BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON TIGA Part : 204 (Gazi kritis lagi)


__ADS_3

Kasih masih menangis, begitu juga dengan Gavin dan Bu Ratih. Suasanan diluar kamar masih sedikit tegang bercampur haru. Pertemuan antara Gavin dan Kasih yang sudah hampir dua puluh tahun tidak bertemu, dan disaat pertama kali bertemu dihadapkan pada situasi yang mungkin sedikit tidak mengenakan.


Rahasia yang selama ini disimpan Kasih terbongkar juga. Karena apa, semua yang ditutup-tutupi bakal ketahuan juga. Gavin sangat trenyuh dan terharu karena selama ini dia sudah mendonorkan darah sampai dua kali sama Gazi tapi tidak tahu kalau itu anak kandungnya sendiri.


Bagaimanapun juga, Gazi adalah anak kandungnya yang dia sendiri memang berhak tahu. Karena situasi dan kondisi yang belum tepat, maka Kasih menyembunyikannya dari Gavin. Gazi juga berhak mendapatkan apa yang Raka dapatkan. Dia bersedih lantaran semua yang dia miliki dan dia nikmati bersama keluarganya selama ini, Gazi tidak pernah merasakannya.


Disaat mereka bertiga masih terhanyut dengan keharuan, tiba-tiba Pak Fajar keluar dan memanggil Kasih.


"Mbak Kasih, Gazi drop.,!" seru Pak Fajar dari dalam kamar.


Seketika Kasih langsung bangun dan Gavin serta Bu Ratih kaget dan berlari kedalam. Pak Fajar langsung panggil Dokter.


"Bu, kenapa bisa seperti ini. Gazi, Nak ini Bunda, sayang. Gazi.. Bangun, Nak.!" seru Kasih sambil mengguncang-guncang tubuh Gazi.


"Ibu sendiri juga nggak tahu, Sih. Aku tadi sama Bram lagi nungguin dia, tiba-tiba dia langsung seperti ini. Nafasnya tersengal kemudian nggak sadar lagi." jelas Ibu mertuanya.


"Gazi, bangun sayang. Ini Papa sama Mama Ratih datang menjenguk kamu, ayo buka mata kamu." ucap Gavin tiba-tiba.


Seketika Neneknya bingung kenapa Gavin bilang seperti itu. Tak lama kemudian Dokter datang bersama suster serta Pak Fajar.


"Permisi, Pak. Biar saya lihat dulu. Mohon semuanya untuk menunggunya diluar." ucap Dokter itu.


Akhirnya semuanya keluar kamar, sedangkan didalam Dokter masih memeriksa Gazi. Kasih masih menangis sambil dirangkul sama Bu Ratih. Sedangkan Gavin duduk dikursi sambil memegang kepalanya.


"Sudah, Sih. Kita harus berdoa buat kesembuhan Gazi. Kamu yang sabar dan kuat, ya.?" ucap Bu Ratih sambil memeluk Kasih.


"Maafkan saya, Mbak. Saya Ibu yang nggak becus ngerawat Gazi." ucap Kasih.


"Sih, kamu nggak boleh bicara seperti itu. Dia seperti itu bukan karena kamu nggak becus urus dia. Itu memang sudah takdir dia." jawab Bu Ratih untuk menenangkan.


"Iya, Mbak. Misal saya disini, pasti saya akan memprotek dia untuk tidak keluar di malam hari. Sedangkan disini dia sama Neneknya saja. Saya sibuk kerja di Jakarta." ucap Kasih sambil tetap menangis.

__ADS_1


"Ssstt.,! kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri. Semuanya ini terjadi memang sudah kehendak Tuhan. Ingat, Gazi pasti juga nggak akan setuju jika kamu selalu menyalahkan diri kamu sendiri." ucap Bu Ratih.


Gavin yang mendengarkan Kasih selalu menyalahkan dirinya sendiri, dia langsung menjadi murka dan membuat dirinya semakin nggak respect padanya.


"Kasih,! Kamu bisa nggak berhenti menyalahkan diri kamu sendiri. Aku dengarnya itu risih, tahu.,!"ucap Gavin sambil matanya yang masih merah.


"Ssstt.,! Papa bisa nggak sih ngomongnya yang pelan. Dia itu masih syok dengan keadaan Gazi, sekarang Papa menambah dengan membentaknya." ucap Bu Ratih.


"Suruh dia diam." ucap Gavin.


