang.
Bu Ratih berjalan nenuju parkiran mobil. Tapi, diluar dia bertemu dengan Dita.
"Dita, kamu belum pulang?" tanya Bu Ratih.
"Saya nunggu Bapak jemput, Bu?" jawab Dita.
"Oh, ya sudah. Kalau belum ada yang jemput, kan bisa Ibu antar kamu pulang." jawab Bu Ratih.
"Oh makasih, Bu. Saya dijemput Bapak." jawab Dita.
"Kalau gitu Ibu duluan, ya?" ucap Bu Ratih.
"Silahkan, Bu. Hati-hati.!" jawab Dita.
.
.
.
__ADS_1
Dalam perjalanan pulang, Bu Ratih mengemudikan mobilnya dengan santai. Dia nggak mau terburu-buru karena dia mau menjemput ke tempat les nya Raka.
Bu Ratih dan Gavin memang sengaja memberikan yang terbaik buat Raka. Dia kalau sore ikut les Bahasa inggris seminggu tiga kali. Setiap jam tiga sampai jam lima sore. Kalau berangkatnya diantar sopir, tapi kalau pulangnya sengaja dijemput Bu Ratih sendiri.
Sesampainya ditempat les nya Raka. Bu Ratih memarkirkan mobilnya diluar pagar. Kemudian dia keluar dan menunggu Raka didepan pintu yang memang sengaja ditutup sebelum jam les selesai.
Tak lama kemudian, Raka keluar bersama dengan teman-temannya. Ketika melihat Bu Ratih berdiri didepan pintu, Raka langsung berlari menuju Mamanya.
"Mama..,!" teriaknya sambil berlari.
"Sayang, anak Mama." jawab Bu Ratih seraya memeluk anaknya itu.
"Gimana, les nya, sayang?" tanya Bu Ratih.
"Lancar, Ma. Raka senang sekali nantinya bisa bahasa inggris dan keliling dunia" ucapnya antusias.
"Hehe, anak Mama pintar sekali. Iya, Mama doakan, supaya nantinya kamu bisa jadi orang sukses dan bisa keliling dunia." ucap Bu Ratih sambil mencium pipi anaknya.
"Makasih Ma..," ucap Raka.
"Baiklah, ayo kita pulang. Papa pasti sudah menunggu kita!" ajak Bu Ratih.
"Oke, Ma." jawab Raka.
Akhirnya Bu Ratih mengajak Raka pulang. Dalam perjalanan pulang, Raka banyak sekali bercerita tentang teman-temannya. Sepertinya dia senang sekali mengikuti kegiatan ini.
Sampailah mereka dirumah. Bu Ratih memasukan langsung ke garasi. Raka turun dari mobil Mamanya lalu berlari menuju rumahnya.
"Opaa.,!" seru Raka dari luar.
"Hai cucu Opa yang tersayang. Kamu sudah pulang, Nak?" tanya Pak Indra.
"Iya, Opa. Mama masih diluar." jawab Raka.
"Hallo jagoan Papa sudah pulang, nih.!" sahut Gavin dari dalam.
"Papa kok sudah pulang, biasanya malam pulangnya?" tanya Raka.
"Iya, hari ini Papa nggak lembur." jawab Gavin.
Saat mereka lagi ngobrol, Bibi berjalan menghampiri mereka sambil membawa bungkusan seperti sebuah paket.
"Maaf, Tuan, Den Gavin. Bibi lupa belum ngasihkan ini. Tadi, pas Bibi di depan. Ada yang kirim ini buat Den bagus Raka." ucap Bibi.
"Dari siapa, Bi?" tanya Gavin.
"Bibi juga nggak tahu, Den. Tadi yang ngasih ini seorang laki-laki pakai seragam sopir kayak Pak Narto gitu. Pas saya lihat, didalam mobil ada wanita berhijab. Dia tersenyum sama Bibi, tapi Bibi nggak mengenali wajahnya, Tuan. Dia cantik sekali." jelas Bibi.
"Ya sudah, Bibi boleh kembali." jawab Gavin.
"Pa, ini apa isinya. Ini buat Raka, ya Pa?" tanya Raka.
"Sebentar, sayang. Bukanya nunggu Mama dulu, ya.?" ucap Gavin.
Gavin masih bingung dengan siapa yang mengirim ini. Apa benar Kasih yang mengirimkan ini semua.
"Kasih, aku tahu kalau sebenarnya kamu yang kirim ini. Kenapa kamu selalu seperti ini. Jika kamu ingin melihat anakmu juga nggak apa-apa, kok. Kenapa kamu selalu main kucing-kucingan seperti ini." ucap Gavin dalam hati.
--------------------------------
__ADS_1
Bersambung......