"Sih, kamu tahu sendiri kan Gavin kalau lagi marah. Jadi, kamu diam dan jangan menyalahkan diri kamu lagi. Kita tunggu saja perkembangan Gazi kedepannya seperti apa." ucap Bu Ratih.


"Iya, Mbak. Maafin Kasih, ya. Soalnya nggak bisa mengendalikan emosi." jawabnya.


Tak lama kemudian Dokter keluar untuk menemui keluarga pasien.


"Maaf, Ayahnya pasien siapa, ya?" tanya Dokter.


"Saya Papanya, ada apa dengan anak saya?" jawab Gavin.


"Maaf, Pak. Kepala anak Bapak ada pendarahan. Ini disebabkan dulunya juga pernah mengalami luka pada kepalanya. Saya mohon untuk persetujuan Bapak untuk kami lakukan operasi." ucap Dokter.


"Tapi, semalam saya juga menandatangani persetujuan untuk dilakukan operasi itu apa, Dok. Kok sekarang dilakukan lagi." tanya Gavin.


"Ini untuk masalah luka yang dikepalanya, Pak." jawab Dokter itu.


"Baiklah, Dok. Lakukan yang terbaik buat anak saya. Berapapun biayanya saya tidak masalah, yang terpenting dia bisa selamat." ucap Gavin sambil memegang lengan Dokter itu.


"Iya, Pak. Kami akan berusaha yang terbaik untuk anak Bapak." jawab Dikter itu sambil menepuk pundak Gavin.


"Sekarang Anda ikut saya." ajak Dokter itu.

__ADS_1


Kini diluar hanya bisa terdiam dan menangis dengan keadaan Gazi yang sedikit mengkawatirkan. Disaat Gavin mengikuti Dokter itu, kesempatan ini digunakan untuk mertua Kasih menanyakan apa yang dia beum ketahui.


"Kasih, Ibu mau nanya. Tolong, kamu jawab jujur.?" ucap mertuanya.


"Iya, Bu. Silahkan."


"Apakah Nak Gavin itu mantan suamimu?" tanya mertuanya.


Kasih nggak langsung jawab, dia hanya menunduk dan menangis. Kemudian dia kembali mendongakan kepalanya dan menatap mertuanya itu.


"Iya, Bu. Mas Gavin adalah mantan suami saya, sekaligus Ayah kandung Gazi." jawab Kasih.


"Tapi, kenapa dia baru tahu kalau Gazi itu adalah anak kandungnya." tanyanya lagi.


Kasih menceritakan semuanya dari awal sampai akhir soal kenapa dia tidak berterus terang sama Gavin soal anaknya. Pak Fajar dan mertua Kasih mendengarkan sampai melongo. Mereka berdua kaget dan terkejut ketika Kasih bercerita.


"Ya ampun, Sih. Kamu itu sama saja dengan memisahkan Bapak sama anak kandungnya sendiri. Apapun alasan kamu, tetap aja kamu salah, Nak." jawab mertuanya sambil mengusap wajah Kasih.


"Iya, Bu. Kasih ngaku salah. Tapi, saya melakukannya demi kebaikan bersama." jawab Kasih.


"Ya sudah, setelah ini kamu jangan menghalangi mereka untuk bertemu. Biarkan mereka lebih mengenal dekat satu sama lain. Karena Nak Gavin juga berhak atas Gazi, dan Gazi juga berhak atas kasih sayang Papanya." ucap mertuanya lagi.


"Iya, Bu. Kasih akan memperbolehkan mereka bertemu kapan saja." jawab Kasih.


"Baiklah, sekarang kita fokus untuk kesembuhan Gazi. Kita semua berdoa saja." ucap mertuanya.


Bu Ratih bisa merasakan apa yang dirasakan Kasih. Sebagai perempuan, memang nggak gampang di posisi Kasih saat itu. Dia memilih menyembunyikan kehamilannya karena memang saat itu dia benar-benar ingin keluar dari kehidupan Gavin dan dirinya.


Bu Ratih sangat memaklumi keputusan Kasih saat itu. Bagaimanapun juga dia adalah Ibu kandungnya, jadi mungkin lebih mengerti kebaikan bagi anaknya.


Pelajaran yang diambil dari kejadian ini adalah, sebuah pengorbanan yang tidak pernah ada batasnya apalagi semuanya terjadi karena sebuah keikhlasan seseorang demi kebahagiaan orang yang disayanginya.

__ADS_1


--------------------------------


Bersambung...


__ADS_2